
Di dunia ini, tak ada sesuatu yang tak memiliki ujung. Pun dengan permasalahan. Hanya saja, Diandra tak menyangka bila jutsru anaknya sendirilah yang membawanya ke pintu perdamaian.
Sejak pertemuan mereka di rumahsakit seminggu yang lalu, hubungan Joshua dengan Diandra menjadi sangat baik. Tapi bocah itu juga mengajukan syarat agar di perbolehkan diajak pergi Ayahnya. Dan hal itu di sanggupi oleh Diandra, meskipun kini ganti sang Mama yang nampak tak setuju.
Anak sekecil itu dipaksa paham dengan ketidakmungkinan. Tapi itulah geniusnya Joshua. Ia bisa menjadi penengah diantara dua kubu yang tak akur. Diandra kini juga harus belajar memahami, bahwa Rando sudah mendapatkan karmanya.
Laki-laki tampan yang kini menjadi pelindungnya, rupanya juga memiliki sikap dewasa yang begitu ngemong. Pria itu bahkan yang menguatkan hatinya, saat Joshua meminta Diandra untuk mengizinkannya ditemui oleh Rando kapanpun.
Dewa merasa tak ada gunanya menyimpan kepahitan dalam hati. Sebab rasa sesal yang terus menggerogoti, justru akan membuat aura negatif betah tinggal di kehidupan seseorang. Ia sudah belajar dari banyak hal. Ia ingin membuka lembaran baru di babak baru kehidupannya.
Masalalu adalah sebaik-baiknya guru yang bakal membuat kehidupannya di masa mendatang menjadi lebih baik. Tinggal bagaimana kita menghayati. Di belahan jiwa yang mana kita letakkan semuanya itu. Sebab yang paling penting dari kesemuanya adalah, ketenangan.
Walaupun mama Erika masih keukeuh tak menyambut baik Rando, tapi Diandra kini harus bisa menjadi penengah. Anaknya berhak untuk merasakan kasih dari seorang ayah yang telah menyesali segala kesilapannya.
"Fokus aja ke rencana pernikahan kamu sama Dewa. Setelah ini kalian akan sama-sama sibuk ke jenjang karir!" tukas Mama Erika yang sebentar masih kesal kenapa Diandra mengizinkan Joshua pergi dengan Rando pagi ini.
Diandra memeluk Mamanya dari belakang. "Maafin Diandra, Ma! Diandra cuman ingin Joshua tidak seperti Diandra!"
Mama Erika yang sibuk mengiris tahu langsung menghentikan kegiatannya. Hubungannya dengan mantan suaminya juga sangat buruk. Dan mereka bahkan tak pernah saling berbicara.
Ia memang kurang setuju dengan keputusan yang diambil Diandra jika Rando boleh membawa Joshua pergi untuk sekedar jalan-jalan. Tapi mendengar ucapan anaknya barusan, agaknya ia memang tak boleh terlalu egois.
" Mama tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi Di. Mama hanya ingin kalian bahagia!"
.
.
Rando pagi ini telah mengantongi izin mengajak Joshua untuk menjenguk Mamanya yang masih belum keluar dari rumah sakit. Dia ingin memberikan kejutan untuk Mamanya. Siapa tahu, dengan kehadiran Joshua, keadaan sang Mama bisa menjadi lebih baik.
Begitu ia berharap.
__ADS_1
Nyonya Ferdinand terlihat tidur menghadap ke arah kiri dengan tatapan kosong. Seperti hari-hari biasanya, wanita itu memang kehilangan harapan sejak suaminya ditahan. Ia juga sangat frustasi demi merasai kehidupan Rando yang melenceng dari tujuan.
" Ma?" sapa Rando sesaat setelah membuka pintu.
Tapi wanita itu masih terdiam seperti biasanya. Tak merespon sekalipun Rando dan Viona setiap hari datang menemuinya. Hening. Sunyi. Sepi.
Rando menghela napas berat ketika melihat Mamanya yang masih saja melamun. Ia lantas menoleh kepada Joshua yang terlihat bingung.
" Ayo bilang sama Oma buat sarapan!" bisik Rando kepada anaknya. Anak itu mengangguk. Dan sejurus kemudian.
" Oma, ayo sarapan!" kata Joshua dengan harap-harap cemas.
Maka wanita yang semula seperti mayat hidup itu, seketika membalikkan badannya dan langsung terkejut demi melihat Joshua ada di ruangannya.
" Joshua!" ucap Nyonya Ferdinand dengan tatapan bahagia. Membuat suasana seketika mengharu biru.
Wanita yang bibirnya pucat itu langsung merentangkan tangannya. Di detik yang sama, menghambur lah Joshua kepada wanita itu. Maka menangis lah Nyonya Ferdiand sejadi-jadinya. Ia seperti menemukan hawa baru kala melihat cucunya datang.
" Oma jangan nangis! Nanti Joshua suapin ya?"
" Kok bisa?" tanya Viona penuh ketidakpercayaan.
Rando tersenyum mengacak rambut adiknya. "Bersiaplah, setelah ini keponakanmu akan meminta jatah pada bibinya!"
.
.
Dokter Anita senang usai mendapat kabar bila Diandra dan Kapten Dewa akan melangsungkan pernikahan sebelum keduanya akan sama-sama sibuk sebab naik jabatan. Ia sengaja datang ke tempat Diandra untuk mengikut acara itu bersama beberapa orang.
Ia sibuk memilih beberapa pakaian yang akan ia gunakan pada acara penting itu. Dan tanpa di duga, ia bertemu dengan Aldi juga terlihat sedang sibuk berbelanja.
__ADS_1
" Anita!" tegur Aldi yang terlihat sumringah kala bertemu wanita itu.
Yang di panggil langsung menoleh. Tapi tatapannya tak seperti yang dulu.
" Kau disini?"
Anita mengangguk sembari tersenyum.
" Biar ku tebak. Kau juga mau datang di pernikahan Diandra?"
Anita kembali mengangguk. " Kau juga kan?"
Aldi tersenyum senang. " Tentu saja. Kamu, sudah selesai belanjanya?"
Anita mengangguk untuk ketiga kalinya," Sudah!"
" Kalau begitu, biar ku antar kau pulang!" kata Aldi penuh antusias.
Namun belum sempat Anita menjawab, seorang pria tiba-tiba datang.
" Sayang sudah selesai belum?"
DEG
Aldi yang melihat seorang pria tampan bertubuh tinggi tegap memeluk pinggang Anita sontak membulatkan matanya.
" Sory Al, aku kesini enggak sendirian. Aku duluan ya?"
Kapten Zilloey yang diajak pergi terlihat tersenyum menyapa Aldi yang terlolong tak percaya. Dari tempatnya berdiri, dapat ia dengar dengan jelas interaksi yang begitu akrab dan entah mengapa membuat dada Aldi terasa nyeri.
" Tadi itu siapa?" tanya kapten Zilloey yang samar-samar masih terdengar.
__ADS_1
" Teman!" sahut Anita terdengar cuek.
Di detik itu, Aldi sepertinya harus belajar, bahwa tak selamanya perasaan seseorang itu bakal sama dan abadi.