
Gabriel dan Oka yang melihat kaptennya di dekati anak jenderal langsung terlihat bergosip dengan sebuah piring yang berada di tangan mereka. Nampak bersiap melakoni tugasnya sebagai prajurit yang memiliki pekerjaan lain yakni sebagai komentator tetap.
" Memang susah kalau jadi orang ganteng. Kasihan sekali Kapten!" kata Oka seraya menggeleng muram dari jarak empat meter dari tempat Dewa berdiri.
" Dasar buaya muara! Yang perlu di kasihani itu kamu, bukan Kapten!" sergah Gabriel memutar bola matanya malas.
" Lah kenapa aku?" balas Oka.
" Ya iyalah. Mending kapten jadi rebutan. Lah kamu, juara satu lomba penolakan!"
" Sialan kamu!"
Kedua prajurit itu malah tergelak dengan santainya, sebab setiap perkataan mereka selalu berakhir menjadi lelucon.
Sementara itu, Diandra yang telah berada di kamar mandi terlihat menatap wajahnya sendiri di cermin lebar.
" Kenapa aku selalu merasa seperti ini. Kenapa aku selalu takut?" gumamnya seorang diri.
Diandra tersenyum kecut. Meskipun identitas Joshua telah di samarkan. Tapi kegelisahan masih tak mau pergi juga dari dalam hatinya. Diandra terlalu minder dengan dirinya. Benar-benar membuat langkahnya terhambat.
Namun saat Diandra masih memejamkan merenung, pintu tiba-tiba terbuka.
CEKLEK!
Diandra sontak berjingkat manakala pintu terjeblak dengan begitu keras. Ternyata gadis yang berada di depan tadi lah pelakunya. Diandra pura-pura mencuci tangannya saat gadis itu melempar tasnya kesal. Ia diam sembari mendengar gadis itu menelpon seseorang.
" Halo Pa!"
" Pokoknya Papa harus melakukan sesuatu. Aku harus bisa sama Dewa Pa, harus!"
Semua kelakuan gadis bernama Lyara itu mengingatkan dirinya akan keluarga Rando. Apa semua orang kaya seperti itu? Selalu bisa berbuat apapun semudah menjentikkan jari?
Diandra selesai membilas saat gadis itu memungkasi panggilannya. Namun saat hendak pergi, gadis itu malah menahan Diandra.
" Tunggu!" seru Lyara sembari memperhatikan betul-betul wajah Diandra.
" Ya?" balas Diandra santai.
" Kau perempuan yang jatuh di depan tadi kan? Apa kau mengenal Dewa?" yang Lyara introgatif.
Diandra menatap wanita glamour itu sejenak. Merasa tak suka dengan gaya bahasa yang digunakan.
" Tentu saja. Siapa yang tidak kenal kapten Dewa. Kami bertemu di misi pembebasan tempo hari. Dia tentara dan saya seorang dokter. Permisi!" bala Diandra yang langsung ngeloyor usai menjawab. Membuat Lyara menatap tak suka ke arah Diandra yang sudah pergi berlalu seraya berdecak kesal.
Di luar, Dewa rupanya terlihat sudah duduk bersama rekan-rekannya. Namun beberapa saat kemudian, matanya lagi-lagi tak sengaja melihat Diandra berjalan menuju ke mejanya untuk makan. Membuat ketiga sahabatnya langsung notice.
" Roman - romannya, ada yang kepincut nih!" sindir Zi sembari senyam-senyum.
Dewa hanya tersenyum kecut. Sama sekali tak berminat menanggapi selorohan temannya.
__ADS_1
" Oh iya, apa artinya, jika seseorang sering bertemu lebih dari tiga kali?" tanya Ray sengaja memancing.
" Kalau itu sih, pertanda mereka akan sering bertemu di masa-masanya mendatang!" jawab Zi cepat.
" Yang benar?" balas Ray kian berminat. Membuat Dewa langsung paham jika sebenarnya dialah yang di sindir.
" Kalau tidak percaya ya sudah. Kakakku sendiri yang mengatakan hal ini!"
Dewa yang masih duduk, memilih menatap Diandra saat semua rekannya masih heboh membahas moyang mereka. Dewa sendiri tidak tahu kenapa setiap melihat Diandra, ia merasakan desiran aneh.
...----------------...
Senin pagi ini Aldi yang sibuk mendapat telpon dari assitennya bila ada seseorang yang keukeuh untuk bertemu. Rupanya, orang itu adalah Rando.
Aldi memang sudah sangat jarang bertemu dengan Rando, tapi ia masih bisa mendengar update- update berita soal kemajuan perusahaan Rando.
" Aku mau kau uruskan sengketa lahan di Tidom!" seru Rando to do point.
" Itu akan sangat membuat gejolak perlawanan semakin banyak!" balas Aldi yang kurang setuju.
" Untuk itulah aku membutuhkanmu!"
Aldi menatap Rando sedikit serius. Ia memang pengacara, tapi ia juga tak mau jika terlalu kotor dalam bermain. " Maaf Rando. Tapi dalam hal ini terlalu banyak resiko yang akan terjadi. Aku tidak mengerti, mengapa kau seberani ini?"
Rando tersenyum menanggapi keidealisan sahabatnya. " Kau tidak perlu mengerti Al. Tapi yang jelas, aku akan membayarmu lima kali lipat jika kau berhasil memediasi warga!"
Aldi tertegun sejenak. Belum berani menyanggupi permintaan sahabatnya semasa sekolah itu sebab ini terlalu riskan.
" Aku tidak tahu!" balas Aldi cepat.
Namun Rando tertawa tak percaya.
" Jika kau ingin tahu, kenapa kau tidak mencari tahu sendiri?" tanya Aldi dengan muka jengah.
Detik itu juga, Rando merasa jika Aldi memang telah banyak berubah. Apa semua itu karena dirinya pernah meminta Aldi untuk memuluskan niat busuk masalalunya?
.
.
Sing ini Dewa mendapat panggilan untuk datang ke detasemen angakatan darat. Jenderal Juan memanggilnya untuk datang. Usai melakukan penghormatan, ia di persilahkan duduk.
" Jangan terlalu resmi!" kata sang jenderal.
Dewa masih duduk dengan sikap sempurna. Mendengarkan perkataan sang Jenderal dengan muka siaga.
" Dewa!"
" Siap!"
__ADS_1
" Kau adalah Kapten terbaik yang pernah ku temui. Aku sangat bangga padamu. Apalagi, putriku juga sangat menyukaimu. Apa kau bisa mengatur jadwal dengan keluargamu untuk membahas hal ini lebih lanjut?" tanya sang jenderal yang rupanya tak mau berbasa-basi lebih lama.
Membuat Dewa sedikit terkejut sebab ia diminta datang bukan untuk membahas pekerjaan.
" Mohon izin menjawab!" kata Dewa.
" Lanjut!"
" Mohon maaf Pak. Tapi untuk saat ini saya belum bisa memikirkan apapun selain misi!" jawab Dewa tegas.
Sang Jenderal langsung tertegun. Sungguh prajurit yang benar-benar memiliki integritas tinggi. Ia bisa melihat kesungguhan Dewa dalam bertugas.
" Baiklah, aku paham. Aku tidak akan membuatmu terburu-buru. Tapi sebaiknya, jangan kau anggap remeh permintaanku ini!" kata Jenderal menatap tajam dua netra Dewa.
Sekembalinya dari ruangan mencekam itu, Dewa mengeraskan rahangnya. Alih-alih senang karena bisa menjadi menantu jenderal dengan sederet pelung naik jabatan, Dewa malah kesal dibuatnya.
BRAK!
Sam yang melihat kaptennya melempar ponsel ke atas meja dengan sedikit keras langsung meneguk ludah ketakutan. Jelas menegaskan jika sesuatu telah terjadi.
" Sam!"
" Siap!"
" Kita ke lapangan telat pukul tiga!"
" Siap laksanakan!"
.
.
Hari-hari berganti. Diandra sibuk menjalani tugasnya sebagai dokter bedah, begitupun Dewa. Bulan - bulan yang berganti akhirnya membawa mereka ke musim hujan. Musim di mana bencana rawan terjadi.
" Lapor, badan prakiraan cuaca mengirim notice jika potensi bencana bisa terjadi di beberapa titik!" kata Iwan memberikan info.
Namun belum juga Iwan selesai melaporkan laporannya, HT yang berada di pinggang Dewa tiba-tiba berbunyi.
" Dewa monitor!" panggil sang Mayor.
" Dewa, go ahead!" balas Dewa.
" Datang segera ke ruangan!"
Maka Dewa dan Iwan saling menatap demi nada tegang yang barusaja di ucapkan oleh sang Mayor.
Setibanya di ruangan.
" Hujan deras beberapa waktu ini tak hanya membuat jalanan banjir. Sudah ada team damkar dan beberapa anggota kita yang bersiaga!"
__ADS_1
"Masalahnya, di Tidom sedang mengalami bencana tanah longsor juga banjir bandang. Ratusan orang terkubur material. Siapkan team. Kita akan berangkat malam ini juga!"