Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 14. Anak Jenderal


__ADS_3

Hari ini sepertinya Dewa bekerja sangat keras. Lima orang sandera utama telah berhasil di bebaskan petang tadi. Usai memimpin operasi di perbatasan guna mengakomodir kedatangan kiriman logistik makanan, persenjataan juga obat-obatan. Pria itu langsung memerintahkan anak buahnya yang lengkap dengan beberapa sniper untuk menyisir pedalaman hutan.


Dari aksi itu, mereka berhasil meringkus satu orang musuh dan melumpuhkan setidaknya lima orang pemberontak. Korban yang rata-rata tengah dalam kondisi lemas kini sedang di rawat intensif di tenda medis.


Sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Sebab jika setiap hari jumlah tawanan yang di selamatkan bertambah, maka misi kali ini bisa di pastikan akan selesai dalam beberapa hari kedepan. Kini mereka hanya tinggal menyelamatkan dua orang lagi. Mitigasi yang di rencanakan, mereka akan menyisir semua wilayah dan bergerak cepat menggunakan artileri termutakhir.


" Minumlah!" Kata Yean kepada Dewa serta menyerahkan sebotol minuman.


Ia merupakan Kapten polisi kota Santara yang ditugaskan untuk bergabung bersama Dewa dan dua orang Kapten dari Matra Laut juga Udara. Zilloey dan Rayyan.


" Terimakasih!" sahut Dewa yang malam ini berkumpul dengan ke empat kapten dari empat pilar penegak hukum yang kesemuanya masihlah bujangan. Terlihat mengistirahatkan diri dari ketegangan yang setiap hari telah menjadi makanan mereka.


" Jika kita berhasil, satu lencana akan di tambahkan ke sini!" Kata Ray berkelakar. Sengaja memilih bahasan ini agar Dewa mau tertawa.


Zilloey terkekeh mendengar hal itu. Terlihat tak setuju. " Oh common man! Para Mayor lah yang akan dapat semua ini! Bukan kita!" sergahnya dengan tawa sumbang. Sebab sudah menjadi sebuah kebiasaan.


Yean turut terkekeh mendengar sekelumit kenyataan itu, namun pandangannya ia arahkan kepada Dewa yang masih saja irit senyum. Terlihat menyimpan satu persoalan.


" Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Yean serius. Membuat Ray dan Zi langsung menoleh. Memperhatikan secara saksama rekannya dulu yang sama-sama menempuh pendidikan di akademi militer itu dengan raut ingin tahu.


" Aku melihat persenjataan mereka bukan dari brand asing!" kata Dewa serius.


" Apa? Tahu dari mana kau?" tanya Zi yang lumayan terkejut.


Kini ketiga sahabatnya dibuat berpikir kembali.


" Aku curiga mereka punya backing yang kuat di negara kita. Jika tidak, dapat uang darimana mereka untuk mendapatkan senjata seperti tadi?" balas Dewa yang rupanya sempat melihat jenis senjata yang digunakan oleh musuh.


Ke empat satria itu terlihat berpikir keras. Jika semua ini benar. Maka mereka juga harus bermain cantik. Indikasinya, sepertinya ada pengkhianat di negeri sendiri.


...----------------...


Hari-hari yang berat telah berlalu. Semua tawanan di nyatakan berhasil di bebaskan meski para pemberontak juga berhasil kabur. Namun sesuai tugas dan perintah dari atasan yang berfokus untuk menyelamatkan sandera, ke empat kapten beserta para anggota akhirnya kembali Batalyon masing-masing.


Dan di Sabtu malam ini, semua team yang terlibat kasus besar itu di undang di acara resmi serta jamuan malam, untuk memberikan penghormatan kepada seluruh team yang tergabung termasuk para dokter.


Malam itu, Dewa terlihat sangat tampan. Pun dengan ke tiga kapten, dan semua anggota mereka. Jika biasanya mereka menggunakan pakaian dinas harian yang terkesan kaku, malam ini mereka menggunakan jas casual yang membuat tampilan mereka begitu keren.


Seluruh tamu undangan terlihat sudah memadati aula ballroom. Mereka nampak tumpah ruah memenuhi ruangan yang di depan sana telah duduk barisan para petinggi. Siap memberikan sambutan dan seremonial resmi secara militer.

__ADS_1


" CK, kalau aku dirumah. Makanan itu bisa jadi berhari-hari!" bisik Oka yang malah fokus ke makanan sedari awal dirinya datang.


" Beda Ka. Pasti dirumahmu menu makanan mulai matahari terbit sampai matahari tenggelam sama ya?" balas Gabriel.


" Kok tahu?"


" Soalnya sama!"


Kedua orang itu terkikik-kikik demi mereview kemiskinan yang pernah menjadi bagian hidup mereka. Membuat Dewa menoleh ke sumber berisik itu dengan raut wajah kesal.


" Siap salah kapten. Mohon maaf!" ucap Oka dengan suara berbisik sebab di depan sana masih terdengar sambutan yang entah sudah ke berapa kalinya.


Namun saat hendak kembali fokus ke depan, mata Dewa tak sengaja melihat Diandra yang duduk di lajur paling timur bersama dengan team dari rumah sakit Medica Care Hospital. Ia terpaku selama beberapa detik.


Dan tidak tahu kenapa, Dewa malah sejenak memperhatikan dokter itu dengan perasaan lumayan aneh. Namun menginjak di detik ke tiga, Zi dan Ray malah menciduknya.


" Jangan sering dilihat, nanti hatimu bisa sekarat!" sindir Zi menahan tawa dan membuat Ray terkikik-kikik.


Maka Dewa langsung mendecak sementara dua rekannya malah tergelak sebab berhasil membuatnya sebal.


Di ruangan dengan rona hangat sebab lampu mewah tengah berpijar itu, terlihat seorang jenderal datang dan memberikan sambutan penuh kebanggan kepada anak buahnya.


Seremonial yang begitu panjang dan lama telah selesai di lakukan. Seperti yang sudah Zilloey katakan sebelumnya. Para Mayor yang menjadi atasan mereka lah yang mendapat penghargaan. Itu sudah pasti. Tapi itu bukan hal aneh.


Usai mendengarkan sambutan yang terkesan berabad-abad itu, kini mereka masuk ke acara ramah tamah. Beberapa orang penjilat memilih berfoto-foto dengan para jenderal, sebagian lagi ada yang langsung menuju meja makan, dan sebagian lagi saling duduk mengobrol dengan santai.


Zi dan Ray terlihat memisahkan diri sebab ia harus menemui Mayor mereka. Sementara Yean sedari awal sudah harus bersama para petinggi kepolisian.


" Dewa!"


Sebuah teriakan bahkan sampai mampir ke telinga Diandra yang sedang sibuk berbincang-bincang dengan beberapa rekan setimnya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat wanita yang berteriak itu tiba-tiba bergelayut manja di lengan Dewa.


Membuat Diandra tercenung beberapa saat." Apa dia yang dibicarakan Oka kemarin?"


" Bukan begitu dokter?" tanya seseorang yang sebenarnya sedang terlibat obrolan dengan Diandra.


" Dokter!" ulang orang itu sebab Diandra malah kehilangan fokusnya.


" Ah iya!" Diandra yang sibuk membatin sampai tergeragap karena ia kehilangan fokusnya manakala melihat interaksi Dewa dan wanita cantik itu.

__ADS_1


Kini rekan-rekan Diandra malah turut menujukan pandangnya kepada Dewa yang berdekatan dengan seorang wanita cantik.


" Aku permisi sebentar!" kata Diandra kepada rekan-rekannya. Ia memilih berjalan menuju toilet guna membunuh keanehan dalam dirinya.


Namun saat melintas di area yang tak jauh dari tempat Dewa berdiri, ia tiba-tiba mendengar sebuah perkataan yang membuat dadanya ngilu.


" Apa Papa masih sering menugaskanmu ke daerah konflik? Aku bisa memintanya untuk memindahkan mu ke detasemen agar kita bisa sering bertemu!"


Diandra yang mendengar hal itu malah menjadi terpaku. Apa Dewa bakal mau? Apa semua orang selalu silau jabatan? Entah mengapa ia seperti ingin menguping.


" Nona, tolong jangan membahas hal ini di sini!" sergah Dewa terlihat tak nyaman.


" Kenapa? Aku sangat sulit bertemu denganmu. Sekarang, kau harus..."


Namun tiba-tiba.


PYRANG!


" Ahw!"


Dewa yang melihat seorang pelayan menabrak seorang wanita langsung meninggalkan Lyara yang belum selesai menuntaskan kalimatnya. Membuat wanita itu berdecak kesal.


Namun saat hendak menolong, Dewa malah dibuat terkejut sebab orang itu rupanya adalah Diandra


" Dokter?" tanya Dewa manakala melihat jika wanita yang tertabrak pelayan itu adalah dokter Diandra.


" Maaf nona, maafkan saya! Saya tadi tidak melihat anda berdiri di sini. " kata pelayan itu tertunduk dengan wajah setengah ketakutan.


" Tidak apa-apa aku yang salah! Aku minya maaf ya!" balas Diandra yang tak enak hati kepada pelayan itu.


Meskipun kejadian berhasil mengundang perhatian seluruh undangan, tapi akhirnya situasi itu mulai mencair saat pelayan itu telah pergi.


" Maaf. Aku ke belakang dulu!" kata Diandra tak berani mengangkat mukanya ke arah Dewa.


Diandra benar-benar malu karena harus mengalami insiden ini. Dewa memperhatikan Diandra yang terlihat tak nyaman dan cenderung terburu-buru saat pergi. Sampai tak menyadari bila Lyara menyusulnya ke sana.


" Dewa, kenapa kamu malah pergi sih? Aku masih belum selesai bicara denganmu!"


Dan demi apapun yang ada di dunia ini, sungguh Dewa kurang nyaman dengan Lyara yang terus menggunakan nama Papanya untuk mengintervensi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2