Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 20. Find you


__ADS_3

Rando berkali-kali menajamkan pandangannya. Berulang kali juga ia memastikan bila objek yang tengah ia tatap memang benar Diandra. Namun belum juga wanita itu datang dan meyakinkan segenap kecurigaannya, ia lebih dulu di tepuk oleh Steve.


" Pak, itu pimpinan mereka!" kata Steve yang tak menyadari bila bos-nya tengah memusatkan atensi ke arah lain.


" Hormat Kapten!" ucap Iwan sembari melakukannya penghormatan kepada Dewa yang kini tiba di hadapan mereka. Membuat Rando langsung memperhatikan sosok tinggi tegap yang ia duga berusia lebih banyak darinya.


" Mohon izin, ada tamu ingin berbicara dengan Kapten!" kata Iwan kembali dengan muka yang selalu serius.


Dewa menatap Rando yang juga menatapnya tegang sembari memasukkan kedua tangannya ke saku. Berharap Dewa tahu jika dia bukanlah orang biasa.


Namun alih menjilat seperti pimpinan lain jika ada pengusaha, Dewa malah hanya mengangguk dan melalui Rando begitu saja. Membuat Steve langsung ingin mengajukan protes namun keburu di tahan oleh sang bos.


" Kenapa anda menahan saya Pak. Saya ingin memberikan pelajaran kepada orang sombong itu!" protes Steve geram.


" Tahan dirimu. Ini area militer! Lagipula, dia tidak salah. Kita saja yang terlalu percaya diri!" balas Rando menenangkan Steve yang kesal.


Iwan yang mendengar suara itu hanya bisa melirik lalu sejurus kemudian melanjutkan tugasnya. Sama sekali tak ingin ikut campur. " Tolong tunggu sebentar tuan. Saya akan segera memanggil anda begitu Kapten memberikan perintah!"


.


.


Di dalam tenda darurat.


" Ada apa mereka ingin menemuiku?" tanya Dewa kepada Ibon yang barusaja tiba di dalam.


" Sepertinya ada hal penting kapten. Tadi Kak Iwan sempat menempeleng utusan mereka sebelumnya karena membuat keributan di sini!" tukas Ibon sedikit hati-hati.


Dewa yang sedang melihat sebuah kertas jumlah korban, sampai langsung menghentikan kegiatannya demi mendengar ucapan Ibon.


" Namanya tuan Rando. Dia Direktur perusahaan Earth Wood group!" ucap Ibon lagi menjelaskan siapa sosok diluar tadi.

__ADS_1


" Earth Wood?" batin Dewa yang sepertinya cukup familiar dengan perusahaan itu.


Dewa akhirnya menutup buku besar dan menatap ke arah Ibon yang berdiri tepat di hadapannya. " Empat mata!"


" Siap empat mata!"


Ibon menginformasikan kepada Iwan terkait perintah Dewa yang hanya mengizinkan satu orang masuk. Iwan pun segera mendatangi Rando berikut informasi yang sudah di titahkan.


Rando akhirnya masuk ke tenda khusus dan bertemu dengan Dewa. Pria itu sepertinya harus melancarkan aksinya sendiri.


" Halo kapten. Bagaimana kabar anda?" sapa Rando sembari mengukirkan tangan menjabat.


" Baik. Langsung saja. Saya harus segera menuju ke lokasi!" balas Dewa sembari menerima jabatan tangan Rando.


" Jadi..begini. Saya perlu prioritas untuk mengeruk timbunan lumpur di atas kantor cabang saya. Yang lokasinya dekat dengan area ini. Hal ini harus segera anda tindaklanjuti karena disana ada barang penting!" kata Rando memberikan pengertian secara halus.


Tapi alih-alih menanggapi serius, Dewa malah terlihat santai. " Apa barang itu berada dalam brankas?"


Dewa melipat kedua tangannya menjadi satu simpul. Ia menatap lekat ke arah pria tampan yang sudah bisa di pastikan kekayaannya itu dengan tatapan datar.


" Sesuai dengan petunjuk dan juga perintah dari pusat. Kami harus lebih dulu memprioritaskan warga sipil dan akses bantuannya. Untuk hal itu, akan ada team tersendiri nanti! Lagipula, sesuatu dalam brankas pasti aman!"


Rando sontak menahan geram manakala mendengar jawaban Dewa yang jelas-jelas menolaknya. Ia tak habis pikir, kenapa kapten di depannya berbeda dengan kapten- kapten sebelumnya yang mudah di atur.


" Ah baiklah. Ini ada sedikit cek yang bisa Kapten gunakan untuk membantu proses evakuasi! Atau, mungkin bisa anda gunakan untuk membeli sesuatu. Anggap saja ini hadiah perkenalan kita!" ucap Rando tersenyum penuh arti.


Namun bukannya menerima, Dewa justru langsung mendorong secarik kertas bernilai fantastis itu ke arah Rando kembali. " Tidak perlu. Jika kau benar-benar ingin membantu korban, berikan saja ini kepada relawan yang bertugas di depan sana. Mereka pasti akan dengan senang hati mengakomodir!"


Di detik itu juga , Rando benar-benar menyadari jika Dewa benar-benar berbeda dari yang lain.


.

__ADS_1


.


" Hah, di sini rupanya jauh lebih parah jalannya!"


" Di sini kan dekat pegunungan. Untung kapten sudah mengingatkan kita untuk berganti sepatu. Jika tidak, kurasa kita akan tertancap di kubangan!"


Diandra masih sibuk menata peralatan saat beberapa perawatnya saling menimpali obrolan. Namun baru saja ia mendudukkan bokongnya, sebuah panggilan darurat meraung-raung di HT tenaga medis.


" Team medis, tolong datang ke sisi tenda konsumsi, relawan kita ada yang terkena tumpahan minyak panas!"


Maka Diandra segera melesat menuju lokasi. Tapi baru saja ia sampai setengah perjalanan, ia tak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan dan orang itu rupanya adalah Rando.


DEG!


Detik itu juga mata Diandra melebar demi keterkejutan yang mendadak menguasai. Rando menatapnya begitu pula dengan dirinya.


" Diandra!" panggil Rando setengah tak percaya dan membuat seluruh tubuh Diandra menegang.


" Dokter, ayo cepat. Pasien semakin kesakitan!" teriak salah seorang perawat yang tak menyadari bila dokter mereka sedang dalam keadaan terkejut.


Melihat adanya kesempatan untuk kabur, Diandra memilih meraih uluran tangan rekannya dan meninggalkan Rando dengan wajah takut.


Rando yang masih tertegun benar-benar merasa tak menyangka bila Diandra kini jauh lebih cantik dan yang paling membuatnya terkesan adalah, dia benar-benar menjadi seorang dokter.


" Steve!" tidak Rando memanggil assitennya.


" Ya Pak?" balas Steve.


"Cari tahu siapa dokter yang menabrakku barusan!"


Meski sambil mengerutkan dahinya, Steve terlihat menyanggupi permintaan sang bos. " Baik Pak!"

__ADS_1


__ADS_2