
Matahari hendak tenggelam saat Maeda dan kelompoknya tiba di kawasan asing yang dinilai aman. Diandra tak tahu dengan pasti tempat apa itu. Tapi yang dapat ia amati, tempat itu hampir seperti bumi perkemahan di Tidom dulu. Rapat dan ada banyak sekali tenda.
" Aman, kosong!" ucap Tom melapor kepada Maeda usai mengontrol tempat itu bersama anak buah Maeda.
" Minta yang lain mengamankan makanan obat-obatan yang ada!" titah Maeda sembari menggeser duduknya dengan wajah meringis menahan sakit.
" Baik bos!"
Namun saat hendak berbalik, Tom malah tak sengaja melihat dada dan perut Maeda yang mengeluarkan darah di atas perban. Dan belum sempat ia berucap memberitahu, pria bertato di lengan itu langsung ambruk di samping Diandra yang masih sibuk mengatur napas.
BRUK!
" Bos!" teriak Tom dan berhasil membuat puluhan anak buah Maeda menoleh shock termasuk Diandra.
Tom berlari dan langsung mengangkat kepala Maeda ke pangkuannya dengan muka panik. " Dokter, cepat bantu bos!"
" Ta-tapi a-aku..."
" Kita kesana, cepat!" teriknya gusar.
Rasa lelah yang semula mendera, seketika enyah manakala Tom memarahinya. Ia langsung bangkit dan berlari mengikuti Tom yang bersama anak buahnya menggotong Maeda diatas tandu.
Mereka masuk ke sebuah tenda yang kebetulan pas berisikan peralatan dan obat-obatan. Meski agak kaget sebab bagaimana bisa ada banyak sekali obat-obatan dan berbagai jenis peralatan dokter di tempat seperti ini, tapi Diandra yang takut di marahi tom langsung mengambil beberapa peralatan untuk mengobati Maeda.
Sepanjang menangani luka pria yang wajahnya sudah sangat pucat itu, Dokter Diandra merasa ini adalah pengalaman paling mengerikan sepanjang hidupnya. Melihat kelompok bersenjata yang saling serang dengan kelompok lain. Rupanya ada di dunia nyata.
Dokter Diandra menoleh saat Tom tiba-tiba beranjak dan tampak mengusap wajahnya berulang kali. Apakah dia menangis?
Diandra terus fokus menyelesaikan tahap demi tahap pengobatannya. Hingga beberapa saat kemudian, langkahnya tiba-tiba membawanya ke tempat Tom berdiri menghadap hamparan pohon lebat. Diandra mencari pria galak itu.
" Di sudah aku obati. Jika sesuai prosedur, dia akan bangun beberapa jam lagi! Semoga tidak ada infeksi!" ucap dokter Diandra kepada Tom.
Tom yang semula berdiri sembari menangis nampak terkejut dan langsung mengusap wajahnya berulang kali agar tak ketahuan. Namun terlambat, dokter Diandra tampaknya telah mengetahuinya lebih dulu.
" Bisakah kau pastikan jika dia akan selamat?" tanya Tom dengan mata yang memerah. Tak salah lagi, pria itu barusaja menangis.
__ADS_1
Diandra bisa melihat sorot mata penuh harap dari pria yang beberapa waktu terakhir menciutkan nyalinya.
" Aku hanya dokter bukan malaikat!"
Lihatlah, ia bahkan mengutip kata-kata Maeda yang menyindirnya beberapa jam yang lalu.
Suasana selanjutnya lengang. Hanya ada sepoi yang menebar buncah. Melihat gestur Tom yang sedikit melunak, Diandra memberanikan diri untuk duduk di samping pria yang di pundaknya selalu digantungi oleh senjata itu.
" Sebenarnya siapa kalian? Jika kalian penjahat, kenapa ada penjahat lain yang menyerang kalian?" tanya Diandra.
Tom yang di tanyai terlihat terdiam. Pandangannya nampak jauh ke depan menembus rimbun pepohonan yang mulai gelap di telan waktu.
" Orang-orang seperti kami menganut hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang menang!" sahutnya tersenyum getir.
Meski masih belum tahu dan paham. Tapi sepertinya, Diandra bisa menangkap bahwa pria ini barusaja memberitahukan bila mereka sudah biasa dengan keadaan seperti itu.
" Maaf menyeretmu ke situasi seperti ini. Tapi aku hanya ingin Maeda pulih!" kata Tom dengan suara tercekat. Tak mengira akan sampai juga di titik paling sendu dalam hidupnya. Melihat Maeda terluka.
Diandra tak membenarkan tindakan Tom. Tapi untuk saat ini, jujur ia turut merasa sedih.
Diandra tertegun saat Tom pergi melaluinya begitu saja. Ia lantas memilih masuk ke tenda Maeda sebab hari juga mulai gelap.
Setibanya ia di dalam tenda, ia nanar menatapnya sosok badas yang kini terbaring lemah. Pria itu tampan. Hanya saja, banyak sekali luka yang tercipta di sepanjang , dada, perut juga punggungnya.
" Apa yang membuatmu menjadi orang seperti ini?"
Diandra meletakkan tangannya di kening Maeda. Pria itu masih demam. Ia sejurus kemudian meletakkan kepalanya di tepian ranjang Maeda sebab takut terjadi sesuatu dengan pria itu mengingat Tom sudah mewarning dirinya.
Tanpa terasa, Diandra yang kelelahan tertidur di tepi ranjang Maeda. Ia tidur di tepat di sebelah sosok yang kini sedang kritis.
.
.
Semua personel akhirnya membagi diri kembali sesuai formasi. Tapi hingga fajar tertelan cakrawala jingga, mereka belum juga menemukan tempat itu. Mereka akhirnya memutuskan beristirahat dengan mendirikan tenda darurat.
__ADS_1
Melihat Dewa yang termenung, dokter Anita nampak mendekat. Membiarkan para anggota yang lain sibuk membutakan tempat istirahat untuknya.
" Aku tahu Kapten kecewa kepadanya!" ucapnya tepat di belakang Dewa yang terlihat menyalakan api.
Selain agar hewan buas takut, perapian bisa menghangatkan suhu di sekitar sekaligus mengusir nyamuk. Dewa yang mendengar suara kontan menoleh. Tak mengerti apa yang di maksud oleh dokter Anita.
" Boleh aku duduk?" tanya dokter Anita.
Dewa mengangguk tanpa bersuara. Kini pria itu lebih dingin dari suhu yang ada.
" Pria brengsek bernama Rando itu dulu adalah temanku!" terang Anita di hadapan perapian yang menyala-nyala sembari turut melempar beberapa ranting kering.
Dewa tak menjawab namun tak juga mengabaikan. Tapi terus terang, ia agak terkejut sebab dokter Anita tiba-tiba membahas soal Rando.
" Mereka dulu berpacaran semasa sekolah. Well, Diandra di jebak saat satu malam dan akhirnya hamil. Tapi setelah tahu dia hamil, Rando tak mau bertanggungjawab!" kata Anita disertai senyuman sumbang.
Tubuh yang semula biasa saja tiba-tiba merasakan sensasi aneh usai mendengar penjelasan tersebut. Dijebak?
" Rando meminta Diandra menggugurkan kandungannya." mata Anita kali ini berkaca-kaca. Ia bahkan menghela napas berkali-kali saat menceritakan hal ini. Sebab sungguh, usai mendengarkan cerita soal Dewa yang kecewa dengan Diandra, membuat emosi Anita meronta-ronta.
Meski ia masih kesal sebab Aldi lebih memilih Diandra. Tapi persahabatan mereka nyatanya tak bisa ia nafikkan begitu saja.
" Tapi anak itu malah memilih untuk merawat anaknya sendirian bersama Mamanya tanpa sepengetahuan Rando!"
DEG
Dada Dewa semakin berdetak lebih cepat. Tubuhnya mendadak membeku. Sejumput rasa sesal mendadak menyelinap tanpa izin melingkupi seluruh sanubarinya.
"Orang yang tidak tahu memang pasti bakal menyalahkan." sambung Anita kembali tersenyum pahit, " Karena hamil diluar pernikahan itu memang sebuah dosa. Tapi orang lain tak melihat, bahwa Diandra sebenarnya perempuan yang tegar dan memilih prinsip."
Dewa semakin gencar menekan jakun hingga membuat benda itu naik turun. Apakah dia telah melakukan satu kesalahan? Dia bahkan sudah melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati Diandra. Bahkan, dengan sadarnya ia membuat Diandra cemburu.
" Jika tidak, maka Joshua pasti sudah tidak ada di dunia ini!"
Damned!
__ADS_1
Hati Dewa bagai tertusuk duri detik itu juga. Kenapa dia tak menggali dulu lebih jauh. Kenapa rasa bersalah kini mulai menyerangnya. Dan, kenapa dia harus mengetahui hal penting ini saat ia sudah memberikan sinyal kepada Lyara.