
Iwan memanggil Dewa saat pria itu sedang berjalan dengan rasa aneh usai keluar dari tenda medis. Jelas aneh, ini merupakan kali pertamanya bisa sedekat itu dengan dokter Diandra.
Sial juga, untung hanya Wina yang memergoki. Ia tentu akan semakin malu jika duo ribet yang ada di sana tadi.
" Kapten!" seru Iwan seraya melambaikan tangan.
" Ya?" balas Dewa sembari menunggu Iwan yang berlari menuju ke arahnya.
"Nona Lyara datang kemari. Dia menunggu anda di dalam gedung serbaguna!"
" Apa? Untuk apa dia kemari?" jawab Dewa menjengit kaget.
" Saya juga tidak tahu Kapten. Tapi sebaiknya, anda temui saja dulu! Saya takut, Jenderal akan menghubungi kita nanti. Urusannya akan semakin besar!"
Dewa mengeluh malas. Jika bukan karena anak Jenderal, ia tak akan mau menemui. Pria itu akhirnya berjalan menuju gedung serba guna. Dan benar rupanya, wanita cantik itu telah berada di sana.
" Dewa. Syukurlah kau baik-baik saja. Aku sangat mencemaskan mu!" kata Lyara yang langsung memeluk tubuh Dewa tanpa izin. Dewa hanya bisa diam. Wanita itu memang selalunya seperti itu.
" Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku disini karena tugas. Lagipula, ini bukan yang pertama buatku!" jawab Dewa sembari melepaskan diri dari pelukan Lyara.
Lyara langsung memberengut. Ia kesal sebab pelukannya di lepaskan. " Kau jarang membalas pesan dariku. Tentu saja aku khawatir. Tunggu sebentar, pipimu terluka. Kau habis di cakar siapa?"
Dewa yang mendengar hal itu reflek meraba pipinya. Kuat dugaan pasti karena cakaran anak kecil tadi.
" Luka biasa!" jawabnya enteng.
" Kau ini selalu meremehkan. Sersan, tolong ambilkan peralatan. Aku akan mengobati Dewa!" seru Lyara kepada petugas yang berjaga di depan pintu.
" Baik nona!"
" Lyara. Ini berlebihan!" ucap Dewa terlihat keberatan. Ia tak suka Lyara memerintah anggotanya seenak apalagi ini diluar tugas penting.
" Tidak ada yang berlebihan. Mereka juga tahu siapa aku Dewa. Kau tahu, tawaranku tempo hari masih berlaku loh. Aku bisa meminta ayah untuk memindahkanmu ke detasemen pusat!"
Tapi Dewa yang diajak ngobrol terlihat sangat tidak nyaman. Tak berselang lama, sersan yang diperintahkan Lyara tiba dengan kotak obat.
" Ini kotak yang nona minta!"
" Terimakasih. Keluarlah. Aku bisa melakukannya sendiri!"
" Baik nona!"
__ADS_1
Sepeninggal sersan itu, Lyara mendudukkan tubuhnya ke atas sofa empuk berdesain modern seraya membuka kotak obat. " Duduklah. Aku akan mengobatimu!"
Dewa akhirnya menurut. Ia hanya tak mau jika Lyara akan melapor ini itu kepada sang jenderal di saat-saat krusial seperti sekarang ini. Apalagi, korban meninggal semakin bertambah.
" Wajahmu yang tampan menjadi sering panen luka. Kau benar-benar tidak hati-hati!" ucap Lyara sembari menotolkan kapas yang sudah diberikan cairan antiseptik sebelumnya.
Dewa memalingkan wajahnya saat jarak mereka begitu dekat. Ini sungguh tidak nyaman. Lyara cantik. Tapi dia bukanlah tipikal Dewa. Apalagi, Lyara terlalu kekanak-kanakan.
" Selesai!"
" Lyara. Aku ada banyak tugas yang..."
" Aku sudah meminta Iwan untuk mengcovernya tadi. Santailah sebentar!" sergah Lyara memotong ucapan.
Dewa akhirnya diam di sana. Lyara tersenyum senang saat melihat Dewa mau duduk di dekatnya. Rasa-rasanya, kerinduannya langsung terobati.
" Dewa, kau tahu aku selama ini menunggumu. Aku hanya khawatir kau kenapa - kenapa saat bertugas. Tugasmu selalu dekat dengan resiko dan bahaya. Sama seperti mendiang ibuku yang dulu selalu mengkhawatirkan ayahku. Ayah akan dengan senang hati membuatmu memiliki jabatan yang bagus tanpa khawatir kau akan terluka! Yang kau perlukan hanya sedikit kemauan saja. Sisanya biar aku yang urus.
" Lyara!"
" Aku serius Dewa. Aku sangat mencintaimu!"
Keduanya saling menatap. Lyara yang semakin jatuh hati, sementara Dewa yang bingung bagaimana caranya menolak wanita itu tanpa membuat pekerjaannya terancam.
KRUTHAK!
Keduanya langsung terlonjak kaget saat suara gebrakan tiba-tiba terdengar. Suara itu rupanya berasal dari ponsel Diandra yang jatuh sebab kaget manakala menyaksikan wajah Dewa dan wajah Lyara yang sudah dalam posisi begitu dekat.
" Ah maaf. Sa-saya sudah mengetuk pintu tadi. Tapi anda tidak mendengar. Ponsel Kapten tertinggal di tenda tadi. Sepertinya ada panggilan penting!" kata Diandra yang wajahnya pias dengan suara yang terbata-bata.
" Lihatlah. Katanya mau laporan ke detasemen. Ternyata asik berduaan di sini. Dasar pria. Tidak ada yang bisa di percaya!" kata Diandra dalam hati.
Lyara terlihat begitu kesal sebab kegiatannya terganggu. Dan lebih kesal lagi, sekarang Dewa pergi menyongsong wanita yang pernah berdebat dengannya di kamar mandi saat mereka makan malam di Santara.
" Astaga. Maafkan saya dokter. Saya jadi merepotkan anda!"
Diandra hanya mengangguk. Ia terlihat menatap wajah Lyara sebentar sebelum akhirnya pergi dengan dada yang serasa terganjal sesuatu. " Saya harus kembali. Permisi!"
" Apa mereka tadi sudah berciuman ya? Kenapa wanita itu ada di sini?"
Dan entah mengapa, pikiran Diandra malah terusik dengan angan-angan yang tidak-tidak. Hatinya mendadak kesal dan ingin memarahi Dewa. Padahal, sekalipun itu benar, itu juga tidak masalah bukan. Toh Dewa memang pria tampan yang kharismanya sukar di tolak siapa saja.
__ADS_1
Dan saat dalam perjalanan hendak kembali ke tenda, ia tak sengaja melihat Anita yang duduk diatas tanah menghadap ke arah longsoran yang masih meninggi.
" Anita? Kenapa masih berada di sana?" gumam Diandra seraya melangkah menuju ke tempat Anita berada.
" Nit!"
Anita yang namanya di panggil buru-buru mengusap air matanya dengan cepat dan berharap si pemanggil tak mengetahui tangisannya. Tapi terlambat, Diandra tampaknya lebih dulu mengetahui.
" Kau kenapa Nit? Kamu nangis?" tanya Diandra cemas.
" Bukan urusanmu!" elak Anita mencoba menghindari Diandra.
" Apa karena anak kecil tadi?" seru Diandra begitu Anita mulai melangkah pergi.
Anita langsung berhenti seraya memejamkan matanya menahan. Ternyata seperti ini rasanya di salahkan.
" Aku memang pecundang Di. Dari segi apapun aku kalah denganmu. Apapun. Pertemanan, hubungan, pendidikan, bahkan pekerjaan!"
" Nita!"
Diandra berteriak seraya menatap Anita yang napasnya terlihat memburu kala berkata. Ia melakukan hal itu karena tak menyangka Anita mengatakan hal seperti ini.
" Jadi benar dugaanku. Pasti ada sesuatu sejak kita lulus sekolah. Sekarang katakan, apa karena Aldi sikapmu jadi berubah?"
" Kenapa kau jadi yang mar..."
" Jawab Nita!" teriak Diandra tegas. Ia benar-benar lelah selama ini di diamankan. Ia sangat menyayangi Anita.
Anita hanya terlihat diam tak bisa menjawab. Ia sendiri bingung dengan semua yang terjadi.
" Jaga dirimu Di!"
" Nita! Anita!"
Namun saat hendak pergi mengejar Anita. Ponsel Diandra mendadak bergetar.
" Mama?" gumamnya.
" Halo Ma?"
" Diandra. Joshua belum pulang kerumah!"
__ADS_1
" Apa? Bagiamana bisa?"