Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 18. Insecure


__ADS_3

Entah hal apa yang mendasari Diandra menggerakkan langkahnya menuju ke tempat Dewa kini berada. Yang jelas, perempuan itu kini sudah berdiri di belakang Dewa.


Pria berwajah kusut itu kini terlihat menatap nanar ke arah tanah basah dengan dada berkecamuk. Bertemu dengan Deby seolah membuat lukanya kembali menganga.


" Kopi?" ucap Diandra tiba-tiba sembari menyodorkan segelas kopi panas ke arah Dewa.


" Terimakasih!" jawab Dewa yang ternyata mau menerima kopi pemberian Diandra meski keterkejutan tak bisa ia sembunyikan.


Diandra lantas mendudukkan tubuhnya di depan Dewa. Jaraknya tidak jauh dan tidak dekat pula. Pas untuk mengobrol.


" Sebagian besar orang sudah selamat ya. Informasi yang kudengar kita akan bergerak ke longsor besok." kata Diandra mencoba membangun sebuah komunikasi wajar.


Dewa mengangguk. Itu memang benar. Tapi ekspresinya masih nampak kusut. Terlihat penuh beban.


" Maaf tadi...aku sempat mendengar kapten berdebat dengan seorang wanita yang..."


Dewa yang sedang menyeruput kopi langsung menatap wajah Diandra yang terlihat ragu-ragu kala berucap. Pria itu terlihat langsung membatalkan niatnya untuk menyeruput kopi.


" Emmm... tadi...."


" Apa yang kau dengar?" sela Dewa yang membuat kalimat Diandra menguap percuma.


Maka Diandra seketika meneguk ludahnya karena takut jika Dewa akan marah.


" Anda orang yang sopan. Tapi, tadi kudengar anda menghardik ucapan wanita itu. Dan Sepertinya kalian sudah mengenal satu sama lain." jawab Diandra ragu-ragu.


Dewa akhirnya meletakkan kopinya yang tinggal separuh lalu tersenyum kecut seraya melipat kedua tangannya. Dan entah mengapa pula, Dewa yang selama ini tak membagi bebannya kepada siapapun terlihat hanyut dalam perasaan sedih.


" Kami memang kenal!" jawab Dewa dengan tatapan kosong. "Lebih tepatnya dulu!"


Diandra meneguk ludahnya kembali. Sepertinya, Dewa akan berbicara sedikit. Tapi, benarkah pria datar itu mau mengobrol lebih dalam? Sungguh tidak mungkin.


" Menurutmu, seberapa penting wanita harus menjaga kehormatannya?" tanya Dewa menatap lekat mata Diandra.


DEG!


Diandra yang di ajui pertanyaan seperti itu langsung membeku. Pertanyaan yang seolah mengingatkannya pada masalalunya yang cela itu seolah membuat lehernya tercekik.


" Ma- maksudnya?"


Dewa yang melihat Diandra gagap seolah tersadar jika seharusnya ia tak perlu berbicara terlalu jauh. Terbawa perasaan benar-benar membuatnya menjadi bodoh.

__ADS_1


" Sudahlah. Maafkan aku. Mungkin aku terlalu banyak bicara!" sahut Dewa yang tiba-tiba beranjak sebab merasa malu karena terlalu baper.


" Tunggu dulu. Sepertinya anda dan wanita itu..."


Dewa berbalik lalu menatap Diandra kembali. " Tidak usah di bahas. Oh ya, apa kau membaca plaster lagi?"


Diandra mengangguk meski sebenarnya ia berharap Dewa mau mengajakmu ngobrol lagi. " Aku akan memberi banyak untuk Kapten!"


.


.


" Hah, yang benar saja?" jawab Gabriel heboh saat sekutunya memberikan gosip terbaru.


" Bahkan mood kapten langsung berubah!" seru Zior lebih ekspresif. Membuat beberapa orang disana terkejut demi sebuah gosip hangat terupdate.


" Infonya, suaminya sedang menuju kemari. Dia pengusaha besar!"


Oka langsung mencebikkan bibirnya. " Pengusaha macam apa yang meninggalkan anak dan istri semacam itu. Untuk kapten sigap. Kalau tidak, tidak tahu lagi sudah!"


" Aku malah tidak menyangka jika yang tadi di selamatkan kapten adalah mantan pacarnya dulu." gumam Gabriel yang tak habis pikir.


" Dia hamil duluan karena berselingkuh! Kapten memang tidak pantas dengan perempuan seperti itu."


CETHAAK!


" Aduh!"


Oka mengaduh setelah Zior menyentil dahinya dengan begitu keras.


" Jangan keras-keras sialan! Apa kau lupa, kita ini sedang bergosip bukan bernyanyi!" seru Zior seraya mendengus kesal.


Diandra yang berdiri mematung langsung shock saat mendengar hal itu. Pantas saja tadi Dewa mengajukan pertanyaan aneh itu kepadanya. Ternyata Dewa telah di khianati oleh wanita cantik tadi dengan cara yang sangat menyakitkan.


Dan tiba-tiba.


" Ah dokter. Anda di sini?" seru Oka yang menyembul dari balik tenda. Terlihat hendak keluar.


Diandra yang kepergok langsung mengangguk tergeragap. " Aku...ingin minta daftar nama orang di tenda empat!" jawab Diandra sedikit kelimpungan.


Sekembalinya Diandra ke tenda peristirahatan. Pikiran perempuan itu tiba-tiba tak tenang. Ia bukan tidak tahu dengan apa yang ia rasakan beberapa waktu ini. Berkali-kali di pertemukan dalam berbagai situasi membuat sejumput rasa ingin mengenal semakin tumbuh.

__ADS_1


Apalagi, Dewa merupakan sosok yang menurut luar biasa. Tapi, mendengar kasus dan kenyataan yang ada, ia benar-benar kehilangan segenap nyali. Kepercayaan dirinya tiba-tiba tergerus. Ia juga memiliki masalalu yang buruk. Bahkan sangat.


Lantas bagaimana sekarang?


" Menurutmu, seberapa penting wanita harus menjaga kehormatannya?"


Mengingat hal itu, sebulir cairan bening tiba-tiba meluncur begitu saja melintasi pipi mulus Diandra. Teringat bila dirinya juga sangat tercela. Langkah seseorang yang terdengar mendekat membuat perempuan itu buru-buru mengusap kedua netranya.


" Pasien yang kau tangani kabur!" seru Anita dengan muka terpaksa. " Dia keras kepala sekali. Anaknya bahkan masih saja demam!"


" Apa?"


Diandra langsung berlari melewati Anita yang berdiri dengan muka berpaling. Wanita itu adalah mangan pacar Dewa. Menurut prosedur, tak diperkenankan pengungsi pergi tanpa lapor. Di jam malam itu Diandra langsung berlari sebab pasien itu merupakan tanggungjawabnya.


" Anaknya masih Demam. Kenapa dia nekat pergi?" gumam Diandra menggerutu tiada henti.


Dan setibanya di muka jalan.


" Nyonya, apa yang anda lakukan?" teriak Diandra kepada Deby yang sudah hendak masuk ke dalam mobil.


" Siapa kau!" jawab seorang pria dengan wajah sengit.


" Anak anda masih demam. Sebaiknya di rawat dulu!" ucap Diandra terengah-engah.


" Di rawat apa. Tempat buruk seperti ini kau bilang di rawat?" maki pria itu dengan nada kesal.


" Tuan! Ini situasi darurat. Tidak sepantasnya anda berkata seperti itu! Lagipula, jika anda ingin pergi, anda bisa melapor dulu kan. Mana bisa seperti ini!" ucap Diandra terlihat kesal.


" Banyak omong. Ini istri dan anak saya Terserah saya mau saya bawa kemana!"


" Tuan!"


" Minggir!"


BUG!


" Aaaa!"


Pria itu langsung mendorong tubuh Diandra sebab dinilai menghalangi jalannya. Namun tubuh yang semula di khawatirkan jatuh, rupanya tidak terjadi sebab seseorang tiba-tiba datang menopang.


" Beraninya kau!" teriak seseorang kepada suami Deby dengan wajah geram.

__ADS_1


__ADS_2