Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 8. Secuil kisah


__ADS_3

Bagi Dewa, menolong itu bukan sekedar tuntutan karena dia merupakan seorang tentara. Tapi hal itu merupakan sebuah keharusan baginya sebagai sesama manusia. Pria berkharisma itu sampai di rumahnya pada pukul empat sore. Tepat saat seorang pria berusia enam puluh tahun tengah sibuk menyirami sebuah Aglonema hijau yang sedikit kekeringan.


" Ayah!" panggil Bara dengan setangkup haru yang membalut rindu.


Pria berbaju kotak-kotak itu langsung menengok ke belakang. Matanya seketika mengkristal dan gembor air di tangannya langsung terjatuh.


" Dewa!" ucapnya terdengar lirih dan pilu.


Pria itu langsung berjalan dan menubruk tubuh anaknya yang sudah lama tak pulang dengan sangat erat. Menepuk-nepuk punggung bidang Bara dengan rasa haru.


.


.


Sementara itu di lain pihak, Diandra yang juga sudah tiba di depan rumah ibunya, nampak mematung ragu di depan pintu. Dari luar tempatnya berdiri, kupingnya sayup-sayup mendengar suara gelak tawa seorang anak yang membuat hatinya nyeri.


Ia berulang kali menghela napas. Berusaha membuat dirinya tenang sebelum akhirnya...


CEKLEK!


Mama Erika yang ternyata asyik bermain kejar-kejaran bersama seorang anak laki-laki, langsung tertegun demi melihat putri semata wayangnya telah berada di depan pintu manakala ia hendak pergi ke luar rumah.


" Kak Diandra?" pekik seorangpun bocah laki-laki yang memiliki usia kurang lebih tujuh tahun. Membuat mata Diandra tiba-tiba mengkristal.


" Mama, kak Diandra pulang!"


.


.


Semangkuk bakso daging berkuah bening nan gurih, dengan asap yang mengepul tipis di sajikan oleh mama Erika di hadapan Diandra selepas anaknya itu mandi. Nampak lezat dan menggugah selera.


" Kenapa kau tidak menelpon Mama dulu jika mau pulang?" tanya Mama Erika sembari menarik kursi dan duduk berdua bersama Diandra.


" Temanku minta tukar jadwal. Aku seharusnya cuti bulan depan. Kami tidak boleh mengambil cuti bersamaan karena dokter bedah kami ada yang sedang upgrade!" jawab Diandra seraya menarik mangkuk untuk mendekat ke hadapannya.

__ADS_1


Mama Erika menatap murung anaknya. " Apa kau sudah menghubungi Rando soal Josua?"


Membuat Diandra langsung mengurungkan kegiatannya untuk menyeruput kuah bening itu. " Diandra sudah pernah bilang ke Mama, tolong jangan sebut nama pria itu lagi!" ucapnya terlihat kesal. Sama sekali tak ingin membahas pria dari masalalu nya itu.


" Di, mau sampai kapan?" kata Mama Erika semakin murung. Nyaris membuat selera makan Diandra menguap.


" Mama sendiri yang meminta agar Josua tak memanggilku dengan sebutan Mama. Aku nahan Ma, demi apa? Demi agar Josua bisa hidup tanpa bayang-bayang kesalahan orangtuanya!"


Ya, mama Erika yang dulu mengetahui bila anaknya hamil tanpa pertanggungjawaban memang meminta Josua di atas namakan sebagai anaknya. Membuat Diandra kini harus menahan rasa sedih tiap kali anaknya manggilnya dengan sebutan kakak.


" Sudah, maafkan Mama. Kita jangan bahas ini. Mama hanya ingin kamu dan Josua baik-baik saja. Maafkan Mama sekali lagi!" tukas mama Erika mengalah. Ia sebenarnya tak sengaja ingin membuat suasana menjadi seperti ini.


Diandra akhirnya menyantap semangkuk bakso itu dengan pikiran yang entah melayang kemana. Mendengar nama Rando saja sudah membuat luka serta kesedihannya seolah kembali menganga.


" Apa papa pernah datang kemari?" tanya Diandra manakala ia sudah menuntaskannya makannya.


Mama Erika menatap anaknya lekat-lekat. Ketidakberhasilannya dalam membina rumah tangga lah yang makin membuatnya merasa bersalah kepada Diandra.


" Mungkin takdir Mama hidup sendiri seperti ini Di." jawab mama Erika tersenyum kecut. " Tapi buat Mama yang terpenting adalah kamu dan Josua. Mama memaksa kamu seperti ini agar kamu bisa mendapatkan pasangan dengan lebih mudah. Bayangkan saja jika Mama tak melakukan hal ini? Kau pasti juga akan kesulitannya untuk meneruskan pendidikanmu!"


...----------------...


" Ayo makan yang banyak nak. Ini makanan kesukaan kamu!" Ibu Dewa terlihat senang sebab hari ini putranya berada di rumah." Sean juga sangat suka, ayo makan!"


Tapi alih-alih langsung menyantap, Dewa seketika tercenung manakala mendengar sang ibu lagi-lagi menyebut nama adiknya yang sudah tewas.


Ayah Dewa yang sadar akan hal itu langsung mengusap lengan anaknya. " Setelah ini ayah ingin mengajakmu ke kebun. Ayo makanlah dulu!"


Dewa tersenyum. Memang tak seharusnya ia murung. Ia pulang untuk kerinduan. Dan sudah seharusnya ia tak lagi menunjukkan kesedihan yang sama. Meski ia tahu, bila sang Ibu masih belum menerima ketetapan takdir.


.


.


Hujan sangat deras saat Rando pulang malam ini. Pria itu duduk di kursi belakang mobil sedan mewahnya dengan mengamati jalanan. Drainase sangat buruk, baru hujan sebentar saja genangan langsung tercipta.

__ADS_1


Ia membuka ponselnya dan melihat pesan bahwa mamanya memintanya pulang ke rumahnya. Ada sesuatu yang musti di bicarakan sepertinya.


Ia membuka passcode sesaat sebelum masuk rumah mewah itu. Seorang pelayan langsung menerima jasnya. Rando langsung menuju ruang keluarga dengan muka lelah.


Saat menapaki lantai di ruang makan, Adik perempuannya ternyata sudah ada di sana. Duduk berhadapan dengan sang Mama.


" Ah kau sudah datang?" sapa sang Mama begitu melihat kemunculan sang anak.


Rando langsung tersenyum sembari menarik kursi dan duduk di depan meja makan mewah. Di hadapannya sudah terdapat banyak sekali sajian beranekaragam.


" Kapan datang?" tanya Rando kepada adiknya. Merasa jika kedewasaan sedikit banyak telah menggerus kebersamaan mereka.


" Barusaja! Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Viona.


" Baik!"


Seperti itulah percakapan di keluarga Rando. Kaku dan nyaris tak memiliki dinamika. Semua selalu formal.


" Makan lah dulu!"


Mereka akhirnya makan dalam diam. Terlihat sangat resmi dan monoton. Seusainya, Papa Rando angkat bicara. Meski Rando terlihat masih sibuk menikmati hidangan penutup.


" Papa ingin kau berkenalan dengan anak tuan Demian!'' kata papa Rando tiba-tiba


Sudah Rando duga. Pasti yang di bahas adalah urusan ini. Membuat pria itu langsung kehilangan selera makannya.


" Apa aku di undang untuk membahas hal ini?" tanya Rando yang raut wajah mulai berubah.


Adik Rando langsung melirik. Sadar jika nada suara kakaknya terdengar ketus. Ia pun langsung menghentikan kegiatannya dalam menyantap dessert.


" Jika kau menikah dengan anak tuan Demian, itu akan menguntungkan perusahaan kita Ran. Pikirkan ini baik-baik!"


Maka Rando langsung mendorong maju piringnya yang belum kosong, dan langsung pergi meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Mama Rando terlihat kesal.


" Rando kembali! Papamu belum selesai berbicara Rando!"

__ADS_1


Ia tahu sedari kecil hidupnya sudah sarat dengan aturan. Tapi percayalah, demi apapun yang ada di dunia ini, Rando benar-benar tak suka jika urusan asmaranya terlalu di atur.


__ADS_2