
Diandra berlari dengan rasa dada yang bercampur baur. Antara takut, kaget, juga jijik. Kecenderungan menghindar, bertarung habis-habisan dengan keberaniannya menatap wajah pria berjas barusan. Kesadaran dan rasionalitasnya juga berperang di bawah gempuran sebuah jerit dari wanita naas yang bertugas memasak untuk pengungsi tanah longsor.
Dan keadaan memprihatinkan sukses mengalihkan segala rasa takut yang baru saja menderanya.
" Astaga, bagaimana ini bisa terjadi? Ayo baringkan dia di tempat yang lapang!" seru Diandra mencoba menenangkan diri saat melihat separuh badan wanita itu telah melepuh akibat tumpahan minyak panas.
Di sisi lain, Rando yang sudah berada di dalam mobil meyakini betul bila wanita yang ia tabrak tadi merupak mantan kekasihnya. Ia bahkan langsung menjadi tidak tenang. Hatinya gelisah. Pikirannya juga menerka- nerka.
Bagaimana bisa Diandra menjadi seorang dokter. Apakah ia harus kembali dan memastikan sendiri? Tapi bukankah saat ini masih ada hal penting yang harus ia tuntaskan? Ah entahlah. Kekesalannya kepada Dewa tadi bahkan membuat seluruh pikirannya kacau balau.
Namun bingung punya bingung, mobil hitam mengkilat itu rupanya malah membawa dirinya menuju kantor besar dengan lambang pohon besar itu dengan cepat. Ia menganggukkan kepalanya begitu Steve membungkuk hormat untuk menunaikan tugasnya barusan. Mencari tahu dokter cantik tadi.
" Dimana sebenarnya kau selama ini? Kau benar-benar terlihat lebih cantik daripada saat bersekolah dulu. Kau juga sudah menjadi seorang dokter rupanya!" gumam Rando yang terlihat sedikit senang usai pertemuannya barusan.
...Flash back...
Di satu waktu kala jam istirahat, Rando dan Diandra terlihat asyik bercengkerama di kantin sembari melihat puluhan tenaga medis yang barusaja melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap semua murid di sekolah mereka.
Waktu itu, mereka masih menjadi pasangan yang membuat iri banyak pasang mata. Maklum, Rando adalah most Handsome boy dan Diandra adalah most beautiful girl di sekolah mereka.
" Aku benar-benar ingin menjadi salah satu dari mereka!" kata Diandra sembari menerima sepiring banana cheese yang menguarkan aroma gurih.
" Kau harus pintar jika mau jadi seperti mereka!" tukas Rando menoel hidung Diandra.
" Apa aku kurang pintar?"
" Kau terlalu cantik!"
Mereka berdua akhirnya tergelak bersama. Bermula dari obrolan penuh canda, dan berakhir dengan obrolan serius.
" Aku sudah membayangkan. Betapa indahnya jika kita menikah nanti, aku akan sibuk di kantor, dan kau akan sibuk di rumah sakit!"
Diandra tersipu-sipu mendengar kalimat mendayu penuh asa itu. Ah, sungguh ia tak ingin semua hal ini cepat-cepat berakhir.
" Tapi...."
" Tenang. I will always be by your side!" bisik Rando menatap lembut seraut wajah yang ragu akan kondisi ekonominya.
__ADS_1
Dan sejurus kemudian, wajah mereka terlihat berada di jarak paling dekat.
" Boleh aku mencium mu?"
...Flashback end...
...----------------...
Dewa cukup senang dengan improvisasi kerja yang dilakukan oleh Iwan. Ia juga merasa bangga dengan teamnya yang sudah bekerja keras siang dan malam dalam misi kemanusiaan kali ini. Mereka tak mau menunggu begitu saja agar bantuan bisa cepat segera di alirkan. Mereka bekerjasama dengan pihak-pihak terkait membangun jembatan darurat agar bisa mengevakuasi korban. Benar-benar solutif.
Namun lagi-lagi, malang tak dapat di tolak serta untung tidak dapat di raih. Salah satu relawan yang bertugas memasak untuk ribuan pengungsi malah di informasikan terkena minyak panas. Membuat hati Dewa merasakan kesedihan.
Di saat mereka semua berjuang dan bahu membahu menolong saudara yang sedang kesusahan, team mereka sendiri malah tertimpa kemalangan.
" Segera upayakan pengobatan. Kalau bisa kirim saja ke Santara. Kita bisa berikan bantuan transportasi!" kata Dewa usai memimpin rapat terbatas bersama para petinggi stakeholder terkait.
" Dokter Diandra tadi juga menyarankan begitu. Peralatan disini sangat tidak memadai. Lukanya lebih dari 60 persen!" timpal salah satu dokter relawan senior.
Sore harinya, Dewa terlihat menggunakan jam istirahatnya untuk menjenguk korban kecelakaan kerja itu bersama Iwan. Dan saat ia hendak masuk, rupanya dokter Diandra sudah ada di dalam bersama Weni sedang melakukan perawatan ulang kepada pasien.
" Ah Kapten, anda kemari?" sapa Weni begitu menyadari bila Dewa telah datang.
" Bagaimana keadaannya?" tanya Dewa yang prihatin saat melihat pasien yang nyaris sekujur tubuhnya terbalut kain perban.
" Pasien harus segera mendapatkan perawatan lanjutan! Tidak bisa terus menerus seperti ini!" jawab Diandra dengan wajah cemas. Membuat Dewa semakin yakin dengan perintahnya.
" Iwan, segera infokan ke pangkalan. Jika bisa malam ini, bawa pasien malam ini juga! Upayakan komunikasi dengan Santara!"
" Siap kapten!" jawab Iwan yang langsung bergegas keluar menunaikan perintah.
Wina yang melihat Iwan keluar tiba-tiba juga ikut keluar. " Dokter, aku akan mengambil obat dulu!"
Diandra mengangguk. Memilih kembali meneruskan perawatan kepada si pasien tersebut.
Di luar, Weni rupanya mengejar langkah panjang Iwan dengan sedikit berlari. Entah apa yang bakal di lakukan gadis periang itu.
" Tunggu!" teriak Weni kepada sosok tinggi yang berjalan setengah terburu-buru.
__ADS_1
" Hey, tunggu!"
Iwan yang mendengar seseorang berteriak langsung menghentikan langkahnya. Mungkinkah jika dirinya yang di panggil?
" Anda manggil saya?" tanya Iwan kepada Weni yang terengah-engah karena mengejarnya.
" Memangnya aku memanggil siapa lagi. Apa ada manusia lain selain kau?" omel Weni dengan wajah mendengus sebal.
Iwan menoleh sana sini dan memang hanya ada dirinya. " Ada apa?"
" Apa kapten Dewa sudah punya pacar?" tanya Weni tanpa tedeng aling-aling.
Iwan seketika terlolong bodoh. Pertanyaan macam apa ini? Jadi perempuan ini susah-susah mengejarnya hanya untuk bertanya hal konyol ini? sungguh terlalu.
" Anda sebaiknya jangan membuang-buang waktu untuk membahas hal diluar tugas!" jawab Iwan yang sedikit malas.
" Hey dengar dulu!" tukas Weni seraya menarik lengan berotot milik Iwan.
Iwan kini benar-benar dibuat repot oleh perawat cerewet satu itu. Salah-salah, ia bisa di gantung oleh sang kapten jika membahas hal pribadi macam ini.
" Nona, sebaiknya anda jangan membahas hal ini. Kapten tidak akan senang!" tolak Iwan mencoba memberi pengertian.
" Astaga, kau ini bahkan lebih kaku dari kapten. Ayolah, sedikit saja beritahu aku?"
" Nona sebaiknya jang...."
Namun belum juga Iwan menyelesaikan kalimatnya, punggung Weni tiba-tiba terasa dingin sebab sepertinya sesuatu sedang merambat ke kulitnya. Membuat gadis itu berteriak.
"Aaaaaa! Tolong aku ada yang masuk dibajuku tolong!!!" teriak Weni yang yakin jika ada mahkluk hidup yang kini merayap ke kulitnya.
Iwan yang bingung seketika mendelik seraya meneguk ludahnya manakala perawat cantik itu langsung menubruk tubuhnya dan memeluk sembari bergoyang ketakutan.
" Apa yang tejadi nona?" tanya Iwan panik bercampur bingung.
" Sudah aku katakan, ada sesuatu di punggungku. Cepat keluarkan! Kau ini tidak mengerti juga!! Haaaaaa!" omel Weni seraya merengek-rengek karena takut jika itu merupakan ulat bulu.
Dan sialnya, saat Iwan yang kaku dan selalu serius sedang kesulitan mengatasi keimpulsifan Weni, duo ribet tiba-tiba muncul dengan muka syok demi melihat pemandangan di depan sana.
__ADS_1
" Astaga, aku tidak mengira jika kak Iwan akan seberani ini bermesraan di depan umum!"