
Sudah sepekan lebih, Rando di sibukkan dengan kasus penangkapan Papanya. Dan semua ini benar-benar menguras energi serta pikirannya. Mamanya masuk rumahsakit karena tekanan darah yang tinggi. Ia bersama Viona akhirnya berbagi tugas.
Ia menghubungi Aldi dengan maksud meminta bantuan hukum tapi pria itu tak menyanggupi. Aldi mengatakan jika ia tak akan menang jika harus melawan kasus kenegaraan seperti ini. Apalagi, ada seseorang yang menyangkutkan pasal tabrak lari atas meninggalnya seorang anak bernama Sean beberapa tahun yang lalu. Membuatnya segala sesuatunya makin complicated.
Demian Ferdiand dipastikan akan terkena pasal berlapis. Alhasil, dari kesemua hal itu membuat pikirannya sangat semrawut. Tapi sebagai sulung dari seorang Ferdinand, ia tak akan menyerah. Ia terus berusaha mencari lawyer yang bisa meringankannya hukuman yang menjerat ayahnya.
Rando setiap selesai mengurusi kasus papanya selalu mampir ke sebuah bar yang beberapa waktu ini sering ia singgahi. Memang tak menyelesaikan masalah jika ia hanya duduk sembari menenggak minuman. Tapi ia kini merasa hanya minuman itulah yang bisa membuatnya sedikit rileks untuk beberapa saat.
Ia selalu minum bahkan sangat banyak. Meski ia minum dalam diam, tapi percayalah otaknya seakan-akan hendak meledak. Dan semua hal itu berhasil menarik atensi seorang pelayan bar yang beberapa waktu ini ketiban sial karena harus berjaga di VIP room.
" Anda sudah meminum terlalu banyak tuan!" ucap seorang perempuan yang secara kebetulan menjadi pelayan Rando setiap sif nya. Perempuan itu terlihat merebut sebotol minuman yang hendak Rando tuang kembali untuk kesekian kalinya.
Rando langsing menoleh.
" Apa yang kau lakukan, kemarikan minumanku! Siapa kau berani- beraninya memerintahku?" seru Rando terlihat tak suka.
Tapi tanpa Rando duga, wanita manis itu malah melontarkan kata-kata yang membuatnya sontak terhenyak. Cukup sudah, perempuan itu sudah tak tahan.
" Saya hanya pelayan!" sahutnya dengan mata yang mulai berkabut sebab di sentil perihal posisinya." Saya tahu anda bisa membeli semua minuman di sini. Tapi saya hanya tidak mau menjadi repot jika anda sewaktu-waktu mati di sini. Anda minum nyaris seperti ini selama beberapa waktu terakhir. Apa anda tahu, anda ini sangat merepotkan!"
Rando tersentak. Selama ini tak ada wanita yang tak terpikat dengannya. Tapi ada apa dengan wanita di depannya itu? Ia bahkan sudah di damprat secara terang-terangan.
Dan saat wanita di depannya mulai melangkah pergi dengan muka kesal, perutnya tiba-tiba bergejolak dan membuat tenggorokannya sepertinya hendak mengeluarkan sesuatu secara paksa.
" Huek!"
Maka si wanita kontan menghentikan langkahnya dan segera berbalik menemui Rando dengan wajah khawatir saat mendengar Rando mau muntah.
__ADS_1
" Huek!"
" Tuan!" pekik perempuan itu sembari berlari menyongsong Rando.
" Antarkan aku pulang!"
.
.
Gadis itu ternyata bernama Vida. Rando bisa membaca emblem nama saat gadis itu sedang cemas saat memijat tengkuknya. Pria itu meminta Vida untuk mengantarkannya pulang karena tak mungkin ia akan terus muntah-muntah di tempat macam itu.
Vida tak memiliki pilihan sebab ia memang ditugaskan untuk mengescort pria itu. Ia sudah menerima bayaran dan ia harus melakukan tugasnya.Tapi saat mereka telah berada di dalam mobil, pria itu malah tertidur.
Membuat Vida kesal.
Ia berniat menghubungkan bos-nya dan memberitahukan soal keadaan pria sialan di sampingnya. Tapi ia lupa jika bosnya malam ini sedang pergi indehoy bersama pacarnya. Sial!
Vida lama terdiam dan mencari solusi agar pria itu tak bersamanya. Tapi rasa takut jika terjadi sesuatu kepada pria itu membuatnya bergidik ngeri.
Karena buntu, Vida akhirnya terpaksa membawa Rando ke rumah kontraknya. Biar sudah. Daripada terjadi sesuatu yang tidak-tidak dan ia di pecat hanya gara-gara ini, Vida lebih memilih jalan sengsara dengan membawa pria itu masuk ke dalam kontrakannya.
Ia sedikit sempoyongan manakala membawa tubuh pria itu kedalam. Badannya bahkan basah oleh keringat sebab berat laki-laki itu menguras habis tenaganya
" Brengsek juga nih orang, berat banget!" tukasnya sembari mengatur napas yang tak beraturan.
Gadis itu menatap seraut tampan yang sepertinya begitu banyak beban.
__ADS_1
" Ah bodo amat. Ngapain mikirin orang. Nasibku aja begini. Mending aku mandi terus tidur!"
Vida hanya membantu melepaskan jas serta sepatu Rando. Setelah itu ia membiarkan Rando tertidur di sofa ruang tamunya. Vida selanjutnya masuk ke kamar mandi. Usai membersihkan tubuhnya, perempuan itu terlihat merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sembari meregangkan otot-otot yang kaku.
Namun berusaha tidur saat di rumahnya ada orang asing ternyata sulit ia lakukan. " CK. Kenapa aku jadi mikirin dia sih?"
Gadis itu tak tega dan akhirnya keluar. Ia mendecak saat menyelimuti tubuh Rando dengan selimutnya yang berwana pink. Ia mau tak mau harus merelakan selimutnya untuk digunakan pria pemabuk itu.
Keesokan paginya, aroma harum masakan memancing sepasang mata untuk terbuka. Dengan rasa kepala yang begitu berat, Rando perlahan-lahan membuka matanya.
" Dimana aku?" gumamannya seraya melempar pandangan ke dinding berwarna kuning, kemudian beberapa perabot murahan yang biasa ia lihat di pinggir pasar. Terlihat asing dan sama sekali tak familiar.
Rando berusaha mendudukkan tubuhnya meski kepalanya makin terasa pusing. Ia menengok dimana sepatu serta jasnya tergeletak rapih di atas sofa yang lain. Ia tertegun sejenak. Mencoba mengurai apa yang sebenarnya terjadi.
Sejurus kemudian, ia mengernyit demi mendapati selimut pink yang melingkupi tubuhnya. Apa-apaan ini?
Tapi sebelum ia berhasil mengungkap ia sedang berada di mana, seorang perempuan yang mengenakan kaos oblong, celana pendek serta rambut lurus yang diikat sembarang, datang membawa dua mangkuk bubur hangat dengan dua gelas susu.
" Sudah bangun kau rupanya!" kata si perempuan yang pagi ini tanpa riasan makeup.
Rando tercengang. Jadi ini rumah pelayan itu? Bukankah dia semalam...?
" Kenapa melihatku begitu? Kau sekarang ada di kontrakanku. Kau semalam mabuk dan aku tidak tahu dimana rumahmu. Jadi aku terpaksa membawamu kemari. Ingat ya, TERPAKSA! Kau mau protes?" terka Vida demi melihat kebisuan Rando yang mencurigakan.
Rando bahkan hanya bisa menelan ludah. Kenapa gadis itu jika dirumah bisa menjadi makin galak?
" Masih untung aku tidak meninggalkanmu semalam. Cuci muka sana! Kalau tidak ada kau, tak perlu susah-susah membuat sarapan begini aku!"
__ADS_1
Maka Rando seketika merasa seperti seorang pesakitan yang sedang di hakimi oleh seorang sipir wanita.