
Diandra hampir saja berteriak kencang saat lengannya tiba- tiba di betot oleh sebuah tangan kekar. Tapi seraut wajah familiar yang penuh intimidasi berhasil merobohkan niatnya.
" Rando, lepas!" sengitnya sembari menarik tangannya dengan wajah tak senang.
Rando menurut. Tapi gestur pria itu tak membiarkan Diandra pergi. " Maaf!" ucap Rando menyadari kenekatannya.
Tapi Diandra memilih mundur dan menjaga jarak se aman mungkin. Ia benar-benar jijik dengan pria di depannya itu.
"Siapa yang kau antar tadi? Kenapa kau bisa ada di sekolah ini, hm?" sambung Rando menurunkannya volume suaranya.
Namun Diandra yang selalu menghindari tatapan mata Rando terus mengatupkan bibirnya. Ia celingak-celinguk berniat mencegat taksi namun sialnya tak ada satupun taksi yang lewat.
" Diandra, aku lagi ngomong sama kamu!" seloroh Rando yang kembali menangkap tangan Diandra.
" Siapapun yang aku antar bukan urusanmu!" kata Diandra menyalak sengit seraya menggoyangkan tangannya yang kini kembali berada di genggaman Rando.
Maka Rando menjadi terpancing emosinya. Pria itu langsung menarik Diandra dan hendak menyeretnya masuk ke dalam mobil.
" Sini kamu!" sungut Rando mulai tak sabar.
" Lepaskan brengsek!" omel Diandra yang semakin meronta-ronta.
" Diandra!"
" Lepaskan tanganmu!" hardik seseorang dengan suara berjenis bass dan berhasil membuat interaksi sarat kekerasan itu terinterupsi.
Dua manusia berbeda jenis itu kompak membulatkan demi melihat sosok yang kini berjalan cepat ke arah mereka.
Dewa?
Merasa adanya peluang kabur saat Rando sedang sibuk tercenung, Diandra reflek menarik tangannya lalu berlari dan langsung menubruk tubuh tegap Dewa lalu memeluknya penuh kelegaan.
Rando yang melihat kejadian itu, langsung menatap tak percaya ke arah tangan lembut Diandra yang melingkar di tubuh rivalnya itu.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Dewa cemas sebab ia sempat melihat tangan Diandra yang di tarik kuat.
Diandra mengangguk muram. Tak bisa menjawab barang secuil pun sebab tubuhnya masih gemetar karena rasa takut.
__ADS_1
Dan interaksi super dekat tanpa terencana itu sukses mengundang gemuruh di dada Rando. Menyerbu tanpa ampun, membombardir isi kepala dengan buncahan kecemburuan yang sulit di redam.
Tanpa Diandra ketahui, kedua laki- laki itu saling melempar tatapan sengit manakala Diandra sedang menunduk bersembunyi di depan dada bidang yang mengeluarkan keharuman samar menentramkan.
" Kau naik kendaraan umum?" tanya Dewa kembali kali ini meraba pipi Diandra. Entahlah, melihat Diandra diperlukan seperti itu oleh Rando membuat jiwa ksatrianya bangkit.
Diandra mengangguk. Lagi- lagi tanpa bersuara.
" Ayo pulang. Aku akan mengantarmu!"
Dua orang itu pergi dengan posisi saling berpelukan tanpa memperdulikan seraut wajah yang matanya memerah karena geram. Rando semakin mengeratkan kepalan tangannya manakala melihat Diandra di bukakan pintu sesaat sebelum perempuan itu masuk ke dalam mobilnya.
Dewa bahkan sempat menatap tajam Rando selama beberapa detik sesaat sebelum ia masuk ke ruang kemudi.
Membuat Rando seketika mengumpat lantaran hatinya merasa sakit saat melihat hal itu.
Di dalam mobil, suasana berubah menjadi canggung dan lengang. Tak seorang pun angkat bicara meski Diandra sangat ingin tahu kenapa Dewa bisa berada di sana pada waktu yang tepat pula.
Tapi beberapa menit kemudian, tampaknya Dewa menjadi pihak yang paling tidak tahan untuk membisu.
" Wina?" ulang Diandra terlihat mengkonfirmasi.
Dewa mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya di balik kemudi. " Lewat Iwan juga!"
Entah Diandra yang ketinggalan gosip atau karena ia sedang deg- degan pasca di datangi Rando tadi, perempuan itu mendadak lemot manakala diajak berbicara.
Sebenarnya itu hanyalah alasan. Dewa yang diminta oleh sang Ibu untuk mengantarkan sesuatu ke rumah Tante Erika seketika sigap dan siap tanpa alasan yang jelas. Tapi ia gengsi untuk mengakui.
" Itu loh De, yang anaknya pernah tugas bareng sama kamu. Ini alamatnya, kamu bisa search di map!"
" Aku tadi diminta Ibu untuk mengantar sayur dan buah yang baru kami panen untuk Tante Erika. Aku lupa tanya ke Ibu alamatnya. Jadi, terpaksa tanya ke Iwan. Lalu, Iwan sepertinya tanya ke Wina!"
Dewa memang sengaja membelitkan ucapannya agar pikiran Diandra mau beranjak dan tak lagi tinggal di kejadian beberapa menit yang lalu. Dan sepertinya, itu berhasil.
" Dan setelah aku tanya, rupanya kau sedang mengantar sekolah. Ya sudah, aku susul!"
Dewa hampir saja menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab semua ini benar-benar cukup menantang adrenalinnya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa akhir-akhir ini bisa seiring berbohong jika berurusan dengan Diandra.
__ADS_1
" Memangnya ada apa?" tanya Diandra dengan kening mengerut.
Dewa memfokuskan pandangannya sebab mereka hendak belok ke pertigaan. Tapi sebenarnya, ia sedang mencari jawaban yang relevan dengan apa yang dia lakukan. Dan harus ia akui, ia sedang kesulitan.
" Aku lupa jika aku punya kenalan seorang dokter yang sedang cuti." ucap Dewa menahan senyum.
Lihatlah. Ia benar-benar menjadi orang yang sangat berbelit-belit.
" Pegawai ayah ada yang sakit tapi dia tak mau berobat. Malah percaya paranormal. Apa kau bisa menolongku?" sambungnya yang tiba-tiba teringat dengan Asiu. Pegawai ayahnya yang terlalu ketinggalan zaman. Sejenak berterimakasih karena jujur ia tak memiliki stok jawaban yang pas.
Diandra menoleh ke arah Dewa. Hampir saja dia GeEr karena dewa mencarinya. Ternyata ada maunya. Dasar!
" Kapan memangnya kita akan kesana?"
" Sekarang!"
Diandra semakin mengerutkan keningnya. " Tapi aku tidak membawa peralatan!"
" Kita bisa mengambilnya dulu!"
" Tapi Joshua?"
Damned! Dewa semakin kelabakan. Tak menyangka jika bertemu tanpa perencana itu akan serunyam ini urusannya.
" Selepas dari rumah pegawai Ayah kita langsung kembali!"
Diandra kontan mengangguk setuju. Gadis itu tampaknya tak menyadari, jika Dewa sebenarnya hanya mencari alasan agar bisa pergi berdua.
" Aku akan menelpon Mama dulu!" Diandra langsung mengaduk tas dan meraih ponsel.
Saat perempuan cantik di sampingnya sedang sibuk menelpon, Dewa memperhatikan wajah manis itu lekat-lekat. Dia pasti sudah gila. Nekat menemui perempuan itu bahkan tanpa janjian terlebih dahulu. Tapi tahukah kalian, dia benar-benar merasa senang saat ini.
Dan tidak tahu kenapa, Dewa juga merasa begitu lega karena tadi datang tepat waktu. Meski Diandra dan dirinya kerap adu mulut, tapi entah kenapa ia merasa damai saat berada di dekat Diandra.
Apakah hatinya benar-benar telah sembuh dari luka lama? Atau, karena kebaikan demi kebaikan yang di kemas dengan begitu unik oleh Diandra lah yang membuatnya laki- laki itu tertarik?
" Aku sudah menelepon Mama. Mama bilang, dia yang akan menjemput Joshua nanti!"
__ADS_1