Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 80. Memaafkan masalalu


__ADS_3

Sudah hampir sepekan terakhir, Ibu Dewa berada di Santara. Ia sengaja ingin menemani anaknya yang beberapa hari musti datang dan bolak-balik ke detasemen pusat untuk mengurus ini-itu.


Di hari terakhir melaporkan tindakan, Dewa terlihat siap jika hari ini ia akan dikenai sangsi sebab melakukan misi tanpa berkoodinasi dengan pimpinan pusat. Tekad Dewa sudah bulat, ia tak akan terobsesi lagi jika ini adalah akhir dari karirnya di militer.


Tapi sesuai surat keputusan menteri pertahanan, Dewa yang semula hendak berpamitan dan siap berhenti dari jabatannya tiba-tiba dibuat mengangkat wajah yang semula tertunduk.


" Bagiamana mungkin kami tidak berterima kasih kepada pahlawan pemberani sepertimu Dewa!" ucap pria gagah yang kini telah menggantikan jenderal Gustav.


Ya, pasca kejadian itu, seluruh jajaran yang tersinyalir menjadi antek Gustav langsung di copot jabatannya secara tidak hormat dan mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.


"Cetaklah Kapten- Kapten pemberani sepertimu di tubuh kesatuan lebih banyak lagi!" kata pria itu lagi yang membuat Dewa bingung.


Mencetak kapten? Bukankah dia sendiri seorang kapten?


" Mak-maksud Bapak?"


Pria itu kembali mengulum senyum. "Tunggu kabar upacara pelantikan. Dan satu lagi, aku juga akan menunggu kabar kau sidang pernikahan!"


Dewa tersipu malu. Astaga, di singgung soal menikah saja sudah membuat pipinya panas. Untung ke-tiga sahabatnya tak ada di sana. Jika tidak, ia pasti akan di buli habis-habisan.


" Jabatan baru, status baru!" ucap pimpinan barunya sembari tersenyum penuh ketulungan.


Dewa pun langsung tersenyum haru sembari melakukan hormat kepada pimpinan barunya. " Terimakasih jenderal!"


Ia langsung mengabarkan berita menggembirakan itu kepada orangtuanya juga Diandra. Ia bahkan merencanakan kepulangan lebih cepat karena ia ingin langsung menemui orangtua Diandra.


Namun saat ia barusaja mengirimkan pesan kepada si calon istri bila ia dan keluarganya akan datang besok, sebuah kabar kurang menyenangkan malah membuatnya tak tenang.


"Joshua demam tinggi, dia sekarang obname di rumahsakit!"


Bahkan Dewa yang hari itu baru datang dari Santara bersama kedua orangtuanya, langsung melesat menuju rumahsakit tempat dimana Joshua di rawat. Ia langsung memeluk Diandra yang menangis sembari menunggu anaknya di tangani.


" Bagiamana Joshua sekarang?" tanya Dewa khawatir.


" Dia masih tak mau menemui ku. Mama yang ada di dalam!"


Dewa menghela napas. Ia mengusap lembut punggung Diandra memberikan ketenangan sekaligus kekuatan. Diandra yang ingat kejadian tadi pagi langsung menceritakan kepada Dewa mengenai Joshua yang sempat bertemu dengan Rando saat mereka menjemput dirinya di stasiun.


" Aku harus bagaimana Dewa. Aku benar-benar bingung?"


" Sayang, tenanglah dulu. Joshua terlalu kecil untuk dipaksa mengerti. Aku yakin demamnya kali ini ada hubungan dengan Rando!"


" Apa maksudmu?"


Dewa mengajak Diandra duduk" Jangan marah dulu. Dalam keadaan seperti ini, kesampingkan ego. Demam tak selalu di kaitkan dengan penyakit. Ada satu kondisi emosional yang menumpuk dan membuat reaksi tubuhnya menjadi tak normal!" terang Dewa penuh rasa sabar. Ia tahu, semua ini sulit bagai Joshua.


" Maksud kamu, Joshua demam karena terlalu memikirkan Rando?"


Dewa mengangguk. " Aku akan menemanimu. Kita bisa menunda acara kita. Yang paling penting, Joshua harus sembuh!"


Dan semua praduga yang utarakan Dewa sangat relevan dengan yang di ucapkan oleh dokter spesialis anak-anak yang menangani Joshua.


" Kalau dia punya keinginan, sebaiknya selagi bisa di penuhi saja. Itu akan membuka mood anak-anak bagus dan mempercepat proses penyembuhan!"

__ADS_1


Diandra menatap murung sosok yang masih enggan meruntuhkan dinding tebal kekesalan terhadapnya. Mama Erika semula tak setuju akan hal itu, tapi saat Dewa meyakinkan, beliau akhirnya mengalah.


" Kau saja yang menemuinya Nak. Tante tak sanggup!" kata mama Erika.


Dewa mengangguk. Usai Ayah dan ibunya datang untuk menemani Diandra juga Tante Erika, dewa berniat mencari pria itu. Tapi sepertinya, Tuhan memang mentakdirkan mereka untuk bertemu dengan cepat.


Saat Dewa sedang menunggu lift terbuka, dari arah lain ia seperti melihat sosok seperti Rando berjalan bersama seorang perempuan.


Membuatnya langsung berlari mengejar. " Apa itu tadi Rando. Semoga saja aku benar!"


Dewa berjalan sedikit cepat demi memastikan sosok yang ia duga Rando. Pria itu bahkan mengabaikan rasa jahitan di perut yang masih terasa nyeri bila di gunakan berlari.


Dan benar saja, pria itu memang lah Rando. Dewa kontan berteriak saat pria itu hendak menekan lift. Tak mau sampai kehilangan jejak.


" Rando!" teriaknya memanggil pria yang sudah berdiri di pintu lift.


Yang di panggil langsung menoleh dengan wajah kaget. Membuat seorang wanita yang tampak menggerutu di sampingnya langsung terdiam.


" Joshua mencari mu!"


.


.


Mama Erika yang duduk bersama Ibu Dewa terus membuang muka saat Rando datang bersama perempuan yang tadi pagi ia lihat, bersama Dewa tentu saja. Vida bahkan langsung merasa canggung sewaktu ia melihat satu persatu sosok asing yang menatapnya penuh intimidasi.


Diandra yang melihat mereka datang langsung menghambur kepada Dewa. Membuat hati Rando terasa sangat sakit. Vida yang melihat Rando seperti terbakar cemburu langsung mulai menganalisa. Seperti yang sudah-sudah, dugaannya tak meleset. Wanita cantik yang kini menggamit lengan kekar pria gagah penuh kharisma itu pasti adalah Ibu Joshua. Pasti dia yang bernama Diandra.


" Masuklah. Dia ingin bertemu denganmu!" ucap Diandra tanpa mau menatap wajah Rando barang sejenak.


Dan setibanya ia di dalam, seorang anak kecil yang bibirnya pucat menyambutnya dengan kalimat paling mengharukan.


" Ayah!"


DEG


Diandra yang mengekor di belakang Rando bersama Dewa bahkan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Dewa yang tahu kondisi emosional calon istrinya tak stabil, langsung menggenggam erat tangannya.


" Everything gonna be alright!" bisik Dewa saat tahu keterkejutan kekasihnya.


Diandra mengangguk. Tatapan hangat Dewa benar-benar membuatnya tenang.


Tapi tatapan lain yang mengandung kekecewaan justru terlihat dari sorot mata teguh milik seorang anak yang melihat tangan ibunya di genggaman oleh pria lain.


" Jo!" ucap Rando yang tak tahu harus bagiamana sekarang. Ia terlalu senang karena Joshua rupanya lebih mau menerimanya. Ia sangat merasa tak pantas saat ini. Andai Joshua juga membencinya, mungkin rasa bersalahnya akan semakin berkurang. Tapi anak dengan mata cerah itu malah melakukan sebaliknya. Dan ini sangat membuat batinnya tersiksa.


Melihat tatapan Joshua yang mengarah ke genggaman tangannya, Dewa yang paham langsung meminta Diandra untuk maju.


" Tapi..." elak Diandra enggan melakukan permintaan Dewa.


" Aku akan menunggu di sini!"


Diandra maju meski kesal. Ia akhir berdiri di sisi kanan Joshua, sementara Rando berada di sisi kiri. Rando menatap sekilas seraut wajah yang terlihat cuek terhadapnya.

__ADS_1


Ya, dia memang pantas mendapatkannya.


" Bagiamana keadaanmu Jo?" tanya Rando saat ia tak berhasil menyapa Diandra meski hanya melalui tatapan.


" Sangat baik!" jawab Joshua.


Rando terlihat mati-matian menahan air matanya kala mendengar hal itu. Seandainya dulu ia tak gelap mata, seandainya dulu ia dulu paham arti dari sebuah konsekuensi, mungkin semua hal menyakitkan ini tak akan pernah terjadi. Mungkin ia akan bahagia bersama Diandra dan putranya yang genius ini.


" Apa aku bisa seperti orang lain. Memiliki Ayah dan Ibu dalam satu rumah?"


Maka kedua orang yang menjadi alasan keberadaan Joshua itu langsung terkejut bukan main.


Dewa merekam dengan baik keinginan Joshua dengan kesabaran yang tak perlu di ragukan. Meski hatinya sedikit nyeri saat melihat tangan Diandra dan tangan Rando yang di persatukan oleh Joshua, tapi ia harus paham sudut pandang Joshua saat ini.


Diandra langsung menarik tangannya perlahan-lahan begitu tangan pria itu menyentuh tangannya. Meski terkesiap, tapi Rando langsung ambil bagian agar Joshua tak merasa kecewa.


" Nak, kamu sudah tahu apa telah terjadi antara Ayah dan Ibumu. Ayah sangat senang dan berterimakasih karena kamu masih sudi menyebut ku dengan sebutan Ayah. Ayah bahagia akan itu semua!" ucap Rando dengan suara bergetar karena menahan tangis.


Diandra yang mendengar suara paling pilu itu langsung merasa canggung. Ia menoleh ke arah Dewa tapi gestur pria itu malah memintanya untuk bertahan di sana dan menunggu Rando selesai berbicara.


" Ayah pantas mendapatkan ini semua. Ayah sangat menyesal, tapi semua ini tak bisa dirubah. Ayah adalah orang yang telah menyakiti hati ibumu!"


Joshua langsung melepaskan tangan yang semula di genggam oleh Rando. Apakah meski ia sakit ia tak bisa membuat kedua orangtuanya kembali bersatu?


" Ayah akan menebus kesalahan sebisa dan semampu Ayah. Kita masih bisa menjadi keluarga meski Ayah dan Ibumu tak akan bisa bersama!"


" Kenapa?" tanya Joshua dengan mata yang sudah hendak meluncurlah sebuah kristal bening. " Kenapa tidak bisa. Bahkan aku sudah begini sekalipun, kalian tidak bisa bersama?"


" Joshua!" ucap Diandra kali ini tak tahan.


Rando memejamkan matanya menahan sesak di dada. Sejurus kemudian ia mengusap lembut kepala anaknya yang sudah menangis. Ia bagai terhujam sesuatu yang besar saat melihat kekecewaan di mata anaknya.


" Karena paman Dewa adalah orang yang lebih bisa membuat Ibumu bahagia."


Joshua langsung menatap ke arah Dewa yang masih bersedia dengan sabar menunggu ketiga orang itu meluruskan benang kusut. Dewa tersenyum ke arah Joshua meski sorot mata yang di tunjukkan masih penuh dengan keraguan.


" Nak, setelah ini kau tidak akan bersedih lagi. Kau bahkan akan punya dua Ayah. Kita bisa pergi jalan-jalan seperti teman-temanmu nanti, hm?" hibur Rando berusaha menerima kekalahan yang memang pantas ia dapatkan.


Meski belum yakin, tapi entah mengapa Joshua malah semakin terpikat dengan sorot mata penuh kelembutan dari pria berkemeja biru di ujung sana.


" Apa Ibu mau memaafkan Ayah?"


Diandra terkesiap saat Joshua mau memanggilnya dengan sebutan Ibu. Rasa-rasanya, ini sulit di percaya.


" Coba katakan sekali lagi Nak?" ucapnya dengan suara yang bergetar.


" Apa ibu Mau memaafkan Ayah?"


Diandra tak sanggup menjawab. Ia menoleh menatap Dewa dan laki-laki tampan itu mengangguk meyakinkan. Maka perempuan itu langsung memeluk tubuh anaknya yang suhunya masih hangat sembari menangis terisak.


Di titik itu, sepertinya Rando harus mulai menyadari bila ia sangat bahagia saat melihat Diandra mengangguk kala memeluk sang anak. Ia telah di maafkan.


Ia lantas menoleh kepada Dewa yang matanya mulai berkaca-kaca menyaksikan keadaan yang ada.

__ADS_1


" Terimakasih!"


__ADS_2