
Sejujurnya, Diandra sangat berat meninggalkan Joshua dan masalahnya yang belum selesai. Tapi menyaksikan jerit, tangis dan ratap di Anka dalam salah satu video amatir, berhasil mengguncang panggilan jiwanya.
" Pergilah. Mama akan bujuk Joshua. Kita tak bisa berlaku kasar kepada Joshua. Sebab semakin kita kasar, maka anak itu akan semakin menjauh. Mama harap kau sedikit sabar dalam hal ini!" begitu kata Mama sehari setelah dia memutuskan pulang dan bolos kerja.
Tapi semangatnya tiba- tiba patah manakala mendengarkan jawaban kepala dokter yang menangani bidang kerelawanan.
" Tidak, kau sedang dalam masalah. Mental dan fisikmu sedang terganggu. Kau tak bisa berangkat dengan kondisi seperti itu!" tolak dokter kepala Kepada Diandra yang telah kembali keesokan harinya ke Santara.
" Aku sehat jasmani dan rohani dokter. Lihatlah, bahwa aku sudah mendapatkan releasenya. Ku mohon, Anka adalah kota yang jumlah tenaga medisnya sangat terbatas!" ucap Diandra penuh harap. Sungguh, ia tak bisa melihat penderitaan rakyat saat ia bisa dan mampu membantu.
" Tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu!"
Diandra menatap resah dokter senior yang keukeuh tak mau mengizinkannya. Padahal, ia sudah meninggalkan masalahnya demi bisa bergabung.
"Sebenarnya, selain aku ada banyak orang yang tak siap di kirim ke wilayah Anka hari ini. Ada Vivian yang anaknya sakit. Ada Jam yang istrinya hamil tua. Ada Helena yang anaknya sendiri. Bukan hanya aku yang memiliki tanggungan di rumah. Mental mereka jauh lebih terganggu! Tapi sekarang aku tahu, orang macam apa anda ini dok. Anda adalah orang yang dekat dengan keluarga Ferdinand kan? Apa karena itu anda melarang saya?" kata Diandra dengan suara penuh kekecewaan, " Jika iya. Maka apalah guna jas ini karena saat aku di butuhkan, aku bersedia, justru aku tak di izinkan berangkat!"
" Dan satu lagi. Tanyakan pada diri anda, apa gunanya kita menjadi dokter jika hanya menjadi penonton saat ribuan manusia menjerit memanggil nama kita!" sambung Diandra dengan kilatan kemarahan di matanya.
Ia lantas keluar dengan dada yang di jubeli kekecewaan. Ia yakin, Rando pasti telah membuat pergerakannya sulit seperti saat ini.
__ADS_1
Diandra keluar ruangan dan menatap murung Wina seraya menggeleng. Sepertinya tak ada harapan.
" Maafkan aku dokter. Kemarin aku di tanya soal permasalahan dokter yang mendadak pulang. Aku tak bisa menutupinya!" kata Wina tertunduk muram sebab merasa bersalah kepada Diandra.
Diandra mengangguk sambil tersenyum tipis. Wina tak salah, gadis itu hanya melakukan pekerjaannya. " Pergilah. Lakukan tugasmu dengan baik!"
Air mata Wina nyaris saja tumpah saat Diandra mengusap lembut lengannya. Tapi saat dokter cantik itu hendak pergi. Dokter kepala tiba- tiba keluar lalu memanggilnya.
" Tunggu!"
.
.
Para relawan sedang beristirahat siang ini. Di hari ketiga ini masih banyak orang-orang yang terjebak di reruntuhan yang sebagian besar materialnya sulit di angkat.
" Wow, aku sangat terharu saat melihat pria yang ternyata masih hidup di bawah reruntuhan tadi." ucap Rayyan senang sesaat sebelum meneguk sebotol air mineral.
Seragam mereka terlihat sangat kotor. Pun dengan wajah keempatnya. Tapi semangat dalam dada mereka kian membara. Tak pantang menyerah, demi negara tercinta.
__ADS_1
" Aku yakin di bawah gedung pabrik itu masih banyak yang terjebak. Mati atau hidup, kita harus menemukannya!" ucap Zilloey.
Mereka semua mengangguk setuju.
" Tapi kudengar, tenaga medis yang ada kurang mencukupi. Bahkan medis dari angkatan darat, laut, dan udara yang sudah di terjunkan belum juga bisa meng-cover pasien yang mayoritas mengalam luka parah." ucap Yean dengan raut gelisah.
" Hari ini akan ada Hercules yang membawa medis dari Santara!" sahut Rayyan super informatif.
Yean berharap Dewa mau menoleh saat Rayyan memberitahukan informasi tersebut. Tapi reaksi yang di tunjukkan seolah meyakinkan ketiga laki- laki itu jika hati Dewa tampaknya sudah tertutup bagi dokter berbakat dari Santara itu.
Hingga, saat prosesi penyambutan dokter serta perawat relawan yang datang, Dewa yang berdiri di jajaran paling depan memindai semua dokter yang hadir. Tapi hatinya dibuat mencelos karena lagi- lagi tak mendapati Diandra diantara mereka.
" Kenapa aku masih memikirkan perempuan itu setelah apa yang tejadi. Aku bisa gila jika terus seperti ini!"
" Sssst, Dewa!" bisik Rayyan sembari menyenggol Dewa yang malah melamun," Maju. Dan berikan sepatah kata. CK!"
Yean yakin jika pikiran Dewa sedang melayang entah kemana. Pria itu akhirnya maju dan melakoni tugasnya menyambut kedatangan dokter pada seremoni pagi ini dengan sigap.
Seusainya, para dokter dan perawat serta tenaga medis lain langsung menyebar menuju ke titik pengobatan yang sudah di petakan. Namun saat hendak berbalik, ia dibuat tertegun demi melihat orang terakhir yang berdiri menatapnya dengan tatapan dalam.
__ADS_1