
" Aku cuma mau memberi tahu. Lusa akan ada team pengganti yang datang. Kalau dokter ingin kembali, besok bisa segera melapor untuk di data. Jika tidak melapor sampai pukul delapan malam besok, maka akan di anggap extend!"
Pernyataan lugas Dewa tadi malam saat dia sedang malu-malunya, membuat kegelisahan di hari Diandra kian menjadi. Pasalnya, ia sebenarnya belum ingin kembali ke Santara. Tapi kejadian tempo hari rupanya berhasil membuat segenap kenyamanannya runtuh.
Jangankan berbicara, berpapasan di jalan dengan Dewa saja sudah membuatnya sangat malu. Namun saat hendak menyibak penutup keluar tenda, ia terperanjat manakala nyaris menabrak Anita yang tiba-tiba berdiri canggung di hadapannya.
" Aku extend di sini!" seru Anita menatap lekat Diandra.
Diandra yang melihat hal itu langsung melolong tak percaya. Ia benar-benar shock dan merasa seperti mimpi saat melihat Anita tiba-tiba mau datang dan berbicara normal kepadanya setelah sekian lamanya.
" Nita?" panggilnya masih tak percaya.
" Aku tidak bisa berlama-lama. Intinya aku tidak jadi pulang. Aku akan extend. Jaga dirimu!"
Diandra yang tiba-tiba di tinggalkan Anita usai mengucapkan kalimat tersebut, memilih diam dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Meski perempuan itu masih menjaga jarak dengannya, tapi setidaknya intonasi pembicaraannya sudah berubah. Apa semua ini karena Zas?
Ia lantas menuju ke tenda Dorris. Berniat melapor jika ia ingin pulang. Lagipula, sejumlah korban sudah di temukan dan sudah mencapai standar pencarian yakni 7 hari.
Team lama yang akan extend maupun team pengganti yang baru, hanya akan berjaga sebab kini sebagian dari mereka terserang sakit perut. Penyakit yang lumrah terjadi usai bencana.
" Baiklah dokter. Semua data yang terhimpun akan segera aku kirim ke pusat. Terimakasih untuk dedikasinya!" kata Dorris usai menerima beberapa nama yang akan ikut pulang lusa.
Saat akan kembali, ia celingak-celinguk memperhatikan sekeliling namun tak melihat adanya bau-bau keberadaan kapten Dewa. Ia sontak merasa lega.
" Syukurlah dia sibuk. Aku lebih lega jika begini! Tak perlu sembunyi-sembunyi lagi!" batin Diandra lega.
Ia kini berinisiatif untuk menemui beberapa lansia dan anak-anak untuk berpamitan. Lebih dari sepekan berada disana jelas membuat dokter Diandra tak bisa begitu saja pergi tanpa pamit.
.
__ADS_1
.
Di Santara.
Plak!
Kapten Dewa hanya diam menahan pedih usai di tempeleng oleh sang Letnan yang murka. Ia di panggil secara pribadi sebab Letnan kolonel Gustav meradang lantaran mendengar jika Lyara, putri dari mayor jenderal mereka pulang dengan keadaan menangis dan melapor jika Dewa berlaku tak baik kepadanya selama ia berada di Tidom.
" Kau tahu dia siapa? Dia anak Mayor jenderal Dewa! Apa kau lupa!" hardik Letnan kolonel Gustav yang benar-benar berang kepada kapten kebanggaannya itu.
Dewa tetap dalam sikap sempurna meski dalam hati ingin rasanya ia melawan. Tapi jabatan tetaplah jabatan. Ia harus tunduk dan memahami hal itu.
" Maaf Pak. Tapi saat berada di lokasi bencana saya belum memiliki waktu untuk hal lain selain bertugas! Anda tahu sendiri situasi di tanah bencana itu seperti apa!"
"Tapi aku sudah berulang kali bahkan terbilang sering memperingatkan. Jangan sampai putri Jenderal bersedih. Tapi apa yang kau lakukan?" damprat sang Letnan yang terlihat kecewa.
" Harusnya kau merasa beruntung Dewa. Kau bisa berada di posisi baik jika kau bersama nona Lyara!" ucap letnan Gustav sejurus kemudian. Ia sebenarnya tak ingin memarahi Dewa, tapi ia tak memiliki pilihan sebab ia sendiri juga kena damprat.
" Aku juga dapat laporan karena menghalang-halangi proses pencarian dari Earth Wood group!" ucap Letnan terlihat menyesal.
Membuat Dewa kontak mendongak. " Pak, untuk hal itu saya bisa jelaskan!"
Tapi wajah murung Letnan terlihat tak ingin di debat. "Istirahat lah dirumah sampai aku memanggilmu! Situasinya sedang tidak baik. Pastikan ponselmu dalam keadaan on!"
" Tapi Pak!"
" Silahkan keluar! Dan renungkan kesalahanmu!" pungkas Letnan yang terlihat tak memiliki pilihan.
Dewa terlihat menghela napas menerima keputusan. Ia tahu, sang Letnan juga hanya menjalankan tugasnya. Usai melakukan hormat, dewa keluar dengan dada yang penuh kekecewaan. Pagi-pagi benar ia harus terbang ke Santara sebab semalam ia ditugaskan untuk menemui sang Letnan. Tidak tahunya itu adalah ulah Lyara.
__ADS_1
Ia juga tidak mengerti, kenapa ia bisa kena hukuman karena telah menolak anak buah Rando Ferdinand.
Mau tak mau ia akhirnya memilih untuk pulang ke rumah orangtuanya. Tapi sebelum itu, ia menyempatkan diri menemui Zilloey dan Rayyan.
" Apa kau bilang? Kau di nonaktifkan sementara? Ini benar-benar diluar ranah!" kesal Rayyan begitu mendengar cerita Dewa yang di nonaktifkan sementara dari tugas dan jabatannya.
" Pasti ada main mereka!" keluh Zilloey tak suka. Menduga jika pasti ada permainan di dalamnya.
Dewa meminum soda di kalengnya hingga tandas. Jika kedua sahabatnya saja bisa sekesal itu, apalagi dirinya?
" Lalu apa rencanamu?" tanya Ray terlihat khawatir.
" Aku akan pulang dulu!" jawab Dewa datar.
Kedua sahabatnya menatap prihatin Dewa yang kini terkena sanksi padahal tak seharusnya pria itu mendapatkan.
Ia memilih menggunakan moda transportasi kereta api sebab ingin sedikit bersantai. Ia mengisi waktu di awal perjalanan dengan membaca group satuan tugas tanpa berniat menimpali. Dorris menjadi anggota yang paling aktif dalam melaporkan hal penting di sana. Dalam pelaporan itu, ada satu hal yang menarik untuk di lihat, yakni foto beberapa dokter relawan yang akan pulang.
" Dokter Diandra? Kenapa dia pulang?" gumamnya begitu melihat foto wanita yang berada di deretan paling kiri depan.
Dewa reflek men-zoom foto dokter Diandra seraya tersenyum-senyum sendiri. Dan saat ia menatap wajah dokter Diandra dari dalam ponsel, kilasan ingatannya soal dokter tengil yang berani mencium bibir tanpa seizinnya tiba-tiba sulit untuk ia abaikan.
Sedang apa dokter itu sekarang? Hah, kenapa dia tiba-tiba jadi teringat?
Akan tetapi, saat ia masih sibuk melamunkan dokter cantik itu, seseorang yang barusaja duduk di kursi samping tiba-tiba menyapa.
" Hay, kau pria yang waktu itu kan? Masih ingat aku? Astaga aku tidak menyangka kita bertemu lagi!" seru seorang wanita cantik bersuara renyah yang penuh rasa percaya diri.
Membuat Dewa langsung mengingat-ingat.
__ADS_1