Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 61. Poor Rayyan


__ADS_3

Hari akhirnya berganti. Meski semalam Diandra baru bisa memejamkan matanya sekitar pukul empat pagi. Semalam suntuk ia berpikir panjang tentang betapa menderitanya kehidupan Maeda dan anak buahnya dalam mencari keadilan selama ini.


Tapi suara gaduh di luar lengkap dengan letusan senjata api, sontak membuatnya terbangun meski matanya masih terasa sangat berat.


" Ringkus mereka semua!" teriak seseorang yang suaranya sangat familiar. Membuat segala bentuk keingintahuan semakin menguat.


Ia lantas bergegas keluar guna melihat apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun begitu kain itu tersibak, ia menjadi sangat terkejut demi melihat Maeda yang sudah di tangkap oleh para tentara.


" Maeda!" gumamannya dengan tubuh yang bergetar.


Dari tempatnya mematung, ia bisa melihat jika kapten Dewa dan yang lainnya telah berdiri melingkari anak buah Maeda yang di tangkap.


Ya, sebelum fajar menyingsing, rombongan kapten Dewa memutuskan untuk bergegas mencari keberadaan Diandra yang di duga masih berada di kawasan hutan.


Namun diantara kerumunan pria berpostur tinggi dan berseragam loreng itu, mata Diandra menangkap sosok perempuan yang membuat bolak-balik menajamkan pandangan. Anita?


" Diandra!" pekik Anita yang menyadari bila Diandra telah berdiri di ambang pintu tenda. Perempuan itu kontan berlari dan berhasil mengalihkan atensi semua yang ada termasuk Dewa dan Maeda.


Tubuh Diandra terhuyung saat Anita datang dan langsung memeluknya. Hati Diandra seketika menghangat. Apa sahabatnya itu telah berubah?


" Maafkan aku! Maafkan semua sikapku selama ini." ucap Anita dengan isak tangis yang tiada terbendung, " Aku senang kau baik-baik saja Di!" sambung Anita sembari mengeratkan pelukannya.


Air mata Diandra pun lolos begitu saja. Tiada menyangka bila sahabatnya akhirnya menyadari semuanya. Sungguh, relung hatinya tiba-tiba dijalari sebuah rasa hangat.


" Terimakasih Nit. Aku senang kau datang mencari ku!"


Mereka terus berpelukan selama beberapa saat. Meluapkan segala bentuk perasaan peduli yang selama ini sirna. Melebur segenap kedengkian yang semula tercipta. Menciptakan kembali, satu bentuk persahabatan yang indah.


Hingga, mereka yang larut dalam gulungan rasa haru, tak sempat menyadari kedatangan Dewa yang menyongsongnya dengan raut cemas.

__ADS_1


" Dokter, kau baik-baik saja?" tanya Dewa muram. Membuat keduanya saling melepaskan pelukan sembari mengusap wajah masing-masing.


Tapi alih-alih menjawab, Diandra memilih pergi menuju ke tempat Maeda di tangkap. Membuat Dewa menelan ludahnya.


"Dia benar-benar marah kepadaku."


Diandra berjalan cepat ke arah Kapten Yean yang sibuk memborgol satu persatu tangan kelompok itu. Dan setibanya ia di sana,


" Cepat jalan!" teriak salah seorang prajurit kepada Maeda yang tak lagi bisa melawan. Senjata mereka di lucuti, dan kedua tangan mereka di ikat ke belakang menggunakan borgol.


Maeda yang di paksa berjalan oleh anak buah kapten Yean hanya bisa menatap sendu mata dokter Diandra yang menatapnya kasihan. Tatapan perpisahan yang begitu mengiris hati setelah pertemuan yang begitu mencekam. Ia tahu, walaupun Maeda sebenarnya tak sepenuhnya salah, tapi negara selalu punya cara hukum yang sudah menunggu mereka.


Dan tak selayaknya, Maeda melakukan penculikan seperti ini karena ini jelas melanggar hukum.


Mereka semua di gelandang bersama puluhan prajurit menuju ke area lokasi kebencanaan. Entah rencana apa yang akan di susun oleh kapten Dewa untuk Maeda dan anak buahnya.


Sepeninggal Maeda bersama para prajurit, Diandra merasa sangat kasihan terhadap pria itu. Tapi bagaimana caranya menyampaikan kepada kapten Dewa jika mereka sebenarnya mencari suaka karena di khianati? Mereka pasti tak akan setuju jika membebaskan Maeda begitu saja.


Anita yang melihat Dewa mematung saat melihat Diandra dari kejauhan, tampak menyenggol lengan pria gagah itu.


" Setidaknya minta maaflah kepadanya. Biarkan waktu yang menjawab!" kata Anita yang ternyata tahu keresahan seorang Dewa.


Dewa menghembuskan napas berat. Di lihatnya perempuan itu dari kejauhan. Ia sangat lega begitu mendapati Diandra baik-baik saja tak kekurangan satu apapun. Meski sikap yang di tunjukkan, kini jauh berbeda dari sebelumnya.


Beberapa waktu kemudian, saat semuanya sedang sibuk menyisir area perkemahan pemberontak itu, Dewa yang melihat Diandra duduk seorang di sebuah batu yang kemarin di duduki Tom terlihat mendatangi perempuan itu.


Anita yang sudah selesai dari tugasnya mengidentifikasi beberapa obat-obatan bersama beberapa personel, terlihat hendak keluar. Ia sangat heran, bagaimana bisa para pemberontak bisa mendapatkan obat-obatan serta peralatan medis selengkap itu.


Namun saat melihat pemandangan di jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, ia seketika menarik kembali tangan kapten Zilloey yang juga akan keluar.

__ADS_1


Membuat pria itu terkejut. " Ada apa?"


" Mungkin sebaiknya kita harus lebih lama di sini!" sahutnya dengan tatapan yang tak lepas menatap Dewa dan Diandra yang berdiri membuang muka.


Zilloey yang tahu jika Dewa sedang mendatangi Diandra langsung paham. " Baiklah, sebaiknya sekalian saja kita bereskan obat-obatan itu. Kita harus membawanya ke tenda. Ayo!"


Dokter Anita yang tangannya di raih oleh kapten Zilloey seketika tertegun. Tak menyangka jika pria itu akan memperlakukannya seperti ini.


Sementara itu, kapten Dewa yang di acuhkan oleh dokter Diandra terlihat tak terpengaruh dengan raut sinis yang ogah menatapnya.


" Aku senang dokter baik-baik saja!" kata kapten Dewa tersenyum. Tapi yang di ajak berbicara masih betah dengan pendiriannya. Bungkam.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba baik?"


" Anita sudah menceritakan semuanya kepadaku." terang Dewa yang membuat suasana hening beberapa saat.


Diandra yang malu dan merasa minder saat Dewa mulai membahas hal ini, langsung memilih untuk pergi. Tapi saat perempuan itu baru melintas tepat di depan wajahnya, Dewa lebih dulu menangkap tangan Diandra.


" Lepas!" selaknya mengibaskan tangan ketus. Benar-benar masih sangat kesal dengan pria yang kemarin membuatnya cemburu itu.


" Oke-oke, tapi tolong dengarkan aku dulu!"


Diandra tersenyum pahit, tak mau lagi mendengar apapun. Ia sangat lelah dengan semuanya. " Cukup kapten. Jalani saja hidup anda, dan saya akan menjalani hidup saya. Anda adalah orang terhormat, dan sa..."


CUP


Sebuah ciuman yang di sertai dengan sedikit sesapan lembut, tiba-tiba mendarat ke bibirnya dan sukses membuat ucapan menguap ke udara.


Membuat Rayyan yang barusaja selesai menutup resleting usai buang air kecil di dekat pohon besar, seketika membelalakkan matanya.

__ADS_1


" It's so fuc*king kiss!" maki Rayyan yang malu setengah mati sebab memergoki adegan dua satu plus itu dengan kedua matanya.


__ADS_2