Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 29. Terpaksa menciummu


__ADS_3

" Jadi dia yang bernama Rando Ferdinand?" bisik Yean kepada Dewa yang barusaja turun dari podium guna memberikan sambutannya.


Dewa mengangguk tak banyak bicara. Pria itu terlihat menunjukkan raut yang susah di baca. Sementara Yean mengamati pria berjas itu, mata Dewa malah sibuk mengabsen barisan dokter tapi tak menemukan sosok dokter Diandra diantara mereka.


" Dimana dia?" batin Dewa resah. Bukannya apa-apa, keselamatan team satuan tugas merupakan tanggung jawabnya.


" Cari siapa kau? Pasti dokter itu ya?" bisik Yean setengah menggoda.


Tapi Dewa hanya nampak mendengus dengan muka kesal saat melihat alis Yean yang naik turun sewaktu menggodanya.


" Saya akan berkoordinasi dengan ketua satuan tugas di tempat ini untuk mendata kalian semua. Kami akan membantu setiap kalian!" kata Rando terdengar memberikan janji.


Maka riuhlah suasana dengan tepuk tangan penuh kebanggaan yang di tujukan kepada Rando bersama team. Dan saat sorak sorai semakin riuh terdengar, saat itulah Dewa berniat mencari dokter Diandra.


" Tetaplah di sini dan awasi dia!" titah Dewa kepada Yean yang nampak serius menyimak.


" Hey kau mau kemana, Dewa! Dewa!"


Tapi jangankan menoleh, pria itu malah terus berjalan dengan wajah serius. Ia tak melihat Diandra diantara kerumunan tenaga medis disana. Khawatir terjadi sesuatu, ia lantas pergi mengecek satu persatu tenda.


Dan saat ia mulai bingung sebab semua tenda yang ia datangi, tak menampakkan adanya tanda-tanda dokter Diandra berada di sana, ia malah bertemu dengan dokter Anita yang wajahnya sembab.


" Dokter!" sapa Dewa kepada dokter Anita.


Anita yang di sapa oleh Dewa buru-buru menyeka wajahnya sebelum ia semakin malu. Dewa sebenarnya agak kaget saat melihat dokter Anita menyeka air mata, tapi ia bukanlah tipikal orang yang suka mengurusi urusan orang lain.


" Apa kapten mencari dokter Diandra?" tanya Anita dengan suara sengau.

__ADS_1


Dewa mengangguk meski setengah khawatir akan keadaan dokter Anita.


" Dia ada di dalam!" ucap dokter Anita menunjuk ke arah kiri.


Tanpa menunggu lagi, Dewa langsung melangkahkan kakinya masuk. Namun setibanya ia di dalam, ia menjadi mendadak tertegun saat melihat dokter Diandra menyuapi Zas. Sungguh pemandangan yang membuat trenyuh.


" Aku tidak tahu apakah aku sanggup memaafkannya dokter jahat itu. Tapi, untukmu akan coba aku lakukan!" kata Zas kepada Diandra. Entah apa yang mereka berdua obrolkan. Dewa terlihat masih memperhatikan.


" Kau tidak boleh seperti itu Zas. Memaafkan itu harus dari sini." menunjuk ke arah dada. " Kau tidak bisa melakukan hal itu untuk orang lain. Kau tahu Zas hal besar apa yang akan kita dapat jika memaafkan?" tanya Diandra menatap mata sayu itu dalam-dalam.


Zas menggeleng tak mengetahuinya.


" Ketenangan! Batinmu akan menjadi tenang!"


Dewa yang mendengar itu seketika merasa hatinya menghangat. Ia juga menjadi terharu saat mendengar Diandra mengucapkan hal itu dengan penuh ketulusan. Sungguh perempuan yang luar biasa. Mau berbaur dengan masyarakat di lapisan paling bawah sekalipun.


" Eh, paman tentara!" seru zas yang melihat Dewa berdiri memperhatikan mereka.


" Bagaimana keadaannya?" tanya Dewa seraya melangkah masuk dengan wajah santai.


" Dia sudah mau makan. Lihatlah, makannya juga habis. Apakah belenggunya bisa di lepas?"


Dewa mengangguk. " Tentu saja. Lagipula, Zas juga harus mendapatkan bagiannya. Zas, hari ini ada bakti sosial di tempat pengungsian kita. Mereka membawa baju baru untuk semuanya. Kau juga harus kesana. Ingat, kau tidak boleh membuat masalah lagi!"


Zas mengangguk sewaktu Dewa berucap kepadanya. Tapi sebelum itu, ia menoleh menatap Diandra seolah meminta persetujuan.


" Pergilah!" ucap Diandra mendukung.

__ADS_1


Usai membebaskan Zas, Dewa terlihat menahan Diandra yang hendak pergi. " Tunggu sebentar!"


" Ada apa?" jawab Diandra.


" Pria itu mencarimu!"


" Siapa?" tanya Diandra yang belum paham dengan maksud Dewa.


" Rando Ferdinand!"


Maka teganglah seluruh tubuh Diandra saat mendengar hal itu. Dewa yang melihat gurat keterkejutan dari wajah Diandra terlihat sangat ingin tahu.


" Kenapa dia mencariku?" tanya Diandra yang mendadak terlihat risau dan tak nyaman.


" Mana aku tahu. Kau bisa menanyakannya sendiri!"


Namun tanpa di duga, saat mereka masih sibuk berbicara tiba-tiba terdengar langkah seseorang.


Dan sejurus kemudian,


DEG!


Itu rupanya suara Rando. Tak bisa diragukan lagi. "Astaga, bagaimana ini? Aku benar-benar tak ingin bertemu dengan pria itu!" batin Diandra dengan keresahan yang semakin menjadi.


Dan begitu Rando tiba di tempat mereka berdua berada, Diandra yang otaknya tak bisa berpikir lain tentang bagiamana cara membuat Rando berhenti mengganggunya langsung berjinjit dan mencium bibir Dewa.


DEG

__ADS_1


Maka tatkala Rando masuk, pria itu langsung membulatkan matanya demi melihat Dewa dan Diandra yang sedang berciuman.


" Apa yang kalian lakukan?"


__ADS_2