
Beberapa saat yang lalu.
Usai menyampaikan kata-kata di hadapan ratusan pengungsi, Rando tak sengaja melihat Anita berjalan. Pas sekali pikirnya, ia benar-benar butuh informan terkait keberadaan Diandra saat ini. Tadi sekali, Steve melapor jika sedari awal team mereka sayangi, dia tak bisa menemukan Diandra. Bahkan, perempuan itu tak ada di jajaran para dokter hingga acara memasuki acara inti.
Rando langsung berjalan menuju ke arah wanita itu seraya di ikuti oleh Steve. Yean yang diminta Dewa untuk mengawasi Rando, tak mengetahui kepergian pria itu sebab tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari atasannya.
" Dimana dia?" kata Rando seraya membetot lengan Anita.
Anita yang lengannya sedikit di cengkeram oleh Rando langsung kaget dan berontak kasar. " Aku tidak tahu!" ketusnya dengan wajah shock.
" Bohong!" pekik sang mantan kawan.
" Untuk apa kau mencarinya hah? Dulu kau membuangnya seperti sampah, kenapa sekarang kau mencarinya!"
" Tutup mulutmu, jangan pancing kesabaranku. Katakan saja dimana dia. Atau aku akan..."
Anita yang di ancam akhirnya menujukan keberadaan Diandra. Anita berharap semoga Dewa di dalam bisa melindungi Diandra saat Rando masuk. Dan tanpa menunggu lagi, Rando bergegas masuk dengan sedikit menyugar rambutnya sebab ia berharap bisa meraih hati Diandra kembali.
Setibanya di dalam.
" Diandra!" ia menyerukan nama mantan kekasihnya yang nampak biasa saja sewaktu kepergok tengah berciuman dengan kapten kesatuan militer di sana.
Hati Rando tiba-tiba berdesir tak nyaman ketika melihat hal tersebut. Apa-apaan ini? Mereka telah berciuman, ada hubungan apa sebenarnya mereka?
"Astaga, anda benar-benar membuat saya dan pacar saya kaget tuan!" seru Diandra sembari sengaja menggandeng lengan kekar Dewa dan berharap Rando berhenti mengganggunya.
" Kau!" pekik Rando yang terlihat kesal namun buru-buru di peringati oleh Steve.
Maka Dewa langsung menatap tangan mulus Diandra yang kini berani menggamit lengannya tanpa meminta izin. Apa yang sedang terjadi. Perempuan itu bahkan berani menciumnya lalu menyebut dirinya pacar.
__ADS_1
Di bawah pengamatan tajam Rando, Dewa terlihat sangat tenang. Membuat Diandra semakin lega karena dalam waktu yang sangat mepet, Dewa bisa diajak kerjasama. Meski jauh di dalam hatinya, ia sangat yakin bila Dewa akan membuat perhitungan dengan dirinya karena berani-beraninya menciumnya secara impulsif.
" Maaf. Anda datang kemari ingin mencari pacar saya?" tanya Diandra semakin gencar melakukan aktingnya.
" Pacar?" Rando tergelak tak percaya, tapi Dewa hanya diam. Sibuk menekuri raut penuh amarah yabg tertahan dari wajah Rando.
Namun saat hendak melangkah maju untuk merangsek kerah baju Dewa, nama Rando terdengar di panggil melalui pengeras suara oleh anggota satuan tugas. Membuat pria itu terpaksa pergi dengan melempar tatapan sengit ke arah Dewa.
Sepeninggal Rando, Diandra langsung melepaskan gamitannya secara cepat seraya mengeluarkan napas penuh kelegaan. Ini sungguh gila, ia benar-benar tak bisa berpikir jernih saat mendengar suara Rando tadi.
" Beraninya kau menciumku!"
DEG
Diandra langsung mendongak dan menatap Dewa penuh rasa sesal. " Saya minta maaf Kapten. Tolong jangan marah dulu. Saya benar-benar kepepet tadi!"
"Kepepet?"
" Anda jangan marah dulu. Saya...saya terpaksa melakukannya hal itu karena..."
"Terpaksa?" ulang Dewa yang cukup kesal dengan pemilihan kosakata yang di lontarkan oleh Diandra.
" Aduh, jangan terus memotong ucapan saya. Saya terpaksa... melakukan semua ini agar dia tak lagi mengganggu saya!" ucap Diandra ragu-ragu.
Dewa langsung tertawa kosong. " Jadi kau menjadikanku alat?"
" Bukan begitu!" sergahnya tak setuju.
" Lalu apa, sekarang karena tindakan semena-menamu aku menjadi kurang bebas! Apalagi, dia benar-benar terlihat marah kepadaku tadi. Apa dia mantan pacarmu?"
__ADS_1
" Kapten, anda berpikir terlalu jauh!" teriak Diandra tak suka. Sungguh, Diandra benar-benar bingung saat ini.
Dewa semakin tertawa sumbang manakala mendengar prasangka yang di lontarkan.
" Tolong jangan marah dulu Kapten. Saya hanya, tak memiliki pilihan! Saya..."
Dewa menatap raut murung itu beberapa detik. Dari cara penyampaian yang tergagap-gagap saja, Dewa meyakini jika pasti terjadi sesuatu antara mereka berdua.
Tapi entah mengapa, Dewa cukup kasihan melihat perempuan di hadapannya itu. Dan sialnya, ia malah menjadi begitu deg-degan manakala menatap seraut penuh sesal itu.
Diluar, dada Rando seakan terbakar usai melihat kejadian tadi. Jadi mereka pacaran? Sejak kapan?
" Steve, aku mau kau cari tahu soal mereka!" titah Rando terdengar marah.
Meski sedikit takut, tapi Steve mengangguk. Ia bukan tidak tahu soal siapa Dewa. Pria itu benar-benar tak segan menghardik musuh yang berani mengganggunya.
Sementara Yean yang melihat Rando kembali ke podium menjadi sedikit lega. Pria itu tak tahu bila mereka baru saja terlibat perang dingin. Tak berselang lama, Yean juga melihat Diandra berjalan terburu-buru lalu di ikuti Dewa di belakangnya. Membuat pria tampan itu langsung mendatangi Dewa.
" Darimana saja kau. Kenapa keluar bersama dokter Diandra?"
Celaka! Apa Yean tahu jika ia baru keluar dari tempat itu? Namun belum sempat menjawab pertanyaan pertama, Yean yang melihat sesuatu melayangkan pertanyaan kedua yang membuat Dewa seketika mati kutu.
" Dewa, bibirmu kenapa?" tanya Yean demi melihat bercak pink di sudut bibir sahabatnya.
DEG
Dewa reflek meraba bibir dan rupanya sisa lipthin wanita tadi menempel di bibirnya. Sialan!
" Kalian berciuman?" tuding Yean dengan mata membulat dan suara yang begitu keras.
__ADS_1
Maka Dewa langsung membekap mulut Yean sebelum pria itu menebar gosip yang tidak-tidak.