
Dewa melesat ke tenda khusus yang di huni oleh para kapten dan langsung menyambar sebuah botol air mineral lalu meneguknya hingga tandas. Dengan napas terengah-engah ia meremas lalu melempar botol yang telah kosong itu ke sembarang arah.
Perasaan marah, kecewa, dan tak nyaman yang sulit ia redam sungguh sangat menyiksa diri.
" Kendaliku dirimu Dewa. Kita harus fokus membereskan masalah bencana ini!" tukas Yean yang rupanya mengikuti Dewa ke dalam tenda.
Dewa yang setengah kaget menatap berang sahabatnya. " Apa kau pikir aku tidak sedang berusaha menjadi profesional?" sahut Dewa yang tak setuju dengan keraguan yang di lontarkan.
Yean memilih diam saat sahutan yang di dengar mulai bernada tinggi. Ia tak mau ribut hanya karena turut larut dalam emosi yang bakal merugikan.
" Kenapa kau tidak mencari tahu dahulu lebih dalam. Siapa tahu, dia memiliki alasan ya..."
" Kenapa aku harus mencari tahu? Dia tak ada bedanya dengan Deby. Pembohong!" sambar Dewa yang hatinya masih kecewa. Pria itu memilih melempar punggungnya ke kursi dan menenangkan pikiran.
Yean memaklumi. Bagiamana pun juga Dewa merupakan orang yang memiliki pendirian teguh. Ia tak ragu akan hal itu. Dan masalahnya, orang yang menjadi ayah biologis dari putra Diandra adalah anak dari keluarga yang dia curigai menjadi dalang dibalik kematian adik Dewa.
Tapi jika melihat sosok Diandra yang sangat santun dan juga beritegritas, rasanya sulit di percaya jika perempuan itu merupakan wanita tidak benar.
.
.
Hawa terik penuh kesedihan berganti dengan malam yang lumayan menenangkan. Terlihat geliat kesibukan para relawan membagikan makanan kepada para pengungsi yang sebagian besar sudah mendapatkan penanganan.
Dan malam ini, entah menadapat keberanian dari mana Diandra terlihat berjalan untuk mencari Dewa di tenda satu. Ia ingin menjelaskan soal dirinya yang tak bermaksud menipu ataupun membohongi Dewa, sekaligus ingin memohon maaf atas prasangka buruk yang pernah ia pikirkan.
Diandra tahu Dewa berada di sana sebab beberapa menit yang lalu, Iwan barusaja menginformasikan kepadanya. Diandra sangat berterimakasih kepada Iwan karena laki - laki itu sangat baik kepadanya.
Tapi saat mulai menyibak kain penutup pintu tenda, ia malah dibuat terkejut karena melihat seorang wanita yang tempo hari mengancamnya ada di sana dan duduk dengan posisi yang sangat dekat dengan Dewa.
DEG
Membuat Diandra kontan mematung.
" Dokter Diandra?" sapa Rayyan yang lebih dahulu melihat Diandra mematung di mulut tenda. Membuat kesemua orang yang tak menyadari kedatangan Diandra, seketika menoleh termasuk Dewa.
Diandra yang di tanya seketika kebingungan. Konsentrasinya mendadak terbagi, antara melihat Dewa yang sedekat itu dengan Lyara, dan jawaban apa yang harus di jawab untuk menjawab pertanyaan Rayyan.
Ia mati kutu sebab tak tahu jika Lyara sedang berada di sana. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Siapapun, tolong aku!
" K- kapten Yean. Saya... ingin bicara dengan anda!" ucapnya terdengar terbata-bata dengan haluan tujuan yang spontan berganti.
Diandra terpaksa mengganti rencananya secara mendadak sebab nyalinya tiba-tiba lenyap entah kemana. Baiklah, mungkin ia memang di takdirkan untuk merasakan sakit hati sekali lagi. Tidak masalah. Lyara memang seorang wanita terhormat, tak seperti dia yang hanya debu jalanan yang berjuang menghidupi seorang anak.
Mungkin inilah saatnya untuk merelakan apa yang seharusnya tak ia kejar. Menyerah.
" Saya?" tunjuk Yean kepada dirinya sebab tak menyangka jika dokter Diandra datang kesana hanya untuk mencarinya.
Dokter Diandra mengangguk. Ia tak berani menatap ke arah depan lebih lama. Apa yang ia lihat rupanya menyerang benak secara tak nyaman. Menyerbu isi kepala yang mendadak ruwet.
" Saya tunggu diluar!"
Tapi saat hendak pergi, ia sempat melihat sorot mata tajam dari dua mata milik Dewa yang memancarkan kilatan penuh rasa ingin tahu.
Saat diluar.
" Dokter, ada apa anda mencari saya?" kata Yean dan berhasil membuat lamunan Diandra buyar.
__ADS_1
" Emmm..."
Yean yang melihat Diandra sulit berbicara segera tahu bila perempuan itu sebenarnya pasti ingin bertemu dengan Dewa.
" Dokter, apa anda sebenarnya ingin bertemu dengan Dewa?" terka Yean sembari menaikkan sebelah alisnya. Membuat Diandra langsung menyela.
" Ah tidak- tidak! Saya ingin bertemu anda! Sungguh!"
Tapi gestur dan gelagat yang di tunjukkan bisa Yean yakini jika Diandra sedang berbohong. Ia adalah seorang polisi. Sangat mudah baginya untuk mengidentifikasi kebohongan.
" Dokter, anda tak perlu malu mengakuinya."
Diandra meneguk ludah. Ia telah tertangkap basah. Sepertinya insting polisi benar-benar sulit di kelabui.
"Anda jangan salah paham. Gadis di dalam tadi tadi ha..."
" Saya...saya memanggil kapten Yean hanya ingin titip ini!" potong Diandra yang tak mau mendengar Yean membahas apapun apalagi soal Lyara. Ia langsung menyodorkan sebuah obat oles untuk luka kepada pria tampan di depannya, " Tolong beritahu kapten Dewa untuk mengoleskannya di bagian luka tadi. Termasuk luka yang belum sempat aku lihat tadi!" dokter Diandra terlihat ragu-ragu saat mengatakan kalimat paling akhir.
Yean sontak mengernyit. " Obat?"
Dokter Diandra mengangguk. " Tolong berikan itu kepada kapten Dewa agar lukanya cepat kering." katanya seraya memberikan obat itu kepada Yean.
Yean tampak menerima benda itu seraya mengamatinya perlahan-lahan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terimakasih sudah membantu!" sambung dokter Diandra seraya membungkukkan badannya dan langsung melesat pergi. Membuat Yean menghela napas.
" Anda sangat perhatian kepada Dewa. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masalalu anda dokter?"
Sepeninggal Dokter Diandra, Yean menatap nanar sebuah obat yang kini ada di tangannya. Betapa perempuan itu sungguh perduli kepada Dewa. Tapi alih-alih langsung memberikannya, Yean malah terlihat mengantongi benda itu sebab ia tak mau Lyara melihatnya.
" Untuk apa dia datang kemari?" tanya Lyara dengan wajah tak suka sesaat setelah Yean kembali ke dalam.
Zilloey dan Rayyan yang merasa aura di sekitar sana mulai tak kondusif memilih keluar. Hal itu terpaksa mereka lakukan sebab anak jenderal itu sungguh membuat mereka tak nyaman.
" Aku akan menemui Dorris!" ucap Rayyan.
" Aku ikut. Aku juga mau menemui komandan Damkar!" sahut Zilloey.
Membuat Yean mau tak mau turut mencari alasan. " Aku akan meminta data dan mengirimnya. Kau istirahatlah!" kata Yean menatap Dewa.
Dewa yang di pamiti oleh ketiga sahabatnya tampak membisu tak menyahuti. Ia tahu teman- temannya sengaja meninggalkannya karena ada Lyara.
Sepeninggal ketiga kapten itu, Lyara terlihat menatap murung pria yang sangat ia harapkan untuk menjadi suaminya.
" Lihatlah. Setiap kali ada misi, kau selalu seperti ini. Kapan sih kamu memikirkan diri kamu sendiri?" omel Lyara yang selalu kesal sebab menurutnya, Dewa itu sangat sulit diberitahu.
Dewa yang di omeli mencoba menatap Lyara yang khawatir lekat-lekat . Tapi yang ada justru perasaan hambar. Entahlah, Lyara itu cantik, modis, fashionable, dan juga bermartabat. Tapi perasaan yang ada benar- benar kosong melompong. Sangat berbeda dengan dirinya jika bersama Diandra. Bahkan meski ia tengah marah dan kecewa sekalipun, buncahan yang menyerang benaknya masih bisa ia rasakan. Menggetarkan hati.
" Kenapa bisa luka begini?" cecar Lyara yang sebentar memang sangat khawatir.
" Aku tergores besi saat mengangkat anak yang terjebak di reruntuhan!" sahut Dewa terlihat malas.
" Orang terus yang kau pikirkan. Tidak pernah mau memikirkan diri sendiri!"
Dewa memandang gadis yang terus saja mengoceh dan memberengut sembari menghela napas. Ia heran, kenapa anak seorang jendral justru tak memiliki sifat welas asih.
.
__ADS_1
.
Dilain pihak, Diandra yang sedang berjalan pergi menjauh dari tenda kapten, berkali-kali mengusap wajah dengan rasa dada yang sakit.
Usai melihat kedekatan Lyara bersama Dewa tadi, ia diam-diam telah memutuskan dalam hatinya untuk tak lagi mengganggu pria itu. Jarak yang terbentang semakin nyata dan jelas. Hatinya selalu berdesir tak nyaman tiap kali ia melihat Dewa berinteraksi dengan Lyara.
Percuma.
Mungkin, ia memang harus tahu diri. Kini ia tinggal harus fokus menunaikan tugas sampai batas waktu yang telah di tentukan, setelah itu ia harus menyusun hidup baru bersama Joshua dan Mamannya. Tanpa berharap ada pria lain yang masuk ke kehidupan mereka bertiga.
Sudah, cukup.
Ya, memang seharusnya seperti itulah hidupnya. Ia harus tahu diri jika kesalahan di masalalunya akan terus-menerus membawa dampak bagi kehidupannya. Sekeras apapun ia berusaha tampil baik, rekam jejak tak pernah bisa dihapus.
Diandra yang sedang bersedih memilih duduk di tempat sunyi yang jauh dari tenda pengungsian guna menenangkan diri. Tapi tanpa ia ketahui, tiga orang pria berpakaian lusuh dengan goresan luka yang tersebar di sepanjang lengan dan kaki terlihat mengendap- endap di belakang Diandra.
KLAK KLEK!
Suara kokangan senjata membuat Diandra seketika menghentikan tangisannya. Ia terkejut bukan main. Tubuhnya mendadak tegang dan ia tak berani bergerak.
" Si- siapa kau?" tanya Diandra dengan wajah ketakutan.
Pria itu terlihat menahan sakit. Tapi masih berusaha mengancam Diandra.
" Apa kau seorang dokter?" ucap pria satunya yang menodongkan senjata ke kepala Diandra.
"Siapa mereka. Kenapa mereka mencari seorang dokter?"
" Katakan dulu, siapa kalian?" Diandra mati-matian memberanikan diri untuk menanyakannya hal itu. Meskipun kini lututnya terasa lemas dan bergetar hebat.
" Jawab saja sialan!" hardik pria itu semakin tak sabar. Membuat Diandra semakin menangis.
" Dia seorang dokter. Lihatlah, dia menggunakan Id card!" ucap pria bersenjata tajam yang rupanya telah membaca nama Diandra pada sebuah ID card yang di kenakan Diandra.
Pria berpistol tersenyum lega. Tak sia-sia mereka setengah hari mengintai disana.
" Sekarang diam dan ikuti kata kami jika kau masih ingin hidup!"
Diandra yang di ancam tak berani berkutik sebab seorang yang lain mengancamnya dengan sebilah pisau.
" A- apa yang ka- kalian mau? Kalian mau membawaku kemana?" tanyanya risau.
"Sudah aku katakan diam dan jangan banyak bicara. Apa kau ingin mati!" sengit pria bersenjata yang terlihat meradang.
Diandra langsung menunduk dengan wajah ketakutan saat suara bernada ancaman kian membuat keringat dingin mengucur.
" Bawa dia!"
Maka satu orang pria lain langsung membekap mulut Diandra dengan sebuah sapu tangan yang berbau menyengat. Diandra yang diperlakukan kasar langsung berontak dan membuat ID card-nya terlepas tanpa ada yang menyadari.
" Mmmmhhh!"
Mmmmphhh!"
Pria bersenjata terlihat membantu rekannya membekap Diandra lebih kuat sebab perempuan itu melakukan perlawanan. Namun sejurus kemudian, lemaslah perempuan itu sebab tak mampu melawan dua pria yang membiusnya dengan sapu tangan.
Diandra yang telah tak sadarkan diri membuat ketiga pria itu tersenyum puas. Ia langsung di bawa oleh kelompok separatis menuju ke dalam hutan.
__ADS_1
" Ayo cepat bawa dokter ini. Ketua kita harus segera di obati!"