
Pagi ini, Dewa merasa sangat bersemangat sekali. Sejenak, ia bahkan terlupa bila ia sedang menjalani hukuman yang entah sampai kapan akan berakhir. Kesibukan berfaidah yang cenderung memberikan satu hiburan lah yang menjadi alasannya.
Beberapa hari yang lalu misalnya. Ia sempat mengantar sang ayah berkeliling areal perkebunan sayur sambil menyapa para pekerja yang kebanyakan berusia diatas empat puluh tahun.
Atau dua hari kemarin, dimana ia begitu antusias menemani sang ibu berkunjung ke lima petak uji coba pengembangan buah melon madu bersama para anak-anak muda.
Tapi dari seluruh kesibukan yang di lakoni, ujung-ujungnya ia kembali di pusingkan dengan pertanyaan soal kapan menikah, yang licin di luncurkan oleh bibir para ibu-ibu rempong. Hah, sepertinya ia tak boleh lagi menganggap remeh cuitan orang- orang tadi.
Dan untuk hari ini, ia benar-benar ingin menikmati waktunya sendiri. Berkeliling kota menggunakan mobil. Berkunjung ke tempat baru yang semula hanya bisa ia tilik melalui Instagram.
Beberapa saat kemudian, ia membelokkan mobilnya ke sebuah tempat ngopi yang begitu estetik. Namun saat asyik menikmati pemandangan kota yang padat, tidak taunya ia malah bertemu dengan Viona.
" Dewa?" sapa perempuan itu dengan wajah senang.
Pria yang di panggil langsung menoleh. Sedikit terkejut sebab tak mengira akan bertemu perempuan itu di tempat ini.
"Astaga, kita bertemu lagi. Boleh aku duduk?" Viona terlihat sangat senang.
Dewa mengangguk mengiyakan.
" Kau sedang apa di sini?" tanya Dewa berbasa-basi.
" Oh, aku baru saja bertemu dengan relasi. Sudah pesan makanan?"
Dewa menggeleng. Viona lantas mengangkat tangan memanggil pelayan. Sepanjang Viona berbicara memesan makanan, Dewa terlihat memikirkan sesuatu. Ia tiba-tiba mendapat satu ide.
Sepeninggal pelayan tadi, Dewa langsung mengajukan pertanyaan. Ia bahkan terlihat lebih komunikatif daripada saat berdinas.
" Emmm, kau sendiri?" tanya Dewa menebak.
Viona mengangguk. " Mungkin udah rezekinya ketemu sama kamu. Soalnya, aku gak biasanya naik taksi!" ucapnya tersenyum senang.
" Aku akan mengantarmu nanti!"
Dan kalimat sederhana itu berhasil membuat Viona semakin senang. Entahlah, sepertinya Dewi Fortuna sedang bersamanya hari ini.
Mereka menutup pertemuan tak sengaja itu dengan vanilla almond ice cream yang creamy dan manis. Dan seperti yang sudah di janjikan tadi, laki- laki itu betul- betul mengantar Viona.
Mobil dewa masuk ke area rumah yang tinggi dan luas. Kini Dewa benar- benar yakin jika Viona memang adik dari Rando.
" Ayo masuklah, jangan sungkan!" kata Viona sesaat setelah mereka turun dari mobil.
__ADS_1
Dewa menyembunyikan ketidaksukaannya di balik senyum ramah. Rumah keluarga Ferdinand sangatlah besar. Sepertinya, sikapnya mendekati Viona sangatlah tepat. Ia butuh satu akses untuk tahu seluk beluk keluarga itu.
" Vio, kau sudah pulang?" sapa seorang wanita begitu derak langkah kaki mereka terdengar.
" Sudah ma. Aku... diantar oleh temanku!"
Nyonya Ferdinand yang melihat sosok tampan penuh kharisma yang berjalan di sebelah anak bungsunya langsung terpana.
" Siapa dia Vi?" tanya nyonya Ferdinand penuh keingintahuan.
" Kenalkan ma, dia Dewa. Dewa, ini mamaku!"
Mereka berdua langsung tersenyum satu sama lain. Dewa benar- benar bukan seperti dirinya. Andai Rayyan ataupun Yean melihat hal ini, ia yakin jika dua laki-laki itu pasti akan tertawa terbahak-bahak.
" Halo Tante saya Dewa!" ucap Dewa saat tangan mereka saling menjabat.
" Halo Dewa. Senang bertemu denganmu!"
Kesan pertama, Nyonya Ferdinand tampaknya cukup senang dengan sosok Dewa. Apalagi, ia bisa melihat senyuman cerah di wajah putrinya. Pertanda jika pria itu memiliki nilai lebih di hati si bungsu.
" Ah duduk- duduk mari sini. Bik, bibik tolong bawakan minum!"
Menit- menit pertama, mereka mengobrol wajar. Soal perkejaan, kemudian alamat tempat tinggal Dewa, sampai status yang masih single. Dan dari itu semua, Nyonya Ferdinand yang mengetahui bila jabatan Dewa di lingkungan militer merupakan jabatan krusial, menjadi semakin senang.
Laki- laki berhidung runcing itu mengangguk. " Baru mendapatkan misi kemanusiaan di Tidom Tante! Jadi, kami di istirahatkan dulu!"
Viona yang melihat sang Mama tampak ramah kepada Dewa menjadi sangat senang.
" Wah, kakaknya Vio juga barusaja dari sana! Katanya dekat loh lokasinya dengan yang tekena longsor itu!"
Dan tanpa di sangka, saat mereka masih larut dalam obrolan yang lumayan menarik, yang dibicarakan tiba- tiba muncul dengan wajah keruh karena suatu hal. Dan begitu pria itu melihat ke arah tamu, maka terbelalak lah matanya demi melihat seorang Dewa yang duduk santai di dekat adik juga mamanya.
DEG
" Rando, kau sudah pulang? Kemarilah, ini ada temannya Vio, kenalan dulu sini!"
Tapi alih-alih tersenyum seperti yang sering ia lakukan ketika ada tamu Mama, Rando malah langsung melemparkan tatapan tak ramah kepada Dewa yang bisa- bisanya bersikap manis seolah tak terjadi apapun antara mereka.
" Halo, kita bertemu lagi!" ucap Dewa dengan seringai misterius. Membuat Nyonya Ferdinand dan Viona saling menatap.
" Kalian udah saling kenal, kak?" tanya Vina menolehkan kepada sang kakak dengan tatapan ingin tahu.
__ADS_1
" Kami bertemu di pengungsian. Kalian lanjut saja ngobrolnya, aku ganti baju dulu!"
Rando pergi dengan wajah shock. Sementara Dewa terlihat menarik senyuman tipis yang tak diketahui oleh siapapun. Dan beberapa saat kemudian saat Dewa baru keluar dari toilet tamu, Rando tiba-tiba langsung menghadang langkah Dewa dengan tatapan dingin.
" Apa mau mu?" tanya Rando yang menunjukkan ketidaksukaan.
Tapi Dewa langsung tersenyum penuh arti. " Tidakkah kau dengar saat adikmu berbicara tadi? Aku kemari karena mengantarnya!"
" Jangan macam-macam kau! Jika kau berani mempermainkan adikku, tak akan kubiarkan kau hidup!" ancam Rando yang mencium bau ketidakberesan.
Tapi bukannya takut, Dewa justru terkekeh di hadapan seraut wajah yang nampak geram.
" Macam-macam bagaimana? Sepertinya adikmu lebih ramah daripada kakaknya ya?"
Namun saat Rando hendak memberikan hadiah dari kelancangan mulut Dewa, Nyonya Ferdinand tiba- tiba datang dan membuat semua niatan Rando sirna dalam sekejap.
" Lah malah pada ngobrol disini. Ayo kita makan sama- sama dulu! Ayo Dewa!"
Maka Rando seketika menahan geram saat melihat seringai licik yang di tampilkan oleh Dewa.
Sepanjang makan di meja makan, Rando tak henti- hentinya menatap curiga ke arah Dewa. Pria itu bahkan terang- terangan memasang wajah permusuhan kepada Dewa.
" Permainan apa yang akan laki- laki itu mainkan?"
" Oh iya, Dewa ini yang nolongin aku di mall beberapa bulan yang lalu kak. Kakak ingat tidak? Itu yang aku ceritakan!" kata Viona tersipu-sipu sebab sejak awal bertemu gadis itu sudah jatuh cinta.
Tapi yang di ajak ngomong malah terus memperhatikan Dewa tak jemu. Terlihatlah sama sekali tak percaya dengan laki- laki di hadapannya itu.
" Kak!"
Rando yang di senggol lengannya seketika terkesiap. " Maaf!"
Vio mendengkus kesal sekaligus malu sebab sang kakak malah bengong. " Ngelamunin apa sih? Heran deh!" sungutnya sebal.
Nyonya Ferdinand yang melihat keganjilan itu seketika menengahi. " Maaf ya nak Dewa. Vio memang beda sama kakaknya. Semoga tidak kapok main kemari ya?"
Rando benar- benar dibuat tak tenang saat ini. Bagaimana bisa Viona bertemu laki- laki itu? bahkan, masih belum sirna dari ingatannya saat Diandra mengecup bibir pria itu dan membuat dadanya serasa terbakar.
Apalagi, ia melihat dan meyakini bila sepertinya Viona memang menaruh rasa kepada pria itu.
Namun saat Rando masih hanyut dalam pikirannya yang mendadak kusut itu, ponselnya tiba- tiba bergetar.
__ADS_1
" Halo Steve?" ucap Rando sesaat setelah ponsel itu tertempel di dauh telinganya.
" Bos, anda di mana? Bisa kita bertemu sekarang juga, ada hal penting yang ingin saya sampaikan!"