Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 72. Akulah pelindungmu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Dewa semakin terbakar emosi. Bayangan suara Diandra yang menjerit usai di tampar membuat segenap emosinya meledak. Maeda di dalam mobil lebih memilih mengelap pedang kesayangannya. Sepertinya ia akan menyukai kegiatannya malam ini.


Beberapa jam yang lalu, usai mendapati keadaan anaknya yang sangat memprihatinkan, Gustav yang mendengar cerita dari anaknya jika putrinya itu tak ingat apa-apa saat bersama Dewa di dalam ruangan menjadi naik pitam.


Ia kini yakin seratus persen jika Dewa telah memanfaatkan anaknya agar bisa mengetahui dimana Maeda di tahan.


Apalagi, setelah mendapati kunci mobil milik anaknya hilang berikut ponselnya, pria itu semakin berkeyakinan jika Dewa lah yang kini mengacaukan rencananya.


" Dia telah membohongiku Ayah. Dewa pasti lebih memilih dokter sialan itu. Aku tidak terima ayah!" jerit Lyara frustasi dengan tangisan yang makin memperbesar api kemarahan seorang Gustav.


Mendengar hal itu, Gustav sekonyong-konyong seperti mendapatkan kartu AS. Tak perlu waktu lama, pria itu seperti mendapatkan ilham untuk menculik Diandra melalui orang suruhannya.


Pria berkuasa itu tentu tak kesulitan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk menciduk seorang perempuan tak berdaya seperti Diandra.


Diandra yang awalnya tak menaruh curiga dengan orang berpakaian kurir yang datang ke apartemennya, menerima orang itu dan berbicara di depan pintu. Namun beberapa saat kemudian, ia menjadi tak sadarkan diri sebab pria yang ternyata tak datang sendiri itu membius dokter Diandra.


Diandra yang tak sadarkan diri lantas dibawa ke sebuah tempat yang suram. Ia berkali-kali di tampar sebab ia terus menjawab tidak tahu saat di tanya oleh Gustav perihal rencana Dewa.


Diandra bahkan akhirnya tahu jika perkataan Dewa yang mengatakan kepadanya akan tak pulang selama sepekan tak lain untuk misi berbahaya ini.


Sekalipun ia di tampar ratusan kali, jawaban Diandra masih akan tetap sama sebab perempuan itu memang tidak tahu apa yang saat ini dikerjakan oleh Dewa.


" Kita bunuh saja dia yah!" sembur Lyara yang sakit hati terhadap dokter Diandra.


" Sabar sayang. Kalau dia langsung mati itu sangat mudah. Aku harus memberi pelajaran bocah sombong itu dulu, setelah itu baru kita lenyapkan keduanya!"


Gustav tergelak sementara Diandra menangis takut. Lyara semakin menatap benci perempuan yang berhasil merebut hati pria yang ia cintai itu dengan dada penuh rasa cemburu.


Namun Gustav yang mengira jika Dewa tak akan tahu tempat persembunyiannya, dibuat terkejut saat sebuah mobil sedan menabrak rolling door hingga menimbulkan suara yang begitu mengerikan.


BRAK!


Lyara sontak menjerit takut, sementara para anak buah Gustav bersiap dengan senjatanya.


" Brengsek!" Gustav yang tahu jika itu adalah Dewa seketika menarik senjatanya.


Ia benar-benar tak menyangka jika Dewa akan secepat ini memeluk lokasi mereka berada. Jangan di tanya, semua itu karena Rayyan telah meminta tolong Dorris untuk melacak keberadaan Lyara pada alat yang di pasang og Dewa tanpa sepengetahuan perempuan itu.


" Bernyali juga kau!" ucap Gustav yang menatap marah Dewa.


Dewa turun dan membanting pintu mobil Lyara. Pria itu meninggalkan Maeda yang bersembunyi di jok belakang. Ia memindai sekeliling dan memicingkan mata melihat ke arah Diandra yang terikat dengan keadaan sudut bibir memar. Membuat ia langsung mengeraskan rahang dengan buku-buku tangan yang memutih karena terkepal kuat.


" Sudah kukatakan, kalau kau berani menyentuhnya seujung kukupun, aku tak akan mengampunimu!" teriak Dewa yang telah kehilangan rasa hormatnya kepada pria yang selama ini paling ia segani.


Gustav tertawa mengejek. " Apa yang kau katakan. Sudah berani kau, hah? Kau hanya prajurit rendahan yang me..."


DOR


Gustav yang masih berbicara mengejek langsung terkejut kala Dewa melepaskan tembakan ke sembarang arah sebab sangat muak dengan pria di depannya itu.


Para anak buah Gustav yang merasa Dewa akan menjadi ancaman untuk bosnya terlihat bersiap.


" Lepaskan dia!" teriak Dewa yang kesabarannya kian menipis.


Gustav masih tergelak mengejek. " Kau pikir aku bodoh. Kemarikan pria itu dulu!"


Maeda yang merasa dirinya di singgung langsung turun dari dalam mobil dengan sebilah pedang yang begitu mengkilat.

__ADS_1


Membuat dokter Diandra dan Lyara kompak terkejut ngeri.


" Sepertinya ada yang mencariku!" kata Maeda menatap wajah Gustav dengan tatapan datar.


Gustav mengeraskan rahangnya demi melihat Maeda yang berbicara sok kepadanya.


" Astaga. Negara ini pasti akan sangat menyesal karena memperkerjakan jendral biadab sepertimu!" sindir Maeda semakin membuat jenderal Gustav meradang.


" Tutup mulutmu sialan!"


SRING!


Aaaa!


Kesemua orang langsung menjadi histeris kala melihat tangan seorang prajurit yang nyaris putus akibat di tebas oleh pedang Maeda saat ia hendak menembak Maeda. Membuat Gustav meneguk ludahnya.


" Jika kau jantan. Mari berduel denganku!" tantang Maeda menatap tajam ke arah Gustav.


Gustav mengeraskan rahangnya. Tak mengira jika pria itu akan sebrutal ini.


" Ikat tangannya. Maka akan ku serahkan perempuan itu!" teriak Gustav kepada Dewa. Tapi pria itu terlihat seperti merangkai taktik.


" Setuju!" sambar Maeda impulsif.


Dewa mengernyit tak percaya saat Maeda malah menyahut tanpa berkompromi dengannya.


" Kali ini kau yang harus percaya padaku!" bisik Maeda yang tahu jika Dewa sedang menatapnya kesal karena tak setuju.


" Lakukan saja dan mari kita lihat siapa yang akan mendapatkan kehormatan di depan sana!"


" Hitungan ke tiga, lakukan yang biasa kau lakukan, mengerti?"


Dewa melengos tak menjawab Maeda. Dasar pria diktator.


" Satu..."


Pria itu sejurus kemudian mengangkat tangannya agar Dewa mengikat tangannya menggunakan kabel tis. Bersamaan dengan itu, Gustav terlihat menarik lengan Diandra untuk berdiri.


Mereka siap untuk bertukar.


Diandra maju dengan perasaan takut hendak berjalan ke arah Dewa yang juga mendorong punggung Maeda menggunakan sebelah tangannya.


"Dua..."


" Sial!" rutuk Dewa yang kesal sebab pria itu malah dengan santainya menghitung.


Maeda berjalan dengan wajah santai. Tapi tidak dengan Dewa. Konsentrasinya jelas terbagi antara Maeda juga Diandra.


Gustav yang melihat Maeda hampir bisa ia raih terlihat menyeringai sembari memberi kode untuk anak buahnya.


"Tiga...!"


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Suara letusan yang berbondong-bondong membuat Diandra menjerit. Rupanya Maeda tahu jika Gustav itu merupakan orang licik. Tapi jangankan tertembak, Maeda yang cerdas dalam membaca gerakan langsung menendang tangan Gustav dan membuat senjata pria itu terpelanting.


"Ayah!"


Lyara yang melihat ayahnya di serang oleh Maeda langsung menjerit. Bersamaan dengan itu, rupanya Rayyan dan Zilloey sudah bersiaga dan membawa pasukan yang di utus Yean untuk mengepung tempat itu.


Kegaduhan yang bersambut dengan suara saling serang dan tembakan pun tak terhindarkan. Maeda mengarahkan tangannya keatas pedang yang posisinya sudah ia balik dan terlepas lah ikatan yang semula membelenggunya.


Pria itu sejurus kemudian menghajar Gustav dengan kalab. Ia tak terima karena sekian lama dibohongi oleh pria berlencana banyak itu.


" Ini untuk rakyat yang kau tipu!"


BUG!


" Arghhh!"


" Ini untuk penderitaanku selama ini!"


BUG!


Gustav yang ternyata tak memiliki kekuatan apa-apa selain tukang memerintah langsung tergeletak tak berdaya saat Maeda menghujami wajahnya dengan tinju berulang kali.


Lyara merunduk takut saat semua orang saling serang. Bahkan tubuhnya gemetaran kala melihat sang Ayah di hajar habis-habisan oleh Maeda yang lengannya terus-menerus mengetat.


Dewa yang memiliki kesempatan menyelamatkan Diandra langsung membebaskan perempuan itu dari ikatan. Pria itu langsung memeluk tubuh Diandra penuh kelegaan.


" Dokter!"


" Kapten!"


Keduanya saling berpelukan. Melepaskan segenap kegundahan yang barusaja menyiksa batin keduanya. Dewa yang diluapi rasa lega bahkan berulang kali menghujani puncak kepala Diandra dengan ciuman.


Melihat Diandra kini di peluk oleh Dewa, dada Lyara menjadi terbakar. Gadis itu langsung mengambil sebuah pistol yang tergeletak dan mengarahkan ke arah Diandra yang berdiri di peluk Dewa.


" Mati kau brengsek!" geram Lyara penuh kebencian kala menatap sosok Diandra.


Namun saat Dewa melihat Lyara mengangkat sepucuk senjata, ia reflek memutar tubuhnya guna melindungi Diandra yang akan menjadi korban tembakan.


Dor


Dor


Suara tembakan yang begitu memekakkan telinga membuat kesemua orang menoleh. Diandra yang terkejut karena tubuh Dewa berguncang usai menerima tembakan langsung membeku sepersekian detik.


" Dewa!" teriak Maeda saat melihat pria yang telah menyelamatkannya itu tertembak di perut sebelah kiri sebanyak dua kali.


Pria yang sedang meradang itu langsung mendatangi Lyara dan seketika menendang tangan Lyara. "Bangsat!"


PLAK!


"Arrrgh!"


Maeda langsung menempeleng wajah Lyara dan membuat gadis itu seketika limbung tak sadarkan diri.


Dewa yang merasa pandangannya mulai gelap kini menatap lemah mata Diandra yang telah basah oleh tangis pilu. " Kau masih percaya padaku kan dokter?"


"Kapten!"

__ADS_1


__ADS_2