
"Mmmmm!" Yean menggoyangkan tubuhnya saat ia diseret sedikit menjauh dari kerumunan. Tenaga Dewa besar juga. Ia bahkan sampai tak dapat melawan.
" Lepaskan sialan! Kau mau membunuhku ya?" dengus Yean yang kesal setengah mati sebab ia di perlakukan seperti seorang *******.
Dewa membetulkan seragamnya usai melepaskan si mulut combe. Ia hanya memutar bola mata, tak memperdulikan kekesalan Yean yang telah berkumpul di ubun-ubun
"Maaf. Tapi, saat ini suaramu sudah seperti ancaman buatku!" kata Dewa sembari menyugar rambutnya tak perduli dengan ocehan sang kawan.
" Berarti benar dong tuduhanku!" Yean melirik sinis.
" Karena ketidakbenaran tuduhan mu itulah aku terpaksa menyeret mu!" balas Dewa lagi.
Kali ini Yean semakin mendengkus. " Kau pikir aku ini bocah. Jelas-jelas bibirmu berubah menjadi pink begitu!" gerutunya tak terima.
Tapi Dewa malah mengusap sisa noda pink itu menggunakan punggung tangannya yang berurat. Terlihat tak ingin membagi sedikitpun perasaan aneh yang kini mengganggunya. " Sekarang sudah tidak lagi kan?"
" Dasar si anjing!" maki Yean yang membuat Dewa spontan tergelak.
Jika Dewa masih bisa mengatasi kekepoan Yean dengan ketenangan, Diandra kini malah mengomeli dirinya sendiri saking malunya akibat kejadian diluar perencanaan tadi.
" Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku malah menciumnya tadi sih, haaaa!" rengeknya saat ia berada di tenda seorang diri. Menyesal sebab kini ia merasa tak enak hati cenderung tidak tenang.
__ADS_1
Kini ia benar-benar tak memiliki muka untuk sekedar bertemu. Apalagi, Dewa tadi juga tak menolak. Ah entahlah, ia ingin tenggelam saja ke dasar bumi saking malunya.
Tapi saat berkaca, ia tiba-tiba meraba bibirnya sendiri dan mendadak satu desiran hangat menjalari seluruh lubuk hatinya.
"Apa yang terjadi denganku?"
Tiga hari berlalu. Dan malam ini, semua satuan tugas beserta relawan sedang berkumpul untuk makan malam. Diandra yang sengaja selalu hadir paling akhir, nampak celingukan karena ingin bersembunyi dari pria itu.
Ya, sejak kejadian tempo hari, Diandra benar-benar malu dan sebisa mungkin menghindari Dewa. Rasa-rasanya, ia ingin tak bertemu pria itu lagi. Bukan karena apa-apa, ia hanya sadar diri sebab telah lancang melakukan hal tersebut. Tidak di marahi saja sudah untung.
Tapi seperti pepatah ; sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepintar-pintarnya Diandra bersembunyi, akhirnya ketahuan juga.
" Dokter!" seru Dewa yang malam ini sengaja datang di jam-jam akhir jadwal makan malam.
Dewa melipat kedua tangannya dengan alis mengerut. Memperhatikan gerik konyol yang cukup mencurigakan.
" Apa kau baik-baik saja? Tiga hari ini aku jarang melihatmu!" kata Dewa sembari menatap Diandra dari belakang.
Diandra langsung meneguk ludahnya. " Aku...sedang berganti tugas bersama dokter yang lain. Aku tiga hari ini diminta memeriksa orang-orang jompo. Karena... sebagian dokter sudah pulang dulu ke Santara!" kilahnya masih dengan posisi membelakangi Dewa dan suara yang mendadak gagap.
Tapi tanpa keduanya tahu, saat mereka sedang berbalas kata, ada orang misterius yang bersembunyi di antara riuh personel satuan tugas. Pria itu terlihat memotret kebersamaan keduanya lalu pergi diam-diam.
__ADS_1
...----------------...
BRAK!
Steve terkejut bukan main saat meja marmer di hadapannya di gebrak oleh Rando.
" Jadi mereka benar-benar dekat?" geram Rando begitu mendengar fakta mengenakan kedekatan dokter Diandra dan Kapten Dewa.
Steve berdiam di belakang Rando yang marah. Pria itu tak terlalu berani banyak berbicara jika Rando sedang dalam keadaan emosi.
" Orang yang ku suruh menjadi mata-mata mengatakan hal itu Pak. Sepertinya, mereka sering bertemu di beberapa kesempatan yang melibatkan penugasan dalam misi kemanusiaan!" terang Steve lugas.
Entah mengapa Rando sangat kesal. Ia tahu dulu hubungannya rusak karena Diandra hamil. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, ia bukanlah Rando yang mudah diatur. Ia kini bisa menentukan pilihannya sendiri. Dan ternyata, pesona seorang Diandra masih mampu membuat Rando jatuh cinta. Apalagi, wanita itu sudah menjadi seorang dokter. Sungguh sebuah keadaan yang pernah menjadi impian mereka di masa lampau.
" Ada satu berita lagi pak!" kata Steve ragu-ragu.
" Apa itu?"
" Kita juga belum bisa menggali bagian itu Pak. Kapten Dewa belum mengizinkan alat berat karena pengungsian masih berada di sana!"
Rando seketika geram. Jika sudah begini, itu artinya ia tak memiliki pilihan selain pulang. Ia harus bisa melobi orang-orang atas yang bisa diajak kerjasama. Pria itu terlihat memandang kembali foto kedekatan dokter Diandra dan Kapten Dewa malam ini.
__ADS_1
" Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Termasuk dirimu!" gumamnya dengan wajah penuh kemarahan.