Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 63. Selama keyakinan masih ada


__ADS_3

Mereka tiba di bumi pengungsian saat hari hampir gelap. Selain medan yang sulit karena berada di hutan dalam, cidera yang dialami dokter Diandra membuat kapten Dewa tak mau memaksakan diri. Dan setibanya mereka di pengungsian, ternyata sudah banyak polisi militer yang berada di sana. Dewa paham situasi ini cepat lambat akan terjadi.


Kesemua orang senang saat melihat dokter Diandra telah kembali. Terlebih team dari Santara Medica Hospital. Meski sebagian besar pengungsi sudah tahu, tapi mereka dihimbau untuk tetap tenang. Terlebih, rombongan Maeda rupanya tak di bawa ke pengungsian, melainkan ke satu tempat lain.


Diandra yang akhirnya turun dari gendongan kapten Dewa dan di pindahkan ke tandu, hanya bisa memalingkan wajahnya. Bahkan ia sampai tak tahu bila di ujung sana ada gadis yang mengepalkan tangan demi melihat interaksi mereka berdua.


Ketiga kapten tampan langsung bergabung bersama para petinggi mereka begitu mereka tiba di lokasi. Sementara kapten Dewa meminta izin terlebih dahulu untuk memastikan Diandra.


" Kapten, anda mau kemana?" tanya dokter Anita yang kaget sebab kapten Dewa malah mengekor di belakangnya.


" Aku mau memastikan dia dulu!" jawab Dewa.


" Bukannya anda...."


" Aku akan bergabung setelah ini!"


Anita langsung mengangguk paham. Sejurus kemudian perempuan itu membiarkan pria berpostur tinggi itu berjalan di belakangnya.


" Aku ke sana sebentar memanggil Wina!"


Sang Kapten mengangguk. Sejurus kemudian ia memasuki tenda yang di dalamnya berisikan dokter Diandra seorang diri.


" Kapten?" dokter Diandra terkejut sebab tak menyangka jika pria itu membuntutinya.


" Aku akan membuatkan surat agar dokter bisa pulang lebih dulu!"


" Tidak perlu. Aku tidak apa- a..."


"Jangan kebiasaan membantah. Aku kapten disini. Istirahatlah dulu, aku harus menemui mereka!" sahut kapten Dewa yang membuat kalimatnya terjeda.


Diandra yang terlolong kaget sampai tak menjawab saat kapten Dewa berpamitan kepada.


Pria itu sungguh menyebalkan. Seenaknya saja memerintah. Namun saat pria itu telah sampai di mulut tenda, Diandra tiba-tiba memanggil nama pria itu meski dengan sedikit ragu-ragu.


" Kapten!" seru Diandra.


Pria itu menoleh. " Ya?"


" Bisa aku tahu pria bernama Maeda tadi di bawa kemana?" tanya Diandra sembari mengigit bibir bawahnya.


Dewa hampir saja senang saat Diandra memanggil namanya. Tapi pertanyaan yang di lontarkan berhasil memancing kecurigaan.


" Kenapa kau mencarinya?" tanya kapten Dewa dengan alis yang menyatu.


" Aku, aku hanya ingin tahu!" balas Diandra sekenanya. Membuat pria itu semakin curiga.


" Dia dibawa ke Mabes ( markas besar)" sahutnya dengan muka keruh.


" Hah, kenapa harus kesana?"


Dewa sendiri juga baru tahu jika kelompok itu telah menjadi tahanan kota. Ia pun turut sangsi. Apalagi, Zilloey mengatakan jika mereka sebenarnya bukan pemberontak.


" Kenapa dokter terlihat sangat mencemaskannya, hah?"


Maka Diandra kontan menelan ludah dengan gugup. Apakah sebaiknya ia cerita saja soal siapa Maeda sebenarnya?


" Apa aku boleh minta tolong?"


Kapten Dewa memicingkan matanya.

__ADS_1


" Ada apa?"


Dokter Diandra sempat menghela napas berulang kali sebelum memberanikan diri untuk bercerita.


" Mereka adalah pencari suaka yang kabur ke wilayahnya kita. Mereka seharusnya di lindungi dan jangan sampai jatuh ke tangan yang salah!"


" Apa?" Kapten Dewa terkejut bukan main. " Kenapa anda baru mengatakan hal ini dokter?"


Dokter Diandra yang mendengar Kapten Dewa berteriak ke kearahnya kembali merasa kesal.


" Kenapa jadi marah-marah ke saya? Kan kapten yang selalu pakai kekerasan duluan!" sahutnya mendengus kesal. Tak terima jika di dipersalahkan.


Kapten Dewa langsung memijat kepalanya yang serasa mau pecah. Sungguh ia tak bermaksud ingin memarahi dokter Diandra.


"Istirahatlah, aku akan menemuiku nanti!" pungkasnya tak mau larut dalam emosi. Jika Maeda sampai jatuh ke tangan yang salah, maka mereka pasti akan di eksekusi mati atas tuduhan pengkhianatan negara.


Kapten Dewa terlihat langsung menuju ke tenda utama dimana disana telah banyak petinggi militer yang datang karena kejadian ini. Namun saat melintasi penjagaan utama, ia sempat melihat Lyara yang menatapnya penuh kemarahan.


Tapi Dewa memilih abai dan langsung masuk. Disana sudah ada Yean yang duduk bersama Zilloey dan Rayyan, sedangkan Dewa yang menyusul juga langsung mengambil tempatnya.


" Aku tahu kalian pasti sangat lelah. Tapi hal ini harus segera kita bicarakan!" ucap salah seorang pria berseragam dengan deretan lencana yang begitu banyak.


" Sebagai lembaga perlindungan negara tertinggi, aku sangat bangga pada kalian yang telah berhasil meringkus pemberontakan. Ini adalah satu pencapaiannya besar yang tidak terduga. Mereka yang kalian tangkap akan di serahkan kepada kementrian dalam negeri untuk di proses!" imbuhnya dengan tatapan memindai satu persatu anggotanya penuh kebanggaan.


Dewa langsung mendongak kaget. Ia sangat tidak setuju. Seharusnya Yean yang mengambil alih urusan ini.


" Mohon izin menyampaikan keberatan Pak!" ucap Dewa mengajukan banding.


Membuat pria berlencana itu menoleh. " Ya?"


" Bukankah kasus ini seharusnya melalui proses di kepolisian dulu Pak? Lagipula, kita sepertinya mereka bukan dari kelompok Talani!"


" Ah Dewa. Kau selalu sangat peduli. Untuk hal ini kalian tak perlu lagi kuatir. Kalian bisa beristirahat setelah ini! Ini sudah menjadi urusanku nanti!" pungkasnya yang membuat mereka tak bisa berbuat banyak.


Rapat akhirnya berakhir dengan keputusan sama. Tak menduga jika petinggi mereka malah membuat keputusan yang tak seharusnya. Usai rapat di tutup, Lyara yang rupanya sedari tadi menunggu Dewa keluar langsung menarik tangan pria itu dengan kerasnya.


" Jadi kau pergi karena mencarinya, iya?" tuding Lyara dengan wajah berapi-api.


Dan demi seluruh alam semesta , kapten Dewa benar-benar tidak mengharapkan hal ini.


" Lyara aku sedang tidak ingin berdebat!" jawabnya dengan muka lelah.


" Oh, jadi ini maksud kamu ke aku bilang nunggu sebentar, iya? Terus setelah aku lihat kamu gendong dia tadi, kamu cuma bilang begini? Kenapa bukan Rayyan aja sih? Atau Zi juga bisa kan, kenapa musti kamu?"


Sungguh demi apapun, Dewa benar-benar sangat tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk Lyara untuk saat ini. Pikirannya sangat tidak pas, dan Lyara semakin menambah kerumitannya.


" Aku minta maaf. Aku akan ganti baju dulu, setelah itu kita bicara!" elaknya yang tak bisa lagi mencari alasan.


Dewa terpaksa mengalah sebab sekarang bukan saatnya untuk melawan gadis itu.


Lyara luluh dan mengangguk. Gadis itu terlihat kasihan menatap wajah kotor Dewa yang pasti lelah.


Namun saat membasahi tubuhnya mandi, pikiran Dewa lagi-lagi kembali kepada perkataan Diandra yang menyebutkan bila Maesa ada seorang pencari suaka.


Usai mengganti pakaiannya dengan kaos kesatuan, kapten Dewa datang bersama Rayyan ke tenda dokter Diandra dimana perempuan itu telah berganti pakaian dan kakinya sudah di balut kain khusus. Dewa terpesona.


" Ehem!" kapten Rayyan berdehem dan membuat Wina yang sedang melakukan control terhadap dokter Diandra menoleh.


" Emmm, kalau begitu saya tinggal dokter!" ucap Wina yang tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Dokter Diandra tak menjawab dan memilih meraih botol di dekatnya saat Wina dan Dewa saling menyapa. Rayyan pergi sementara Dewa terlihat masuk seorang diri.


Pria itu terlihat menatap dokter Diandra sangat lama. Bahkan sampai perempuan itu selesai menutup kembali botolnya, Dewa masih menatap wajah ayu itu tak lekang.


" Kenapa menatapku begitu?" tanyanya dengan muka sengit.


Kapten Dewa menghela napas. Ia lalu duduk di tepi ranjang sembari menyatukan tangannya. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa sangat semenyesal ini kepada dokter Diandra.


" Maaf untuk yang tadi!" ucapnya lirih dan terlihat penuh sesal.


Dokter Diandra hanya mecebikkan mulutnya. Bisa minta maaf juga dia.


Tapi saat melirik wajah tampan yang rambut basahnya tersurai segar itu, ia sempat menangkap kilatan keresahan di mata kapten Dewa.


Dia kenapa?


" Bagiamana keadaanmu sekarang?" tanya kapten Dewa sejurus kemudian.


" Aku?" tunjuk dokter Diandra pada dirinya sendiri.


Si kapten kulkas mengangguk.


" Kau bisa lihat sendiri kan?" sahutnya kesal. Sungguh, ia benar-benar masih sangat kecewa terhadap Dewa.


Suasana selanjutnya hening. Dewa merasa begitu kerdil lantaran kemampuan berbicara yang di punya lebih mirip seperti interogasi.


Tapi beberapa menit kemudian, apa yang ada di pikiran Dewa justru ia kemukakan.


" Pria itu sekarang dalam masalah!" ucap Dewa lesu.


Membuat Diandra menoleh. " Siapa, Maeda?"


Maka air muka Dewa langsung berubah."Cih, bahkan aku sangat kesal setiap dia menyebut namanya."


Pria itu memutar tubuhnya lalu menatap Diandra dengan serius." Jika saja dokter mengatakan sejak awal siapa pria itu sebenarnya, mungkin dia sekarang bisa selamat!"


" Apa maksud kapten?" tanya Diandra tak paham.


Dewa lagi-lagi menghela napas.


" Hukuman mati menantinya!"


DEG


Entah mengapa dada dokter Diandra menjadi begitu nyeri. Pria nestapa itu sesungguhnya sangat baik. Dia bahkan pernah menyelamatkannya. Tapi kenapa bisa sweat itu hukumannya?


Mereka berdua menjadi tertegun. Diandra memikirkan nasib Maeda, sementara Dewa memikirkan siapa dalang di balik kebijkan yang keliru ini. Ia merasa, di tubuh kesatuannya terdapat parasit yang merongrong bagai serigala berbulu domba.


" Kapten. Bisakah anda menolongnya? Maeda orang yang baik. Dia yang menolongku saat aku hendak di perkosa oleh kelompok bersenjata itu. Kumohon kapten!"


Diandra berulang kali mengguncang lengan kekar Dewa meminta tolong. Ia bahkan mengabaikan kekesalan dalam hati, sebab terlalu khawatir dengan nasih pria antah berantah itu.


Dewa yang melihat mata Diandra berkaca-kaca, mendadak merasakan kesesakan yang menghujam relung hatinya. Jadi Diandra pernah mau di perkosa? Sunggal ia sangat marah mendengar hal ini.


" Kau terlihat sangat mengenalnya!"


Diandra dengan terisak-isak akhirnya menceritakan semua yang dia alami. Semua tanpa terkecuali. Bahkan mulai sikap baik saat dia ada disana, sampai alasan kenapa Maeda menculiknya.


Dan mendengar cerita mengharukan itu, membuat pria tampan yang saat ini merangkum bahunya langsung mengepalkan tangannya kuat. Sepertinya kesatuannya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2