
Jenderal Gustav memeriksa ruang bawah tanah dan ia mendapati tempat itu tak kalah sunyinya. Selanjutnya ia bergegas masuk karena kecurigaannya semakin menguat saat pintu terjeblak tanpa ada penjaga.
Dan saat ia sibuk memeriksa tempat itu, ia tersentak manakala mendengar suara mesin mobil yang tiba-tiba berderu.Ia lantas berlari menuju ke arah jendela guna memastikan. Dan sesampainya ia disana, matanya melebar sempurna demi mendapati seorang tentara yang bertugas bersama Dewa beberapa waktu yang lalu, mengendarai sebuah mobil yang cukup ia kenali.
" Sial, jangan-jangan mereka sudah tahu!"gumamnya kesal dengan pikiran yang panik bukan kepalang.
Gustav yang panik langsung teringat untuk mencari anaknya. Hal itu ia pilih sebab beberapa waktu yang lalu Lyara mengatakan jika ia akan berkencan dengan Dewa. Ia harus memastikan apakah keempat Kapten itu tahu rahasianya, atau pria di balik kemudi tadi adalah orang lain.
Namun saat memasuki tempat yang di infokan sang anak beberapa jam yang lalu, keterkejutannya makin menjadi saat mendapati tempat itu juga kosong melompong.
" Lyara! Sayang!" ia terus mencari anaknya hingga masuk ke dalam. Ia juga semakin panik saat mendapati tempat itu juga tak berpenjaga.
Melihat tempat itu seperti kosong, Gustav lantas melangkah pergi untuk mengecek sisi lain ruangan. Namun saat ia tiba di mulut pintu, sebuah gedoran lemah menjeda langkahnya.
DUG
" Emmmmhhh!"
Gustav yang mendengar sesuatu mempertajam telinganya. Ia mencoba berkonsentrasi dan mencari tahu dari mana suara itu berasal.
DUG
DUG
" Emmmpghh!"
Ia merasa suara itu berasal dari arah belakang. Ia menarik sepucuk senjata dari balik punggungnya dengan langkah bersiap. Namun saat membuka lemari itu, ia kontan membelakak saat melihat seorang perempuan yang mulutnya di sumpal kain dengan tangan dan kaki teringat seraya menangis.
" Anakku!"
.
__ADS_1
.
Kantor Lembaga Hukum dan HAM Santara
Pukul 21.19
Dewa datang sesuai jadwal. Dewa bersyukur akhirnya bisa membawa Maeda ke tempat yang seharusnya.
Ia dan Maeda harus segera menemui petinggi di lembaga itu usai di bantu Yean. Yean sudah datang lebih dulu dan menerangkan kepada petinggi lembaga itu mengenai kasus yang menyeret Maeda. Tapi seperti prosedur yang sudah-sudah, hal sekrusial ini harus mendatangkan langsung pihak yang bersangkutan.
" Syukurlah kalian sudah datang. Ayo, mereka sudah menunggu di dalam!"
Tapi saat mereka hendak masuk, Dewa mengernyit mendapati nomor tak dikenal menelpon ponselnya. Siapa ini? Bukankah nomor ini hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu.
Dewa lantas menggulir tombol hijau pada ponsel memupus keingintahuan. " Halo?"
" Kembalikan tahanan itu atau wanita ini akan ku bunuh!"
DEG
" Apa maksudmu?" sengitnya yang mengundang rasa penasaran Yean juga Maeda.
Tapi sayup-sayup jeritan seorang perempuan yang sangat familiar dari dalam telepon sontak membangkitkan amarahnya.
" Dewa, tolong! Ah!"
PLAK!
Dewa mengeraskan rahangnya demi menyadari jika itu adalah Diandra. Suara dalam telepon itu jelas menegaskan jika Diandra sedang dalam bahaya.
" Kalau sampai kau menyentuhnya seujung kukupun, aku tidak akan mengampunimu!" ancam Dewa yang tak lagi bisa berkompromi jika sudah menyangkut Diandra.
__ADS_1
Pria dalam telepon tergelak. " Datanglah bocah sombong. Kau telah membuat putriku tersiksa. Maka rasakan sekarang akibatnya!"
" Diandra!" pekik Dewa cemas saat ia mendengar kegaduhan, yang disertai teriakan takut perempuan yang sangat berharga baginya itu.
Maeda dan Yean langsung menoleh tegang saat pria itu kini berteriak dengan mata yang sudah merah.
" Ada apa?" tanya Yean cepat.
" Pak Gustav menemukan Lyara dan sepertinya mereka sekarang menyandera Diandra!"
" Apa?"
Dewa bahkan langsung tertunduk lemas tak mampu menyahut kekhwatiran dua laki-laki di depannya.
" Kalau begitu kita harus segera menyelamatkan dokter itu!" seru Maeda yang tampak cemas.
" Apa maksudmu, kita sudah di depan pintu lembaga HAM. Kau harus masuk dan menceritakan semuanya. Bukti sudah dibawa oleh Yean!" omel Dewa yang tak setuju dengan ide gila Maeda.
" Tapi dokter itu lebih penting. Tak ada artinya aku mendapatkan bagianku jika dokter Diandra yang menjadi taruhannya!"
Yean tertegun resah. Keadaan ini benar-benar membuatnya pusing. Nasib Maeda penting. Tapi keselamatan dokter yang tak tahu apa-apa itu juga tak kalah penting.
" Tunggu apa lagi, ayo cepat!" pekik Maeda yang semakin gusar.
Dewa tak bisa lagi berpikir. Ia bahkan tak bisa lagi menunjukkan sikap tenang seperti biasanya.
" Masuklah bersama Yean. Aku harus pergi!"
" Apa kau sudah tuli, aku ikut!" sergah Maeda yang kali ini menjadi kesal dengan pria tampan yang tiba-tiba menjadi lemah karena berita Diandra.
Membuat Yean akhirnya menengahi ketegangan yang tercipta. " Pergilah dulu. Aku akan berdiplomasi dengan orang dalam. Dokter Diandra pasti sangat ketakutan!"
__ADS_1
Maka Dewa tak lagi bisa menghentikan Maeda yang bersikukuh untuk ikut. Yean akhirnya masuk kedalam ruangan dan terpaksa mengulur waktu. Ia juga sudah mengabari Zilloey dan Rayyan bila ada pergantian rencana.
Sepertinya, bom yang selama ini ia bawa kemana-mana akan meledak malam ini juga.