
Rando memilih pergi menuju kamarnya daripada berdebat. Sungguh, ia hanya ingin diberikan kepercayaan untuk asmaranya. Tapi dalam waktu beberapa menit saja, Viona terlihat menyusul.
Suara pintu yang terbuka tak membuat Rando menoleh. Laki-laki masih bergeming menatap Kerlip lampu kota yang menyala. Ia tahu, hanya adiknya lah yang bakal melakukan hal itu.
" Apa kau ada masalah?" tanya Viona sembari mendudukkan bokongnya di atas sofa bed.
" Apa kau diminta Papa untuk datang kemari?" tanya sang kakak dengan posisi masih memunggungi Viona.
Viona menyilangkan kedua tangannya. Menatap punggung berbalut jas mahal dengan wajah menghela napas. " Ide Papa tidaklah buruk. Tapi semakin kemari kau juga semakin berbeda. Aku suka!"
Kini Rando akhirnya berbalik. Tak mengerti ke arah mana pembahasan adiknya itu. " Apa maksudmu?"
Viona menatap wajah tampan kakaknya lekat-lekat. " Menjadi keluarga Ferdinand memang tidaklah mudah. Itulah sebabnya mengapa sedari kecil Mama melarang kita dengan orang yang tidak selevel. Kau pasti tahu maksudku!"
Rando langsung tersenyum kecut. Posisinya sebagai anak orang kaya seringkali malah membuat dirinya tak menjadi diri sendiri.
" Jika kakak ada waktu kita bisa makan diluar sebagai orang biasa!"
...----------------...
Hari berganti.
Kata orang suci, rezeki yang didapatkan setiap manusia sebenarnya sangat cukup untuk hidup. Tapi, sebanyak apapun uang tidak akan pernah cukup jika digunakan untuk memenuhi gaya hidup.
Kata-kata semacam itulah yang sering di dengungkan oleh Ayah Dewa. Pria bersahaja yang memiliki sawah, kebun dan juga beberapa peternakan. Hidup berdampingan dengan alam dan disukai banyak orang yang bekerja dengannya. Membuat Dewa juga memilih sikap baik hati.
" Kenapa ayah mengerjakan semua ini sendiri?" keluh Dewa yang melihat sang Ayah masih mengurusi bibit-bibit hortikultura yang bakal di taman di kebun mereka.
" Memangnya mau melakukan apalagi? Makanya segeralah menikah agar aku punya cucu dan memiliki kesibukan lain!" Ayah Dewa tergelak manakala mengucapkan hal itu.
Tapi bukannya turut tertawa, Dewa malah nampak mendengus. Lagi-lagi itu saja yang di bahas oleh Ayahnya.
" Nak, aku tahu pekerjaanmu sebagai tentara tidak mungkin akan mudah di terima oleh wanita. Banyak ujian akan datang. Kau juga akan sering dikirim bertugas ke pelosok negeri. Tapi, kau juga jangan cuek-cuek. Buka hatimu lagi. Lihat ibumu! Apa kau pernah memikirkan jika semua kesedihannya kini bakal berlalu jika dia memiliki ganti yakni anak darimu?" tanya sang Ayah yang sorot matanya terlihat serius.
__ADS_1
Maka detik itu juga Dewa langsung tercenung.
Dan apa yang dikatakan oleh sang Ayah beberapa jam yang lalu terus terngiang-ngiang. Terbawa sampai dewa kini berada di pusat perbelanjaan bersama Ayah dan Ibunya di kota.
Ya, Dewa sengaja mengajak kedua orangtuanya jalan-jalan ke kota, makan dan berbelanja. Benar-benar ingin menikmati waktu bersama.
" Lihat Dewa, apa ini bagus untuk ibu?" tanya sang Ibu menunjukkan sebuah blouse berwarna soft blue.
Dewa tersenyum dan mengangguk. " Ibu akan cantik jika memakai itu!" balasnya jujur.
Ayah Dewa terlihat turut menengok. " Ibumu selalu memiliki pilihan yang bagus. Ayo kita coba dulu!"
" Kamu tunggu diluar. Mana bisa masuk berdua!" tukas Ibu Dewa tak setuju.
" Memangnya kenapa? Kita ini suami isteri. Ada-ada saja kau. Dewa tunggu kami diluar! Ayo cepat masuk!"
" Hey! Hey! Ini namanya pemaksaan!" balas ibu yang lambat laun suaranya kian lirih sebab telah di bawa sang ayah menuju ruang ganti.
Dewa terkikik-kikik demi melihat kedua orangtuanya yang bertingkah jenaka. Laki-laki itu mengacungkan jempol pertanda setuju.
Dewa yang melihat hal itu, langsung reflek maju dan berhasil menolong si gadis dengan menahan punggung perempuan itu menggunakan tangannya yang kokoh.
" Astaga!" pekik wanita itu terlihat sangat terkejut.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Dewa memastikan keadaan si gadis.
Namun alih-alih menjawab, gadis itu malah terlihat terpaku manakala menatap paras Dewa yang sangat tampan. Membuat Dewa berdehem sebab gadis itu lama sekali terdiam manakala terlolong.
" Ehem!"
Membuat gadis itu seketika tersadar. " Emmm sory- sory. Aku...tidak apa-apa. Makasih ya udah nolongin!" kata gadis itu tersipu-sipu. Namun Dewa hanya mengangguk dan langsung pergi. Sama sekali tak ingin berbasa-basi seperti pria kebanyakan yang memanfaatkan celah untuk berkenalan.
Viona nampak terpukau dengan wajah, serta aroma maskulin dari pria barusan yang menguar menjajah rongga hidungnya. Di saat yang bersamaan, ponselnya berdering dan menampilkan nama sang kakak pada layar ponsel.
__ADS_1
" Kau dimana? Aku sudah di resto..."
" Tunggu sebentar, aku akan segera kesana!"
Usai menutup telepon, Viona terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling namun tak menemui sosok yang tadi sempat menolongnya. Entah mengapa, ia berharap bisa bertemu lagi.
Namun sepertinya, pria tadi memang sudah menghilang entah kemana. Lagipula, ia hari ini sudah janjian bersama kakaknya. Membuat gadis itu akhirnya turun ke lantai dasar.
Setibanya dia di bawah, Rando terheran-heran manakala menatap wajah adiknya yang tampak tak biasa. Wajah Viona terlihat senyam-senyum sendiri dan terlihat cukup membuat Rando kesal.
" Kenapa kau, aneh begitu?" tanya Rando yang wajahnya sudah setengah mendengus.
Viona makin tersenyum-senyum. Mirip seperti orang yang sedang jatuh cinta. Oh ya ampun, kenapa harus bertemu di saat yang seperti ini sih?
" Aku barusaja bertemu dengan seseorang kak! Dia sangat tampan dan baik!" ucap Viona dengan wajah yang masih teringat dengan paras Dewa.
Rando makin mengerutkan kening. Apa adiknya itu kerasukan makhluk halus?
" So Handsome..." ucap Viona lagi dengan wajah terkagum-kagum.
Rando menggeleng tak percaya dan membiarkan adiknya menopang dagu dengan wajah terlena. Sedikit terlihat aneh namun Rando yang lapar memilih untuk memesan makanan.
Usai memesan makanan, Rando melanjutkan bertanya kepada adiknya yang mendadak aneh itu.
" Selevel dengan kita tidak?" tanya Rando melipat kedua tangannya ke arah Viona.
Maka muka Viona langsung cemberut. " Kenapa bahas itu? Aku kan hanya bilang kalau bertemu dengan pria tampan, itu saja!" jawab Viona memanyunkan bibir.
Membuat seringai tipis muncul di wajah sang kakak. " Kan kamu yang bilang. Menjadi keluarga Ferdinand itu tidaklah mudah. Itulah sebabnya mengapa sedari kecil Mama melarang kita dengan orang yang tidak selevel!" seru Rando sengaja menirukan ucapan adiknya kemarin.
Wajah Viona langsung kusut dan bibirnya makin manyun. " Ya..
aku juga tidak tahu kak. Kami hanya bertemu beberapa detik. Tapi dia keren tahu. Sayang banget aku tidak sempat berkenalan tadi!"
__ADS_1
Rando menyebikkan bibirnya demi mendengar jawaban sang adik. Sejurus kemudian Rando memilih diam dan tak lagi melanjutkan pertanyaannya karena dia yakin jika adiknya itu pasti sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pria antah berantah.