Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 59. A regret


__ADS_3

POV Dewa


Tubuhku seakan membeku meski jilatan api tak henti menyala-nyala membakar kayu. Otakku juga mendadak tak bisa diajak berpikir. Dan perasaanku kian di jejali bongkahan rasa yang sukar ku hilangkan. Rasa itu mungkin bisa dinamakan sebagai rasa sesal.


Perempuan bernama Anita itu masih terus saja bercerita meski aku tak menyahut sama sekali. Seakan ingin mencelikkan mataku yang telah buta tertutup satu kefanatikan soal harga diri, tanpa melihat cerita menyedihkan yang begitu menyentuh di belakangnya.


"Rando benar-benar telah membuat hidup Diandra jatuh ke titik paling bawah!"


Lihatlah, bahkan setiap cerita yang di suguhkan makin membuat dadaku nyeri. Tapi terus terang, aku benar-benar terus dan semakin ingin mengetahui lebih dalam tentang masa lalu dokter Diandra.


" Jadi, kau pernah berseteru dengan..." ku reka perbendaharaan kosakata sebaik-baiknya meski di akhir kalimat aku tiba-tiba ragu. Hah, apakah aku ini memang terlalu fanatik?


Tapi jawaban dari Anita selanjutnya malah semakin membuatku terlempar dalam jurang penyesalan paling dalam.

__ADS_1


"Dia memang selalu seperti itu. Mau saja mengorbankan perasaannya demi orang lain. Padahal, bisa saja dia tak melakukannya!"


" Mungkin aku harus mulai menyadari, bahwa Diandra memang jauh lebih baik dariku. Aku bahkan merah kepadanya karena Aldi pernah menawarkan diri untuk menikahi Diandra saat Rando menolak bertanggungjawab!" ucap Anita getir, " Saat itu hatiku sangat sakit. Itu terjadi karena pria yang ku suka justru memiliki rasa terhadap sahabatku!" tutupnya dengan air bening yang telah terkumpul di pulupuk mata.


Aku akhirnya menoleh saat Perempuan itu mengusap matanya menggunakan punggung tangan dengan muka sedih. Siapakah Aldi? Apa pria itu masih menyukai Diandra? Cih, kenapa hanya dengan begini saja diriku malah semakin berpikir jauh.


"Tapi aku sadar. Selama ini aku terlalu kekanak-kanakan. Aku yang seharusnya ada di samping Diandra di kala susah, bukannya malah menjadi salah satu sumber kesedihannya!" pungkas Anita penuh sesal.


Aku semakin tertegun. Jadi hubungan mereka selama ini tak baik-baik saja?


" Maaf!" sahutku cepat yang paham ke arah mana Anita berbicara. Ya, dia pasti ingin membahas soal hubunganku dengan Diandra yang belakangan ini memang memburuk.


Suasana selanjutnya lengang. Tak ada yang berminat angkat bicara. Hanya terdengar suara ranting yang gemelatik terbakar si jago merah. Tapi sebelum itu semua, ekor mataku sempat menangkap keterkejutan Anita yang sampai menoleh ke arahku.

__ADS_1


Namun sejurus kemudian, ungkapan lanjutan dengan nada rapuh dari seorang sahabat sontak meluluh lantakkan batinku yang semula angkuh.


" Tolong jangan sakiti dia lagi! Dia sudah sangat lama menderita batin. Tolong jangan kapten tambah lagi!" mohon Anita dengan air mata yang makin menganak sungai.


Dan permintaan yang berhasil menghujam relung dari Anita tersebut semakin terngiang-ngiang saat aku terjaga di tengah malam di dalam tenda.


Tidak tahu kenapa, mataku sulit ku pejamkan meski ragaku sangat lelah. Ketenanganku juga seolah terjajah oleh perasaan bersalah yang semakin mengendap. Merongrong dan membuat segenap keangkuhanku runtuh.


Tapi, apakah masih ada maafnya untukku?


Kini permasalahanku bahkan semakin menumpuk, sebab ada Lyara diantara aku dan Diandra. Bahkan terburuknya, karierku di militer bisa saja berakhir sebelum waktunya.


Aku tak tahan dan memilih keluar tenda dengan tujuan mengurai kesumpekan yang tak mau lenyap dari kepalaku. Namun setibanya aku diluar, aku malah dibuat terperanjat sebab melihat Anita masih duduk seorang diri sembari menekuri api yang telah meredup.

__ADS_1


Was she very regretful too?


__ADS_2