Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 24. Terciduk Wina


__ADS_3

Di sisi lain, ketegangan tampak terasa manakala team Ibon yang di panggil seorang anak kecil yang wajahnya pucat, menemukan seorang wanita yang tertimbun reruntuhan. Dan ajaibnya wanita itu masih bernapas.


" Benar Pak tolong dia. Dia ibuku Pak!" seru anak kecil itu penuh harap. Sepertinya, anak itu memang sengaja mencari ibunya sendiri sebab yakin jika ibunya masih hidup.


Anak kecil yang diduga merupakan anak dari wanita itu, langsung kembali berlari ke tenda pengungsian dan memanggil dokter saat melihat separuh dari tubuh ibunya berhasil di tarik.


" Dokter! Apa ada dokter disini?" tanya anak itu di antara lalu lalang orang yang sama-sama sibuk. " Anda yang di sana, tolong ibu saya! Anda dokter kan?" teriak bocah itu kepada Anita yang masih sibuk bertelepon dengan wajah serius.


Anak kecil itu mau tidak mau akhirnya menunggu dengan gelisah, saat Anita mengangkat tangannya memberi tanda untuk menunggunya sebentar. Tapi waktu yang dibilang sebentar malah membuat si bocah semakin resah. Anak itu lantas mencari dokter lain namun semua orang sibuk. Anak itu kemudian kembali ke lokasi ibunya kini di baringkan dengan tubuh lemas dan kotor.


" Bagaimana?" tanya seorang tentara kepada tentara lain.


" Dokter Diandra sedang menuju kemari!"


Baguslah, anak itu akhirnya sedikit tenang. Setidaknya ia tak perlu lagi menunggu dokter yang sibuk bertelepon tadi.


" Ada apa ini?"


Tapi saat suara Anita mulai terdengar. Mata anak itu kian fokus kepada ibunya yang napasnya sudah mulai tak normal.


" Ibu?" panggil bocah itu seraya mendekatkan diri ke sisi ibunya yang sekarat.


Dan di detik itu juga, wanita itu rupanya menghembuskan napas terakhirnya dengan posisi tangan menggenggam erat tangan mungil si bocah.


" Ibu!!!!" jerit si bocah yang langsung membuat tubuh Anita bagai tersambar petir.


Suasana di sana seketika memilukan. Semua orang terpaku menatap tubuh lemah bocah laki-laki yang terus mengguncang tubuh kotor ibunya


Ya, Anita terlambat datang untuk menangani sehingga membuat orang itu kehilangan nyawanya.


" Ibu! Jangan pergi! Ibu, ayo bangun!" jerit anak itu semakin histeris. Tak peduli dengan tatapan penuh penyesalan dari seorang dokter di sampingnya yang tubuhnya serasa membeku.

__ADS_1


Diandra yang baru tiba usai mendengar kabar darurat ini, hanya mematung dan tak bisa menahan jejalan air mata yang melesak-lesak kala menyaksikan seorang anak yang usianya sama dengan Joshua tengah mengguncang mayat Ibunya.


Beberapa orang yang baru datang usai mendengar kabar ditemukannya seorang wanita dalam reruntuhan, turut mengusap punggung anak itu memberikan kekuatan namun anak itu semakin histeris.


Wanita itu memang hilang sejak longsor yang terjadi beberapa hari yang lalu. Di duga korban yang sedang berada di sebuah bangunan tempat beristirahat di kebun dekat dataran tinggi yang longsor menjadi korban yang tertimbun.


" Bibi, kau juga dokter kan? Tolong ibuku. Ibuku harus bangun! Tolong aku bibi! Perempuan ini tak mau segera datang saat aku memanggilnya tadi. Dia yang membunuh ibuku! Dia bukan seorang dokter! Kalau dia seorang dokter, dia pasti akan menolong ibuku! " jerit anak laki-laki itu dengan kebingungan yang membuat dada Diandra seperti terhujam.


Anita yang mendengar hal itu, kini merasa dadanya begitu sakit. Benarkah jika semua ini karenanya?


" Ibumu sudah tidak bisa di tolong nak!" ucap Diandra dengan mulut yang bergetar.


" Bohong! Aku melihatnya tadi, ibuku akan hidup. Ayo dokter, kau pasti bisa menyembuhkannya!" ratap anak itu yang semakin membuat semua orang merasa sedih.


Mengetahui jika masih ada korban lain yang belum di temukan, Ibon meminta anggota yang lain untuk segera memindahkan korban ke tempat yang sudah di sediakan untuk di data.


" Ibuku mau di bawa kemana paman? Ibu! Ibu!" teriak sang anak mengejar mayat ibunya.


Diandra berusaha mencegah anak itu untuk berlari mengejar ibunya yang akan di bawa ke tempat pengumpulan mayat. Dewa yang kebetulan melihat hal itu langsung berlari membantu Diandra.


Diandra mengangguk cepat. " Bantu aku membawanya ke tenda Kapten. Aku akan memberinya obat penenang. Kasihan dia!"


Dewa mengangguk mengerti. Dan dalam sekali angkatan, Dewa langsung membopong bocah laki-laki yang mengamuk itu, dan dibawanya berlari menuju ke tenda.


Sementara itu, Anita yang di persalahkan oleh si anak, tiba-tiba merasakan kekosongan di dalam hatinya. Kakinya mendadak lemas dan terlihat tak lagi mampu menopang bobotnya sendiri. Ia tiba-tiba ambruk dengan posisi menengadah.


" Maafkan aku!"


.


.

__ADS_1


Dewa akhirnya merasa lega manakala melihat anak itu berangsur-angsur memejamkan matanya usai di beri suntikan. Diandra yang kelelahan sehabis menenangkan anak itu juga turut duduk seraya mengatur napas.


" Minumlah!" kata Dewa yang berinisiatif membukakan sebotol air untuk Diandra.


Tanpa menunggu, Diandra langsung menerima air pemberian Dewa lalu meneguknya hingga setengah. " Terimakasih banyak Kapten. Aku benar-benar lelah!" kata Diandra dengan napas kembang-kempis seraya mengusap keringat yang membanjiri kening.


Dewa mengangguk. Tapi saat Diandra berniat meletakkan botol air yang semula dalam genggamannya ke atas meja, kakinya tiba-tiba tersangkut sebuah kabel dan membuat keseimbangannya goyah.


BRUK!


Maka jatuhlah Diandra tepat diatas tubuh Dewa yang semula ingin menopang Diandra dengan posisi saling berhadapan.


Deg


Di detik itu, posisi mereka benar-benar tak berjarak. Bahkan Diandra bisa menghirup aroma napas berbau mint dari bibir pria tampan di hadapannya. Jakun Dewa naik turun, sementara Diandra tak tahu harus berbuat apa.


" Dokter, ini daftar, Aaaaa!" pekik seseorang yang terkejut manakala melihat adegan private di hadapannya.


Maka kedua orang itu cepat-cepat berdiri saat suara jerit Wina tiba-tiba terdengar memekakkan telinga. Diandra salah tingkah, sementara Dewa mencoba biasa saja.


Wina menutup wajahnya. Ia malu bukan kepalang. Apakah dokter Diandra dan Kapten tampan itu sedang berciuman saat dia datang? Ah sial, kenapa jadi dia yang malu begini?


" Jika anak ini sadar tolong panggil aku. Aku akan mengecek mobil bantuan!" seru Dewa yang memilih pergi daripada luruh dalam rasa malu.


Diandra mengangguk. Sementara Wina yang masih menutup wajahnya hanya bisa nyengir canggung saat Dewa menyapanya.


Satu detik kemudian.


" Dokter, kalian sedang melakukan apa?Apa kalian sedang ber...."


" Itu tidak seperti yang kau lihat. Kakiku tersandung kabel dan saat kapten mau menolongku dia malah turut jatuh!"

__ADS_1


Tapi Wina malah tersenyum-senyum penuh arti saat Diandra tengah menjelaskan.


"Ehem. Begini saja, jika kita kembali ke Santara nanti, dokter bisa membelikanku tas Dior terbaru sebagai tutup mulut. Bagaimana, setuju?" kata Wina menatap Diandra penuh arti dengan alis yang naik turun menwarkan.


__ADS_2