Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 17. Tak menyangka bertemu


__ADS_3

Mobil berbendera Medica Care Hospital yang semula mogok akhirnya bisa berjalan normal dua puluh menit kemudian atas bantuan para tentara yang familiar dengan mesin. Diandra mengira Dewa akan duduk di depan bersama supir. Tapi tidak tahunya, pria itu duduk dekat di jok belakang bersama dirinya.


Sepanjang perjalanan, suasana di dominasi oleh suara radio komunikasi yang terus berbunyi mengabarkan berita dari unit ke unit lain. Diandra yang berada di samping Dewa merasa sedikit grogi. Pria berkharisma ini sungguh memiliki aroma tubuh yang enak di hirup.


" Aromanya masih sama saat kejadian di bis kapan hari!" kata Diandra dalam hati.


" Apa kalian juga menggunakan pesawat?" tanya Dewa memecah kecanggungan.


Diandra kontan mengangguk. " Pesawat Tentara! Yang suaranya lumayan berisik!"


Dewa hanya sedikit terkekeh namun tak menjawab. Berarti semua progam yang ia ajukan sudah terlaksana. Ia ingin setiap ada kebencanaan, angkatan darat dan stakeholder terkait bisa bekerjasama dengan baik.


Namun saat kebisuannya kembali terjadi, mata Diandra malah tak sengaja melihat punggung tangan Dewa yang terluka. Entah terkena apa lagi pria ini. Kenapa selalu membiarkannya luka seperti ini sih?


" Astaga, tanganmu kenapa?" pekik Diandra sedikit cemas.


Dewa yang mendengar suara khawatir dari perempuan di sampingnya, reflek melihat tangannya yang memang terluka. " Oh ini. Ini tidak apa..."


" Jangan dibiarkan seperti ini dong! Daerah ini sangat lembab. Kapten bisa infeksi nanti!" sahut Diandra membuat ucapan Dewa terjeda.


Dewa hanya diam saat Diandra meletakkan plaster guna menutup luka di tangannya dengan alis yang bertaut. Tersenyum tipis sebab perempuan itu benar-benar mengomelinya hanya gara-gara sebuah luka.


" Perempuan ini, reaktif sekali!" ucap Dewa dari dalam hatinya.


Setibanya mereka di lokasi, Dewa meminta anak buahnya untuk mengantarkan Diandra menuju tenda medis sementara dirinya langsung kembali ke tenda Dorris untuk melihat peta mitigasi dengan tersenyum-senyum saat melihat plaster di punggung tangannya.


" Ehem!" kata seseorang seraya bersedekap jahil dengan mata menatap Dewa.


" Ehem!" lagi, pria itu berucap sebab Dewa tak menggubrisnya.


" Eheeemm!"


Dewa yang mendengar seseorang berdehem sebanyak tiga kali langsung membalikkan badannya. Dan tanpa di nyana, orang itu tak lain adalah Oka.


Dia lagi!


" Ternyata benar gosipnya. Kapten terlambat karena menjemput dokter cantik ya?" kata Oka yang rupanya melihat mereka berdua turun bersama. Sengaja ingin berbuat iseng kepada sang kapten.


Dewa yang melihat kejahilan anak buahnya terlihat menggerakkan jarinya meminta Oka maju. " Kemarilah!" kata Dewa terlihat serius. Membuat pria lajang itu langsung menurut maju.


" Ya kapten?" balas Oka tanpa curiga. Dan sejurus kemudian.


PLETAK!


" Aduh!!!"


Pria itu meringis sesaat setelah dahinya di jitak oleh Dewa yang kesal dengan kekepoan Oka.


" Push up 30 kali. Ini hukuman karena bukannya menjalankan tugas malah menjadi mata-mata!"


" Si- siap kapten!"


Dewa tersenyum seraya menggeleng tak percaya saat Oka langsung memulai push up nya.. Sungguh kocak sekali anak buahnya ini.


.


.


Lokasi banjir pukul empat sore.

__ADS_1


Hujan masih turun dan membuat ketinggian air belum juga surut. Tapi tambahan petugas serta relawan membuat Dewa merasa sangat terbantu.


" Zior bagaimana?" tanya Dewa seraya melihat jumlah orang yang belum di selamatkan dalam secarik kertas.


" Team masih menyisir kawasan yang lebih luas. Tapi baru saja kita dapat kabar jika ada satu orang terjebak di lantai dua bersama anaknya kapten!"


" Dimana?"


" Dirumah paling besar yang pintu pagarnya paling tinggi itu!"


Dewa terlihat mengumpat lirih sebab keadaan di depannya sangat tidak memungkinkan. Tapi demi kemanusiaan, ia terlihat langsung memakai peralatan lengkap sebab ia sendiri yang harus turun tangan


" Apa yang kapten lakukan? Kita bisa menunggu peralatan dulu!" kata Zior yang tak enak hati sebab melihat kaptennya akan turun tangan.


" Hujan sangat deras. Jika kita tidak bergerak cepat, aku takut mereka tak akan bisa bertahan lebih lama lagi!"


" Tapi kapten, ini sangat berbahaya!" seru Zior makin cemas.


Namun alih-alih menurut, pria itu malah sama sekali tak memperdulikan. Dewa nampaknya akan nekat masuk untuk mengevakusi sebab ia mendengar jika ada anak kecil diatas sana.


" Infokan dokter untuk merapat!"


" Ba- baik kapten!" jawab Zior cepat meski sebenarnya ia sangat kurang setuju.


Dewa bukannya tak memiliki perhitungan, ia terpaksa nekat berangkat sendiri sebab dia takut jika hujan tak berhenti turun, ketinggian air akan meningkat kembali. Ia nekat masuk ke sebuah rumah lantai dua yang susah di jangkau hanya berdua dengan Zior.


" Permisi, kami dari petugas evakuasi!" kata Zior sedikit berteriak.


" Tolong!" jerit seseorang saat mendengar suara seseorang.


Dewa yang mendengar suara minta tolong itu dan terdiam sejenak. Bahkan sejenak ia malah merasa mendengar suara yang sangat familiar.


Mereka sepertinya terjebak dilantai dua tempat banyak perabotan yang mengapung karena tak sempat lari.


" Tolong!" jerit anak kecil bersama seorang perempuan itu makin membuat Dewa mempercepat dayungannya.


" Kami petugas. Tolong katakan ada berapa orang di dalam!"


Mendengar hal itu, perempuan di dalam San terlihat tersenyum lega. " Syukurlah. Aku bertiga dengan anak-anakku. Cepat tolong kami!"


Dan saat sang kapten hendak naik, ia terkejut bukan main demi melihat jika wanita yang menggendong anak kecil itu tak lain adalah Deby mantan pacarnya dulu.


DEG!


" Dewa!" seru wanita itu sedikit terkejut dan terlihat tak percaya. Membuat Zior langsung terdiam shock. Pun dengan Dewa sendiri.


" Dewa kau kah itu..."


Tapi Dewa yang terkejut berusaha membuat dirinya tenang. " Tolong bawa anak kecil itu dulu. Kita harus segera memulai evakuasi!" kata Dewa bersikap profesional meski sebenarnya ia sangat kaget.


Deby tertegun. Matanya panas. Antara percaya dan tak percaya.


" Nyonya, tolong segera berikan anak anda!" seru Zior mengingatkan begitu melihat Deby yang melamun.


" Ba- baik!" jawab Deby tergeragap.


Dewa terlihat tenang saat memindahkan anak-anak Deby ke perahu karet. Pria itu terlihat terus mengeraskan rahangnya dan sama sekali tak mau menatap Deby.


" Ron! Siapkan peralatan!" seru Dewa begitu Deby juga telah berpindah ke perahu karet.

__ADS_1


" Siapa kapten!"


Evakuasi akhirnya berhasil meski mereka tadi sempat menemui kesulitan beberapa kali. Dan saat Deby beserta dua anak kecil itu berhasil tiba lokasi aman, Dewa terlihat langsung pergi dengan wajah keruh.


" Kapten. Mana korban yang sudah di evakuasi?" tanya Diandra dengan wajah cemas.


" Mereka ada di belakang!" jawab Dewa ketus dengan wajah mengeruh. Membuat Diandra sontak mengerutkan keningnya.


" Kenapa lagi dia? Sepertinya sedang marah?"


Dewa sama sekali tak menduga jika satu diantara ratusan korban banjir itu merupakan mantan pacar yang dulu paling dalam kala menancapkan luka batin. Benar-benar membuat moodnya memburuk.


Beberapa anggota yang tahu jika wanita yang bersama dua anak kecil tadi ada seseorang dari masalalu Dewa terlihat diam dan tak berani menganggu sang kapten.


.


.


Di area pengungsian.


Malam harinya, saat sebagian besar korban banjir sedang beristirahat di tenda darurat , Dewa terlihat duduk terdiam diatas sebuah batu batu. Menatap hamparan lalu lalang orang di tenda pengungsian dengan tatapan kosong.


" Dewa!" panggil seseorang dari jarak yang lumayan dekat.


Dewa yang mendengar suara seseorang terlihat mengangkat mukanya. Namun sejurus kemudian, ia langsung pergi begitu tahu siapa orang yang telah memanggilnya.


" Tunggu!" teriak orang itu lagi dan membuat langkah Dewa terhenti.


Dewa memejamkan matanya. Rupanya Deby yang memanggilnya.


" Aku sedang sibuk. Kembalilah ke tenda pengungsian. Makanan sedang di bagikan!" kata Dewa ketus.


" Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Aku benar-benar tidak menyangka sekarang kau menjadi seperti ini!" kata Deby dengan mata berkaca-kaca dan terlihat jujur.


Tapi Dewa terlihat tersenyum sumbang. Sama sekali tak berminat membeli ucapan Deby. " Tentu kau tidak akan menyangka. Sangkaanmu hanya tepat untuk orang-orang kaya dan beruang!" sinis Dewa menatap Deby penuh kekecewaan.


" Dewa!" pekik Deby yang hatinya nyeri dengan sindiran Dewa.


Dewa nampak terdiam sembari menatap seraut wajah yang terlihat lelah itu dengan tatapan yang sukar di jelaskan.


" Terimakasih kau sudah menolongku! Kau masih peduli denganku!" kata Deby percaya diri.


" Kau tidak perlu berterima kasih. Karena meskipun seekor ternak yang terjebak dalam rumah itu, aku akan tetap menolongnya!"kata Dewa dan langsung enyah dari hadapan Deby.


Hati Deby sakit saat manakala mendengar kalimat menyakitkan yang di lontarkan Dewa barusan. Ia tahu, Dewa pasti masih sakit hati kepadanya. Jelas semua ini merupakan kesalahannya.


Namun tanpa keduanya ketahui, Diandra yang rupanya berada di sisi tenda pasien tertegun manakala mendengar dan melihat kejadian itu secara langsung.


" Siapa dia. Kenapa pembahasan mereka serius?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


*Author mengucapkan mohon maaf sebab up tidak rutin dikarenakan kesibukan di dunia nyata.


__ADS_2