Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 48. Deep Regret


__ADS_3

Rando melempar jasnya ke jok belakang dan menggulung kemeja putihnya sebatas siku. Ia lantas mengemudikan mobilnya tak tentu arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Terlihatlah sangat kacau.


Jika ditanyakan apakah ia menyesal? Tentu saja jawabannya adalah 'iya'. Masalahnya, saat terkena masalah dulu, ia tak cukup waras dan tak memiliki nyali lantaran usianya yang terbilang sangat muda.


Tak usah ditanya apa sebabnya, tentu saja karena dulu ia sangat takut terhadap Mamanya dan membuatnya tak memiliki jalan lain selain meminta Diandra untuk menggugurkan kehamilannya.


" Kau bodoh Ran, bodoh!" teriaknya memukul kemudi. Merutuki diri sendiri dengan rasa sesal yang memuncak. Emosinya benar- benar meledak. Tapi ia tak tahu di tujukan kepada siapa. Keadaannya benar- benar sangat kacau balau.


Pantas saja Diandra sangat benci terhadapnya. Tak menyangka jika perempuan itu malah rela berkorban demi anak kecil yang dulu tak ia kehendaki. Tapi masa dan waktu rupanya mampu mengubah segalanya.


Dan delapan tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang Diandra dalam membesarkan anak seorang diri. Apakah masih ada maaf baginya?


Ia yang masih memacu mobilnya tanpa tahu kemana arah tujuannya itu, mendadak teringat dengan wajah polos Joshua saat asyik menyedot sebuah minuman bersamanya.


" Maafkan aku nak!" jeritnya dari dalam batin yang pilu.


Malam harinya, Rando tampak datang ke sebuah bar milik kenalannya lalu memesan minuman dengan wajah lesu. Ia duduk dengan hati gelisah dan pikiran yang masih di jubeli berondongan penyesalan.


" Astaga, tuan Rando? Apa kabar?" sapa seseorang yang tampak senang dengan kedatangan Rando.


Tapi Rando yang sedang tidak mood untuk berbasa-basi terlihat berdecak kesal. Membuat pria gemuk itu seketika meneguk ludahnya sungkan.


" Baiklah tuan. Nikmati waktu anda!" ucap pria gemuk itu kikuk.


" Emmm, Bryan. Tolong layani beliau dengan baik!" sambung pria gemuk itu kepada pegawainya saat sadar jika pria berkemeja putih di hadapannya sedang tak mau di ganggu.


Bryan mengangguk. Terlihat lebih luwes melayani ketimbang si gemuk tadi.


" Tuan, kami ada layanan VIP room jika anda berkenan! Mari saya antar!"


Meski sempat mendecak, tapi Rando ternyata mau mengikuti pria dengan lengan penuh tatto itu. Ruangan dengan lampu redup khas hiburan malam itu terlihat luas dan bersih. Sangat melegakan.


" Silahkan tunggu sebentar. Saya akan segera kembali!"

__ADS_1


Rando tak menjawab dan memilih melempar tubuhnya di sofa pegas yang terasa nyaman.


Tak berselang lama, datang seorang pelayan wanita yang membawa nampan, gelas kosong, dan sebuah wine terbaik. Awalnya, Rando sedikit memicingkan mata sebab baru kali ini ia melihat pegawai wanita itu. Tapi sejurus kemudian, ia memasang wajah setakpeduli mungkin dan memilih menatap kembali meja kosong dan tak menggubris wanita yang sesungguhnya terkejut dengan kedatangannya.


" Silahkan tuan!"


Rando tak menjawab. Pria itu langsung meneguk habis minuman fermentasi anggur berwarna pekat itu dalam sekali tegukan. Ia meletakkan kembali gelas kosong dan meminta si pelayan menuangkan kembali. Ia benar-benar tak bisa berpikir saat ini.


" Lagi!"


Wanita itu mengangguk meski dengan raut takut cenderung khawatir. Rando lagi- lagi meminum dengan cara yang sama. Ia bahkan minum dengan sangat banyak. Seolah ingin melupakan apa yang sedang ia alami.


.


.


Diandra nekat mengemudi sendiri menuju kerumahnya sebab malam ini dia tak mendapatkan tiket kendaraan umum. Ya, selepas menunaikan dinasnya, ia melesat menuju kediamannya seorang diri. Ia harus segera menemui orangtuanya karena masalah ini sangat berat.


Ia berangkat saat matahari sedikit melorot ke sisi barat dan tiba saat hari telah gelap. Tak terbayangkan berapa kecepatan yang digunakan Diandra sewaktu berkendara.


Perempuan itu masuk dan langsung memeluk mamanya seraya menangis pilu. " Kenapa papa melakukan ini Ma?" ucapnya dengan suara dan tubuh yang bergetar.


Mama Erika yang air matanya telah kering, kini kembali basah sebab melihat sang anak yang terlihat hancur. " Istirahat lah dulu! Kita bahas ini nanti!" pintanya sembari mengusap punggung sang anak.


" Tidak ma. Kita harus segera membicarakan ini dan mencari cara. Sekarang mereka sudah tahu. Aku tidak mau mereka mengambil Joshua!"


Isak tangis tak lagi terbendung. Mama Erika tahu, cepat atau lambat hal ini pasti bakal terjadi. Hanya saja, dari sekian banyaknya kemungkinan serta peluang rahasia ini bocor, kenapa harus dari sang mantan suami sendiri yang melakukannya?


Joshua yang melihat mama dan kakaknya menangis langsung tertegun. Kenapa kak Diandra pulang tiba- tiba? Dan kenapa datang- datang langsung menangis? Apa ada masalah?


" Aku takut mereka akan mengatakan kepada Joshua soal ini Ma. Aku takut Joshua akan semakin benci kepadaku jika mengetahui bahwa aku adalah Ibunya!"


" Apa maksud kakak?" sahut Joshua yang telah mematung di sebelah jalan menuju dapur tanpa ada yang menyadari.

__ADS_1


Maka kedua perempuannya itu seketika mendelik dengan tubuh yang semakin bergetar.


.


.


Tengah malam, Dewa tak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Raganya sangat lelah, tapi pikirannya malah melayang-layang entah kemana. Kenyataannya, kebenaran yang ia ketahui ini sangat mengganggu, mengusik, dan membuatnya terjaga.


Pria itu memilih keluar dan menyalakan rokok padahal ia sudah lama tak menyentuh barang itu. Namun belum juga menghabiskan setengah batang, ia malah terbatuk-batuk sebab terlalu memaksa. Alhasil, ketiga penghuni lain bangunan itu turut terbangun.


" Sebenarnya apa yang membuatmu segelisah ini?" tanya Yean yang juga tak bisa tidur sedari tadi. Menatap muram sahabat paling datar yang sudah bisa di pastikan sedang tidak baik-baik saja.


Dewa menghela napas. Menyesali diri yang ceroboh sehingga mengganggu teman- temannya yang sedang beristirahat.


" De, kita bukan sehari dua hari berkawan. Kami tahu jika kau pasti ada masalah!" tegur Zilloey yang terlihat tak kalah prihatin.


Dewa yang seperti menemui jalan buntu mau tak mau akhirnya menceritakan sumber masalah yang berjubel di kepalanya. Tentang Diandra yang tak berbeda dengan Deby.


" Sungguh sulit di percaya!" gumam Rayyan yang sama sekali tak menduga bila dokter Diandra rupanya pernah secela itu.


Zilloey terlihat tercenung, sementara Yean tak mampu berkomentar apapun. Mereka semua shock dibuatnya.


Tapi saat mereka sibuk tertegun, lemari yang semula berdiri tegak tiba- tiba bergetar dan getarannya cukup kuat. Bahkan saking kuatnya, sebuah globe yang berada di atasnya menjadi terjatuh. Mereka semua berhamburan keluar.


Dan setibanya mereka di luar ruangan, mereka melihat semua perwira muda yang sudah beristri penghuni rumah dinas, keluar dengan wajah panik.


Gempa bumi.


Getaran yang lumayan besar baru berhenti selang beberapa menit. Sejurus kemudian, banyak sekali notifikasi dari berbagai portal media sosial yang menyatakan jika pusat gempa berada di pulau paling barat negara itu.


Tak berselang lama dari itu, sang komandan batalyon terlihat menghubungi pegasus team yang beranggotakan ke empat kapten terbaik dari kesatuannya itu dengan suara tegang.


" Go ahead komandan?" jawab Dewa yang lebih dulu di hubungan oleh sang komandan.

__ADS_1


" Gempa berkekuatan besar terjadi di Anka. Siapkan team, kita berangkat saat ini juga!"


__ADS_2