Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 68. Retro hills


__ADS_3

Dewa tidak menyangka jika rasanya akan seberat ini meninggal Diandra dalam kegentingan. Andai saja ini tak berurusan dengan nyawa, ia mungkin tak akan serisau ini. Ia hanya mengikuti nurani. Sebab begitulah memang seharusnya laki-laki bersikap. Ia harus memastikan segala sesuatu di sekitarnya clear sebelum ia mendatangi satu lagi tembok ujian, Joshua.


Dia tak mengatakan apapun kepada Diandra mengenai besarnya resiko misi terselubungnya kali ini. Karena jika Diandra tahu, perempuan itu pasti tak akan tenang. Dan ia tak mau sampai Diandra menjadi sedih.


Ia kini tiba di sebuah tempat rahasia, dimana ke-tiga sahabatnya yang sedang cuti usai bergabung pasa misi kemanusiaan beberapa hari yang lalu telah berkumpul.


" Apa kau yakin dengan semua ini De? Kau masih punya waktu untuk membatalkan!" tanya Yean yang kali ini sangat mengkhawatirkan keputusan Dewa untuk melangkahi korps, demi menyelamatkan Maeda.


Sebenarnya, tanpa sepengetahuan siapapun Dewa sudah mengumpulkan beberapa bukti mengenai ketidakberesan atasannya. Sejak kasus di Filia, kemudian bencana banjir di Tidom yang melihat Earth Wood group, hingga kasus Maeda ini, ada banyak kejanggalan yang cukup mengusik. Tapi seperti biasa, pria itu bekerja dengan silent metode dan tak memberitahuku hal ini kepada sembarang orang.


Hingga ketiga sahabatnya yang kali ini ia libatkan secara terang-terangan, terlolong tak percaya dengan apa yang dibeberkan oleh Dewa karena mereka tak menyangka jika Dewa sangat seserius ini.


"Satu-satunya mengungkapkan kebenaran adalah membuktikannya!" kata Dewa menjawab kekhawatiran Yean.


Rayyan menatap muram sahabatnya. Itu jelas berpotensial membuat karir Dewa hancur jika pria itu gagal mengungkapkan kebenaran. " Kenapa kau sangat gencar menolong Pria berpedang itu?"


Dewa sebenarnya malas menjawab. Tapi kali ini ia benar-benar sedang tak ingin menyembunyikan apapun dari ketiga sahabatnya. " Pria itu yang menyelamatkan Diandra sewaktu Talani datang. Aku berhutang nyawa padanya!"


Rayyan mengernyit. " Kapan dokter Diandra bercerita soal itu?"


" Tadi malam saat aku di apartemennya!"


" Apa, kau menginap di sana?" mata Rayyan membulat sempurna dengan pikiran seronok yang mulai merajalela.


Tapi Zilloey dan Yean yang melihatnya, malah kompak mendengus demi mendengar Rayyan yang malah salah fokus ke hal lain.


" Mungkin kecurigaan kita selama ini sama!" tukas Yean mengalihkan topik.


Dewa mengangguk," Akses perizinan senjata tak bisa diberikan oleh sembarang orang. Tapi saat di Filia, aku menemukan ini..." tunjuk Dewa kepada sebuah foto mobil dinas yang mencurigakan sebab berada di areal kelompok kriminal. Membuat kesemua orang disana terkejut.


" Kau dapat darimana?"


" Seorang mata-mata. Nanti kalian akan tahu!"


Kini ketiga pria tampan itu semakin mengakui kecerdasan Dewa yang selalu lebih unggul dari mereka. Pria itu kaya taktik.


" Kecurigaanku juga menguat kepada keluarga Ferdinand. Earth Wood group yang sejak awal tidak aku ACC untuk mengambil sebuah brankas di bawah reruntuhan gedung di Tidom, juga dapat mengakses. Pada siapa lagi kita harus percaya?"

__ADS_1


Yean yang masih belum percaya dengan apa yang dikerjakan oleh Dewa kini menjadi termenung. Kalau begini jadinya, kepada siapa lagi ia harus percaya? Korps mereka di sinyalir menjadi sarang penyamun berseragam.


" Jadi maksudmu Maeda sebenarnya adalah saksi kunci?" tanya Zilloey mengurai puzzle misteri.


Dewa mengangguk. " Dia masuk ke tangan yang salah. Karena jika Maeda masuk ke kepolisian, bisa jadi antek-antek pengkhianat negara ini akan terciduk saat dia memberikan kesaksian. Untung saja Diandra mengatakan kepadaku bila dia adalah pencari suaka."


" Jadi sekarang kita harus mencari keberadaan Maeda dan membawa pria itu ke pengadilan tinggi?" tebak Rayyan.


" Akhirnya kalian paham. Aku sudah memikirkan hal ini masak-masak. Aku akan berangkat hari ini!" tutur Dewa mantap satu persatu wajah ketiga sahabatnya secara bergantian.


" Aku ikut!" seru Zilloey penuh antusias.


" Aku juga!" sambung Rayyan.


" Jangan!" sergah Yean yang membuat dua pria di depannya mengerut heran.


" Kalau kita mau membantu Dewa. Kita harus berpengalaman. Jangan bergerombol. Dan yang paling penting, siapkan diri jika mungkin saja yang kita temui di depan sana adalah kehinaan!"


Dewa terharu. Pun dengan dua pria tampan. Mereka berempat saling merangkul. Bahkan Rayyan menitikkan air matanya. Jika ini jalannya, maka melepaskan seragam pun akan ia lakukan demi sebuah kebenaran.


Pria itu akhirnya menonaktifkan semua alat komunikasi kecuali nomor untuk menghubungkan Lyara. Ia hari ini memulai misinya dengan menemui Lyara sebab dialah satu-satunya orang sipil yang tahu keberadaan Maeda.


" Akhirnya kau benar-benar menepati janjimu!" ucap Lyara yang sudah sangat senang begitu melihat Dewa yang menjemputnya ditempat yang sudah mereka sepakati.


Dewa tersenyum. Ia sejurus kemudian mengusap pipi Lyara. " Tentu saja, calon istriku!"


Lyara bagai melayang-layang mendengar kalimat memabukkan itu. Akhirnya ia bisa bersama Dewa setelah ini. Tak menyangka setelah kesabaran yang memuakkan, ia akhirnya bisa jalan bersama Dewa


Tapi tanpa mereka ketahui, Anita yang masih cuti ternyata tak sengaja melihat mereka berdua berjalan hendak memasuki mobil dengan posisi dekat yang sangat mesra. Membuat perempuan itu shock bukan main.


" Hah, itu bukannya kapten Dewa?"


Anita yang masih gemetaran langsung memotret kebersamaan keduanya lalu mengirimkan foto itu kepada Diandra. Diandra yang di kirimi pesan bergambar langsung terkejut.


" Dewa? Kenapa Dewa memeluk mesra pinggang Lyara?" gumam Diandra yang mendadak merasakan ketidaknyamanan dalam hatinya.


Rasa was-was dan gelisah perlahan menghantui. Tapi sederet kalimat penuh kesungguhan tiba-tiba terputar memenuhi otaknya.

__ADS_1


"Ingat, tetap percayalah padaku apapun yang akan terjadi. Miss you"


Diandra terduduk lesu. " Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan Kapten? Kenapa kau sangat sulit aku selami?"


.


.


Dewa memenuhi ajakan Lyara ke sebuah tempat makan yang hari ini diadakan acara penting. Dapat Dewa lihat langsung, jika ayah Lyara sedang bertemu dengan pejabat negara.


Lyara sengaja mengajak Dewa kesana agar pria itu semakin terkesan dengan circle kehidupannya yang bukan kaleng-kaleng. Tapi jangankan terkesima, Dewa justru bisa melihat keganjilan dari tamu-tamu yang datang.


" Ememm, ayahmu di sini, apa dia tidak menemui Maeda?" tanya Dewa sengaja memancing.


Lyara cemberut malas. Sungguh ia tak ingin membahas soal tahanan negara itu. " Untuk apa ayah menemui pria tak berguna itu. Dia kan di eksekusi nanti malam! Setelah dia mati, kamu dan ayah pasti akan naik jabatan!"


"Apa? Jadi Maeda benar-benar akan di hukum mati? Tidak, aku harus segera menemukan tempat dimana laki-laki itu berada!"


Dewa menyembuhkan keterkejutannya dan bersabar menanti berita demi berita yang pasti akan di sampaikan oleh Lyara jika ia terus berlaku manis. Meski ia sendiri merasa muak, tapi ia harus melakukannya.


" Apa kau mau mencicipi makanan ini. Ini yang termahal disini!" tawar Lyara.


" Boleh!"


" Sebentar ya!" Lyara yang senang akhirnya fokus ke makanan di meja.


Dewa yang melihat Lyara sedang sibuk memotong masakan tampak memindai sekeliling dengan cepat, sebelum Lyara menyadari jika ia menaruh sebuah alat di bawah mejanya.


" Jadi Maeda akan mati hari ini?"


Lyara tak suka jika Dewa terus membahas hal diluar kencan mereka berdua. " Kenapa kau terus membahas hal itu sih?" kesal Lyara yg benar-benar tak suka jika Dewa terus membahas pekerjaan.


Dewa langsung berpikir cepat agar Lyara tak curiga. Dan dalam sekejap saja, otaknya langsung menemukan satu ide.


" Aku hanya memastikan aku akan mendapatkan predikat baik dan ayahmu akan naik menjadi panglima jika semua itu benar. Aku bahkan ingin menyaksikannya langsung kepala Maeda yang di penggal!" bohongnya menutupi keingintahuan.


Lyara langsung terkesima dengan ucapan Dewa. Itu sangat membahagiakan. " Kita bisa kesana bersama nanti. Retro hills tak jauh dari sini kan?"

__ADS_1


Retro hills?


Dewa menyeringai. Akhirnya perempuan itu mengucapkan satu kata kunci yang ia tunggu-tunggu. Kini Dewa tampak lebih tenang, sebab kini ia telah tahu dimana letak Maeda berada.


__ADS_2