Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 55. His name ia Maeda


__ADS_3

Mama Erika sedang membersihkan piring di meja bekas mereka sarapan, saat pintu rumahnya terketuk. Usai meletakkan piring kotor ke meja cuci, wanita itu terlihat berjalan santai. Mungkin itu adalah kurir yang hari ini datang membawakan paket yang dia beli untuk Joshua. Sebab ia telah mendapatkan notifikasi dari aplikasi belanja online yang ia gunakan.


Namun begitu dibuka, saat ia melihat sosok yang datang, ia sigap menutup kembali pintu tersebut dengan wajah tak senang. Tapi sebuah tangan kekar menahannya dengan sangat kuat dan membuat pintu tetap terbuka.


" Kumohon. Aku ingin berbicara denganmu sebentar!" kata pria berpostur tinggi tegap dengan suara memohon.


Mama Erika sontak menatap geram Rando yang berani-beraninya mengganjal pintu dengan kakinya. Sungguh, ia tak mau Joshua sampai melihat hal ini.


" Pergi dari sini!" Mama Erika masih bersikeras menutup pintu namun tenaga yang di keluarkan benar-benar tak sebanding.


" Kumohon. Sekali ini saja dan aku akan pergi!" ucap Rando yang berhasil menangkap tangan mama Erika dan membuat keduanya akhirnya terdiam.


Dan Mama Erika akhirnya menatap tajam sorot penuh harap itu sembari mengatur napas dengan perasaan menimbang.


.


.


Diandra yang masih berada di tenda mencekam dan tengah sibuk membereskan beberapa peralatan, terkejut saat pria bersenjata datang membawa ayam hutan panggang yang terlihat lezat ke dalam tenda.


Perutnya kosong sejak kemarin. Ia bahkan melewatkan makan malamnya karena keburu melihat Lyara yang bersama Dewa. Hah, bahkan ia harus kembali teringat akan hal itu saat dia sedang tekena masalah yang lebih berat.


Pria bersenjata itu terlihat kesal terhadap Diandra yang justru mendapat perlakukan baik dari bosnya. Tapi sebuah bahasa isyarat dari sang bos mampu membuat pria itu pergi tanpa pamit.


" Siapa namamu?" tanya pria bertato yang mulai mendudukkan tubuhnya perlahan-lahan.


Diandra melirik sekilas. Merasa sangat malas dengan para penjahat di sana meskipun pria berjuluk 'bos' itu terlihat tak sekasar yang lain. " Apa aku wajib menjawab?"


Tapi pria itu justru terkekeh dan mengabaikan sinisme perempuan yang menurutnya. ' menarik'.


" Aku Maeda. Apa kau tidak tertarik ingin tahu alasan kenapa kau harus ada di sini?" ucap pria itu kembali, tapi kali ini sambil membuka botol air.

__ADS_1


Diandra menatap keruh pria yang membuatnya risih itu dengan hati penuh kebencian. Ia memilih pergi saat pria itu sibuk meneguk minuman. Tapi saat hendak pergi, pria bersenjata tiba-tiba menghadang langkahnya. Membuat Maeda menarik senyuman.


" Sudah aku katakan, jika kau masih ingin hidup turuti perintah kami. Rawat bos kami sampai dia sembuh!" kata pria itu penuh penekanan. Urat-urat merah di matanya bahkan kentara. Membuat Diandra kehilangan kesabaran.


" Apa maksud kalian. Dia sudah aku operasi. Dia akan sembuh! Kenapa kalian sejahat ini, hah? Sekarang kembalikan aku ke peng..."


PLAK!


Pria bersenjata itu menampar pipi Diandra dan membuat perempuan itu kembali ketakutan. Sungguh, wajahnya terasa panas dan pedih dalam sekali waktu.


" Kembali kau bilang?" geram pria bersenjata sembari maju menantang dan membuat langkah Diandra perlahan-lahan mundur ke belakang, " Kembali dan membuatmu mengadu kepada pemerintahmu yang brengsek itu, iya?"


Maeda yang melihat hal itu melangkah maju usai melempar sebuah botol kosong. Ia sejurus kemudian mengangkat tangan sembari menatap Tom. Maeda meminta pria itu berhenti membuat Diandra takut.


Tom mengeraskan rahangnya dan menatap geram ke arah Diandra yang kini menunduk.


" Biar ku jelaskan." bisik Maeda mendekatkan wajahnya ke telinga Diandra. "Tom ini lebih galak dariku. Jadi, kuharap kau tak memancing kemarahannya!" lanjutnya sembari tergelak penuh ancaman.


Diandra yang mendengar itu semua kini terduduk menggelosor dengan pikiran tak karuan. Pikirannya kini melayang kepada Joshua dan Mamanya. Dan tanpa terasa, sebulir air mata menetes. Membasahi pipi mulus perempuan itu. Apakah ia akan mati disini? Apakah tak ada orang yang tahu tahu jika di sandera?


Maeda yang melihat Diandra menangis hanya menatapnya dengan tatapan kosong penuh misteri. Pria itu sejurus kemudian memilih memotong ayam lalu mengisinya di piring dengan air muka datar.


.


.


Tiga regu pasukan khusus di tubuh angkatan bersenjata tampak bersiap. Tapi Yean yang melihat Dewa kembali masuk ke tendanya, mencari kesempatan untuk bisa berbicara berdua bersama sahabatnya itu secara empat mata.


" Ini!" ucap Yean menyerahkan sebuah benda yang nampak seperti obat ke atas meja kerja Dewa.


Pria itu mengerutkan kening." Apa ini?"

__ADS_1


Yean menghela napas." Semalam, sebenarnya dia datang kemari untuk memberikan ini pada mu. Tapi sepertinya," Yean mengendikkan bahu, " Karena Lyara yang terus lengket di sampingmu, jadi dia menitipkan ini padaku!"


" Itu obat untuk lukamu. Dia bahkan seperhatian ini padamu De!"sambungan Yean pada Dewa yang tampak tertegun.


Dewa kian tercenung selama beberapa saat. Tapi sejurus kemudian ia memasukkan obat itu ke dalam tasnya.


" Aku pergi mencarinya bukan karena apapun. Bukan karena hal lain apalagi perasaan. Tapi karena tanggung jawab. Tapi sepertinya, sekarang kau malah mengenalnya lebih baik!"


Yean yang di sindir tak terpancing. Ia tahu Dewa masih peduli dengan keselamatan Diandra.


Orang memang tak selalu memiliki kelebihan. Seperti Dewa misalnya. Laki-laki itu tangkas, taktis, dan sangat berkompeten menghadapi musuh. Tapi terlalu kaku untuk menyoroti satu permasalahan.


" Karena dengan menggali lebih dalam, kita mungkin akan menemukan hal lain yang berharga di dalamnya. Seorang penggali berlian tak mungkin langsung menemukan batu mulia di dalam tanah. Pada perjalanannya, ia bisa saja bertemu dengan bangkai, batu tak berguna, juga hewan menjijikkan di dalamnya!" sindir Yean yang sengaja menggunakan satu perumpamaan.


Dewa kembali dibuat tertegun usai Yean berbicara sangat panjang dan memberikan satu gambaran yang berhasil menyentil perasaannya.


Di luar.


" Dewa, kalian mau kemana?" tanya Lyara yang pagi itu sudah terlihat cantik dengan membawa sebuah box berisikan makanan.


Rayyan yang melihat hal itu seketika memutar bola matanya malas. Huft, bisakah wanita itu tak berkeliaran di area ini jika tak memiliki guna?


" Kau tunggulah sebentar. Aku dan mereka ada urusan mendadak. Aku akan segera kembali!" kata Dewa sembari mengusap pipi Lyara agar perempuan itu tak banyak bicara.


Lyara yang di perlakukan halus oleh Dewa langsung tersipu dan mengangguk. Sementara Zilloey yang melihatnya langsung terlihat muak dan terlihat ingin muntah.


" Jangan beri harapan sialan. Jika ujung-ujungnya akan membuatnya patah hati!"


Dan Rayyan yang mendengar hal itu langsung terkikik-kikik. " Cara jitu agar tidak rewel. Anak jenderal tapi oon!" cibir Rayyan menanggapi sahutan Zilloey.


" Sstt, jaga bicara kalian!" sahut Yean yang mendengar dua kawannya bergunjing. Pria paling serius setelah Dewa itu tak mau dua sahabatnya terkena masalah. Apalagi, Lyara merupakan gadis cengeng yang suka mengadu.

__ADS_1


__ADS_2