
Hari yang menggelar harapan baru turut membawa rasa syukur kedua pria tampan yang kini berada di rumahsakit Medica Hospital Care. Mereka sengaja datang bersama, untuk menengok keadaan Dewa yang sudah berhasil melalui masa kritisnya.
Tapi begitu Dewa membuka mata, yang pertama kali terlintas di kepalanya adalah sosok perempuan berwajah penuh kecemasan yang sempat ia lihat sesaat sebelum ia tak sadarkan diri.
" Dokter..." ucap Dewa terdengar lirih dan lemah.
" Dewa, kau sudah bangun? Syukurlah!" jawab Rayyan nampak senang. Pria itu sejurus kemudian menekan tombol untuk memanggil dokter sebab mengira jika Dewa membutuhkan seorang dokter.
Dewa merasa tenggorokannya begitu kering. Yean yang melihat hal itu langsung sigap meraih segelas air yang sudah di siapkan oleh perawat.
" Minumlah dulu!" kata Yean.
Dewa tak mengabiskan air yang diberikan oleh Yean. Pria itu terlihat sedikit lebih lemah daripada biasanya saat terkena luka.
" Bagiamana kau sekarang?" tanya Rayyan sesaat setelah ia meletakkan kembali gelas ke atas nakas.
" Seperti yang kau lihat, aku masih belum mati!" jawabnya sembari memejamkan matanya sejenak.
" Dasar sialan!"
Dewa hanya tersenyum menanggapi Rayyan yang mendengkus kepadanya. Bagaimanapun, Dewa tak ingin terus menerus melihat raut sedih dari rekan seperjuangannya itu.
Ia kembali membuka matanya dan menatap satu persatu wajah tampan yang pagi ini tak mengenakan pakaian dinas seperti biasanya.
" Terimakasih sudah bersamaku hingga saat ini teman-teman!" kata Dewa menatap sendu.
" Oh ayolah, aku benci suasana seperti ini!"
Ketiganya kompak tergelak. Namun saat mereka masih saling tersenyum, pintu tiba-tiba terayun dan menampilkan seorang dokter wanita yang tak mereka kenal.
" Anda sudah sadar kapten?" ucap si dokter menyapa.
Namun yang ditanya malah ganti bertanya. " Dimana dia? Maksudku..."
Yean yang tahu arti tatapan penuh selidik dari seorang pria lemah di depannya, langsung sigap mengambil alih suasana.
__ADS_1
" Emmm dokter, silahkan anda periksa dulu!"
" Tapi, bukannya Di...Awh!"
Dewa langsung terdiam saat Rayyan melotot seraya mencubit pahanya memberikan clue untuk diam. Ada apa memangnya?
" Semuanya bagus. Anda benar-benar kapten yang luar biasa. Saya tidak menyangka anda akan sekuat ini. Selamat kapten, anda sudah melalui masa-masa paling mendengarkan. Meski begitu, anda masih harus dirawat di sini selama beberapa hari kedepan sampaikan kondisi anda benar-benar stabil. Setelah ini perawat akan memberikan suntikan. Jangan banyak bergerak dulu ya!"
Mereka semua kompak mengangguk sopan saat dokter berambut pendek itu berpamitan. Sejurus kemudian, Dewa langsung memberondong sahabatnya dengan pertanyaan berada kesal.
" Dimana Diandra, kenapa bukan dia yang memeriksaku?"
Dan pertanyaan sialan itu sukses memancing kekesalan si kapten kocak.
" Apa kau bodoh? Gara-gara nekat mengoperasimu dokter Diandra terkena sidang kode etik!"
" Apa?"
.
.
Ya, pasca insiden dirinya mengarahkan senjata kepada seorang tenaga medis pria semalam, kejadian yang terekam oleh CCTV itu langsung menjadi perhatian. Kini tak hanya dirinya, namun dokter Diandra tampaknya juga harus bersabar diri. Sebab disaat Dewa sudah siuman, mereka malah harus membereskan masalah.
" Kami menyayangkan tindakan semena-mena yang anda lakukan terhadap petugas kami kapten Zilloey Leonardo!" kata pria tua yang cukup menyesali tindakan Zilloey.
Tapi tatapan Zilloey sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Ia justru merasa bangga sebab ia telah melakukan hal yang seharusnya, saat birokrasi kadang membuat hal krusial seperti kejadian semalam di pertaruhkan.
" Saya bersedia bertanggungjawab dan menanggung segala konsekuensi. Tapi yang paling terpenting adalah nyawa rekan saya selamat. Bayangkan jika dokter Diandra tak mengoperasi kapten Dewa tepat waktu, mungkin kita sekarang tak berada di tempat ini, melainkan di upacara pemakaman!"
Seorang komisaris rumahsakit terkejut mendengar hal itu. Membuat si pemberi vonis meneguk ludah.
" Saya tahu aturan tetaplah aturan." terang Zilloey mengeluarkan semua unek-unek. " Tapi bukankah kalian diberikan nurani untuk bisa bersikap lebih bijak? Bukankah slogan rumahsakit ini keselamatan dan kesembuhan adalah prioritas utama?"
Diandra hanya menunduk. Ia tak menyangka jika Kapten Zilloey akan seberani ini. Padahal, dokter Diandra mengakui jika dirinya telah salah sebab melangkahi aturan yang jelas-jelas tersemat.
__ADS_1
" Kau benar kapten. Tapi beruntungnya dalam hal ini dokter Diandra berhasil. Jika dia sampai gagal, saya yakin anda tidak akan memiliki jawaban lagi!" sergah pria pemberi vonis.
Kali ini Zilloey kehabisan kesabaran. " Itu mungkin benar. Tapi sekalipun kapten Dewa tidak selamat, Tuhan dan kita semua pasti akan tahu, saat itu saya dan dokter Diandra ada di pihak mana!"
Maka seketika bungkamlah pria itu. Diandra menangis. Ia pasrah jika setelah ini ia akan di hukum lebih berat lagi. Tapi suara seseorang yang kemudian terdengar, membuat kesemuanya menoleh.
" Baiklah. Kapten, terimakasih banyak untuk waktu dan kehadiran anda. Dan dokter, setelah ini saya tunggu di ruangan!" ucap Komisaris besar RS Medica Hospital.
Kapten Zilloey menghela napas sesaat sebelum ia berdiri lalu membungkuk hormat. Ia turut membubarkan diri namun sempat melihat kesedihan di mata dokter cantik itu.
Setibanya Diandra di ruangan komisaris dengan tangan yang sudah basah oleh keringat, ia gugup menunggu pria berkacamata itu membuka mulutnya.
" Duduk!" titah pria itu.
Diandra menurut dengan hati yang harap-harap cemas. Apakah sebentar lagi pria itu akan memarahinya habis-habisan, sebab disana tadi Kapten Zilloey terlalu banyak membuat kesemua orang kalah telak dengan jawabannya yang tegas?
" Aku tidak membenarkan tindakanmu. Tapi akan sangat tidak adil jika aku menghukum orang yang menyelamatkan pahlawan negara!"
"Apa dia bilang? Apa aku tak salah dengar?"
Pak komisaris menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Sorot matanya penuh kebanggaan, tapi rautnya menunjukkan kekhawatiran.
" Kuberikan waktu dua bulan untuk healing dokter. Sehatkan jiwa ragamu pasca kejadian ini. Dan begitu kembali, aku ingin kau berangkat ke Wilbane untuk ujian!"
" Apa, Wilbane?" ulang Diandra tak percaya. Apakah itu artinya ia akan bersekolah lagi dan menjadi ahli bedah seperti impiannya?
Pria itu mengangguk menegaskan. " Setelah kau melakukan syarat pertama tentunya. Sehatkan jiwa dan ragamu selama dua bulan!"
Diandra senang bukan main. Apakah ini salah satu mukjizat Tuhan? Mengubah dukacita menjadi sukacita hanya dalam waktu sekejap?
Kini ia percaya jika orang yang berani mengambil resiko akan mendapat satu hal besar di dalamnya.
Bayangkan saja jika ia tak seberani itu dalam mengambil tindakan sulit. Membedah seorang yang terluka parah dan orang itu merupakan orang terdekat yang berpotensi membuat emosi serta kejiwaannya sewaktu bertugas akan terganggu, dan akan membahayakan keselamatan orang itu sendiri.
Tapi ia kini percaya. Bahwa sesulit apapun keadaan, pertolongan akan selalu ada. Dia lebih dari pemenang.
__ADS_1
.
.