Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 81. Penyempurna keluarga


__ADS_3

POV Joshua


Aku pernah melihat dan mendengar satu video di FYP media sosial mengenai asal muasal seorang manusia. Mereka ada karena dua unsur. Ayah dan Ibu. Tak dapat di pungkiri lagi.


Masih belum hilang dari ingatan saat aku duduk di bangku playgroup tingkat A dua tahun tahun tahun yang lalu. Aku kerap tak mengikuti beberapa ajang kompetisi bola untuk usia kanak-kanak yang diadakan karena ketidakhadiran sosok Ayah dalam hidupku.


Atau saat aku duduk di bangku playgroup B setahun yang lalu. Aku juga tak bisa mengikuti lomba menendang bola mini di momen spesial hari pendidikan, karena di wajibkan dilakukan bersama Ayah.


Dan dari kesemuanya itu, aku menjadi tahu sepenting apa sosok Ayah dalam hidup. Tapi bukan berarti aku tak pernah menanyakan siapa ayahku sebenarnya. Hanya saja jawaban dari Mama yang selalu terdengar blunder itu membuatku enggan bertanya lagi. Percuma.


Entah apa masalahnya, tapi yang jelas aku mulai lelah sendiri. Aku kerap di ejek teman-temanku. Tapi aku diam. Aku juga sering di singgung Danar soal ketidakmampuan ku dalam menunjukkan sosok ayah.


Mereka menganggap ku pecundang.


Apa salahku, kenapa ingin tahu siapa ayahku saja menjadi sesulit ini?


Aku semakin benci keadaan hidupku sebab terlalu sering mendapatkan jawaban yang tak semestinya. Aku menjadi sering kabur dari sekolah karena aku tak menemukan ketenangan di tempat itu.


Tapi rasa ingin tahuku perlahan-lahan terbayarkan saat aku tak sengaja mendengar Mama dan kakakku berbicara. Dan apa yang aku dengar saat itu seolah-olah membuat tubuhku ingin ambruk saja.


Kak Diandra sebenarnya adalah Ibu kandungku.


Apakah ini lelucon? Atau Tuhan memang sedang mengabulkan doa ku dan ingin membuat segala sesuatunya menjadi terang benderang lebih cepat?


Bisa jadi. Bisa saja.


Tapi ternyata menerima satu kenyataan tak semudah yang di ucapkan. Tidak tahu kenapa aku menjadi sangat marah karena aku merasa selama ini di tipu. Apakah karena aku hanya bocah? Lantas siapa Ayahku?

__ADS_1


Aku bahkan menjadi sangat murka dan enggan bersitatap dengan kak Diandra. Bahkan lidahku terasa kaku saat Mama memintaku memanggil kak Diandra dengan sebutan Ibu.


Hatiku semakin terasa sakit apalagi setelah tahu bila pria yang tak sengaja mengantarkan aku itulah Ayahku sebenarnya. Apa maksud dari semuanya ini?


Kenapa mereka begitu egois? Kenapa mereka tak memperdulikanku?


Aku hanya ingin satu keluarga yang utuh.


Aku marah. Sangat marah. Aku memanfaatkan kesempatan untuk kabur saat Mama sedang sibuk mencari porter untuk mengangkut barang orang yang seharusnya ku panggil Ibu.


Tak kusangka, aku malah bertemu kak Vida. Wanita baik yang ku kenal secara tak sengaja saat aku masih hobi kabur dari sekolah.


Namun yang lebih mengejutkan lagi, bukan hanya kak Vida yang ada memergokiku duduk menangis di bangku panjang. Melainkan ada Ayah di belakang kak Vida. Aku sebenernya terkejut, sangat terkejut. Tapi belum sempat aku meluapkan semuanya, suara mama lebih dulu membuatku kaget.


Aku marah karena lagi-lagi Mama terlihat murka jika bertemu Ayahku. Aku akhirnya memilih diam. Tapi sampai sore hari bahkan telah berganti malam, tubuhku rasanya tak enak sama sekali. Mulutku pahit dan tenggorokan ku sakit saat digunakan menelan ludah.


Aku sering begini. Jika memikirkan sesuatu yang berat, aku kerap mengalami demam. Tapi dari kepanikan yang kudengar, Mama berkata jika demamku mencapai 40 derajat. Bahkan aku merasa pandanganku mulai kabur.


Aku lemas dan hanya bisa menurut. Tapi aku masih pada pendirianku, enggan membuka mulutku pada Kak Diandra. Aku bahkan bingung harus memanggilnya apa. Kenapa dia sampai setega ini karena tak memberitahuku jika Ayahku sebentar masih hidup.


Tak berselang lama, semuanya terasa seperti mimpi. Aku malah melihat sosok Ayah masuk bersama kak Diandra dan pria yang belakangan ini kukenal dengan sebutan Paman Dewa. Pria itu tampan seperti Ayah. Tapi fisik pria itu jelas lebih kekar ketimbang Ayah. Tak di ragukan lagi, tentara memang harus memiliki fisik diatas rata-rata.


Semula aku dongkol. Apa harus menunggu aku sakit baru mereka mau hadir bersama. Ah, kupikir sekalian saja aku memanfaatkan momen ini untuk membuat keduanya bersama.


Tapi ternyata pengakuan Ayah membuatku tercekat. Bahkan seolah mencelikkan mataku akan fakta yang sebenarnya terjadi. Di usia yang terbilang sangat muda untuk menelaah hal serius. Aku di paksa untuk mengerti, tentang ketidakmungkinan yang sudah jelas terpampang.


" Nak, kamu sudah tahu apa telah terjadi antara Ayah dan Ibumu. Ayah sangat senang dan berterimakasih karena kamu masih sudi menyebut ku dengan sebutan Ayah. Ayah bahagia akan itu semua!"

__ADS_1


Mataku benar-benar memanas saat aku mendengar suara pilu Ayah. Apa dulu Ayah benar-benar tak menginginkanku?


" Ayah pantas mendapatkan ini semua. Ayah sangat menyesal, tapi semua ini tak bisa dirubah. Ayah adalah orang yang telah menyakiti hati ibumu!"


Aku reflek melepaskan genggaman. Aku kecewa pada mereka. Ini sudah jelas, aku tetap tak akan bisa memiliki keluarga yang utuh.


" Ayah akan menebus kesalahan sebisa dan semampu Ayah. Kita masih bisa menjadi keluarga meski Ayah dan Ibumu tak akan bisa bersama!"


" Kenapa?" Kenapa tidak bisa. Bahkan aku sudah begini sekalipun, kalian tidak bisa bersama?" tanyaku dengan dada sesak karena aku sangat kesal dengan semau ini.


" Joshua!" ucap kak Diandra kali ini terlihat tak setuju.


Aku melihat ayah memejamkan mata. Aku bisa melihat sehancur apa beliau saat ini. Tapi di detik itu, entah mengapa aku juga sangat ingin memeluk kak Diandra.


" Karena paman Dewa adalah orang yang lebih bisa membuat Ibumu bahagia."


Aku langsung menatap ke arah pria itu. Pria tampan yang pernah menemaniku bermain di Playground bersama kak Diandra. Tapi saat aku menatapnya, aku malah terpikat dengan sorot mata ramah yang di tunjukkan. Dari pancarannya, aku bisa melihat sinar perlindungan yang kuat.


" Nak, setelah ini kau tidak akan bersedih lagi. Kau bahkan akan punya dua Ayah. Kita bisa pergi jalan-jalan seperti teman-temanmu nanti, hm?" kata Ayahku.


" Apa Ibu mau memaafkan Ayah?" tanyaku langsung sebab selama ini aku tahu jika Ibu sangat membenci Ayah.


Ibu sempat menatap terkejut. Beliau meminyaki untuk mengulang pertanyaan karena mungkin ini suatu mukjizat untuknya.


" Apa ibu Mau memaafkan Ayah?"


Maka saat Ibu mengangguk dan memelukku setelahnya, aku merasa tubuhku seakan menjadi ringan. Apalagi, saat aku mendengar Ayahku berterimakasih kepada Paman Dewa.

__ADS_1


Mungkin aku tidak memiliki keluarga yang sempurna. Tapi aku akan menyempurnakan semua kerumitan ini, demi keluarga.


__ADS_2