Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 75. Kedatangan Ayah Ibu


__ADS_3

Dewa sangat terkejut dengan penuturan sahabatnya. Diandra sedang dalam ketegangan dan dia malah tak bisa melakukan apa-apa. Tapi terlepas dari itu semua, ia merasa sangat senang sekaligus terharu sebab itu artinya Diandra benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Membuat rasa cintanya semakin bertalu-talu.


Beberapa jam kemudian, Dewa meminta kedua sahabatnya untuk pergi sebab ia tahu bila mereka berdua pasti juga sangat lelah. Lagipula, sebagai kapten, ia paham betul bila masih ada banyak persoalan yang menunggu untuk di selesaikan. Dan itu memang benar adanya.


Alhasil, Yean dan Rayyan akhirnya meninggalkan Dewa meski dengan sedikit keterpaksaan. Sementara itu, Zilloey yang sudah keluar dari ruang persidangan tak langsung menemui Dewa dan memilih untuk pergi memenuhi panggilan kesatuannya. Baiklah, jika memang ini adalah akhir dari segalanya, ia sudah sangat siap.


Namun setibanya ia diluar, tubuhnya yang tak siap menjadi terhuyung saat ia menerima pelukan yang mendadak dari seorang perempuan.


" Kapten Zi, akhirnya kau keluar juga. Bagiamana keadaanmu juga Diandra?" tanya si perempuan yang terdengar begitu khawatir.


Ia hanya mematung. Tak mengira jika ternyata dokter Anita menungggu nya diluar dengan wajah cemas.


" Apa kau sedari tadi menungguku?"


.


.


Sekitar pukul sebelas malam, saat Dewa sedang sendirian dan berniat meraih ponselnya, pikirannya tiba-tiba bercabang kepada kedua orangtuanya.


Entah akan seperti apa orangtuanya di timur saat ini. Sebab yang biasanya dapat menghubungi dirinya setiap waktu, kini dipastikan tak dapat dilakukan lagi karena ponselnya ia ganti kartu untuk sementara waktu.


Dewa memejamkan matanya menikmati suasana senyap. Raganya begitu lelah, tapi jiwanya seperti menemukan tempatnya.


Namun kesunyian yang ada malah membuat sejumput rasa penasaran akan keadaan Diandra juga Zilloey makin menguat. Ia bahkan kesulitan untuk memfokuskan pikiran kala matanya terpejam. Dan sedetik kemudian, ia reflek membuka mata seraya menoleh saat pintu berwarna pucat itu tiba-tiba terbuka.


CEKLEK

__ADS_1


Untuk beberapa saat, baik si pembuka pintu maupun pria berbalut perban yang posisinya sudah setengah duduk diatas ranjang rumah sakit itu saling bertukar pandang. Tatapan keduanya menyiratkan satu kelegaan yang membuncah. Detik berikutnya, perempuan itu tiba-tiba berlari dan langsung memeluk si pria sembari menangis tanpa suara.


Diandra merasa begitu lega setelah melihat Dewa baik-baik saja. Begitu pula Dewa, pria itu semakin senang sebab dokter itu tak lagi sungkan dalam menunjukkan sikap. Hah, meski perutnya masih terasa sakit dan nyeri, tapi percayalah bola saat ini ledakan kembang api sedang bertalu-talu di dalam dada Dewa.


" Aku senang kau kembali. Apa mereka tadi menyakitimu,hm?" tanya Dewa menahan jejalan air mata yang sudah hampir jatuh. Ia bahkan merasa senang begitu keharuman vanilla milik Diandra menguar mencumbu hidungnya.


Diandra tak menjawab. Ia hanya ingin lebih lama menghirup aroma tubuh Dewa yang khas. Diandra sangat merindukan pria itu. Padahal, hanya berkisar kurang dari 24 jam saja mereka berpisah.


" Kau pasti sangat ketakutan tadi, hm?" sambung Dewa masih tak jera mencecar pertanyaan kepada Diandra.


Dan setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Dewa malah semakin membuat Diandra menangis. "Dasar pria bodoh. Kenapa malah mencemaskan orang lain?"


" Kalau kau terus menangis, aku bisa bangun lalu membuat perhitungan dengan mereka!" ucap Dewa yang kali ini salah mengartikan tangisan yang rupanya berdua lebih lama dari biasanya.


Usai mendengar hal itu, barulah Diandra melonggar pelukannya lalu menatap si pria. " Terimakasih Kapten. Harusnya aku yang terluka. Tapi karena mu, aku...."


" Jika kamu yang terluka, justru mungkin saja saat itu aku yang balik meledakkan kepala Lyara, hm?"


" Aku mencintaimu Kapten!" ucap Diandra sesaat sebelum ia mengecup bibir Dewa yang tubuhnya tiba-tiba menegang.


...----------------...


Hari-hari selanjutnya, semua orang tampaknya harus menjalani serangkaian proses yang mau tak mau harus mereka hadapi karena buntut dari terungkapnya kasus besar yang melibatkan seorang Gustav.


Ada Yean yang terus menemani Maeda untuk bolak-balik ke Kementrian Hukum dan HAM. Sementara itu Zilloey yang kemarin sempat melakukan pengancaman silih berganti di panggil ke detasemen pusat angkatan Udara untuk disidang kode etik. Karena meskipun ia benar, prosedur tetaplah prosedur. Membuatnya berjanji jika ia naik jabatan, ia akan merubah sederet birokrasi tak berguna macam ini. Meskipun itu entah kapan.


Di sisi lain, Rayyan harus riwa-riwi ke markas panglima tentara sebab ialah yang menjadi kunci sabotase CCTV. Pria itu terlihat gencar membeberkan beberapa petinggi militer yang terlibat aksi tak terpuji itu. Dan beberapa rekaman yang berhasil di unduh, menjadi bukti konkret dokumentasi negara.

__ADS_1


Di hari ke tujuh ini, keluarga Dewa barulah mengetahui bila anaknya terlibat aksi menegangkan sampai harus di rawat. Mereka berdua akhirnya datang ke Santara dan menyusul Dewa tanpa sepengetahuan anaknya itu.


" Awas saja nanti kalau ketemu. Sudah ku bilang, dia ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa dia tak mengabari kita, hah?" omel sang Ibu setibanya mereka di rumahsakit yang membuat sang Suami menghela napas. Seharusnya ia berangkat sendiri tadi. Istrinya itu benar-benar masih seperti saat muda dulu. Gemar mengomel.


Namun begitu mereka membuka pintu ruangan yang di infokan salah seorang perawat, mereka malah kaget saat melihat seorang wanita cantik sedang membantu Dewa membereskan beberapa perlengkapan.


" Dewa!" pekik sang Ibu yang tak menyangka bila anaknya telah sehat dan nampak bersiap-siap untuk pulang.


" Ayah, ibu?" ucap Dewa terkejut. Membuat Diandra langsung memasang wajah tersenyum.


Ayah dan Ibu Dewa membalas senyuman manis Diandra, tapi sedetik kemudian terjadilah hal yang tak terduga.


" Berani kau terluka dan sakit tapi tidak memberitahu kami! Dasar anak nakal!" omel sang Ibu sembari menjewer telinga Dewa dan membuat Diandra terkikik-kikik.


" Ibu, infusku bahkan barusaja di lepas, tapi Ibu malah membuatku kesakitan lagi!" Dewa menggerutu dengan bibir cemberut.


" Diam kau. Untung Diandra mengabari ku, jika tidak..."


Dewa menoleh menatap ke arah Diandra. Apakah mereka sudah bersekongkol?


" Sory kapten. Aku hanya ingin membantumu sayang. Mereka berhak tahu kondisi anaknya!" kata Diandra tersenyum jahil menjawab kebingungan Dewa yang terbengong-bengong.


" Untung Diandra memberitahu kami. Jika tidak, dasar kau ya. Lihat saja setelah ini, ibu akan menghukum mu!" sembur Ibu makin kalap.


" Ampun Bu ini sakit. Astaga Ayah, katakan pada Ibu untuk berhenti menjewerku. Ada Diandra di sini!" rengek Dewa yang badannya sampai miring sebab daun telinganya molor akibat di tarik sang ibu.


Tapi alih-alih menolong, sang ayah bersama Diandra justru makin tergelak dengan rasa perut yang semakin sakit akibat kekocakan di hadapannya.

__ADS_1


" Ayah, Ibu... astaga!"


Oh gee, lihatlah dia. Pria sebadas Dewa ternyata bisa manja juga kalau bersama orangtuanya ya?


__ADS_2