Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 11. Selalu bertemu


__ADS_3

Selama di mobil, Dewa tak hentinya di godai oleh Oka dan Gabriel yang kegirangan demi mendapati jika kaptennya mau berkenalan dengan wanita cantik. Cihuy, satu kemajuan bukan?


" Aiiyoyo kapten, dia benar-benar sangat cantik. Go kapten go kapten go! Sepertinya, dia juga tertarik dengan anda!" seru Oka keranjingan yang membuat Dewa memijat kepalanya pusing.


Iwan yang berada di depan kemudi hanya tersenyum-senyum manakala melihat Dewa diam setengah menahan diri. Sejak awal kesatuan di bentuk, ke empat orang ini memang sangat dekat. Layaknya teman.


" Iwan, suruh anak buahmu itu diam. Telingaku sakit!" tukas Dewa kepada Iwan yang berada di sampingnya. Namun alih-alih menuruti, Iwan justru semakin tergelak.


Setibanya mereka di markas, Dewa yang telah turun dari kendaraan seketika menertibkan anggotanya yang sedari tadi bandel dan iseng kepadanya.


" Oka, Gabriel!" seru Dewa dengan suara lantang dan sikap sempurna. Membuat dua nama yang di panggil langsung siap di tempatnya.


" Siap kapten!" jawab dua orang laki-laki itu dengan tegas dan sikap sempurna yang sama.


Dewa berjalan mondar-mandir di depan dua anggotanya yang siap. Menatap satu persatu wajah yang kini bersiaga sebab tengah berada di area militer.


" Push up 50 kali!" titah Dewa kepada dua laki-laki itu seraya berkacak pinggang.


" Hah?" jawab Oka spontan. Membuat Iwan mati-matian menahan tawa sebab dua rekannya malah kebrojolan menjawab saat diberikan perintah.


Gabriel meneguk ludah. Gara-gara rekannya yang satu itu pasti sang kapten bakal menambah hukumannya.


" Gabriel, Oka!"


" Siap!"


" Push up 70 kali!" titah Dewa kali ini lebih tegas. Membuat keduanya kompak meneguk ludah dengan mata mendelik.


" Si- siap!"


Maka Iwan langsung terbahak-bahak sebab keduanya malah mendapatkan hukuman lebih parah.


.


.


Di apartemen Diandra.


Entah kenapa, sekembalinya dari makan bersama teman-temannya, Diandra merasa senang tanpa sebab. Sebenarnya Diandra sudah tahu nama Dewa saat ia membaca nama dada di seragam laki-laki itu beberapa waktu lalu. Hanya saja, tidak tahu mendapat keberanian darimana dia malah mengajak pria berkenalan.


" Aku pasti sudah gila!" gumamannya sembari menutup pintu apartemennya. Merasa semuanya sangat menarik.


Keesokan harinya, saat sedang berada di ruang ganti di rumah sakit, ia mendengar kehebohan soal dokter sukarelawan tambahan yang akan di berangkatkan menuju perbatasan beberapa hari lagi.

__ADS_1


Di Madri, sedang terjadi konflik yang melibatkan sengketa lahan. Sebagian besar pribumi ingin membebaskan diri untuk mendirikan negaranya sendiri. Menjadi pemberontak.


Banyak orang yang terluka sebab pergolakan sedang terjadi. Tak hanya itu, tewasnya seorang prajurit di perbatasan diyakini menjadi awal mula situasi panas ini.


"Aku sedang hamil. Mana mungkin aku ikut!"


" Benar. Ibuku juga sudah jompo. Tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri!"


" Aku juga tidak akan ikut. Anakku barusaja masuk sekolah. Apalagi, dirumah tidak ada siapa-siapa lagi selain neneknya!"


Sebagian kasak-kusuk terdengar keberatan karena keadaan yang tidak memungkinkan. Tapi tak sedikit pula orang sangat berminat untuk ikut bergabung menjadi dokter relawan, dan siap menolong warga yang terluka.


" Aku akan bergabung. Menjadi tenaga medis bukan saja soal pekerjaan, tapi sudah menjadi panggilan jiwa. Aku akan bergabung!" kata Wina dengan penuh semangatnya. " Apa dokter Diandra juga akan ikut nanti?"


Diandra yang di tanyai tiba-tiba mengangguk. Membuat banyak pasang mata takjub sebab tak mengira jika dokter yang jarang berbicara banyak itu mau tergabung di situasi genting seperti ini. Sejurus kemudian, ia menoleh ke sisi kiri tepat dimana Anita rupanya juga turut menyimak. Namun saat Diandra menatap, wanita itu langsung membuang mukanya. Terlihat jelas jika Anita masih sangat menjaga jarak dengannya.


.


.


Batalyon Santara I.


" Dewa, pastikan team selamat. Upaya diplomasi sedang di lakukan. Selama hal itu, jaga dan pastikan warga sipil yang masih hidup untuk hidup dengan aman. Terus upayakan penyelamatan dan pembebasan warga kita yang sedang di sandera. Kita akan bekerjasama dengan Matra lain serta kepolisian!" titah sang mayor.


Sebenernya Dewa sudah lama mendengar berita soal kisruh penduduk di perbatasan Madri. Tapi semakin hari, pemberontak dan pengkhianat negara makin berani saja. Negara sedang mengalami kesulitan. Dan sebagai alat negara di bidang keamanan, sudah barang tentu ia dan anggotanya aka terjun langsung ke medan.


Dewa langsung memerintahkan beberapa korps terkait untuk menyiapkan alutsista persenjataan, serta peralatan penunjang lainnya. Di misi kali ini, sepertinya pemerintah akan benar-benar bekerja keras dalam mengatasi pemberontakan.


" Kapten, pesawat akan siap pukul dua!" ucap salah seorang melapor.


" Bagus. Infokan ke semua unit!"


" Siap laksanakan!"


Dewa menatap para anggotanya yang terlihat sibuk untuk mempersiapkan diri dengan tatapan sendu. Sejurus kemudian, ia terlihat membuka liontin di kalungnya yang berisikan foto Ayah, Ibu dan adiknya yang telah tewas. Atas nama jiwa raga, ia ingin selalu berguna dan mengabdi kepada negara.


...----------------...


Dor!


Seseorang yang barusaja di tembak oleh Gabriel berhasil kabur usai membalas Gabriel dengan melemparkan sebuah granat aktif. Usai berlindung dari ledakan granat tersebut, Dewa yang memimpin operasi kali ini meminta pasukannya untuk membawa warga sipil yang hendak di sandera untuk di bawa ke pos dokter relawan yang infonya sudah ada sejak kemarin.


" Oka, kau bawa mereka ke sana bersama yang lain. Aku akan ke pos untuk melaporkan temuan!" seru Dewa memberikan komando.

__ADS_1


" Siap kapten!"


Mereka langsung membagi tugas. Terlihat sistematis dan mitigatif. Dewa merasa jika daerah ini benar-benar sangat rawan. Apalagi, semenjak ia tahu jika dokter relawan di sana akan di tambah lagi personelnya, ia merasa tugas penjagaan akan semakin bertambah.


Oka yang masuk ke tenda medis bersama warga yang terluka di sambut oleh dokter manis bernama Anita.


" Apa yang tejadi?" sambut Anita panik manakala melihat orang yang di royong.


" Dokter, tolong dia. Kakinya tertembus peluru!" kata Oka dengan kepanikan yang kentara


" Baringkan dia!"


Gabriel turut membantu satu orang lagi yang tangannya juga terluka karena terkena bacok dan langsung di terima oleh perawat lain. Setelahnya, Oka terlihat pergi untuk mencari orang lainnya.


" Hey, kau mau kemana?" tanya Anita yang masih bingung dengan keadaan yang ada.


" Dokter, masih ada banyak orang terluka di sana. Sebaiknya siapkan anggotamu!"


Anita yang merasa takut karena di tinggal sendiri akhirnya memberanikan diri. Situasi ini benar-benar diluar dugaannya.


" Tahan sebentar. Aku akan menyuntikmu!" kata Anita kepada seseorang yang kini meringis akibat kesakitan.


Di tenda lain, Diandra yang rupanya juga sudah datang di temani Wina mengurus seorang wanita yang pahanya tertembak karena melawan pasukan bersenjata tadi. Keadaan ini benar-benar seperti yang ia prediksi. Mencekam dan memacu adrenalin


Diandra terlihat sangat serius dalam menangani pasiennya kali ini. Dan saat sedang sibuk mengobati pasien, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari jarak yang begitu dekat.


DOR!


DOR!


DOR!


Wina, Diandra beserta tenaga medis lain yang sedang berada di dalam di tenda itu seketika saling menatap dengan tubuh yang membeku tegang. Namun sejurus kemudian, terlihat seorang tentara berseragam loreng menyibak tenda dengan wajah khawatir.


" Apa semua baik-baik saja?" tanya Dewa dengan napas memburu. Diandra yang melihat Dewa dari balik maskernya tiba-tiba merasakan hal aneh manakala mengetahui jika Dewa turut berada di sana.


" Orang itu?"


" Gabriel, perketat area para dokter. Tambah personel!"


" Siap!"


Di detik itu, tidak tahu kenapa Diandra merasa aman sebab ada Dewa di antara mereka.

__ADS_1


" Apa yang tejadi denganku. Kenapa aku senang saat tahu dia ada di sini?"


__ADS_2