
Dewa keheranan mengapa dokter Diandra bisa ada di tempat ini. Bukankah perempuan itu extend di Tidom? Astaga, gara-gara permasalahannya ia sampai lupa menanyakan hal ini kepada teman-temannya. Kepulangannya yang mendadak benar-benar membuat dirinya menjadi lupa segalanya.
Dewa bergegas ingin menemui Diandra sebab ingin tahu bagaimana kondisi terakhir Tidom setelah dia pergi. Tapi anehnya, begitu ia tiba di ruangan tempat dimana dokter Diandra telah duduk, ia malah tak memiliki nyali untuk sekedar menyapa.
Ia bingung dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba langsung pergi begitu melihat sosok dokter Diandra ada di sana. Dan sekarang, ia malah ingin kembali ke luar sebab mendadak takut memikirkan harus menjawab apa bila di tanyai perihal keberadaannya.
Tapi sepertinya, semua niatnya harus sirna detik itu juga tatkala sebuah suara terdengar begitu keras dan menarik setiap atensi
" Ah itu dia anakku, Dewa!"
Habislah dia!
Dan saat suara keras sang Ibu berhasil mengejutkannya, di waktu yang sama pula ia sempat menangkap kilatan mata yang membulat manakala melihatnya berdiri di sana.
Saat itu pulalah ia terpaksa tersenyum penuh kekikukan.
" Kapten!"
.
.
Dewa terpaksa tersenyum kaku sepanjang di perkenalkan oleh sang Ibu yang nampak begitu bangga terhadap dirinya. Diandra yang semula terkejut bukan main, kini bisa menguasai diri. Tentang bagaimana bisa pria itu berada disini padahal jelas-jelas seharusnya dia masih harus ada di Tidom.
" Oh, jadi dia anakmu yang perwira muda itu Ka. Astaga dia sungguh mirip dengan ayahnya!" puji seorang lain.
" Itu dia. Aku yang membawanya kemana-mana selama sembilan bulan, e tidak tahunya malah gak mirip aku sama sekali!" gerutu Ibu Dewa yang membuat teman-temannya seketika tergelak.
Selama para orang tua saling berbicara, Dewa sempat beberapa kali menatap ke arah Diandra yang terus menunduk dan kedapatan malu-malu. Sepertinya, kejadian di Tidom beberapa waktu lalu benar-benar sulit di netralisir begitu saja dari dalam perasaannya.
" Kita benar-benar sudah sangat lama tidak bertemu ya. Aku sampai tidak tahu kalau kau mengadopsi anak?" ucap Ibu Dewa menyentuh lengan Mama Erika saat mendengar siapa Josua.
Diandra yang mendengar hal itu langsung berdesir tak nyaman. Ia tiba-tiba larut dalam sepoi-sepoi suasana menebar buncah yang menyerang benak. Tentang siapa Joshua sebenarnya.
" Itu karena kalian yang terlalu lama berada di luar kota!" sahut mama Erika menimpali dengan begitu santai. Sangat berbeda dengan Diandra yang tangannya saja bahkan sudah terasa dingin.
" Jadi anakmu ini dokter di Medica Care Hospital?" tanya teman mama Erika yang lain. Membuat Ibu Dewa menatap kagum sosok cantik yang sedari tadi selalu tersenyum kala di tanya.
Mama Erika mengangguk, " Belum lama. Aku sangat bangga terhadapnya!" ia berbicara dengan air mata yang nyaris keluar. Entahlah, tiap membicarakan Diandra, hati wanita itu langsung trenyuh. " Cita-citanya sejak kecil akhirnya terwujud setelah perjuangan keras!"
__ADS_1
Teman-teman Mama Erika turut terharu. Mereka bukannya tidak tahu jika rumah tangga rekannya itu telah lama kandas karena orang ketiga. Dan membesarkan anak seorang diri bukanlah perkara gampang. Mungkin itulah yang membuat wanita paruh baya itu mengadopsi anak. Wanita itu pasti kesepian dirumah, apalagi Mama Erika tak memiliki minat untuk menikah lagi. Jadi lebih baik mencari kesibukan lain dengan merawat anak. Begitu pikir teman-teman Mama Erika.
Meskipun ada banyak pertanyaan di benak, tentang kenapa sang Kapten bisa ada di tempat ini, tapi Diandra memilih menundanya. Tentu saja ia tak memiliki nyali. Apalagi, setiap menatap bibir segar berwarna pink alami itu, ia menjadi malu sendiri. Teringat akan keimpulsifan yang justru membuatnya jatuh pada jurang malu.
Beberapa waktu kemudian, ia terpaksa pergi saat Josua menyeret tangannya menuju ke Playground yang ada di restoran tersebut.
" Ma, aku kesana dulu!" pamit Diandra yang tubuhnya sudah condong sebab di tarik oleh Joshua. Merasa lega sebab akhirnya bisa terbebas dari pengamatan tajam seorang Dewa.
" Hati-hati!" teriak Mama Erika.
Dan entah mendapatkan dorongan dari mana, saat melihat Diandra pergi, Dewa malah tertarik untuk mengikuti. " Bu, aku angkat telepon sebentar!" pamit Dewa yang lagi-lagi berbohong.
Ibu Dewa langsung mengangguk dan sejurus kemudian kembali ke pembicara seru bersama teman-teman sekolahnya dulu.
Dewa berjalan mengikuti Diandra ke arah Playground yang baru di huni oleh tiga orang anak.
"Jadi hari itu dokter memutuskan pulang?" ia tiba-tiba bersuara tepat saat Diandra membantu anak kecil itu melepaskan pengait sandal. Membuat Diandra terkejut setengah mati sampai Joshua nyaris terjatuh.
" Awas!" sahut Dewa yang juga kaget karena anak kecil yang bersama Diandra hampir saja menabrak penyekat.
Dewa membantu menahan tubuh keduanya. Dan sentuhan tak sengaja yang barusaja terjadi, berhasil mengalirkan arus listrik yang membuat keduanya salah tingkah.
Diandra sedikit grogi dan tak menyangka bila Dewa mengikutinya.
" Masuklah. Kakak akan menunggu di sini!" ucap Diandra setelah semua pengait sandal itu terlepas.
Joshua mengangguk dan langsung melesat menuju ke area permainan yang sudah pasti bakal menjadi surga untuknya.
" Adik?" tanya Dewa sembari memperhatikan Diandra yang meletakkan sandal milik Joshua ke rak khusus.
Diandra mengangguk lalu mendudukkan dirinya ke kursi yang sudah di siapkan oleh pemilik resto agar orangtua masih bisa mengawasi.
" Yang tadi itu Mama kamu?" kejar Dewa kali ini terlihat lebih proaktif ketimbang sebelum-sebelumnya.
Diandra kembali mengangguk. " Gak nyangka ya. Ternyata mereka dulu satu sekolahan. Ya, meski beda angkatan!"
Dewa mengangguk meski tidak di tatap oleh Diandra.
Tidak tahu kenapa, Diandra kini malah tak memiliki nyali untuk sekedar menatap mata Dewa. Ia kini telah belajar, bahwa melakukan sesuatu tanpa perhitungan itu malah membuat segala sesuatunya menjadi kacau.
__ADS_1
" Adik kamu, cuman satu itu?"
Diandra kembali mengangguk.
" Yang benar?"
"Benar lah. Kenapa, kaget ya karena jarak kami jauh?" sembur Diandra yang akhirnya terpancing untuk menoleh. Ya, semua pertanyaan yang menyangkut Joshua sangat sensitif baginya.
" Tidak juga!"
Dan karena Dewa terlihat biasa saja tanpa menunjukkan sikap risih ataupun membahas kejadian di Tidom, Diandra akhirnya memiliki penilaian jika Dewa merupakan orang yang benar-benar dewasa. Terbukti, ia tak membahas kejadian di tempat lain saat ia berada di tempat yang berbeda seperti saat ini.
" Biasanya orang yang ngelihatnya langsung kaget!" ucap Diandra tersenyum pahit namun tak di ketahui Dewa.
" Kalau adikku hidup, mungkin dia berusia seperti adikmu!" balas Dewa tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang menyakitkan batin.
Dan seraut getir yang tiba-tiba muncul, membuat Diandra langsung notice. Jelas telah terjadi sesuatu pada Dewa.
" Maaf!" ucap Diandra terlihat menyesal.
" Kenapa meminta maaf?"
" Membuatmu teringat kembali dengan..."
" Aku bukanlah orang yang mudah sedih!" ralatnya cepat saat melihat reaksi Diandra.
Lihatlah. Ia benar-benar sudah lihai dalam berbohong jika berurusan dengan Diandra. Astaga.
" Jadi, hari itu kau pulang?" tanya Dewa sengaja mengganti topik secara cepat.
Diandra lagi-lagi mengangguk untuk kesekian kali. " Kapten sendiri, kenapa memutuskan pulang? Aku pikir Kapten masih harus standby di sana!"
" Kita tidak sedang dalam area kerja. Berhenti memanggilku seperti itu!"
Tapi yang diminta berhenti malah tergelak. " Lalu aku harus memanggilmu apa?"
" Nama saja lah. Tidak enak saat di dengar yang lain!"
Tapi Diandra malah tersenyum-senyum sendiri. Kealpaan Dewa dalam membahas kejadian di Tidom menjadi titik terang hubungan mereka. Setidaknya, Diandra tahu sedewasa apa pemikiran Dewa saat ini.
__ADS_1
" Terimakasih kapten waktu itu sudah menolongku!"