
Diandra tak tahu harus bagiamana saat ini. Tapi yang jelas, pria yang semula ia kira dingin, kaku, bahkan cenderung melankolis itu, ternyata memiliki sisi menyenangkan juga.
Well, ini menjadi pembicaraan santai sekaligus normal mereka untuk pertama kalinya.
" Lalu...soal wanita yang kemarin?" tanya Diandra ragu-ragu. Takut kalau-kalau Dewa tersinggung.
" Dia seseorang dari masalalu ku!" sahut Dewa santai sembari asyik memamahbiak.
Tangan Diandra bahkan spontan menggenggam sendok itu dengan kuatnya begitu mendengar jawaban Dewa. Ia kini takut kalau Dewa akan marah.
" Kalau dokter? Kenapa belum memutuskan menikah hingga usia sekarang ini?"
Diandra meneguk ludahnya demi mendengar pertanyaan itu. " Darimana kapten tahu jika saya belum menikah?"
Dewa sedikit terkekeh. " Aku pegang semua datang dokter relawan. Jangan lupa. Aku masih menjadi orang yang paling bertanggungjawab di sini!"
Diandra sedikit malu. Hampir saja dia GR karena mengira Dewa telah stalking soal dirinya. Damned!
" Aku...aku masih ingin menikmati peranku sebagai dokter!" jawab Diandra setengah kikuk. Entah mengapa ia malah grogi.
" Aku sudah selesai. Sebaiknya dokter segera beristirahat setelah ini! Aku harus pergi dulu. Aku sesuatu yang harus aku laporkan ke detasemen!"
Diantara membalas senyum Dewa sesaat sebelum pria itu melangkah pergi. Pria yang pergi dengan meninggalkan keharuman samar itu terlihat berjalan menjauh dan hilang di telan kerumunan orang. Membuat Diandra semakin tertegun menatap sesosok yang bahkan bayangannya telah lenyap.
Sepeninggal pria itu, ia tak sengaja melihat Anita berjalan melewatinya. Ia spontan memanggil namun seperti biasa gadis itu masih saja cuek.
" Nit!" teriak Diandra.
Tapi Anita terus berjalan.
" Anita tunggu!" teriaknya lagi kali ini sambil berdiri.
Anita berhenti. Perempuan itu akhirnya mau menoleh meski terlihat sedikit malas. Kau sudah bertemu Rando?"
Diandra seketika membulatkan matanya begitu mendengar pertanyaan mengejutkan Anita. " Kau juga tahu dia ada di sini?"
Anita yang terlihat malas menatap Diandra memilih buang muka seraya bersedekap acuh. Menyesal karena akhirnya membahas Rando.
Ya, kemarin saat Diandra dan Rando tak sengaja bertabrakan, Anita sebenarnya tak sengaja melihat dari kejauhan.
" Semua orang juga tahu kalau direktur Earth Wood kemarin berkunjung kemari!" jawab Anita ketus.
Diandra bahkan tidak tahu jika Rando kini sudah menjadi sehebat itu.
__ADS_1
" Nit. Aku harus gimana biar kamu maafin aku?" seru Diandra yang hendak mendekat ke arah Anita.
Tapi setiap Diandra melayangkan perkataan serius, Anita terlihat tak mau mendengar. Gadis itu akhirnya memilih pergi dan membiarkan Diandra meneriaki namanya.
Anita pergi dan kembali ke tempat istirahatnya. Ia membuka ponsel dan melihat tak satupun chat dari pria yang ia damba terbalaskan. Ia akhirnya tidur dengan air mata yang tiba-tiba menetes. Ia menangis hingga pengar di kepalanya kian menjadi.
" Aldi!"
...----------------...
Hari berganti. Mengelar berbagai peluang serta kesempatan baru untuk siapa saja. Termasuk pria tampan yang kini berada di ruangan mewah yang di gempur suhu AC beraroma wangi.
CEKLEK!
Suara daun pintu yang terbuka membuat Rando mengentikan kegiatannya menggulir ponsel. Ia hari ini masih ada di Tidom. Ya, semenjak bertemu Diandra, ia yang semakin penasaran malah memperpanjang keberadaannya di sana.
" Selamat pagi Pak!" sapa Steve.
" Hemm, bagiamana Steve? Apa kau sudah membawa beritanya?" tanya Rando tak sabar.
" Namanya Diandra. Ia merupakan Dokter relawan yang dikirim dari Santara!"
Rando tersenyum senang. Benar kan dugaannya? Tak mungkin dia salah orang. Ia kini tak ragu lagi jika wanita itu merupakan mantan kekasihnya dulu.
" Menurut info yang saya peroleh. Dia merupak dokter yang cukup di perhitungkan. Perempuan itu masih ingle, dan belum memilih kekasih!"
Wow, exactly!
Rando langsung bangkit dari singgasananya. Ia tersenyum penuh arti dan menghampiri Steve yang bingung bukan main.
" Kirim beberapa makanan atau apapun untuk dokter itu! Beli yang paling mahal!" bisik Rando kepada Steve yang berdiri dengan posisi siaga.
Meski semakin heran dengan permintaan aneh bosnya, tapi Steve akhirnya berangkat menuju lokasi pengungsian. Di tempat pengungsian, Steve rupanya bertemu Iwan dan meminta izin untuk memberikan sebuah paket untuk dokter Diandra.
" Dokter sepertinya sedang mengecek korban yang dalam kondisi parah. Kalau anda berkenan menunggu tidak masalah. Tapi jika anda sibuk, anda bisa menitipkannya kepada saya!" kata Iwan berterus terang kepada Steve.
Steve mengangguk. Mustahil ia menunggu disana. " Baiklah. Katakan ini dari tuan Rando! Dan, pastikan ini tidak rusak. Kau tahu siapa tuan Rando kan?"
Iwan mengangguk paham. Orang berada memang sering memberikan ancaman yang berbalut senyuman manis. Namun saat pria itu hendak mengantar kotak berwarna coklat itu ke belakang, Wina tiba-tiba muncul dan membuat Iwan kaget.
" Apa yang aku bawa?"
" Astaga!" sembur Iwan yang terkejut bukan main.
__ADS_1
Wina kontan menyebikkan bibirnya. Sebab baru di tegur begitu saja, Iwan sudah langsung berjingkat. " Begitu saja kaget!" cibir Wina mengejek.
" Tentu saja saya kaget. Anda tiba-tiba muncul!" kelit Iwan tak mau di salahkan.
" Bukan aku yang tiba-tiba muncul. Kau yang tak melihatku!" dengus Weni semakin tak mau kalah.
Lihatlah, bahkan setelah Iwan menolongnya dari serangan pacet yang merayap manja di punggung mulusnya tempo hari, perempuan itu masih saja menyebalkan.
" Baiklah. Saya minta maaf!" ucap Iwan tak mau memperpanjang sebab berurusan dengan wanita ternyata lebih memusingkan daripada berurusan dengan kaptennya.
" Eh, ini untuk dokter Diandra? Dari siapa?" tanya Wina yang celingak-celinguk memindai kotak berharganya mahal itu.
" Darimana anda tahu?"
" Ini kan ada namanya! Gak pernah kirim hadiah ke perempuan ya makanya gak tahu!" cibir Wina kembali.
Iwan menghela napas pasrah. Kenapa setiap perkataan yang ia lontarkan berujung perdebatan sih? Padahal bisa di jawab biasa saja kan? Hah, dasar betina. Maunya menang sendiri.
" Dari tuan Rando!" jawab Iwan.
" Tuan Rando?"
Iwan mengangguk mengiyakan.
" Sini biar aku aja yang antar. Kebetulan aku mau ke tendanya dokter!"
" Jangan biar saya bawakan. Ini berat!"
Wina langsung tersenyum-senyum sebab mengira jika Iwan menolak karena perhatian kepadanya.
" Tidak disangka, kau perhatian juga kepada wanita!" ucap Wina begitu percaya diri.
" Saya harus memastikan ini aman sebab jika rusak saya takut di tuntut dan di mintai ganti rugi."
What?
" Apa kau bilang? Keterlaluan. Jadi karena hal itu kau mau apa membawakan kotak berat itu?" sembur Weni kembali dengan intonasi yang mulai berubah.
Iwan mengangguk. Memang itu kan?
" Dasar pejantan kaku! Kukira suhu. Ternyata cupu!" omel Weni seraya ngeloyor pergi yang membuat Iwan terlolong bingung.
"CK, salah lagi! Salah lagi!" kata Iwan dengan wajah nelangsa sebab masih saja salah di mata perempuan cerewet itu.
__ADS_1