Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 70. Sang jenderal kebakaran jenggot


__ADS_3

Diandra gelisah. Nomor Dewa tak bisa ia hubungi padahal ia ingin meminta klarifikasi perihal foto yang Anita kirim kepadanya. Apakah pria itu bisa ia percayai? Apakah ucapannya bisa ia pegang? Sebab ia pernah kecewa saat melihat Dewa memperlakukan Lyara sangat manis.


Dan memenuhi janji untuk percaya, rupanya lebih sulit daripada saat mengucapkan. Ia sangat tak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa secuil rasa kesal sulit sekali ia usir saat melihat foto yang dikirim Anita.


Dan kedatangan seorang sahabat yang beberapa waktu kemudian membawa segumpal cerita makin membuat Diandra dirundung kegelisahan.


" Kenapa kamu tadi gak manggil dia pas ketemu?" keluh Diandra menyesali ketidaksigapan Anita.


Perempuan yang dicecar itu tampak tak kalah menyesal. " Aku sama keponakanku tadi. Ribet jadinya. Pas mau bantutin, mobilnya udah hilang duluan!"


" Lagian, dia nggak bilang apa kalau mau kemana?" tahta Anita semakin muram.


Diandra hanya menggeleng. Jangankan bertanya, dia saja tak tahu saat Dewa pergi. Keduanya hanya bisa saling termenung tanpa mendapat satu solusi. Tapi Anita tiba-tiba teringat dengan interaksinya bersama kapten angkatan udara itu beberapa jam yang lalu.


" Kapten Zilloey juga hanya berpesan untuk mendoakan dia sebelum nomernya tak aktif. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa semua orang jadi semisterius ini?" gumam Anita yang tak habis pikir dengan para tentara itu.


Membuat Diandra semakin dirundung rasa penasaran.


.


.


Maeda juga memberitahu Dewa jika beberapa anak buahnya ada yang di sekap di ruang bawah tanah. Detik itu juga Dewa memberitahu anak buah Yean yang ada di sana untuk menyisir tempat.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu. Rayyan datang bersama dengan beberapa orang dan mengamankan Mayor mereka yang sudah tak sadarkan diri. Kapten dari Matra angkatan Laut itu telah mengumpulkan beberapa orang dalam yang terlibat aksi pengkhianatan.


Di dalam mobil.


" Terimakasih!" ucap Maeda usai menerima air dari Dewa.


Tapi alih-alih menjawab, Dewa malah langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria dengan wajah bonyok di sana-sini itu bersyukur karena meski Dewa tak ramah, tapi pria itulah yang menyelamatkannya.


" Simpan saja terimakasihmu saat kita benar-benar menang nanti." ucapnya beberapa saat kemudian.


Maeda lagi-lagi tersenyum. Sama sekali tak terpengaruh dengan kalimat sengit yang terlontar. " Kenapa kau menyelamatkanku?"


Oh ya ampun. Bahkan Maeda ternyata lebih cerewet daripada yang Dewa sangka.


Maeda kini membuka sebungkus roti yang jug diberikan oleh Dewa. Ia merasa beruntung karena Tuhan mempertemukannya dengan dua manusia yang sangat kontradiktif itu.


" Jangan bilang kau memberiku makanan dan air lalu kau membuangku kembali ke negaraku!"


Dewa melirik kesal." Kau harus bersaksi di pengadilan tinggi!"


Maeda terkejut." Soal?"


" Transaksi persenjataan dan orang-orangku yang terlibat. Ini juga menjadi kesempatanmu agar kau bisa mendapatkan kemerdekaan!"

__ADS_1


Pria itu termenung. Jika ia melakukan ini, sama saja Dewa akan menghancurkan kesatuannya.


" Lalu, bagiamana dengan..."


Dewa tertunduk mendengar kalimat yang terjeda. Jika perubahan harus terjadi, maka terjadilah. Meski ia harus kehilangan pencapaiannya.


" Lakukan saja dan jangan banyak bicara!" sahut Dewa menahan air mata yang sudah mau keluar.


Detik itu juga, Maeda berjanji akan membalas budi baik yang dilakukan oleh Dewa. Ia berjanji untuk itu.


Sementara itu di lain pihak, jenderal Gustav terlihat berada di sebuah rumah kolonial dan bersiap menunggu laporan. Tapi hingga tiga jam berlalu, tak ada laporan yang datang kepadanya.


" Drake, siapkan mobil. Kita ke Retro hills sekarang juga!"


" Kenapa mereka lama sekali!" batin Gustav resah.


Seharusnya pria itu sudah mati agar ia bisa segera melapor kementrian pertahanan negara. Semakin banyak yang tidak tahu, aku sekali bagus. Orang seperti Maeda sangat berbahaya untuknya.


Sepanjang perjalanan tuan Gustav juga resah. Nomor anaknya tak bisa di hubungi. Ia juga berusaha mengakses CCTV melalui ponselnya namun tak bisa.


"CK! ada apa ini. Kenapa semua CCTV tidak bisa diakses?"


Gustav semakin bingung apalagi saat ia melihat Retro hills yang tanpa penjagaan. Jelas tejadi sesuatu di sana. Tanpa menunggu lagi, pria enam puluh tahun itu segera berlari menuju tempat Maeda dan terkejutlah ia sebab tempat itu telah kosong melompong.

__ADS_1


" Keparat! Siapa yang melakukan semua ini?"


__ADS_2