Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 67. Pesan mengharukan


__ADS_3

Dewa mengerling genit saat perempuan di depannya tengah kaget-kagetnya. Pria itu serius dengan ucapannya. Tapi tentu saja ia tidak akan berbuat macam-macam.


" Aku akan menumpang tidur disini malam ini sebelum kita akan tidak bertemu sepekan kedepan!"


Diandra tertegun. Entah mengapa ia merasa sedih mendengar Dewa mengatakan itu. Semacam tak rela.


" Tenang saja. Aku tidak ngapa-ngapain ke kamu!" imbuh Dewa saat si Perempuan masih bergeming.


Lihatlah. Panggilannya bahkan sudah berubah dari kau menjadi kamu. Ihiir!


Sejurus kemudian, mereka memilih menonton serial anime yang tengah viral bersama-sama. Diandra tak tahu jika Dewa sangat menyukai anime. Dia pikir orang seperti Dewa akan lebih suka dengan tontonan berbau politik yang membosankan.


"Aku tidak menyangka kalau kapten suka dengan kartun seperti ini!" celetuk Diandra.


Dewa tersenyum mendengar komentar yang terlontar. " Ini bukan sekedar kartun. Kalau kita ikuti dengan sungguh-sungguh, ada banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran!"


" Really?" tanya Diandra tak percaya.


Dan saat Diandra menanyakan hal itu, episode yang terputar pas saat tokoh utama dalam cerita sedang berbincang serius dengan tokoh lain seputar perjalanan dalam arti konotasi.


" Nih salah satunya, coba kamu dengar!"ucap Dewa sembari membesarkan volume televisi.


"Shank pernah berkata kepadaku, jika jalan impian yang kita tempuh terlalu mudah, bisa jadi kita telah salah jalan."

__ADS_1


Begitu ucap kapten bajak laut tersebut, kepada seorang crew pria berani hijau yang tampak terpukau dengan pria bernama Shanks di televisi.


Diandra sontak tersenyum. Semua itu bahkan relate dengan hidupnya saat ini. Tak menyangka bila kata-kata mutiara sebagus itu ada didalam sebuah serial anime.


" Kata-katanya keren!" puji Diandra dengan tatapan trenyuh.


Dewa menatap perempuan yang kini mengisi hatinya itu dengan penuh kasih. Ia berharap diberikan kekuatan untuk melalui semuanya.


" Kemarilah!" pinta Dewa.


Diandra langsung mendekatkan diri pada pria yang kini merentangkan kedua tangannya. Ia lalu bersandar di dada bidang pria berkaos hitam sembari menikmati keharuman samar.


Dewa menghela napas. Sejenak ia memejamkan mata menikmati saat-saat indah bersama Diandra seperti saat ini. Perlahan ia yakin, bila alasan dia dan Deby dulu tak bersama, tak lain karena ia diberikan ganti yang lebih baik.


Dewa memeluk erat wanita itu seolah ingin melindungi dan membebaskannya dari gurun penderitaan. Ia bahagia bersama Diandra. Ia akui itu.


" Kita ada banyak PR." ucapnya begitu membuka mata.


Diandra mengangguk. Meski ia tak tahu betul PR apa yang di maksud. Tapi pasti yang dibicarakan ini adalah soal kasus Maeda.


"Pertama, aku harus menyelesaikan kasusku. Lalu kita bergeser kepada Joshua!"


Diandra yang diajak bicara sebenarnya merasa sangat takut. Bahkan takut sekali jika pria yang kini mendekapnya erat tak akan kembali.

__ADS_1


" Kenapa kau memilih pekerjaan beresiko seperti ini?" ucapnya murung demi memikirkan beber hal yang mungkin akan menghadang langkah mereka berdua.


Jika di tanya, Dewa sejujurnya tak memiliki jawaban pasti. Tapi ia berjanji akan memberikan jawabanku segera.


" Tidak usah di pikirkan. Tugasmu hanya percaya dan berjanjilah untuk menungguku, deal?"


Diandra mengangguk haru sembari menautkan jari kelingking ke kelingking Dewa yang sudah mengatung ke udara. Mereka berdua tersenyum.


" Ayo tidurlah. Ini sudah malam!"


Diandra menurut. Tapi tidur dengan keadaan seatap bersama pria yang dia cintai rupanya sulit dilakukan. Perempuan itu membuka pintu kamarnya untuk melihat Dewa. Tapi saat melihat seraut teduh yang memejamkan mata di sofa dengan posisi tangan terlipat ke atas perut membuat dirinya menjadi sedih.


" Kau pasti sangat lelah!" batin Diandra kala menatap sosok tampan yang sudah mengeluarkan napas teratur.


Diandra akhirnya kembali ke kamarnya lalu mencoba memejamkan mata. Dan dalam beberapa tarikan napas, ia berhasil lelap dalam mimpi.


Keesokan paginya, Diandra yang terbangun langsung teringat jika Dewa ada di apartemennya. Ia buru-buru melihat ponselnya dan jam sudah menunjukkan pukul delapan.


" CK, kenapa alarmku tidak berbunyi sih!" Diandra mendecak seraya menggerutu menyesali dirinya yang terlambat bangun.


Dengan grusa-grusu sebab kakinya yang masih nyeri, ia segera membuka pintu untuk menemui Dewa di luar. Namun setibanya ia di luar, matanya membulat demi melihat makanan yang sudah siap diatas meja makan, berikut secarik kertas berisikan pesan singkat.


Maaf karena tidak membangunkanmu. Aku harus segera pergi. Makanlah dulu, ku jamin rasanya enak. Aku memasaknya untukmu. Jaga dirimu baik-baik. Ingat, tetap percayalah padaku apapun yang akan terjadi. Miss you

__ADS_1


-Dewa-


__ADS_2