
Saat Dewa kembali ke tenda, para anggota yang terlihat berkumpul memutari api yang menjilat kayu nampak saling tersenyum-senyum. Jelas mengindikasikan bila sebuah gosip telah merebak. Cepat dan tak tertahankan.
Gabriel dan Oka langsung pura-pura membetulkan nyala api. Tak mau sampai kena damprat sebab memang mereka lah biang keroknya. Sementara itu, Dewa yang terburu-buru langsung memilih pergi ke tenda utama guna menemui Dorris.
" Heh, mana yang katamu kapten barusan berduaan dengan dokter cantik itu? Kenapa beliau terlihat biasa saja? " seru Sam menyenggol lengan Gabriel tatkala sang kapten telah masuk ke dalam tenda komunikasi.
" Aku tidak bohong!" balas Gabriel sedikit malas kepada si tukang kepo.
" Buktinya wajahnya masih tegang begitu!"
" Memangnya kapten kapan tidak tegang? Mereka tadi bahkan sangat dekat tahu. Terlihat seperti mau berciuman!" lanjut Oka membesar-besarkan. Membuat semua orang makin membulatkan mata.
" Hah, kau serius?"
"Kau bisa bertanya kepada dokter itu besok kalau kau tidak percaya!" balas Gabriel semakin memutar bola matanya malas.
" Apa, yang benar saja. Kami meminta kalian untuk membuntuti karena biar dapat informasi. Kenapa jadi kami yang harus konfirmasi? Senang sekali memanfaatkan orang lain!" jawab Sam seraya mendengus kesal.
" Hey bung, kau mau tahu caranya agar tidak mudah di manfaatkan oleh orang lain?" tanya Oka mulai lelah dengan Sam.
" Apa?"
Oka terlihat mendekatkan mulutnya ke telinga kanan Sam yang nampak bersiap mendengar satu rahasia.
" Jadilah orang yang tidak bermanfaat!" teriak Oka tepat di lobang telinga Sam, dan membuat pria berkulit coklat itu memejamkan matanya demi menahan volume suara yang memekakkan telinga.
Maka tergelak lah seluruh pasukan di sekitar perapian, sebab Oka dan Sam malah bergelut di sana.
...----------------...
Hari berganti hari.
Rando siang ini sedang berada di tempat makan cepat saji. Sengaja ingin menyendiri di tempat makan langganannya semasa sekolah dulu. Ia sedang stress. Orangtuanya terus saja menuntutnya untuk menikah. Demi keberlangsungan perusahaan tanpa memikirkan perasaannya.
Sungguh, ternyata tak enak juga menjadi orang kaya. Ia harus di tuntut ini itu tanpa ada yang mau mendengarkan keinginannya.
Jam memaksanya untuk kembali ke kantor. Namun saat berbalik, seorang anak laki-laki terlihat tak sengaja menabraknya lalu menumpahkan minuman yang dibawa itu ke jasnya.
" Astaga!" teriak seorang ibu-ibu yang melihat anaknya menabrak Rando.
Rando yang melihat celananya basah langsung mengambil sapu tangan dari dalam kantong celananya, sementara ibu-ibu itu langsung meminta maaf.
" Maafkan anak saya tuan!"
" Tidak apa-apa Bu, saya jug...."
__ADS_1
Deg!
kedua orang itu langsung bersipandang. Seorang lagi kaget, dan seorang lagi terlihat seperti mengingat-ingat. Joshua yang melihat suasana seketika sunyi langsung bingung. Apa keduanya saling mengenal.
" Emmm ma- maaf. Sekali lagi tolong maafkan anak saya. Permisi, ayo nak!" kata ibu-ibu itu terlihat gugup.
Tapi Rando yang di pamiti justru terlolong menatap wajah anak kecil itu dengan dada yang berdebar aneh. Siapa anak itu? Kenapa dia familiar sekali? Dan, kenapa rasa-rasanya ia senang saat menatap wajah anak itu?
Perasaan yang sukar ia definisikan itu tiba-tiba menusuk bagian dalam relung hatinya. Membuatnya berpikir cukup lama. Namun karena sebuah bunyi ponsel, lamunannya buyar dan ia terpaksa kembali berjalan maju. Hilanglah anak yang sempat membuatnya syok tadi. Dan tidak tahu kenapa, Rando menjadi gelisah detik itu juga.
.
.
"Joshua, kamu ini bagiamana sih? Mama kan sudah bilang, kalau jalan hati-hati! Untung Om tadi tidak memarahi kamu!" omel Mama Diandra yang dadanya benar-benar berdetak cepat sebab tak menduga bila akan bertemu dengan Rando.
" Maaf Ma!" balas Joshua menunduk. Membuat Mama Diandra merasa bersalah.
" Sudahlah. Mama juga minta maaf. Kita pulang ya?"
Joshua mengangguk. Hari ini mereka sengaja makan diluar sebab Diandra selalu berpesan kepada sang Mama untuk sesekali mengajak Rando pergi makan diluar. Ia ingin memberi kebahagiaan kepada anaknya meski caranya tak sempurna.
Mama Diandra yang melihat Rando tak jadi menangis terlihat menghela napas lega. Setelah sekian lama bersembunyi, kenapa ia harus bertemu dengan laki-laki itu di tempat ini sih? Laki-laki yang membuat hidup putrinya hancur.
" Mama, kenapa diam?" tanya Joshua manakala mereka berjalan menunggu taksi.
Dalam keresahan, Mama Diandra akhirnya menggandeng lengan cucunya dan pulang dengan ketidaktenangan. Takut kalau-kalau dia akan bertemu lagi dengan Rando.
.
.
" Apa? Mama serius?" pekik Diandra terkejut saat telepon mereka sedang tersambung. Siang jelang sore itu Diandra beruntung sebab ponselnya mendapatkan sinyal.
" Kami tidak sengaja Di!"
" Terus gimana? Apa dia kenal Mama?"
" Mama langsung pergi tadi pas dia seperti mengingat-ingat wajah Mama. Mama benar-benar gak kuat pas ada di sana tadi Di!"
Diandra risau begitu ia mendengar secuil kabar dari Mamanya bila mereka barusaja bertemu dengan Rando. Apalagi, sang Mama mengatakan jika Rando sempat mengingat-ingat dimana mereka pernah bertemu.
Membuat ketidaktenangan kini menguasai diri Diandra.
" Dokter, ada tentara yang terluka!" seru Wina yang membuat Diandra buru-buru memungkasi sambungan teleponnya.
__ADS_1
Diandra yang mendengar kabar langsung kembali ke tendanya. Disana rupanya sudah ada seorang prajurit yang meringis menahan luka.
" Dia kan yang semalam..." batin Diandra seraya menatap seorang prajurit yang sudah duduk di atas matras.
" Halo dokter. Aku baru saja tertembak. Bisakah kau segera mengeluarkan peluru ini. Rasanya tidak nyaman sekali!" kata pria itu dengan nada jenaka.
Diandra tersenyum. Di situasi seperti ini, tentara bernama Oka ini malah selalu ceria.
" Apa pemberontak menyerang tenda kita lagi?" tanya Diandra sembari mulai menuang cairan antiseptik ke tangannya, lalu menggunakan sarung tangan.
Oka menggeleng. " Kami sedang mengambil kiriman barang termasuk stok perlengkapan medis yang dokter tulis semalam. Seperti yang sudah kita duga, mereka mau mengambil paksa!" balas Oka mengikuti arah gerak sang dokter.
" Apa, apa ada yang terluka lagi?" sahut Diandra shock.
Tapi alih-alih turut serius, Oka malah menatap bloon wajah Diandra. " Apa maksud dokter kapten Dewa?"
Diandra yang mulai menuang cairan langsung menghela napas. Kenapa harus ke situ lagi sih arahnya?
" Maksudku, apa ada tentara lain yang terluka lagi?" talat sang dokter mulai sebal.
Oka kembali menggeleng. " Kapten telah membuat orang yang menembakku tewas. Dia aman. Dia juga yang memintaku untuk segera kemari!"
Diandra mulai melihat luka Oka tanpa berminat menanggapi ocehan anggota kocak itu.
Namun di tengah-tengah keheningan, Oka tiba-tiba bersuara. " Dokter. Anda dan kapten sangat cocok!"
What?
Diandra langsung menatap Oka dengan alis mengerut kesal. " Kau ini bicara apa?"
" Benar dokter. Kapten kami terlihat sangat kesepian. Sejak memimpin kesatuan, gosip yang beredar adalah karena dia gagal menikah." seru Oka semakin ngawur.
" Kepalamu akan di tembak oleh kaptenmu kalau kau terlalu banyak bicara kepada orang yang tidak mau kenal!" tukas Diandra sembari melanjutkan langkah-langkah medisnya.
" Tidak kenal bagaimana. Kita saling kenal kan dokter. Awhh!" Oka meringis menahan sakit tatkala Diandra menyuntik tanpa memberi aba-aba.
" Tapi dokter harus tahu." masih meneruskan ucapannya meski ia kini harus menahan sakit sebab Diandra memberiku suntikan untuk kedua kalinya. " Sepertinya, dokter akan punya saingan nanti. Anak dari Mayor kami juga menyukai kapten Dewa. Tapi tenang saja dokter. Kapten Dewa belum pernah merespon nona Lyara!"
" AW!" jerit Oka yang merasa lengannya perih seperti terbakar.
" Makanya jangan banyak bicara!" omel Diandra yang sengaja membuat Oka kesakitan agar berhenti mengoceh.
Oka langsung memanyunkan bibirnya sebab kena damprat.
" Anda dan kapten sama-sama galak. Memperlakukan ku seperti seorang anak tiri!"
__ADS_1
Meski Diandra enggan menanggapi, namun tiba-tiba hatinya merasa nyeri begitu mendengar secuil cerita, bila anak sang Mayor yang sudah bisa di pastikan merupakan jenderal berpangkat itu, menyukai dewa.