
Yean yang mendengar sahabatnya mengumpat sontak bertanya. " Ada apa?"
" Tuh, si anjing malah ciuman!" sahut Rayyan dengan mendengus sebal saat menunjuk dua sejoli menggunakan dagunya.
Yean langsung memanjangkan lehernya melihat apa yang tejadi. Dan saat melihat hal tersebut, Yean tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh.
" Baguslah!" kata Yean mengucap syukur. Membuat Rayyan langsung mengernyit heran.
" Apanya yang bagus. Kalau aku jadi dokter Diandra. Aku bakal marah lah!" sungut Rayyan semakin tak terima.
" Sepertinya itu sudah terjadi!" sambung Yean.
" Hah?"
Dan belum juga Rayyan paham dengan kalimat Yean, jawaban sesungguhnya telah ia dapat saat mengikuti arah pandang Yean.
PLAK!
Double Damned!
Dokter Diandra menampar pipi Kapten Dewa namun yang terasa sakit justru tangannya. Pria itu tak terlihat marah apalagi tersinggung saat dokter Diandra menamparnya dengan wajah kesal bercampur malu.
Dan hal itu membuat Rayyan tersenyum penuh kepuasan. " Rasakan kau!"
Yean belum pernah melihat Dewa segila ini. Bahkan pria itu tak pernah mau sembarangan mencium wanita seperti saat ini. Dan sepertinya, dokter Diandra merupakan satu-satunya perempuan yang bisa membuat kapten dingin itu menjadi seorang budak cinta.
"Tunggu dulu, kenapa kau senyam-senyum?" tanya Rayyan yang menatap curiga Yean.
Yean sontak mengganti ekspresi wajahnya menjadi lebih serius. " Tidak ada. Hanya saja, setelah ini urusan kita akan lebih rumit!"
Rayyan langsung memutar bola matanya malas demi paham dengan maksud kapten polisi itu.
Di lain pihak, Diandra yang merasakan sakit di telapak tangannya langsung mendamprat pria di depannya sebab masih belum terima usai di cium seenaknya.
" Anda jangan kur...."
" Aku akan menciummu lagi jika dokter banyak bicara." sergah Dewa yang tampak tak menyesal usai mencecap bibir manis perempuan itu, " Dan satu lagi, aku tak ingin lagi mendengar dokter merendahkan diri dokter apalagi menyindirku. Apa itu sudah cukup jelas?" kata kapten Dewa yang menantang santai seraut penuh emosi di hadapannya. Membuat si Perempuan seketika kalah telak.
Perempuan yang wajahnya sudah sangat merah padam, sebab tengah marah sekaligus malu itu langsung beranjak pergi usai merasa jika dirinya tak akan menang berdebat dengan pria yang telah menciumnya seenaknya.
Sungguh, Dewa terpaksa melakukan hal itu agar Diandra berhenti merendahkan dirinya sendiri. Ia tahu, ia telah salah. Dan mendengar sebuah kalimat yang merendahkan seperti tadi, justru akan membuat dadanya terasa sakit karena di hinggapi sebuah penyesalan.
Di dalam tenda obat-obatan, kapten Zilloey yang bersama dokter Anita terlihat merasa canggung.
" Menurut dokter, darimana mereka mendapatkannya obat-obatan ini?" tanya kapten Zilloey saat memeriksa kembali satu persatu obat yang memiliki cap resmi dinas kesehatan.
" Kapten ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" sahut Anita dengan tatapan yang masih fokus ke kardus demi kardus obat di depannya.
" Hah? Maksudnya?" tanya Zilloey yang mendadak menjadi bodoh. Membuat dokter Anita langsung menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
" Jelas saja di pemerintahan kita ada pengkhianat. Mustahil mereka mendapatkan pasokan sebanyak ini jika tanpa ada campur tangan penyusup!"
Kapten Zilloey mengangguk paham. Tapi ia justru salah fokus ke wajah dokter Anita yang terlihat sangat manis pagi ini.
.
.
Beberapa jam kemudian saat mereka semua sudah selesai membereskan beberapa temuan, kesemua anggota di berikan perintah untuk beristirahat sejenak. Membuat ke empat kapten badas itu bisa berbicara satu dengan yang lain di dalam tenda.
" Si anjing malah main cium orang sembarangan. Dasar kamu ya, kalau ada yang tiba-tiba lewat terus lihat gimana?" Rayyan menggerutu saat Dewa barusaja masuk lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi bongkar pasang.
Membuat Zilloey shock. " Ciuman, siapa?"
" Pakai nanya lagi. Nih, si anjing satu nih!" dengus Rayyan melirik sewot Dewa yang sedang membuka botol minumnya.
Kini Zilloey menoleh kepada Yean yang malah tersenyum-senyum sendiri seolah mengiyakan sindiran Rayyan. Oh man!
" Sudah ada yang lihat!" sahut Dewa tanpa dosa usai meneguk separuh dari isi botol minumnya.
" Hah, siapa?" jawab Rayyan kali ini lebih panik.
" Kamu sama Yean kan?"
" CK!" Rayyan langsung mendecak sebab bisa-bisanya Dewa seenteng itu dalam menjawab.
Rayyan sontak mendengus sementara Yean tergelak.
Mereka tahu semua cerita yang sebenarnya di satu malam, saat dokter Anita terus saja terjaga merenungi kesalahan. Di detik itu, mereka berjanji akan membuat dokter Diandra menemukan kebahagiaannya.
" Tapi, masalahmu setelah ini pasti sangat besar!" kata Zilloey yang terlihat murung.
" Benar. Hah, seandainya kau tahu fakta ini sebelum kau menyanggupi pertemuan dengan Pak Gustav!" tukas Yean yang semakin membuat isi kepala Dewa keruh.
Dewa menghela napas. Itu memang benar. Jika ini memang jalannya, ia akan lakukan. Tapi yang pasti, ia tak akan melakukan kesalahan lagi pada sosok perempuan yang kini sibuk berbicara dengan dokter Anita di depan sana.
Ia harus bisa mengikuti nuraninya. Sebab nurani selalu membawa kita kepada jalan yang benar.
Mereka akhirnya bersama-sama pulang ke lokasi bencana usai team gabungan datang mengamankan stok obat dan beberapa senjata yang semula di kuasai oleh Talani.
Namun sepanjang perjalanan menuju ke pengungsian, dokter Diandra tak henti-hentinya acuh kepada kapten Dewa meski kesemua orang saling berbicara penuh keseruan di sepanjang jalan.
" Anda sangat berani dokter. Kami sangat bangga padamu!" puji Rayyan saat mereka berjalan.
Dokter Diandra tersenyum kepada Rayyan, namun kembali berengut saat melirik si kapten kulkas dua pintu.
" Siap-siap aja. Kulkas dingin dua pintu bakal bingung karena di dinginkan, hahahaha!" cibir Rayyan kepada Yean yang menuntun anjing pelacak nya.
Pria yang sebelas dua belas dengan Dewa itu hanya menarik sebelah bibirnya. Ia setuju dengan prediksi yang di lontarkan.
__ADS_1
Mereka terus berjalan dan sesekali mengistirahatkan diri untuk minum, kemudian melanjutkan perjalanan lagi dengan formasi yang berbeda. Kadang Diandra bersama Anita, kadang keduanya terpisah bersama Rayyan dan Zilloey yang tak hentinya berbicara.
Dewa tak masalah saat Diandra mengabaikan dirinya. Ia terus menjaga dan mengawasi. Bahkan meminta anggotanya untuk menyingkirkan ranting yang menghalangi menggunakan kode agar dokter Diandra tak terluka.
Tapi saat menuruni jalan yang sedikit curam, tanpa sengaja dokter Diandra terperosok dan jatuh. Membuat kesemua orang panik.
" Dokter!" pekik beberapa orang yang reflek berteriak.
" Aaaa!" teriak Diandra.
" Diandra!" Anita berlari namun di tahan oleh Zilloey.
" Jangan dokter." Zilloey melarang Anita sebab Dewa lebih dulu berlari. Anita yang paham memilih mengangguk percaya.
" Kakiku Nit, awh!"
Kapten Dewa yang panik saat mendengar dokter Diandra merintih, langsung berlari menuju ke tempat perempuan itu meski keluhan itu tak ditujukan kepada dirinya.
Bahkan, ia mengabaikan penolakan keras yang terus terucapkan kepada dirinya.
" Minggir aku bisa sendiri!" sengit dokter Diandra yang hendak bangkit sendiri. Namun baru saja hendak melangkah,
BRUK
" Awhh!"
Kaki dokter Diandra sepertinya terkilir. Membuat Dewa langsung memutar posisi tubuhnya. Dan tanpa menunggu persetujuan siapapun, kapten Dewa langsung menggendong dokter Diandra di punggungnya dan membuat kesemua orang saling melempar pandang.
" Hey, apa yang kapten lakukan? Cepat turunkan saya!" Diandra yang malu dan kesal tak hentinya memukuli punggung kokoh berseragam loreng itu sembari berusaha mengelak.
" Diam dan jangan bergerak!"
" Hey, siapa kau seenaknya memerintahku, hah?"
Tapi teriakan keras yang tiba-tiba terdengar membuatnya sontak terdiam.
" Semuanya, siapa yang berhak memberikan perintah di sini?" teriak Dewa yang seperti sengaja ingin membuat dokter Diandra menurut.
" Kapten Dewa!" koor semua pasukan termasuk ketiga kapten yang kini menahan tawa sebab tahu apa yang telah terjadi di bawah sana.
" Dan siapa yang berhak melakukan tindakan penuh atas kesakitan yang menimpa anggota di bawah tanggungjawabnya?"
" Kapten Dewa!" koor mereka lagi. Membuat dokter Diandra langsung menatap tak percaya ke arah Dewa yang tersenyum penuh kemenangan.
Dasar pria licik!
" Bagus. Sekarang, cepat jalan!" titah Dewa dengan seringai tipis.
Dewa tersenyum penuh kemenangan sementaranya dokter Diandra membuang wajahnya berengut lantaran mau tak mau harus berada di punggung pria itu entah berapa lama.
__ADS_1