Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 28. Wanita luar biasa


__ADS_3

Jika Dewa sedang berperang dengan pikirannya malam ini seorang diri, Diandra malah tertegun menatap banyak sekali makanan dan beberapa personal effect berharga mahal yang diberikan oleh Rando khusus untuknya.


Namun bukannya senang, Diandra malah berniat membuang barang-barang itu dan membakarnya. Kebencian yang mendarah daging, tentu tak akan bisa sirna begitu saja. Ia bukanlah Diandra yang dulu. Yang belum mengerti apa itu rasa sakit.


" Dokter, mau dibawa kemana barang itu?"


Damned! Sial sekali malam ini. Dari sekian banyaknya peluang bertemu, kenapa Wina selalu muncul saat dia berada dalam situasi krusial seperti ini sih?


" Emm, aku mau ke tenda para perawat. Iya!" jawab Diandra terpaksa berbohong sebab telah terciduk. Mustahil ia mengetahui akan membuang barang itu. Bisa jadi pertanyaan nantinya.


"Ke tenda perawat, untuk apa?" tanya Wina semakin ingin tahu.


" Emmmm, untuk mengantar ini. Aku sudah mengambilnya beberapa tadi di dalam. Ini terlalu banyak. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian. Ini, untuk kalian saja. Tolong di bagi ya?"


Wina yang di sodori makanan dan barang-barang berharga mahal itu tentu saja langsung senang. Ia merasa sangat beruntung karena berada di dekat dokter Diandra.


" Ya ampun, apakah ini benar untukku dan anak-anak?" ulang Wina yang terlihat begitu sumringah.


Diandra langsung mengangguk, " Pastikan semua kebagian ya?"


" Ah dokter, anda sungguh baik sekali. Terimakasih banyak dokter!" teriak Wina bahagia sembari berlari menuju ke tendanya.


Diandra langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Wina pergi dengan sorak sorai penuh kebahagiaan. Kini ia benar-benar harus mencari cara agar pria brengsek itu berhenti mengganggunya. Jika ini terus terjadi, ia khawatir masalalunya akan terkuak.


Tapi jangankan menemukan ide, ia malah dibuat semakin takut begitu sebuah pesan dari nomor baru masuk ke ponselnya detik itu juga.


" Apa assitenku sudah bekerja dengan benar. Ku harap seleramu masih sama dengan yang dulu!"

__ADS_1


Diandra kontan mendelik manakala membaca pesan itu. Jelas itu adalah Rando. Ia hapal sekali dengan jenis huruf yang di pilih. Perempuan itu langsung mengumpat kesal. Ia benar-benar tak habis pikir, bagiamana bisa Rando mendapatkan nomor ponselnya?


Detik itu juga, Diandra langsung memblokirnya nomor Rando tanpa basa-basi. Bagi Diandra, tak ada lagi yang tersisa antara dirinya dengan Rando. Hanya kebencian dan rasa traumatis yang mendalam.


Sementara itu di lain pihak, Rando yang resah menunggu balasan malah terkejut saat melihat foto profil yang semula muncul kini hilang. Jelas menegaskan jika sang empunya nomor telah memblokirnya.


" Kenapa dia memblokirku?" gumam Rando emosi.


Sejurus kemudian ia menggulir ponselnya lalu mencari nomor Steve dan menghubunginya.


" Halo Pak?"


" Lusa tolong bawa aku ke pengungsian longsor. Adakan bakti sosial disana. Dan satu lagi, aku ingin bertemu dokter Diandra!"


...----------------...


" Bukalah mulutmu. Kau akan sakit nanti jika tak makan!" bujuk Diandra kepada Zas.


" Itu lebih baik dokter. Jika aku sakit, aku akan mati. Jika aku mati, aku akan bertemu dengan Ibu!" kata Zas dengan tatapan kosong.


Diandra menghela napas meletakkan semangkuk bubur hangat ke tanah. Ia tahu anak itu pasti sedang di rundung keputusasaan.


" Kau tahu, jika ibumu hidup, dia pasti akan sangat kecewa kepadamu saat ini!"


Mendengar kalimat yang seperti itu, Zas sontak menyuguhkan muka tak senang.


" Meskipun kami ini dokter, bukan berarti kami ini bisa mengambil keputusan pada setiap nyawa manusia. Kau tau Zas, ada banyak sekali orang yang meninggal karena bencana ini. Dan kau, kau adalah salah satu orang yang beruntung!"

__ADS_1


Zas tak menyetujui kalimat itu, jika ia beruntung, seharusnya ibunya hidup, bukannya mati.


" Kau adalah generasi di tanah Tidom ini. Jika kau terus seperti ini, maka jangan salahkan jika di tahun-tahun mendatang kejadian seperti ini akan terulang lagi!"


" Apa maksud dokter?" tanya Zas semakin kesal.


" Aku tahu kau anak yang luar biasa. Anak sekecil kamu, sudah bisa berpikir seperti orang dewasa. Zas, setidaknya kau harus bisa membuat ibumu tersenyum di atas sana. Kau harus bangkit, tunjukkan bahwa kau bisa membanggakan. Buat ibumu senang! Orang-orang seperti kaulah yang akan merubah tempat ini nanti menjadi lebih baik!"


Entah bagiamana ceritanya, tapi Zas yang baru saja mendengar ucapan Diandra tiba-tiba menunduk dengan tubuh yang bergetar, lalu Isak tangis terdengar sejurus kemudian.


" Zas, kau kenapa?" tanya Diandra yang Lang khawatir. Apakah kata-katanya salah?


" Kata-katamu mirip sekali dengan kata-kata yang sering di Sampai oleh ibukku, dokter. Beliau sangat ingin melihatku menjadi pemimpin di wilayah ini. Selama ini kami miskin dan sengsara. Pulau kamu kaya, tapi tak satupun dari kami yang bisa mencecap nikmatnya hasil bumi!"


Diandra tersenyum tipis. Sepertinya usahanya berhasil. Ia harus bisa membuat semangat hidup Zas kembali.


" Aku akan membantumu mendapatkan beasiswa. Kau akan terus bersekolah!" seru Diandra dengan mata berkaca-kaca.


Anita yang rupanya mendengar hal itu diluar hanya bisa mencengkeram erat ujung bajunya dengan dada sesak. Ia benar-benar tak berani untuk sekedar memintanya maaf kepada Zas saat Diandra malah dengan beraninya membangun kembali semang anak itu. Ia memang pecundang. Not more than a looser!


Ia sedih karena bocah itu terlalu benci kepadanya. Ia memilih pergi sebab tak tahan. Ia benar-benar merasa bersalah. Diandra yang melihat Anita pergi seraya mengusap wajahnya berkali-kali menjadi terdiam.


" Zas, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Diandra kepada Zas yang kini mulai memasukkan sesendok bubur hangat itu kedalaman mulutnya.


" Apa itu dokter?"


" Apa kau mau memaafkan dokter Anita?"

__ADS_1


__ADS_2