Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 27. Mengusik pikiran


__ADS_3

Tapi Dewa rupanya merupakan seseorang yang memiliki karakter yang berbeda dengan Yean. Jika Yean merupakan pria dewasa dengan pribadi yang periang, maka Dewa lebih sedikit tertutup.


Ya, mereka semua memang merupakan empat sekawan yang saling melengkapi. Tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing.


" Bicara apa kau ini!" elak Dewa sembari melangkah pergi. Sama sekali tak ingin mengakui jika dirinya telah terciduk.


" Hey, dengar dulu. Kau terlihat sangat kesal tadi, apa kalian bertengkar?" kejar Yean belum puas.


Tapi bukannya menjawab, Dewa malah terus melanjutkan perjalanannya menuju ke tenda Dorris dan memilih mengganti topik pembicaraan.


" Apa yang membuatmu kemari?" tanya Dewa sejurus kemudian.


" Aku diminta untuk melakukan investigasi dan berjaga disini. Kau tahu, kami menemukan banyak sekali tumpukan kayu illegal tak jauh dari tenda pengungsian ini!"


Ya, Yean merupakan seorang polisi yang sangat mumpuni. Banyak sekali kasus yang ia bongkar mulai dari penyelundupan yang menyangkut warga sipil dan pejabat, hingga kasus pembunuhan kelas kakap.


" Apa kau bilang?" jawab Dewa tak percaya.


" Seperti yang pernah kita curigai dulu. Tempat ini merupakan sarang para penyamun!"


.


.


Diandra akhirnya memilih kembali ke tendanya terlebih dahulu. Ia benar-benar kesal sekaligus malu saat ini. Ia memutuskan kembali ke tendanya sebab ingin mencari Wina, dan bertanya apakah bocah itu sudah di temukan. Tapi saat ia masuk, ia malah terpaku pada sebuah box besar berwarna coklat.


" Apa ini?" gumamnya seraya melihat kotak besar dengan tatapan mengidentifikasi.


...For my sweet memories Diandra...

__ADS_1


Diandra yang semakin penasaran langsung membolak-balikkan kotak berwarna coklat itu. Dan saat sisi lain telah terbalik, maka jelas lah siapa pengirim barang tersebut.


...From your sweet memories, Rando Ferdinand....


" Dokter, anda..."


GRUBYAK!


Diandra yang sejatinya sedang shock dengan apa yang ia pegang, tanpa sengaja malah menjatuhkan barang tersebut manakala Wina tiba-tiba datang dan membuatnya semakin terkejut.


" Astaga, maafkan saya dokter. Apa barang ini rusak?" kata Wina dengan wajah muram, sebab tak enak hati karena telah mengagetkan Diandra.


Diandra menggeleng. Ia buru-buru meletakkan benda itu ke bawah lalu mengajak Wina ke dekat meja. Tapi belum juga sampai di dekat meja, Wina tiba-tiba menyergah.


" Tunggu dokter. Itu tadi kan kotak yang aku lihat di bawa sama Iwan! Dari tuan Rando kan?"


DEG!


" Cie, dokter keren deh. Circle hubungannya bukan kaleng-kaleng. Kalau aku sih langsung yes!" kata Wina yang salah mengartikan kediaman Diandra.


Diandra diam bukan karena tersanjung, tapi karena dia sedang bingung dan takut dengan hal ini. Bagiamana bisa Rando malah kembali mendekatinya.


" Oh iya dokter, aku kemari cuma mau mengatakan jika Zas sudah ditemukan. Dia mendatang dokter Anita dan marah-marah di sana. Anak itu menyalahkan dokter Anita atas kematian ibunya!"


" Apa!" ucap Diandra kaget. Jika begini terus, Anita pasti akan semakin tertekan. Diandra semakin tertegun di dibuatnya. Tapi saat ia mencoba mengalihkan pandangan, ia malah melihat Dewa berdiri di sana.


di dekat pintu masuk.


" Ah kapten. Anda juga kemari? Wah benar-benar dokter Diandra ini ya, tak menyisakan satu pun pria tampan buatku, hihihi!" tukas Wina yang juga menyadari keberadaan kapten Dewa.

__ADS_1


" Saya permisi dulu kalau begitu, saya cuman mau kasih info barusan! Permisi kapten!"


Dewa mengangguk membalas sapaan ruang Wina. Dan sepeninggal Wina, Dewa melihat ke arah kotak besar yang sekarang teronggok di bawah ranjang. Kotak yang di sebutkan berasal dari Rando. Ia tahu semua itu sebab suara Wina yang menggelegar tadi, bagai siaran radio ke seluruh penjuru bumi. Membuat siapapun yang kebetulan melintas di depan tenda pasti dapat mendengarnya dengan jelas.


" Wow sebuah hadiah!" ucap Dewa sengaja menyindir. Membuat Diandra langsung meladeni.


" Kenapa memangnya?"


" Tidak apa-apa. Tapi, sebaiknya berhati-hati lah saat menerima sesuatu dari orang sekelas Rando Ferdinand! Karena, yang namanya gratifikasi itu bisa di wujudkan dalam bentuk apapun! Termasuk hadiah!"


" Kenapa dia kenal dengan Rando? Halah, palingan dia mau balas dendam padaku karena aku mengganggunya berciuman tadi. Tidak akan aku biarkan!"


" Oh ya. Tapi, sepertinya tuan Rando Gunawan adalah orang yang manis! Mungkin karena dia ingin sedikit berbagi kebahagiaan dengan orang lain!" sindir Diandra demi membalas Dewa yang dikiranya tak serius.


Dewa terdiam sejenak. Entah mengapa hatinya kesal saat mendengar jawaban seperti itu. " Terserah. Aku datang kemari karena hanya ingin menyampaikan soal anak itu. Tapi sepertinya, assitenmu tadi sudah menginformasikan. Aku pergi!"


Diandra tak menjawab saat melihat raut muka keruh yang di suguhkan Dewa manakala berbalik pergi. Apakah dia terlalu banyak bicara barusan?


Malam menjelang. Di bawah gempuran lampu berwatt sedang, seorang pria duduk menyendiri menghadap tumpukan kertas yang musti ia tanda tangani. Ada berbagai laporan soal jumlah korban luka, korban meninggal, dan korban yang belum di temukan.


Tapi malam ini, entah mengapa ia begitu merasa kesal akan apa yang terjadi hari ini. Mulai dari datangnya Lyara yang tiba-tiba, kesalahpahaman dengan dokter Diandra, kaburnya bocah malang itu, hingga dia yang kepikiran dengan sebuah hadiah besar tadi.


Dewa tiba-tiba meremas secarik kertas dari dalam genggamannya. Ia benar-benar kesal tanpa alasan. Mungkinkah ia kesal sebab dokter Diandra rupanya di dekati oleh Rando?Apalagi, ia masih sangat ingat saat pria itu hendak menyogoknya untuk mencari sesuatu di bangunan yang sudah di pasangi garis polisi. Sungguh membuatnya begitu geram.


Oh ya. Tapi, sepertinya tuan Rando Gunawan adalah orang yang manis.


Perkataan yang di lontarkan dengan wajah mengejek itu semakin membuat isi kepalanya panas saja. Apakah perempuan selalu sama? Selalu silau dengan materi dan kemewahan.


" Kenapa aku harus terganggu. Bukankah semua wanita sama!" gumam Dewa bermonolog sembari tersenyum sumbang.

__ADS_1


Tak seharusnya semua itu mengganggu dirinya. Tapi kenyataannya, ia benar-benar tak bisa menepikan pikiran kesal itu dari dalam kepalanya. Ia sendiri tidak tahu dengan apa yang tejadi pada dirinya beberapa hari terakhir. Tapi senyuman manis yang selalu terpancar, kebaikan yang telah di tebarkan, nyatanya sedikit bisa membuat pria fakir asmara itu tersentuh.


__ADS_2