
"Toko ini ada di jalan Volgo kan?" tanya Rando usai melihat nama toko di seragam Vida yang telah ia ingat sebagai toko milik temannya.
Vida mengernyit. " Memangnya kenapa "
" Kau bisa pergi bersamaku. Aku akan langsung ke rumahsakit setelah ini. Kita bisa sejalan!" tuturnya terdengar seperti sebuah perintah ketimbang tawaran.
Vida melihat jam di pergelangan tangannya. Gara-gara membungkus bubur tadi, ia memang telah kehilangan lima belas menit waktunya. Usai menimbang selama beberapa saat, ia akhirnya menerima penawaran.
" Baiklah. Lagipula kau memang harus mengantarku. Gara-gara bubur ini aku terancam akan terpotong gaji!"
Rando lagi-lagi ingin tertawa tapi masih bisa ia tahan. Perempuan ini sungguh kikir sekali pikirnya. Tapi lucu saja saat menyampaikan. Semua serba di jebloskan tanpa embel-embel jaga image seperti perempuan kebanyakan.
Keduanya akhirnya masuk ke dalam mobil. Tapi saat mereka sudah berada di jalan, Vida tiba-tiba meminta Rando untuk menghentikan mobilnya saat ia mendadak melihat satu hal yang menyita atensi.
" Berhenti!" pintanya mendadak.
" Ada apa?"
" Pokoknya berhenti!"
Rando akhirnya menuruti permintaan gadis itu dan memanjangkan leher demi melihat apa yang sedang terjadi.
" Tunggu aku sebentar!"
__ADS_1
" Kau mau kemana?"
Tapi perempuan itu tak langsung menjawab dan malah dengan terburu-buru membuka pintu mobil Rando. Membuat laki-laki itu mendecak.
Dan setibanya ia di sebuah kursi panjang di tepi taman, ia langsung mendatangi seseorang yang ia kenali dengan raut murung.
" Jo!"
" Joshua!" panggil Vida demi melihat anak kecil yang sering ia temui duduk seorang diri di taman tersebut.
Rando yang rupanya diam-diam membuntuti Vida dan melihat hal itu, sontak membelalakkan matanya demi melihat seseorang yang merajai hatinya tengah di peluk oleh Vida.
Tunggu sebentar, bagiamana bisa Vida mengenal Joshua?
" Kamu kenapa di sini sendiri?" tanya Vida muram.
Tapi tangis yang makin menjadi dari bocah laki-laki itu makin membuatnya cemas. Vida membiarkan Joshua menangis. Mungkin masalahnya masih sama, anak itu di rundung kesepian yang tak bertepi seperti cerita yang sudah-sudah. Tapi belum sempat Joshua bercerita, sebuah suara yang tiba-tiba mampir ke telinga membuat keduanya terinterupsi.
" Joshua?"
DEG!
Vida menoleh dimana pria bertubuh tinggi itu menatap Joshua dengan mata yang sudah berjejalan dengan air mata.
__ADS_1
" Kau kenal anak ini?" tanya Vida yang terkejut sebab tak mengira jika Rando menyusulnya.
Joshua yang tahu siapa pria yang memanggilnya kini hanya menunduk setelah sebelumnya ia sempat menatap kaget.
Tapi Rando tak menjawab Vida. Ia langsung berjongkok menyamakan tinggi dengan anaknya. " Kau sedang apa disini, nak?"
" Nak?" ulang Vida makin tak mengerti.
Vida makin bingung. Kenapa kosakata yang di pilih mengarah ke satu keadaan yang berasumsi dekat?
Joshua tak menolak ketika di sentuh oleh Rando, tapi dia juga tak membuka mulut. Bocah itu malah semakin terisak-isak bersembunyi di dada Vida.
" Apa kau kabur lagi dari rumah, hm?"tebak Rando yang sepertinya sudah hapal dengan tindakan impulsif anaknya.
Vida makin dibuat bingung karena air mata Rando kali ini makin mengalir deras kala melontarkan pertanyaan.
" Sebentar. Kenapa kau menangis. Dan, kenapa Joshua..."
" Dia anakku!" sela Rando yang membuat kalimat Vida menguap ke udara. Maka detik itu juga bola mata Vida membulat sempurna demi mendengar ucapan mengejutkan dari pria di depannya.
" Apa kau bilang? "
.
__ADS_1
.