Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 22. Satu meja denganmu


__ADS_3

Diandra sedang memindahkan gunting saat Dewa terlihat mendekat melalui sisi kanan ranjang pasien. Di dalam tenda itu hanya ada mereka bertiga. Terasa begitu sunyi.


" Aku turut prihatin!" ucap Dewa kepada si korban dan seketika memecah keheningan.


" Aku beruntung karena dokter ini merawatku dengan sangat baik. Oh iya, kalian berdua ada dini sini. Apa kalian merupakan sepasang kekasih?" tanya si korban yang sedari tadi sangat penasaran. Ia berbaring dan tak bisa bergerak. Membuat Dewa membulatkan matanya karena kaget dengan pertanyaan tersebut.


Diandra yang tahu Dewa kaget seketika mengambil alih suasana. " Sebaiknya jangan terlalu banyak bicara dulu. Anda harus banyak beristirahat. Permisi, aku akan menyuntikkan obat dulu. Ini akan bereaksi sedikit sakit setelah melalui infusmu!"


Usai menjalankan tugasnya. Diandra memilih keluar untuk mengecek pasien lain dan berniat meninggalkan Dewa. Namun rupanya, Dewa juga turur keluar.


" Tunggu!" seru Dewa memanggil Diandra.


" Ya?"


" Apa sudah ada kabar soal kesiapan rumahsakit soal korban ini?"


" Rumahsakit selalu siap. Kami tinggal menunggu kabar dari anda Kapten!"


Dewa mengangguk paham.


" Jika dokter tidak keberatan, aku ingin mengundang dokter beserta team untuk makan bersama nanti malam. Ada sedikit teknis pekerjaan yang ingin kami sampaikan!"


Diandra tahu ini bukan undangan khusus, tapi mendengarnya saja ia sangat merasa senang. Apakah salah jika ia mulai kagum dengan lawan jenis seperti Dewa?


" Wah-wah, lihatlah Gabriel. Setelah satu pasangan kita ciduk tadi, sekarang kapten kita temukan berduaan di tempat ini!" seru seseorang yang membuat keduanya langsung toleh sana-sini.


Diandra langsung menahan tawa begitu mengetahui bila suara yang tiba-tiba datang menyindir itu ialah suara Oka. Berbeda dengan Diandra yang malah ingin tertawa, Dewa justru terlihat kesal sebab selalu saja dua manusia itu datang saat mereka sedang berbicara serius.


" Apa yang kalian bicarakan? Kembali bekerja!" ketus Dewa dengan wajah kesal.


Namun alih-alih segera enyah dan menyelamatkan diri, pria manis itu malah semakin gencar menyerang sang kapten. " Yang satu kaku dan selalu serius. Yang ini mudah marah sekali. Astaga!"


" Gabriel! Oka!"teriak Dewa mulai murka. Membuat Diandra semakin tak kuasa menahan tawa.


" Siap kapten!"


Mereka berdua cekikikan sambil kocar-kacir kabur. Kini Diandra tak lagi sungkan tergelak. Perutnya sampai terasa kaku dan sakit.


" Mereka sangat menghibur!" ucap Diandra di sela-sela tawanya.


Dan tidak tahu kenapa, saat Diandra masih tertawa memperhatikan duo ribet yang kocar-kacir, mata Dewa tak sengaja menatap seraut cantik yang makin cantik kala tersenyum lebar.

__ADS_1


Ya, Dewa terpana akan pemandangan alami di hadapannya. Sebuah tawa yang lepas, mampu menggetarkan hatinya.


Dan saat Diandra menyadari, keduanya malah saling bersipandang. Semakin lama membuat keduanya kembali terseret pada kecanggungan.


" Ehem! Aku...harus pergi dulu. Jangan lupa minta teammu untuk mengambil makan siang di dapur umum!" kata Dewa yang tiba-tiba tak berani menatap wajah Diandra.


Diandra mengangguk canggung saat Dewa salah tingkah. Ia benar-benar senang jika berdua dengan kapten Dewa. Ah siapapun tolong aku, hatiku tidak beres jika bersamanya!


Malam harinya, Diandra yang mengenakan pakaian casual terlihat datang bersama rekan-rekannya dengan kondisi rambut yang masih basah. Dan hal itu, berhasil menarik atensi Dewa yang duduk di meja depan.


" Rambut yang masih basah di malam hari bisa jadi pertanda ketidakadaan peralatan kecantikan yang memadai. Maklum, ini situasi darurat. Bukan begitu kapten?" seru Gabriel yang kepalanya tiba-tiba nongol dari belakang tubuh kekar Dewa.


" Bicara apa kau ini? Kembali ke tempatmu!" balas Dewa yang sebenarnya agak kaget akan kemunculan anak buahnya yang selalu saja tiba-tiba itu


" Tapi mandi di malam hari benar-benar sangat tidak di anjurkan untuk kesehatan. Bukan begitu kapten?"


Dewa menggeleng tak percaya. Darimana Oka bisa tahu jika dia memang memperhatikan Diandra yang rambutnya basah di malam itu.


" Hal ini sekaligus membuktikan jika dokter Diandra bekerja dengan sangat keras!"


" Oka!" teriak Dewa yang mulai jengah dengan bualan duo ribet


Iwan yang sedang sibuk menyiapkan pengeras suara otomatis, sampai menoleh kaget saat Dewa tiba-tiba berteriak. Tak haya itu, kumpulan para dokter juga sampai melihat ke arah Dewa yang berteriak dengan begitu kerasnya.


" Pergi kalian. Bikin malu saja!" kata Dewa dengan suara tertahan. Membuat Oka dan Gabriel terkikik-kikik puas.


Beberapa saat kemudian.


" Saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kerja keras semua team selama ini. Tapi sesuai arahan dari pusat, kita masih akan di standby kan di sini dan menunggu release cuaca terbaru. Apalagi, kita juga harus bersiap dengan penyakit bawaan pasca bencana yang sering terjadi. Dan malam ini, kita akan makan malam bersama agar keakraban bisa semakin terjalin demi misi kemanusiaan. Dan jangan khawatir, semua pengungsi juga sudah di siapkan makanannya. Kita patut berbangga kepada pemerintah kita!"


Acara yang semula resmi berganti dengan acara santai. Beberapa orang saling terlibat obrolan sambil menghadap ke arah piring. Diandra yang terlihat barusaja menelpon sang Mama kaget saat kapten Dewa tiba-tiba muncul di hadapannya.


" Kapten?" seru Diandra memegang dadanya kaget.


" Jangan membiasakan diri mandi malam!"


Diandra bahkan tak menyangka jika Dewa notice dengan dirinya malam ini.


" Kamar mandi darurat sangat terbatas. Saya memilih mandi paling akhir agar mereka bisa istirahat lebih dulu. Lagipula, hari ini banyak sekali pasien yang mulai mengeluh sakit perut! Jadi lebih baik saya mengecek mereka lebih dulu dan bergantian dengan yang lainnya!"


Dewa tertegun mendengar alasan Diandra. Sungguh ketua team yang patut di acungi jempol.

__ADS_1


" Duduklah, akan aku ambilkan makanan untukmu!" seru Dewa yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.


Diandra diam dan duduk di kursi panjang yang sedikit jauh dari kerumunan orang. Tak berselang lama, Dewa nampak datang membawa nampan berisi dua porsi makanan beserta minumnya.


" Aku tidak tahu apa kau suka atau tidak dengan menu yang aku pilihkan. Tapi team dapur umum sudah bekerja keras memasak ini untuk kita!" kata Dewa sesaat sebelum ia menyajikan makanan ke hadapan Diandra.


" Aku suka semua masakan. Mama mengajariku untuk tidak menyisakan satu butir nasi pun di piringku!" balas Diandra menyambut girang makanan yang diberikan oleh Dewa.


Dewa tiba-tiba tersenyum mendengar kalimat itu. Teringat akan nasihat orang tuanya kepadanya, yang juga mengatakan hal yang sama.


" Karena diluar sana banyak orang yang berhadapan dengan piring kosong!" ucap Dewa.


"Karena diluar sana banyak orang yang berhadapan dengan piring kosong!"ucap Diandra.


Lihatlah, mereka berdua spontan menjadi terdiam dengan posisi menahan tawa saat keduanya berkata dengan kalimat dan waktu yang sama. Pas sekali!


" Sepertinya orangtua kita memiliki pandangan hidup yang sama!" kat Dewa tersenyum.


Diandra mengangguk!" Tapi yang mengatakan hal itu sudah tidak ada lagi!" ucap Diandra sekonyong-konyong.


Dewa yang mendengar hal itu langsung menghentikan suapannya. " Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu teringat dengan mendiang..."


Diandra langsung mendongak " Ah tidak. Papaku u masih hidup. Hanya saja...mereka sudah berpisah sejak aku kecil. Dan, aku tidak tahu dia ada di mana sekarang!" jawab Diandra nyengir.


Dewa tak menyangka obrolan singkat malam ini malah mengalirkan satu pintu keterbukaan antara dirinya dengan Diandra. Dan tanpa terasa, Dewa semakin larut dalam obrolan.


" Kalau kapten, kapten pasti tumbuh di lingkungan yang kuat dan baik!" kata Diandra seraya mengunyah makanannya.


" Tidak juga!"


" Orang tua Kapten pasti sosok yang hebat!"


Dewa yang masih memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya hanya mengangguk mengiyakan.


" Ya, kau benar. Mereka sangat berarti buatku!"


" Kapten beruntung karena memiliki orangtua yang lengkap!"


Tapi ucapan Diandra malah membuatnya tersenyum kecut. Benarkah jika dia masih bisa dikatakan beruntung?


" Aku malah bersyukur jika ada yang mengatakan hidupku ini beruntung!" kata Dewa seraya meraih gelas minumannya.

__ADS_1


Diandra yang mendengar perubahan intonasi, bisa menangkap sorot mata penuh kesedihan di mata Dewa. Tunggu dulu, apakah ada hal lain yang tak Diandra ketahui selain persoalan di tinggalkan kekasih?


__ADS_2