Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 33. Permulaan permainan


__ADS_3

Wanita yang mengenakan pakaian khas orang-orang berpangkat tinggi itu langsung mengulurkan tangannya. Akan tetapi, yang diajak berjabat tangan malah diam seraya mengingat. Dimana mereka pernah bertemu? Mengapa gara-gara memikirkan dokter Diandra kemampuan mengingat menjadi dangkal?


" Aku yang pernah kau tolong di mall waktu itu. Kamu masih ingat kan?" sambung si gadis sebab ia melihat raut bingung di depannya.


Terus terang, Dewa sebenarnya memang tidak ingat-ingat amat dengan wanita di hadapannya itu. Karena ucapan terimakasih usai menolong sudah sangat sering ia dengar dari banyak mulut. Bahkan ia selalu lupa dengan yang memberi ucapan. Seperti saat ini contohnya.


Tapi ia memutuskan tetap mengangguk sembari membalas jabatan tangan sebab tak ingin lebih lama mendapat tatapan penuh atensi dari penumpang lain. Lagipula, tidak ada jeleknya bersalaman.


" Aku Viona. Kau siapa?" tanya si perempuan dengan senyum lebar.


" Dewa!"


Viona makin tersenyum senang. Akhirnya ia tahu nama pria yang beberapa bulan ini sering ia bicarakan dengan teman-temannya saat hangout . Wanita itu lantas duduk di bangku yang berada di sisi paling kanan pada lajur kiri. Jadi, baik Dewa maupun Viona sama-sama duduk di aisle seat ( pinggir jalan).


" Tujuanmu kemana? Astaga, aku masih tidak menyangka loh bisa bertemu denganmu lagi!" ucap Viona berterus terang. Tapi sayangnya yang diajak ngobrol tak menunjukkan adanya tanda-tanda keminatan.


Masalahnya adalah, Dewa bukanlah jenis orang yang mudah terbuka jika belum mengenal satu sama lain. Kemampuannya bersosialisasi kalah jauh di banding Yean. Bahkan lebih buruk di banding Rayyan.


" Pulang ke rumah orangtua!" jawab Dewa sekenanya.


Viona yang selesai meletakkan tasnya kembali menoleh. " Ketemu orangtua? Kerja diluar kota?"


Dewa mengangguk. " Lagi off duty!"


Viona mengerutkan keningnya. Mencoba merangkai relevansi jawaban off duty dengan potongan rambut khas yang hanya di miliki oleh pasukan elite khusus, serta kalung identitas yang diproduksi khusus oleh suatu lembaga ternama di negara itu. Is he a soldier?


" Kau seorang tentara?" kejar Viona tanpa basa-basi. Dewa yang sebenarnya kurang suka di tanyai terlihat mengangguk guna memuaskan keingintahuan si penanya.


" Kau benar-benar keren!" puji Viona yang benar-benar kentara dalam mengagumi Dewa.


Tapi sejurus kemudian, mata Dewa malah tak menangkap logo yang cukup familiar di jas yang di pakai oleh Viona. Sebuah logo yang terbordir dengan apik di jas mahal Viona.

__ADS_1


" Logo itu kan? Sama dengan logo perusahaan Rando!" batin Dewa menerka.


Tanpa menunggu lagi, tanpa sepengetahuan Viona, Dewa yang tiba-tiba seperti mendapatkan ilham langsung menggulir ponselnya lalu mengetik beberapa keyword.


Keluarga Earth Wood group


Dan disana langsung muncul sederet nama anggota keluarga EW grup, lengkap dengan jabatan beserta biodata singkat.


...Demian Ferdinand...


...Patricia Ferdinand...


...Rando G. Ferdinand...


...Viona M. Ferdinand...


Dewa lantas menglik keyword biru bernama Viona dengan penuh antusiasme. Dan jelas sudah, jika wanita yang ada di hadapannya itu merupakan adik dari pria yang berniat memberinya gratifikasi tempo hari. Tidak salah lagi. Wanita di hadapannya adalah anak bungsu Demian Ferdinand.


Dewa kini memerhatikan sejenak wanita hedon yang sedang mengoleskan handsanitizer ke seluruh bagian tangannya itu. Secuil pemikiran tiba-tiba muncul. Pemikiran yang ia harapkan bisa jadi satu petunjuk.


Dan Viona yang mendengar Dewa akhirnya mau mengajukan pertanyaan kepadanya, menjadi terlihat sangat senang. " Aku mau pulang. Kemarin bussines trip. Aku ingin coba naik kereta eksekutif ini. Ternyata menyenangkan juga!"


Dewa langsung berpikir, sepertinya Viona memang lebih humanis ketimbang Rando. Dewa lagi-lagi memperhatikan ke arah sosok yang tak menyadari tatapannya itu. Dewa berharap jika ia bisa menggunakan Viona untuk kepentingannya yang tersembunyi. Terkesan jahat memang. Tapi saat ini, ia harus berpacu dengan waktu.


.


.


" Jangan lupa balas pesanku ya. Senang bertemu denganmu Dewa!" kata Viona yang lebih dulu turun seraya melambaikan tangan. Sementara Dewa akan turun di stasiun berikutnya. Ia terpaksa bertukaran nomor ponsel dan mendekati Viona. Ia perlu informasi lebih dalam soal keluarga Ferdinand.


Setibanya ia dirumah, Dewa di sambut senang oleh kedua orangtuanya. Tapi pria itu tak membagi tahu jika dirinya sebenarnya sedang di hukum. Ia benar-benar menyembunyikannya persoalannya.

__ADS_1


" Jadi kau mengambil cuti mu sekalian?"tanya sang Mama sembari menghidangkan segelas minuman bagi sang putera.


Dewa menggeleng tak membenarkan. " Aku tidak mengambil jatah cuti, tapi diberi istirahat. Berada di daerah bencana membuat kesehatan mental kami terganggu Bu. Banyak mayat ditemukan dalam keadaan tak lengkap. Menurutku, ini lebih mengerikan ketimbang saat di medan pertempuran." kilahnya cepat. Ia terpaksa berbohong agar orangtuanya tidak sedih.


Jelas ini bukan dirinya. Dalam sehari saja, ia sudah berbohong sebanyak dua kali. Kepada Viona, dan sekarang kepada Ibunya. Ibu Dewa terlihat tak mempermasalahkan. Ia malah senang sebab anaknya pulang. Apapun alasannya.


" Kalau begitu besok antarkan Ibu bertemu teman-teman sekolah ya. Mumpung kamu dirumah. Ayahmu selalu sibuk kalau di ajak!"


Dewa mengangguk sembari mencubit tofu keju hangat lalu menyuapkannya ke mulut, " Kapan?" tanyanya dengan mulut penuh, " Cuma ngantar aja kan? Enggak disuruh ikutan nimbrung?"


" Sabtu depan. Tiga hari lagi. Kamu masih disini kan?" jawab Ibu yang hanya menjawab satu pertanyaan.


Dewa mengangguk. Menyanggupi keinginan sang ibu tentu membuat dia merasa telah menjadi anak yang lebih berguna. Lagipula, ia bisa sedikit melupakan kejengkelannya kepada Lyara.


Hari-hari berjalan cepat. Dewa hari ini terlihat tampan dengan kemeja denim yang di gulung se siku. Pria yang berjalan dengan wanita berumur yang tingginya hanya sebatas dadanya itu, berniat menunggu diluar. Tapi alih-alih terkabul, ia malah di seret masuk oleh sang ibu.


" Kamu ikut masuk. Ngapain ngantar kalau enggak ikut masuk!" omel sang Ibu kepada anaknya yang hendak kabur.


Dewa yang wajahnya sudah lesu akhirnya mengalah. Ia bukannya tak mau, hanya saja sedikit malas sebab yang di tanyakan oleh teman-teman ibunya saat bertemu adalah soal ' kapan menikah'.


Membuat segala sesuatunya terasa tak nyaman.


Tapi suasana yang dia kira membosankan dan penuh ketidaknyamanan, tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat manakala ia melihat sosok yang sangat familiar, ada dan terlihat mengantri untuk bersalaman dengan kaum ibu-ibu disana. Wanita itu terlihat datang bersama seorang anak kecil, dan wanita ayu seumuran ibunya.


" Dokter Diandra?" gumam Dewa dan berhasil memancing timbulnya kerutan di kedua alis Ibunya.


Ibu Dewa mendongak bingung. Tak mengerti dengan yang diucapkan oleh sang putera. " Ada apa De?"


" Emmm, apa semua yang hadir di sini adalah teman Ibu? Maksudnya, apakah ada tamu undangan lain yang hadir, atau semua khusus teman-teman Ibu?" ia sengaja membelitkan pertanyaan agar bisa melirik Diandra yang sudah bergeser ke sisi Utara.


Ibu Dewa mengangguk. " Semua teman-teman Ibu satu angkatan. Tapi kali ini yang datang lebih banyak. Dari banyak kelas. Yang biasa nggak datang katanya datang. Seper..."

__ADS_1


" Baiklah Bu, kalau begitu Dewa kesana dulu!"


Ibu Dewa seketika terlolong dengan kalimat yang menguap percuma ke udara saat sang putera tiba-tiba pergi menuju ke arah Utara.


__ADS_2