
Aldi menjauhkan ponselnya dengan wajah mengerut bercampur kesal. Meskipun terbiasa dengan sikap diktator sahabatnya, tapi laki- laki yang kini gemar menggunakan kacamata itu selalu tak suka tiap di perintah seperti itu.
Aldi pikir, Rando mencarinya untuk membahas soal bantuan hukum seperti yang sudah-sudah. Sikap mau menang sendiri sudah Rando punyai sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Tapi apa yang di dengar, justru membuatnya terperanjat sebab dugaannya salah.
" Kau tahu kalau Diandra telah menjadi dokter?" tanya Rando serius begitu mereka telah bertemu di rumah Aldi.
Aldi sempat menatap wajah penasaran Rando selama beberapa detik sebelum menjawab. " Kenapa kau tiba- tiba membahas soal ini?" tanya Aldi seperti memetakan kasus.
Aldi tentu saja ingin tahu alasan dibalik Rando menanyakan hal itu. Sebab tak ada angin tak ada hujan, Rando malam- malam mencarinya hanya untuk membahas Diandra. Apalagi, sudah lama sekali sejak mereka terjun ke jatidiri masing-masing, mereka tak saling membahas wanita malang itu.
" Aku bertemu dengannya saat di Tidom. Ada Anita juga disana! Aku tidak menyangka jika keinginannya menjadi dokter benar- benar menjadi kenyataan." jawab Rando semakin serius.
Awalnya Aldi kaget saat mendengar nama Anita di sebutkan. Ia tak tahu jika wanita yang beberapa waktu ini menghubunginya tanpa ia gubris turut menjadi dokter relawan. Jadi mereka sudah bertemu?
" Jangan bilang sekarang kau tertarik dengannya!" sindir Aldi dengan prediksi negatif yang menyudutkan si penanya.
Membuat Rando sontak tersinggung " Apa kau lupa aku dan dia tidak benar-benar asing. Apa salahnya memperbaiki yang sedikit keliru!" ketus Rando mendengus dengan wajah keruh.
" Sedikit keliru kau bilang?" menjadi kalimat paling tak kooperatif yang di dengar oleh Rando.
Ya, untuk pertama kalinya, Aldi terlihat meradang kepada Rando. Rando tidak tahu saja jika dalam dada pria itu, tersimpan satu rasa yang tidak ia ketahui dan membuat kemarahannya bertahun-tahun lalu kini bangkit kembali.
...Flashback...
Delapan tahun yang lalu.
Saat mama Erika tahu perihal kehamilan Diandra, Aldi dan Anita yang wajahnya pucat karena terjebak keadaan tak sengaja hanya bisa diam dengan tangan yang banjir oleh keringat dingin.
Mereka tak tahu jika obrolan penuh resiko itu telah di dengar oleh Mama Diandra. Menjadi pembuka tabir paling tak indah siang itu.
" T- tante?"
Aldi bahkan masih bisa menyapa wajah penuh amarah yang terpampang nyata menebar aura murka.
" Apa maksud kalian? Anak siapa yang kalian gugurkan, hah? " sentak Mama Erika yang meyakini keganjilan yang semakin nyata manakala sang anak menangis.
" T- tante d- dengar dul..."
Aldi yang merasa menjadi satu- satunya mahluk jantan, merasa perlu dan harus menjawab kemarahan mama Erika. Tanpa menunggu lagi, ia memilih untuk angkat suara sebelum kemarahan itu semakin sulit di redam.
" Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kalian sembunyikan dari Mama?"
__ADS_1
Tangis Diandra semakin pecah dan terdengar pilu, manakala mama Erika menggeleng penuh kekecewaan dengan air mata yang sukar di tahan.
Atas nama laki-laki dan sahabat Rando, ia yang masih belum bisa berpikir menjadi asal bicara. " Saya bersedia bertanggungjawab Tante!" kata Aldi yang berniat ingin meredam emosi mama Erika tanpa pikir panjang.
Anita seketika shock. Diandra apalagi.
" Aldi, bicara apa kau? Tidak!" sergah Diandra menggeleng tak setuju. Keadaan semakin kacau, dan Mama Erika semakin pening.
Tanggung jawab?
Tapi Aldi yang tahu betul jalan cerita permasalahan ini tiba-tiba melontarkan apa yang melintas di otaknya begitu saja. Anita sempat terhenyak. Tak menduga jika Aldi akan seperti itu.
" Di. Kita katakan saja yang sebenarnya. Anak itu harus lahir Di. Aku akan bantuin kamu!" ucap Aldi yang matanya sudah berkaca-kaca dengan suara yang bertalu- talu.
Mama Erika yang mendengar para bocah ingusan saling adu ucapan memilih memejamkan mata dan berharap rasa sakit di sertai denyutan hebat di kepalanya mau berkurang.
Tapi alih-alih hilang. Kepalanya malah semakin pecah manakala mendengar Diandra berteriak frustasi.
" Biar aku buang saja anak ini! Tak seharusnya ia ada! Aaaa!" Aldi dan Anita yang melihat Diandra frustasi reflek memegangi anak yang mengamuk itu.
Mama Erika yang tak benar-benar terkejut terlihat langsung membuat matanya dan langsung meneriaki putri semata wayangnya dengan mata melebar. " Diandra! Siapa ayah dari anak yang kamu kandung?"
" Jawab!" hardik mama Erika yang kehilangan kesabaran.
" Rando!"
Mama Erika langsung memejamkan matanya begitu mendengar nama anak pengusaha terkenal itu. Tapi alih-alih menyerah, Aldi yang tak tahu harus berbuat apa langsung bersujud di hadapan kaki Mama Erika dan membiarkan wanita itu terkejut bukan main.
" Tante. Jika Diandra malu, saya bisa bertanggungjawab Tante. Saya bisa menikahi Diandra Tante! Tapi biarkan anak itu lahir!" katanya sembari memohon.
Membuat Mama Erika membulatkan matanya. Sementara Anita yang sejak awal menyukai Aldi, langsung diam membeku dengan hati yang serasa tertampar.
Apakah selama ini Aldi juga notice kepada Diandra?
Anita kecewa. Apalagi, meski mama Erika terlebih Diandra menolak permintaan Aldi beberapa waktu lalu, namun laki-laki itu masih saja keukeuh datang dengan membawa beberapa buah tangan yang mengundang kecemburuan dan iri hati.
Dan puncaknya, Anita menjadi sangat kecewa kepada Diandra karena akibat kejadian ini, seluruh perhatian Aldi beralih tercurah kepada Diandra.
...Flashback end...
" Al, aku tahu aku dulu salah. Tapi duit yang aku keluarin juga enggak sedikit. Jika sekarang dia mau balik ke aku, aku bakal perbaikin semuanya!"
__ADS_1
Tapi Aldi tersenyum pahit menatap kepercayaan diri sahabatnya itu. " Dia gak akan pernah mau sama kamu Ran. Aku jamin itu!" kata Aldi menatap sinis yang teramat menyerang benak.
" Ngomong apa kamu?" sentak Rando tak terima.
" Dia sud..."
Namun Aldi yang teringat akan janjinya, masih bisa menahan gemuruh di dada. Jika bukan karena sebuah janji, pria itu nyaris saja mengatakan fakta sebenarnya jika anak yang di minta di gugurkan dulu kini masih hidup.
" Dia sudah memiliki kekasih!" ucap Aldi akhirnya dengan muka yang dilempar ke arah lain.
" Aku akan berusaha!"
Tapi Aldi terlihat enggan mendengarkan. Pria itu hanya tak mau terpancing. Aldi lebih memilih membuka laptopnya.
" Tujuanku datang kemari karena ingin tanya sesuatu kepadamu. Kamu yang masih berhubung sama Diandra selepas kita lulus."
Meski ketar-ketir, namun Aldi masih bisa memasang wajah tak peduli. " Soal apa?"
" Tadi Mama tanya ke aku. Kau tahu kan, sejak dulu aku harus bisa memberikan jawaban pasti saat orangtua ku bertanya!"
Aldi masih sibuk menyalahkan laptop saat Rando mengajukan pertanyaan inti.
" Apa Diandra punya saudara lain? Mama sedang kepincut dengan seorang anak kecil. Tapi belakangan diketahui anak itu asal adik Diandra. Apakah itu benar?"
Deg
Aldi sontak menatap Rando seraya menelan ludah.
"Untuk apa kau ingin tahu?" kilah Aldi ingin menggali motif.
" Tidak ada. Aku hanya ingin tahu. Kebetulan aku juga penasaran dengan kehidupan Diandra. Dan kurasa, kau pasti punya jawabannya!"
Aldi harus punya jalan keluar untuk membuat Rando pergi. Ia tak akan menceritakan apapun kepada pria itu demi janjinya.
Berjanjilah untuk menjaga rahasia ini Aldi. Apa kau bisa berjanji?
" Jangan tanya soal itu kepadaku. Tanya saja kepada Diandra. Pergilah, aku sibuk!" seru Aldi yang memilih mendorong tubuh Rando secara paksa.
Rando yang di usir secara tidak hormat menjadi sangat kaget. Kenapa sikap Aldi benar- benar berubah? Membuat Rando seketika curiga. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung merogoh sakunya lalu menelpon seseorang.
" Steve, datanglah ke Santara. Aku ada pekerjaan penting buatmu!"
__ADS_1