Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 12. Lebih dekat


__ADS_3

Dewa yang sebenarnya akan berjalan menuju tenda komunikasi, tak sengaja melihat seseorang yang mencurigakan manakala ia berada di sisi barat tenda medis. Tanpa menunggu lagi, pria berhidung bangir dengan ikat pinggang yang memuat banyak sekali persenjataan itu mengendap-endap guna mencari tahu.


Dari tempatnya mengintip, rupanya orang itu hendak masuk ke tenda bersama pemberontak lain. Melihat adanya ancaman, Dewa langsung menarik pelatuk pistol yang telah siap di tangannya dan membuat tiga orang itu langsung kocar-kacir.


Dor!


Dor!


Dor!


Usai memastikan musuh telah lari tunggang-langgang, pria itu langsung menyibak tirai guna memastikan jika orang-orang di dalam tenda baik-baik saja. Wajahnya khawatir, dadanya cemas. Takut kalau-kalau warga negaranya sampai terluka.


Namun tanpa di nyana, ia malah kembali melihat dokter itu di dalam tenda. Kebetulan macam apa ini? Kenapa semesta seolah sengaja mempertemukan mereka di berbagai kesempatan? Entahlah. Tapi melihat semua orang baik-baik saja membuat Dewa seketika bernapas lega.


Usai memberikan titah kepada Oka untuk memperketat keamanan di area tenda tenaga medis, ia memilih pergi menuju tenda komunikasi. Tapi bayang-bayang wajah dokter itu malah menari-nari diatas otaknya. Mengganggu dan menyelinap tanpa izin.


" Dorris, ada kabar dari pusat?" tanya Dewa kepada anggotanya.


"Ada Kapten. Kita akan mendapatkan kiriman persenjataan lewat darat. Namun seperti yang telah kita ketahui, semua ini rawan sabotase. Sebaiknya minya beberapa pasukan untuk menjemput!" kata Dorris dengan wajah serius.


Dewa mengangguk paham. Musuh pasti juga sedang membutuhkan persenjataan. Apalagi, keberadaan mereka yang semakin terancam berpotensi membuat kenekatan mereka semakin menjadi.


Malam menjelang. Situasi terkini lumayan kondusif meski mereka juga masih bersiaga. Mereka yakin jika para pemberontakan itu telah banyak yang terluka. Usai memeriksa beberapa pasien luka parah yang terbaring di tenda, Diandra terlihat sibuk menyeduh kopi bersama Wina di luar.


"Aku tidak menyangka bisa bergabung di misi besar seperti saat ini dokter. Rasanya, ini terlalu keren!" kata Wina sesaat setelah menyeruput kopi jahe miliknya.


Diandra tersenyum. Dalam hati diam-diam menyetujui ucapan perawat yang doyan omong itu. Meski tegang dan menantang, tapi disini mereka benar-benar bisa bekerja dengan optimal.


" Eh dokter. Bukankah tentara yang kapan hari dokter tangani juga berada di sini? Dia yang menyelamatkan kita tadi kan? Kudengar dia merupakan kapten kesatuan. Namanya kapten Dewa!" tukas Wina dengan muka sok informatif.


Sungguh membuatnya kagum. Pantas saja pria itu sangat berkompeten. Ia bahkan masih ingat lengan kekar yang mengetat, manakala digunakan menghajar perampok di dalam bis beberapa waktu yang lalu bersamanya.


" Sepertinya kau selalu tahu Win." balas Diandra terkekeh. Membuat Wina senang karena dokter Diandra akhirnya mau ngobrol dengannya.


" Aku diberitahukan oleh anak buahnya. Tadi yang mengantar pasien. Kalau tidak salah namanya Gabriel!"


Diandra mengangguk paham. Ternyata pria dingin itu memiliki jabatan yang tidak biasa. Membuat secuil rasa ingin tahu kian tumbuh.


Beberapa jam kemudian, saat Diandra hendak pergi beristirahat, seseorang tiba-tiba datang mencari tenaga medis. Para dokter dan perawat lainnya telah masuk ke tenda, dan dari semua personel hanya menyisakan Diandra.

__ADS_1


"Permisi. Tunggu sebentar! Maaf aku harus mengganggumu." ucap seseorang terdengar terburu-buru. Membuat Diandra langsung berbalik.


Deg!


" Dewa? Ada apa dia malam-malam lari seperti ini?"


" Ya, ada apa?" jawab Diandra mengerutkan kening.


"Batalyon barusaja mengirimkan pesan jika besok akan ada pengiriman barang dari rumahsakit. Kau tahu kan, komunikasi hanya bisa dilakukan melalui alat kami. Bisa aku tahu apa saja? Aku harus memastikan karena ini rawan pencurian. Apalagi, musuh kita banyak sekali yang terluka!"


Tapi Diandra malah terpaku. Heran dengan kosakata Dewa yang rupanya bisa sebanyak itu jika membahas soal pekerjaan.


" Ehem!" Dewa berdehem demi mendapati Diandra yang malah melamun.


" Emmm baik, tunggu sebentar. Aku akan lihat list di dalam!" jawab Diandra gugup. Malu karena ia malah hanyut dalam lamunan.


Namun saat hendak berbalik, Diandra malah tersandung sebuah ranting kayu di dekat tenda.


BRUK!


" Aauuww!" ucap Diandra spontan.


Membuat Dewa langsung panik manakala melihat Diandra yang jatuh terjerembab ke tanah.


Deg!


Namun alih-alih bangkit, mereka berdua malah terpana satu sama lain. Pandangan mereka bertemu. Sangat dekat. Bahkan teramat jelas.


Namun beberapa saat kemudian.


" Loh kapten!"


"Ciyeeee!"


Dewa langsung memejamkan matanya seraya menghela napas demi menyadari jika suara tengil itu kembali datang tanpa ia duga. Membuat Dewa seolah-olah tertangkap basah.


Kenapa pas sekali pikirnya?


" Hus! Oka!" desis Gabriel menyenggol tubuh rekannya dengan muka ketar-ketir. Membuat rekannya itu seketika sadar.

__ADS_1


" Siap salah kapten!" ucap Oka sembari melakukan gerakan hormat.


Dan lagi-lagi, hal itu malah membuat Diandra senang tanpa sebab.


Dewa yang tidak tahu jika dua anggotanya malam-malam begini telah membuntutinya, langsung berdiri dengan muka misterius. Ia berbalik lalu berkacak pinggang menatap dua orang yang tengil itu.


" Ada apa?" tanya Dewa dengan wajah menantang.


Melihat hal itu, Diandra langsung memilih masuk untuk mengambil apa yang di butuhkan oleh Dewa.


Namun bukannya takut, Oka dan Gabriel malah senyam-senyum sendiri. Senang karena barusaja bisa menyaksikan kaptennya tengah berada di jarak terdekat dengan dokter cantik itu secara langsung.


" Mohon izin kapten, cuaca sangat dingin, bagaimana jika kita membuat api dan menyeduh kopi!" kata Gabriel berkelit. Padahal sedari awal mereka memang sengaja ingin membuntuti Dewa, begitu Dorris mengajak jika kapten mereka sedang menuju ke tenda tenaga medis.


Sungguh alasan yang sangat tidak penting. Padahal tinggal buat saja kan?


" Kopi mengandung kafein. Dan kafein akan membuatmu terjaga. Istirahat merupakan hal paling berharga dalam kesatuan kita saat ini. Jadi...." kata Dewa yang kini merubah posisi tangannya menjadi terlipat. " Cepat pergi istirahat sebab besok kalian harus bergantian berjaga!" teriak Dewa menatap tajam kedua anak buahnya yang benar-benar bandel itu.


" Siap kapten!" balas keduanya dengan tangan hormat namun wajah yang mati-matian menahan tawa.


Dan saat mereka sedang melakukan hormat, Diandra terlihat keluar dengan secarik kertas berisikan beberapa catatan.


" Selamat malam dokter cantik! Kami pergi dulu. Selamat malam kapten!" goda Oka sembari ngacir sebelum di hukum kembali oleh Dewa.


Diandra tergelak. Tapi Dewa benar-benar malu. Dewa memijat kepalanya sebab kelakuan dua anggotanya itu selalu berhasil membuatnya pusing.


" Maaf. Mereka mereka memang kurang sopan. Aku akan menatarnya nanti!" kata Dewa yang masih saja se profesional itu meski jam sudah sangat larut.


" Tidak perlu meminta maaf. Aku rasa mereka bisa menjadi obat dikala stres!" balas Diandra tersenyum.


Dewa menggeleng tak setuju. " Justru karena mereka lah aku sering mengalami stres!"


Diandra tergelak. Jangan-jangan justru Dewa lah yang terlalu kaku. Sampai-sampai mengatakan jika orang selucu mereka malah membuat pikiran Dewa stres.


" Kurang beristirahat juga bisa membuat seseorang menjadi stres!" timpal Diandra masih melanjutkan.


Membuat Dewa kembali menatap Diandra. Entahlah. Setelah sekian lama, baru malam ini ia berbicara terlalu banyak dengan lawan jenis.


" Ini daftarnya kapten. Selamat beristirahat!" kata Diandra memecah keheningan. Membuat Dewa langsung sadar.

__ADS_1


" Emmm terimakasih."


Diandra mengangguk sambil tersenyum. Malam ini kosakata yang digunakan Dewa kepadanya sudah cukup banyak. Semakin membuatnya tertarik. Tapi, ia tiba-tiba murung. Kenapa setiap ingin membuka hati, ia selalu minder dengan keadaannya?


__ADS_2