
Jeritan dan pekikan tak hentinya keluar dari mulut para penumpang yang kini hatinya ketar-ketir. Dua orang berhasil di lumpuhkan oleh Dewa, satu orang lagi masih mencoba mengancam supir menggunakan senjata tajam, seorang lagi mengancam kernet dan seorang lagi kini berhadapan dengan Dewa.
Kesemua penumpang disana bahkan menyaksikan secara langsung aksi Dewa dalam melumpuhkan para rampok bersenjata itu dengan begitu tangkasnya. Dan melihat bila mungkin saja Dewa adalah aparat, seorang perampok secara impulsif mendekat ke sisi samping tepat dimana seorang wanita terlihat menundukkan kepalanya.
" Kalau kau berani maju, akan aku bunuh wanita ini!"
" Aaaaa!!!"
Maka semua orang di dalam sana kembali menjerit takut, pun seorang wanita yang kini rambutnya di tarik oleh si penjahat.
Deg!
" Itu kan?"
Dewa terkejut setengah mati manakala melihat bila si wanita yang kini di ancam oleh sebilah pisau itu merupakan dokter yang beberapa waktu lalu telah menanganinya saat ia tekena luka.
Diandra yang hendak pulang untuk menemui Ibunya dan terpaksa menggunakan bis sebab ketinggalan kereta menuju Malta, kini malah menjadi target ancaman. Wanita itu hanya bisa menatap takut wajah si penjahat yang terus memekikkan kata-kata kasar kepadanya sebab ia berusaha memberontak.
Dewa yang tahu jika dokter itu sangat ketakutan terlihat menuruti perkataan pria itu sembari mengatur siasat.
" Mau jadi jagoan kamu hah? Angkat tanganmu!" teriak penjahat itu memelototi Dewa yang mau tidak mau harus mengalah demi keselamatan wanita yang berada di barisan kursi nomor empat dari belakang itu.
Dalam situasi mendesak, dewa di tuntut untuk berpikir taktis dan harus membuat para penjahat itu kalah tanpa membuat nyawa mereka melayang. Ini merupakan kejahatan berencana. Ia tahu, di negaranya akhir-akhir ini memang ada banyak peningkatan kasus kejahatan sebab banyak sekali pengangguran.
Tapi saat suasana masih mencekam, anak kecil yang semula berada di barisan kursi belakang Dewa itu tiba-tiba mengigit tangan kiri si penjahat dan membuat pria itu memaki karena kesakitan.
" Arghh!" teriak penjahat itu yang akhirnya spontan melepaskan jeratan tangannya di leher Diandra.
" Kurang ajar!"
PLAK!
" Hey!"
Membuat Dewa seketika geram demi melihat anak kecil itu kini di tempeleng oleh sing penjahat. Diandra segera beringsut mundur, dan Dewa langsung melayangkan tendangan persis ke perut pria itu dan membuat seisi bus kembali berteriak.
BUG!
Dewa langsung menghajar pria itu tepat mengenai titik paling mematikan namun tak akan sampai menghilangkan nyawanya.
BUG!
__ADS_1
Maka Dewa kini tak lagi bisa menahan dirinya manakala mengingat anak kecil tadi di tempeleng oleh si penjahat. Dan melihat anak buahnya di gebuki oleh Dewa, sang pemimpin yang semula mengancam si supir kini terlihat menuju belakang lalu berniat menyerang Dewa.
Diandra yang melihat Dewa hendak di serang langsung berteriak sambil berusaha mendorong pria itu namun tangannya malah terkena senjata tajam.
SRET
" Arghh!"
Detik itu juga, Dewa yang melihat hal itu langsung menarik tubuh Diandra ke belakang di posisi aman, dan langsung menyerang si ketua penjahat tanpa ampun. Para penumpang lain yang melihat hal itu sampai ketakutan dan takjub dengan kemampuan pria yang kini menjadi hero untuk mereka semua.
Dewa juga bahkan langsung menumpas satu orang yang tersisa tanpa ampun. Dengan napas yang semakin terengah-engah, Dewa akhirnya berhasil membuat penjahat itu terkapar. Dewa yang melihat Diandra menahan sakit di lengannya langsung menghampiri.
" Kau terluka!" ucap Dewa reflek menyentuh tangan Diandra yang bersimbah darah. Kesemua orang di sana turut prihatin manakala menyaksikan kejadian mengerikan ini secara langsung.
" Bisa kau ambilkan sesuatu di tasku! Ada obat-obatan!" kata Diandra menahan sakit.
Dewa mengangguk. Tak salah lagi, wanita cantik di depannya itu memanglah dokter yang kapan hari menanganinya. Dewa berjongkok dan nampak mengaduk isi tas Diandra lalu meriah sebuah kotak putih yang dia yakini merupakan obat-obatan dan peralatan medis.
" Ini?" kata Dewa sembari mengangkat kotak berlogo tanda + merah.
Diandra mengangguk. Membuat Dewa langsung meletakkannya di samping Diandra.
" Tolong buka yang ini dulu!" pinta Diandra.
" Biar ku bantu, katakan apa dulu yang harus digunakan!" ucap Dewa.
Diandra mengangguk. Meskipun datar dan sempat membuatnya kesal, tapi pria di depannya ini benar-benar sangat baik.
" Buka ini dulu!" kata Diandra yang memulai dengan menunjukkan sebuah cairan antiseptik.
Usai menurut dan mengikuti langkah - langkah yang di perintahkan oleh Diandra, Dewa akhirnya ia berhasil membalut luka sabetan itu dengan baik.
" Terimakasih!" ucap Diandra tersenyum.
Dewa mengangguk. Ia sendiri tak menyangka bila berada dalam bis yang sama dengan dokter itu.
Sesudahnya, Dewa langsung meraih kabel tis dalam tasnya lalu mengikatkannya ke tangan orang-orang jahat yang semuanya semaput itu. Sejurus kemudian, ia terlihat menemui kondektur bus yang wajahnya babak belur karena tadi sempat di hajar untuk menghubungi polisi.
Dewa lantas beranjak menemui anak kecil tadi dengan melewati beberapa tubuh manusia yang pingsan akibat ulahnya.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Dewa mengusap lembut pipi si bocah.
__ADS_1
" Tidak apa-apa paman. Apa Paman terluka?" jawab bocah itu.
Dewa menggeleng seraya tersenyum.
"Paman, anda hebat sekali. Anda mengalahkan orang-orang jahat itu. Tunggu dulu, anda mengenakan kalung macam itu, apa kau seorang tentara?" cecar si bocah yang sedari tadi rupanya memperhatikan betul-betul aksi Dewa saat masih dalam dekapan ibunya.
Dewa takjub melihat kecerdasan anak itu. Ia kini kembali mengusap lembut pipi bocah pemberani itu. " Bagiamana kau bisa tahu?"
" Mendiang ayahku sering menunjukkan hal itu kepadaku. Kata ayah, setiap tentara pasti memiliki kalung seperti itu. Aku ingin menjadi tentara jika besar nanti!"
Dewa langsung mengusap puncak kepala anak itu seraya tersenyum lebar. Sejurus kemudian ia membuka ranselnya lalu mengambil sebuah gantungan boneka tentara kecil dan diberikan kepada anak itu.
" Untuk anak pemberani!" kata Dewa sembari menyodorkan sebuah gantungan karakter tentara khas anak-anak. Membuat mata anak itu berbinar.
" Ini untukku paman?" tanya si bocah yang matanya terlihat penuh minat.
Dewa mengangguk meyakinkan.
" Ibu lihat, ini bagus sekali. Terimakasih banyak Paman!" teriak anak itu penuh kegembiraan.
" Terimakasih banyak anak muda!" ucap ibu bocah yang tak mengira jika pria yang sedari awal menunggu bis bersamanya tadi merupakan tentara hebat.
Saat berbalik, ia tak sengaja menatap wajah Diandra yang rupanya sedang memperhatikan kelakuannya barusan. Tanpa sengaja pandangan mereka akhirnya bertemu.
Diandra tersenyum namun ia masih datar seperti biasanya. Tak berselang lama, mereka sampai di terminal dengan banyak sekali polisi di terminal yang menunggu. Sepertinya kondektur tadi sudah menjalankan perintahnya.
Ia memilih langsung pergi dan tak ikut campur lagi soal hukum yang bakal menjerat para bajingan tadi. Ia hanya tersenyum sedikit manakala supir dan kondektur bis mengucapkan banyak terimakasih berulangkali kepadanya. Tapi saat ia hendak berjalan keluar terminal, tiba-tiba ia di panggil oleh seseorang.
" Tunggu!" teriak seorang wanita.
Ia menoleh dan rupanya dokter itu lah yang memanggil dirinya. Diandra terlihat berlari mengejar Dewa yang sudah menyandang ranselnya.
" Bibirmu terluka kan? Pakai ini!" ucap Diandra yang ingat jika rahang Dewa tadi sempat tertonjok dan kini mulai terlihat membiru.
" Ini akan membuatnya lebih cepat sembuh!" timpal Diandra demi melihat keraguan di mata Dewa.
Dewa menatap salep yang diberikan oleh dokter itu sekali lagi sebelum akhirnya mau menerimanya.
" Terimakasih sudah menolongku!" kata Diandra begitu salep telah berpindah tangan kepada Dewa.
" Hmm. Terimakasih untuk salepnya!" jawab Dewa singkat dan langsung pergi.
__ADS_1
Diandra menatap punggung lebar pria datar itu dengan tatapan nanar. Pria baik tapi sikapnya sungguh sangat aneh.