Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 16. Dia ada disini


__ADS_3

Tidom merupakan wilayah yang berada di timur semenanjung Malia. Pulau paling Timur dimana sebagain besar penduduknya merupakan orang dengan ekonomi menengah.


Dewa beserta anggotanya berangkat menggunakan pesawat angkatan darat malam itu juga. Ya, usai mendapatkan perintah, Dewa bergegas memimpin apel persiapan tugas misi kemanusiaan.


"Misi kemanusiaan ini pasti sangat di tunggu oleh masyarakat. Laksanakan tugas ini dengan sepenuh jiwa raga sampai ekonomi di sana normal!" titah Dewa penuh kobaran semangat kepada jajaran anggotanya.


" Siapa laksanakan!" koor semua anggota penuh kesiapan.


Seperti biasa, ketika hendak berangkat melakukan misi, Dewa selalu membuka liontin kalung yang di dalamnya berisikan foto keluarganya. Ia mengusap lembut dengan luapan doa di dadanya. Berharap ia akan terus diberikannya keselamatannya oleh yang maha kuasa dalam menjalankan tugas.


Usai memastikan seluruh personil lengkap, ia mengambil tempat duduknya lalu siap terbang. Flying time di tempuh selama tiga jam dari pangkalan udara. Tak hanya ratusan personel, mereka juga membawa perlengkapan penting untuk kebencanaan serta penjernih air untuk minum.


Setibanya di lokasi, mereka terlihat sangat prihatin dengan keadaan yang ada. Genangannya air mencapai pinggang orang dewasa. Beberapa rumah hanyut terseret banjir, mereka belum bisa datang ke lokasi longsor saat itu juga sebab jembatan yang merupakan akses utama terputus total akibat tergerus arus banjir yang luar biasa besar. Listrik mati, dan keadaan begitu carut marut.


" Astaga kapten. Ini lebih parah dari yang aku kira!" kata seorang anggota yang matanya terlihat berkaca-kaca kala mengedarkan pandangan melihat kenyataan yang ada.


Dada Dewa juga merasakan keprihatinan yang sama. Meski berkali-kali terjun ke situasi darurat juga bencana, tapi melihat lautan air bah yang menggenang lebih dari satu desa itu membuat Dewa merasakan kesedihan. Anak kecil menangis, para wanita menjerit-jerit memanggilku nama keluarga mereka yang hilang, puluhan kepala keluarganya kehilangan tempat tinggal.


Membuat segumpal dorongan di dada kian melesak-lesak. Memaksa Dewa untuk segera bertindak.


" Perhatian! Siapkan team sekarang juga!"


" Siap!"


Kesemua anggota langsung sigap menyebar ke beberapa titik yang sudah di briefing kan sesuai tugas dan fungsi mereka. Terlihat bekerja kompak dan sistematis. Dewa sendiri terlihat langsung menuju ke sebuah lokasi paling parah, tempat dimana ratusan warga di duga terjebak diatas atap juga di dalam rumah.


" Selamat malam kapten!" sapa seseorang penuh rasa hormat saat menyongsong kedatangan Dewa.


Dewa menoleh manakala seseorang menyambutnya begitu ramah. Ia menatap sopan sembari terlihat menyambut uluran tangan pria berbaju oranye itu. Sepertinya dari unsur pemadam kebakaran lokal.


" Saya Zen, salah anggota satgas ( satuan tugas) di sini!" kata orang itu memperkenalkan diri. " Saya mendapat tugas dari komandan saya untuk menemui anda. Selamat bergabung kapten!"


" Terimakasih. Aku ingin melihat data terbaru soal jumlah korban! Apa kau sudah punya release terbarunya?"


.


.


Keesokan paginya, usai melaksanakan briefing bersama team gabungan, Dewa memimpin langsung proses giat evakuasi yang akan di lakukan hari ini. Mereka membagi kelompok menjadi dua team. Iwan ditugaskan bersama beberapa personel gabungan untuk menuju ke titik longsor. Sementara Dewa hari ini akan memimpin evakuasi di wilayah yang membutuhkan tindakan cepat.


Sejumlah peralatan penunjang termasuk kapal karet sudah di siagakan untuk menyisir dan mencari korban yang masih terjebak. Selain itu, pengerahan pasukan juga di fokuskan untuk perbaikan jembatan dan sarana transportasi agar bantuan bisa segera bisa disebarluaskan ke beberapa pos pengungsian.


" Iwan, bagaimana dengan tim medis?" tanya Dewa seraya memasang pelampung safety di badannya.

__ADS_1


" Dari medis angkatan darat sudah siaga di tenda kapten!" jawab Iwan.


" Semuanya, stay safety! Tolong jaga diri kalian selama evakuasi!" titah Dewa tegas.


" Siap kapten!"


Mereka semua bekerja keras tak kenal lelah hingga siang ini. Banyak sekali warga yg berhasil di temukan baik dalam kondisi selamat maupun meninggal. Cuaca yang masih mendung bahkan gerimis tak menyurutkan semangat mereka.


Dan di jam istirahat, Dewa yang kebetulan sedang berjalan sebab hendak menuju ke tenda Dorris, tak sengaja melihat mobil berlogo Medica Care Hospital. Membuat ia langsung menoleh kesana sini untuk melihat apakah rumah sakit terbesar di Santara itu juga akan ikut lagi dalam misi kemanusiaan kali ini?


" Pasti Kapten mencari dokter cantik itu ya?" sindir Zior kepada sang kapten. " Kudengar akan ada relawan. Tapi kita belum tahu mereka akan tiba kapan!"


Dewa terlihat acuh dan sama sekali tak berminat menyahuti omongan anggotanya. Tapi sebenarnya, tebakan anak buahnya itu benar.


" Sampai siang ini sudah ada 83 orang selamat yang berhasil kita evakuasi. Info dari Gabriel jumlah korban meninggal sampai per siang ini 27 orang!"


Dewa sangat prihatin. Bencana ini merupakan bencana paling besar yang terjadi di Tidom.


" Dugaan sementara, hal ini terjadi karena di sisi barat ada hutan yang gundul. Di sinyalir terjadi penebangan hutan liar!"


Dewa langsung mengeraskan rahangnya. Jadi semua ini tak lepas dari unsur perusahaan nakal?


" Kapten!"


" Kapten!"


" Ya?"


Orang itu terlihat menelan ludah sembari menghela napas. " Lapor Kapten. Mobil dokter relawan mogok di sebelah menara. Mereka datang dari Santara!"


Maka Dewa langsung bergegas begitu mendengar laporan itu. Bukan apa-apa. Kedatangan para tenaga medis itu sangat berguna bagi misi kemanusiaan seperti saat ini.


" Zior, siapkan kendaraan. Kita kesana!" kata Dewa seraya berjalan terburu-buru.


Di lain pihak, Diandra terlihat menepi bersama puluhan dokter dan perawat yang menjadi team relawan bencana manakala menunggu bala bantuan atas mobil mereka yang mogok.


" Nit apa pesanmu sudah di baca oleh saudaramu?" tanya Diandra khawatir.


Ya, Anita tadi mengatakan jika dia sedang berkirim pesan kepada sahabatnya yang juga sedang bertugas di sana. Tapi Anita tak menjawab. Dengan wajah kesal dia memilih pergi ke depan. Membuat beberapa orang menatap kasihan ke arah dokter Diandra.


" Tenang saja dokter. Pasti sebentar lagi kita akan mendapatkan pertolongan!" hibur Wina yang melihat kesedihan di wajah dokter Diandra.


Dan benar saja, beberapa waktu kemudian terlihat mobil bak terbuka dengan logo sebuah korps yang datang menuju ke arah gerombolan para dokter di sebelah seonggok mobil yang mogok.

__ADS_1


" Dokter. Sepertinya mereka datang menjemput kita!" teriak salah seorang perawat dengan wajah girang.


Semua seketika orang menoleh. Termasuk Diandra dan Anita.


" Wah bukankah dia adalah Kapten yang waktu lalu bersama kita. Astaga, dia sungguh keren!" puji seorang perawat lain yang terpesona dengan penampilan Dewa yang gagah.


Tanpa semua orang ketahui, Diandra rupanya memperhatikan sosok gagah berkacamata hitam itu dengan sedikit terpana. Betapa pria itu sangat keren kala berjalan tegap.


" Hay semua!" sapa Dewa.


" Hay Kapten!" balas semua orang dengan wajah tersipu. Terpesona akan kedatangan sang Kapten yang berwajah rupawan.


" Sebaiknya kalian semua naik ke mobil itu. Cukup untuk kalian semua. Aku akan kembali bersama teknisi nanti!"


Dan saat titah itu barusaja tersampaikan, puluhan orang itu langsung berlari berdesakan menuju mobil dan membuat Diandra akhirnya tak mendapatkan jatah duduk.


" Emm aku bisa menunggu angkutan selanjutnya!" kata Diandra mengalah.


Membuat Dewa menggaruk kepalanya sebab tak menyangka jika mobil sebesar itu ternyata masih tak muat untuk mengangkut rombongan tenaga medis.


" Bagiamana kapten?" tanya Zior demi melihat kondisi yang tak mereka prediksi itu.


" Kalian lanjut saja. Aku akan membawa dokter Diandra setelah ini!" jawab Dewa solutif.


" Hah, jadi kapten sudah kenal dokter ini? Pantas saja!" batin Zior menahan tawa.


" Baiklah. Itu mobil teknisinya juga sudah datang. Kapten saya pergi dulu!"


" Hemmm!"


Sepeninggal Zior yang tersenyum penuh arti, Dewa langsung berjongkok dan turut melihat kerusakan apa yang kini sedang diatasi oleh supir.


Diandra yang berdiri sendiri lebih memilih membuka ponselnya. Namun saat membuka, ternyata tak ada jaringan sama sekali. Ia pikir Dewa akan menyapanya. Ternyata laki-laki itu kembali ke mode cuek dan entah pergi kemana.


Menyebalkan!


Tapi sejurus kemudian, pria itu tiba-tiba datang dan menyodorkan sebuah benda." Pakailah. Untuk mengobati orang kau sendiri harus sehat!"


Diandra tertegun menatap sebuah jas hujan plastik yang diberikan oleh Dewa. Ia pikir Dewa pergi begitu saja. Tidak tahunya ternyata malah mengambilkan dirinya sebuah mantel.


" Terimakasih!" jawab Diandra.


" Mmmm, senang bisa satu misi kembali denganmu!" kata Dewa tersenyum tipis.

__ADS_1


Diandra tahu itu merupak kalimat lumrah yang di sampaikan oleh sesama orang yang pernah berada dalam satu tugas. Tapi tidak tahu kenapa, Diandra malah merasakan hal lain dalam dirinya. Ahay!


__ADS_2