
" Diandra tunggu!" teriak Rando yang berlari mengejar Diandra.
" Diandra!"
Tapi yang di panggil sama sekali tak merespon. Perempuan itu justru semakin menambah kecepatan berlarinya dan nyaris menabrak orang lain.
" Maaf!" seru Rando yang tak enak hati kepada pengunjung lain yang nyaris tertabrak oleh Diandra.
" Diandra!"
" Tunggu Di...!"
" Lepas!" pekik Diandra menyalak sengit sembari menangkis tangan Rando yang berhasil menangkap lengannya.
Rando menatap tak nyaman ke sekeliling, dimana orang-orang terlihat menatap mereka penuh selidik.
" Oke oke aku mohon maaf. Tapi, kita harus bicara Di!" ucap Rando mengangkat kedua tangannya.
" Pergi, pergi atau aku panggil security!" teriak Diandra yang begitu marah kepada Rando.
Rando yang melihat Diandra sangat marah memilih mengalah sebab ia tak ingin membuat keributan. " Oke aku bakal pergi. Tapi tolong, aku ingin waktumu untuk kita bicara. Kumohon!"
Tapi Diandra buru- buru masuk kedalam tanpa mendengarkan omongan Rando. Perempuan itu meninggalkan Rando yang kini menatap muram. Pria itu berdiri dengan gerakan bolak balik membasuh wajah.
Setibanya Diandra di dalam ruangan, Wina rupanya sudah menunggu dengan raut gelisah. Ya, orang yang melihat perdebatan sengit antara Rando juga Dewa tadi adalah Wina.
" Dokter?" sapa Wina sesaat setelah pintu dibuka oleh Diandra yang wajahnya sembab
" Jadwalku apa setelah ini Win? Aku ingin melihatnya setelah ini!" tanya Diandra yang menyibukkannya diri di loker guna menyembunyikan wajahnya.
Wina langsung meneguk ludah demi kecanggungan yang mendadak menyeruak. " Emmmm, ada dua pasien lagi dokter!"
Diandra menghela napas guna mengurangi suara parau nya. " Tolong siapkan semuanya lebih awal. Aku harus pergi setelah ini!"
Wina yang kikuk langsung mengangguk lalu melesat pergi. Sepeninggal Wina, Diandra mengunci ruangannya lalu menangis sejadi-jadinya.
.
.
Kediaman Ferdinand.
PLAK!
Rando yang mau tak mau harus menceritakan permasalahannya ini langsung mendapat tamparan keras dari sang Mama. Wanita itu terlihat sangat geram. Bahkan sang Papa terlihat sangat terkejut. Pun dengan Viona.
__ADS_1
" Jadi selama ini kau menelantarkan anakmu, iya?" hardik sang Mama yang bisa di pastikan tensinya sudah naik berkali-kali lipat.
Viona yang melihat sang kakak di tampar seketika menangis sambil memegangi tubuh Mama nya.
" Ma, dari dulu mama kan yang tidak suka dengan Diandra karena keadaan keluarga mereka Ma. Sekarang Mama malah menyalahkan Rando. Apa seumur hidup Rando bakal hidup seperti ini, iya?"
"Rando, jangan melawan orang yang dulu mengajarimu bicara Rando!" pekik sang papa yang geram dengan anaknya.
Nyonya Ferdinand yang kini di tenangkan oleh Viona hanya bisa terisak-isak. Benar-benar tak menyangka jika anak kecil yang pernah ia temui secara tak sengaja dan langsung mengusik hatinya itu adalah cucunya sendiri.
Kini semua orang terdiam. Hanyut dalam kenyataan yang menampar harga diri mereka semua sebagai keluarga terhormat.
" Seharusnya kamu bisa bedakan Ran. Mama seperti ini karena demi kalian. Agar kalian bisa terus bisa di berada dalam garis dan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Papamu. Tapi jika hal itu terjadi, mustahil mama akan menolak anak itu Ran! Mama tidak menyangka kau bisa sebodoh itu! Ku bahkan punya pemikiran untuk menggugurkan anak itu Ran. Manusia macam apa kau ini Ran!" Teriak Mama yang membuat Rando semakin tersudut.
" Iya- Iya Rando yang salah Ma. Rando memang salah!" teriak Rando yang frustasi sebab semua orang menyalahkan. Pria itu terlihat menyambar kunci mobil lalu melesat pergi dengan dasa bergemuruh.
" Mau kemana kamu Ran. Rando!"
" Rando!"
BRAK!
Rando membanting pintu rumahnya dan membuat ART yang bersembunyi di balik dinding sampai berjingkat kaget.
" Brengsek kau Al. Kau telah membohongiku selama ini, hah!"
BUG!
Rando menghajar Aldi sampai darah segar muncul di sudut bibirnya. Ia sangat geram dengan rahasia yang selama ini telah di sembunyi oleh Aldi.
" Kenapa kau tidak mengatakan hal yang sebenarnya sialan!"
BUG!
Rando sampai terengah-engah kala melayangkan pukulan. Buku- buku tangannya sampai memutihkan. Tapi Aldi yang bonyok masih bisa menyuguhkan senyuman sumbang.
" Pukulan pertama masih bisa di maklumi. Tapi pukulan kedua dan seterusnya, aku bisa menuntutmu dengan pasal penganiayaan!" ucap Aldi yang kini tersuruk- suruk kala menepikan tubuhnya yang remuk redam.
Rando yang masih kesulitan mengatur napas kini menatap tajam Aldi dari jarak setengah meter. Merasa sangat kesal dengan ucapan Aldi sang selalu sok berbau hukum.
" Tidakkah kau ingat berapa kali aku mengingatkanmu soal anak yang di kandung Diandra saat itu, hah?" kata Aldi dengan intonasi santai sebab ia mulai merasakan pusing di kepalanya.
" Karena kesombonganmu, pikiran mu yang picik, kau mengabaikan betapa berharganya nyawa bayi tak berdosa dalam perut Diandra saat itu!" sambung Aldi yang kini ingin mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia pendam.
Rando yang mendengar hal itu merasa seperti tertampar. Betapa semua yang di katakan oleh Aldi mengandung sebuah kebenaran
__ADS_1
" Apa kau juga lupa, berapa kali Diandra memohon kepadamu hah?"
Rando membuang wajah kala di teriaki Aldi. Pria itu bahkan hendak menangis demi teringat hal itu. Sungguh ia pikir masalah itu telah selesai dengan segepok uang yang dulu ia berikan kepada Diandra.
" Sebenarnya sejak saat itu aku sangat ingin memutuskan hubungan persahabatan kita Ran, " sambung Aldi dengan napas yang mulai kembang kempis. " Apa kau tahu, aku iri padamu karena Diandra lebih suka padamu." teriak Aldi dengan buncahan kemarahan.
"Tapi menurutku kau bukanlah laki- laki. Sebab laki- laki tak di benarkan mundur selangkah pun, meski aral, dan onak berduri mengadang di depan. Tapi kau, kau bukanlah manusia!"
" Diam kau!" teriak Rando yang tak lagi kuat mendengar ucapan sarat kebenaran yang terlontar dari mulut Aldi.
Rando seketika menangis pilu. Ternyata sebuah penyesalan benar- benar membuat hatinya sakit. Sangat sakit.
" Luka yang kau torehkan terlalu dalam bahkan tak terukur. Aku harap kau tidak mencari masalah baru setelah ini!"
.
.
Dewa kembali ke asrama khusus dengan perasaan yang sukar di definisikan. Ke tiga sahabatnya masih berasa di sana sebab masih menunggu petunjuk selanjutnya dari pimpinan.
" Cie cie yang bar..."
BRAK
Ucapan Rayyan langsung menguap bersama hembusan angkuh angin yang timbul dari pintu yang tertutup kasar. Yean yang menyadari ketidakberesan Dewa langsung turun dari kursi.
" Apa aku salah, atau..."
" Pasti ada yang tidak beres!" potong Yean. Membuat Zilloey dan Rayyan saling menatap.
Di dalam kamar, Dewa terlihat duduk sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia memejamkan matanya meresapi apa yang telah terjadi.
Kenapa asmaranya selalu di perhadapkan dengan tipu muslihat yang cela semacam itu? Kenapa? Atau, apakah ia memang seharusnya menerima mandat dari sang jenderal untuk menjadi menantunya saja meski itu artinya ia mengabaikan nurani?
" Argh!"
BRUAK!
Dewa melempar sebuah buku hingga membuat suara kamarnya sontak gaduh. Ia sangat kecewa. Teramat kecewa.
Pantas saja selama ini Diandra tak mau menceritakan hal yang sesungguhnya sewaktu dia bertanya. Pantas saja seorang Rando Ferdinand mengejar- ngejar dokter itu karena mereka telah memiliki ' sesuatu ' yang sangat penting.
Ia merasa tertipu.
Yean, Rayyan dan Zilloey yang mendengar suara gaduh dari dalam kamar Dewa seketika tertegun. Ia tahu sesuatu pasti sedang terjadi. Tapi diam sangat menjadi hal yang cukup di anjurkan disaat emosi Dewa sedang meledak seperti saat ini.
__ADS_1